FOILA Perkuat Sinergi Dorong Investasi Lampung

Forum Investasi Lampun (POILA), Januari lalu menggelar Rapat Kerja untuk mendorong investasi di Provinsi Lampung. Target Investasi Lampung tahun 2023 mencapai RP 11 triliun. Instrumen apa yang diperlukan agar target tersebut tercapai?

Apa yang terjadi di tingkat global akan berpengaruh terhadap perekonomian nasional dan perekonomian daerah, termasuk Provinsi Lampung. Pasalnya Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan  akan terjadi resesi dunia di tahun 2023. Itu sebabnya tantangan ke depan akan lebih berat akibat situasi dari ekonomi global.  Dengan prediksi ini kita harus waspada dan tetap mempertahankan optimisme masyarakat maupun investor dalam rangka mendukung perekonomian di Provinsi Lampung.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Lampung Kusnardi mewakili Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal mengatakan, Pemerintah Provinsi Lampung memiliki komitmen meningkatan investasi di Provinsi Lampung. “Dengan peningkatan investasi, Pemerintah Provinsi Lampung memiliki komitmen yang kuat dan termaktub dalam salah satu Agenda Kerja Utama 2019-2024, yaitu Lampung Ramah Usaha, melalui penataan regulasi dan kebijakan pengembangan dunia usaha.” Ujar Kusnardi dalam Acara Rapat Kerja Forum Investasi Lampung (FOILA) Awal Tahun 2023, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, pada 25/1.

Menurut Kusnardi, berbagai upaya perlu ditempuh untuk menjaga iklim investasi di Lampung supaya tetap bersahabat. Bahkan diharapkan bisa menopang target pertumbuhan ekonomi Lampung Tahun 2023 sebesar 4,5% sampai 5%, bahkan bisa lebih dari 5%.

Oleh karena itu, diperlukan dukungan stakeholder terkait untuk mencapai target tersebut. Melalui FOILA ini, diharapkan koordinasi lintas instansi dilakukan secara optimal.  Adanya penambahan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral, serta TVRI Lampung pada keanggotaan FOILA diharapkan semakin memperkuat peran FOILA dalam mendukung peningkatan pertumbuhan investasi di Provinsi Lampung.  

Untuk merealisasi investasi  lebih baik diperlukan  inovasi, langkah-langkah lebih detail semacam B to B (business to business), tapi tidak keluar dari regulasi, sehingga para pelaku investasi memiliki data yang clear and clean serta tertarik  berinvestasi di  Lampung.

Penyusunan rencana kerja FOILA 2023  diharapkan mampu memberikan solusi dalam permasalahan di bidang investasi. “Untuk itu dalam menyusun rencana kerja FOILA 2023, saya mengingatkan agar kita memberikan solusi atas permasalahan di bidang investasi seperti: pemberian fasilitas/insentif kepada investor, kemudahan layanan perizinan, penyediaan data dan informasi peluang investasi, serta promosi investasi.” lanjut Kusnardi, sebagaimana dikutip dari  diskominfotik.lampungprov.go.id.

Sementara Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Irfan Farulian mengatakan, terdapat beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan  Bank Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah melalui FOILA untuk menjaga optimisme investor dan pelaku usaha sekaligus menarik minta investasi.  Diantaranya: Event Business Meeting Chongqing China; Event Lampung Begawi;  Event Lampung Investment Business Collaboration Forum (LIBCF) 2022; Event Road to Indonesia Investment Forum Dubai (IIFD) 2022; Event Foodex Jepang.

Lebih lanjut ditambahkan, beberapa program proyek investasi yang Clean and Clear yang telah dipromosikan dan berhasil dilakukan one on one meeting dengan calon investor pada 2022 adalah: Kawasan Terintegrasi Bakauheni (Bakauheni Harbour City); Waste to Energy TPA Bakung; dan Way Laga Bizpark. 

Bank Indonesia Provinsi Lampung mencatat setidaknya ada lima usulan proyek investasi di daerah setempat yang akan dilakukan pada tahun 2023 ini. Asisten Direktur Bank Indonesia Provinsi Lampung Tri Setyoningsih mengatakan,   usulan proyek investasi tersebut diantaranya Bakauheni Harbour City, Agripark Bandar Lampung, Geothermal Way Ratai, Kawasan Industri Tanggamus dan Waste to Energy TPA Bakung..

