Menangkap Arah Pidato Politik Megawati Soekarnoputri
Oleh: Yuniman Taqwa Nurdin
Sepuluh Januari lalu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menggelar perhelatan akbar Ulang Tahun Emas ke-50. Sekitar 17.000-an kader PDI dari seantero Indonesia memadati Jakarta Internasional Expo (JIE), Kemayoran, Jakarta. Sebelum HUT PDIP tersebut digelar, Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto mengungkapkan akan ada kejutan dari HUT PDIP ke-50.
Menurut Hasto setiap HUT memang dirancang dengan baik. Ada elemen of surprise yang selalu ditampilkan. Ibu Mega sering menampilkan berbagai kejutan di dalam peringatan HUT Partai, Rakernas dan lainnya. Misalnya saat Megawati mengumumkan Jokowi sebagai Capres pada Pilpres sebelumnya.
Memang Ketua Umum PDIP, Megawati Soekanoputri mendapat mandat penuh oleh hasil kongres PDIP untuk menentukan calon presiden dari PDIP. Itu sebabnya ketika HUT ke-50 PDIP lalu digelar, banyak masyarakat yang ingin mengetahui – kejutan apa yang ingin disampaikan Megawati – dalam rangka menghadap Pilpres 2024 mendatang.
Pasalnya, hanya satu-satunya partai (PDIP) yang memenuhi persyaratan ambang batas pencalon presiden. Pantai moncong putih ini masih menunggu momentum yang tepat untuk mengusung siapa kandidat yang akan dicalonkan sebagai persiden. Secara persyaratan, partai yang diketuai Megawati tak ada masalah. Partai ini bisa mencalonkan kandidat terbaik yang bakal diusung.
Karena sudah ada sinyal dari Sekjen PDIP bahwa Megawati akan memberi kejutan di acara tersebut, maka bukan tak mungkin banyak masyarakat yang ingin mengetahui siapa calon yang akan diusung PDIP. Puncaknya ketika Megawati menyampaikan pidato politik yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut, ternyata tidak muncul efek kejut yang sebelumnya sudah dihembuskan oleh Sekjen PDIP. Mungkin efek kejutnya adalah belum terlontar siapa calon Presiden dari PDIP tersebut.
Padahal banyak orang yang ingin mendapat jawaban langsung dari Ibu Ketua Umum PDIP. Ibu Mega kelihatannya masih “bermain layang-layang” – tarik ulur – dengan penuh ketenangan tanpa grusa-grusu. Bahkan Presiden Joko Widodo merasa senang atas pernyataan Megawati bahwa PDIP akan mengusung kader sendiri untuk menjadi calon presiden dari PDIP. Walaupun kata Jokowi calon yang akan diusung sudah ada “dikantong” Ibu Ketua Umum PDIP.
Megawati kelihatannya masih menunggu waktu yang tepat untuk menentukan calon pemimpin Indonesia di masa depan. Yang jelas PDIP mempunyai banyak kader yang siap menjadi pemimpin nasional. Jadi, dalam menghadapi Pemilu mendatang, ia memberikan sinyal untuk mengusung kader partai sendiri. Internal partai harus menyiapkan kadernya untuk maju sebagai calon pemimpin masa depan.
Meskipun di arus bawah menggadang-gadang nama Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengan sebagai kandidat kuat menjadi calon presiden dari PDIP. Di susul Puan Maharani, ketua DPR RI dan sekaligus sebagai Putri dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Meskipun secara elektabilitas berdasarkan survei-survei yang dilakukan lembaga survei kridibel menempatkan Ganjar Pranowo bertengger di peringkat pertama. Tapi hasil survei tersebut tidak langsung ditelah “bulat-bulat” oleh Megawati.
Bahkan dalam acara HUT PDI tersebut, nama Ganjar tidak disebut-sebut oleh Megawati. Apakah fenomena itu merupakan sinyal bahwa bahwa tiket yang akan diberikan Megawati bukan untuk Ganjar Pranowo?