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Lampung menargetkan pertumbuhan ekonomi di Sang Bumi Ruwa Jurai pada 2023 akan mencapai 5 persen. Hal tersebut dijelaskan pada Refleksi Akhir Tahun 2022 dan Outlook Perekonomian Provinsi Lampung 2023 di Kantor Perwakilan BI Lampung, pada 26/12 tahun lalu, yang dikutip dari lamppost.co.

Kepala KPw BI Lampung Budiyono mengatakan,  pada 2022 kondisi perekonomian Lampung tumbuh 4,02 persen (hingga triwulan III). Selain itu, inflasi year on year (yoy) 5,89 persen, IPM 70,05, dan tingkat kemiskinan 11,6. Adapun pada 2023 pertumbuhan ekonomi Lampung diharapkan bisa mencapai lebih dari 5 persen. Laju inflasi bisa 3 plus minus 1 persen, IPM lebih dari 72,5 dan tingkat kemiskinan di angka 7,5 sampai 8,5 persen. “IPM Lampung relatif rendah akibat rendahnya kualitas dan ekspektasi pendidikan SDM dan tingkat kemiskinan Lampung relatif tinggi, seiring menurunnya kesejahteraan petani,” katanya.

Menurut Budiyono, tahun 2023, ada sejumlah tantangan baik secara struktural dan eksternal. Secara struktural seperti kinerja lapangan usaha primer berupa pertanian dan pertambangan dalam tren menurun. “Tantangan eksternal berupa harga acuan komoditas ekspor utama Lampung dalam tren menurun seiring melambatnya global demand. Kemudian permintaan komoditas utama ekspor Lampung berisiko menurun,” ujarnya.

Bank Indonesia Provinsi Lampung mencatat setidaknya ada lima usulan proyek investasi didaerah setempat yang akan dilakukan pada tahun 2023 ini. Asisten Direktur Bank Indonesia Provinsi Lampung Tri Setyoningsih, menjelaskan jika kelima usulan proyek investasi tersebut diantaranya Bakauheni Harbour City, Agripark Bandar Lampung, Geothermal Way Ratai, Kawasan Industri Tanggamus dan Waste to Energy TPA Bakung.

“Dari kelima usulan itu nanti akan dimasukan kedalam kalender event Forum Investasi Lampung (FOILA) tahun 2023. Diantaranya ada koordinasi antar investor relation unit (IRU), regional investor relation unit (RIRU), dan global investor relation unit (GIRU), investment and tourism summit, Lampung begawi dan Lampung investment summit,” katanya pada 25/1, sebagaimana dikutip dari kupastunta.com.

“Terkadang ada pula beberapa proyek yang berpeluang dapat dipromosikan karena memiliki status yang masih belum clean and clear, sehingga investor harus berpikir untuk dapat merealisasikan,” kata dia.

Tri menambahkan,  berbagai negara memiliki karakteristik sendiri untuk dapat mewujudkan investasi. Seperti negara Australia, misalnya, menginginkan daerah harus menyusun dan menawarkan profil proyek disertai dengan data yang komprehensif dan valid.  “Data juga harus dapat dipertanggungjawabkan dengan menggunakan bahasa Inggris. Selain itu menjaga komunikasi yang baik dan intens dengan para investor,” lanjutnya.

Sementara Kementerian Investasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada tahun 2023 ini menargetkan nilai investasi nasional sebesar Rp1.400 triliun dan Provinsi Lampung mendapatkan target sebesar Rp11 triliun.

Menurut Kusnardi, pemerintah pusat mengharapkan agar pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota dapat bersinergi guna mencapai target tersebut. “Upaya yang terus terus lakukan dengan penggalian potensi investasi, promosi investasi, regulasi kemudahan berusaha, insentif penanaman modal, review terhadap hambatan regulasi penanaman modal dan perizinan dan juga mendorong program kemitraan antara pelaku usaha besar dengan UMKM di daerah,” katanya. [] Yuniman Taqwa