Bahkan justru Megawati berbicara peran perempuan dan kesetaraan gender . Dia menegaskan perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Dia tidak setuju jika laki-laki dikatakan lebih hebat dari perempuan . Dalam sejarah Indonesia, banyak tokoh dan pahlawan perempuan yang perannya sangat besar.
Menurutnya perempuan bisa menjadi pemimpin. Salah satunya menjadi Menteri. Dia mencontohkan Retno Marsudi yang berhasil menjadi Menteri Luar Negeri. Megawati mencontohkan dirinya yang pernah menjadi anggota DPR, menjadi wakil presiden , menjadi presiden dan ketua umum partai sampai sekarang.
Dari sinyal tersebut apakah kita dapat menangka bahwa Megawati lebih condong memilih calon pemimpin bangsa di masa depan adalah perempuan? Bila ya, mungkin akan tertuju pada Puan Maharani? Atau mungkin Beliau sendiri yang akan menjadi calon presiden Indonesia pada tahun 2024?
Pasalnya sebelumnya muncul usulan Megawati kembali maju sebagai Capres di 2024. Awalnya disampaikan oleh co-founder Total Politik Budi Adiputro. Budi lantas bertanya ke Eriko apakah usulannya itu masuk akal atau tidak?
“Menurut kami masuk akal. Sangat masuk akal, karena tidak ada yang salah,” kata Eriko dalam diskusi politik yang digelar di Kopi Politik, Jakarta Selatan, pada 7/1, sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com, pada 7 Januari lalu.
Eriko menjelaskan, Megawati menjadi satu-satunya tokoh di PDIP memegang hak untuk memutuskan siapa calon presiden yang diusung tahun depan. Sehingga, Ia mengatakan nantinya Megawati memiliki dua alternatif pilihan terkait Pilpres 2024: menggunakan hak itu untuk memilih dirinya sendiri untuk maju Pilpres atau memberikan kepada kader PDIP lain.
“Ini sama seperti tahun 2014 beliau beri haknya pada Pak Jokowi,” kata dia. Meski demikian, Eriko mengaku tak bisa menjawab bagaimana keputusan Megawati soal Pilpres 2024. Sebab, keputusan itu berada di tangan Megawati.
Saya rasa tidak sesedarhana itu! Mungkin saja sikap itu merupakan ujian bagi calon-calon yang akan diusung oleh PDIP. Saya rasa Megawati tidak akan terbawa emosi dalam menentukan siapa calon presiden yang akan diusung PDIP. Unsur-unsur kalkulasi dalam menentukan pilihan akan menjadi bahan pertimbangan baginya. Buktinya bagaimana ketika Megawati memutuskan Joko Widodo menjadi calon Presiden pada tahun 2014 lalu.
Hal yang sama pun pasti menjadi bahan pertimbangan Megawati dalam menentukan calon Presiden yang akan diusung PDIP pada tahun 2024. Apalagi abang kandungnya (Guntur Soekarnoputra) mengatakan calon presiden Indonesia tidak mesti dari keturunan keluarga Soekarno. Menurut Guntur calon pemimpinan bangsa harus mempunyai kedekatan dengan basis massa.
Bila pernyataan Guntur (Mas Tok-red) tersebut menjadi suatu penilaian, maka kita sudah bisa menebak siapa yang mempunyai kedekatan di hati basis massa. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi presiden.
Ya, Megawati memang telah banyak makan asam garam politik di negeri ini. Sosoknya tegar bagai karang dalam memperjuangkan demokrasi. Rekam jejaknya di dunia politik nasional – dengan sejumlah nuansa represif tak mampu melemahkan eksistensinya. Ia tetap tegak lurus dalam dimensi apa pun
Dan kini ia harus memutuskan, siapa yang akan diusung PDIP menjadi calon pemimpin bangsa di masa mendatang. Keputusannya masih banyak ditunggu orang. Biarkan ia mengambil sikap rasional dengan kalkulasi yang matang tanpa emosional![] foto: youtube pdip
*Penulis pimpinan redaksi pelakubisnis.com
