Tol Trans Sumatera Dorong Lampung Jadi Ekonomi Baru

Terkoneksinya infrastruktur darat, laut dan udara di Lampung, menjadi babak perekonomi Indonesia setelah Jawa. Perekonomian Lampung akan tumbuh pesat karena JTTS menjadi tulang punggung sistem logistik nasional.

Paska diresmikannya dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) JTTS Bakauheni-Terbanggi Besar, pada 8 Maret lalu, oleh Presiden Joko Widodo, membuat Lampung semakin terkoneksi antarprovensi di Sumatra. Bila tidak ada aral melintang Juni mendatang, JTTS akan terhubung sampai Palembang.

Perjalanan dari Bakauheni ke Palembang yang sebelumnya memakan waktu 8-9 jam jika melalui jalan biasa, akan dipersingkat menjadi 4-5 jam melalui JTTS. Untuk Bandarlampung-Bakauheni sepanjang 90 km yang biasanya ditempuh selama 2-3 jam melalui jalan biasa, kini menjadi 1-1,5 jam jika melalui jalan tol.

Presiden Jokowi mengatakan, ruas tol Bakauheni – Terbanggi Besar itu merupakan ruas tol terpanjang yang pernah diresmikannya, sepanjang 143 km. “Ini adalah babak pertama yang kita resmikan dan kita harapkan nantinya di Juni, Bakauheni sampai Palembang juga akan segera tersambung dengan jalan tol,” ujarnya.

Tidak hanya itu, JTTS ini pun tersambung dengan Bandara Internasional Radin Inten II, Bandarlampung. Bandara ini diresmikan bersamaan dengan peresmian JTTS. Jokowi berhadap dua minggu setelah diresmikan sudah ada penerbangan internasional dari dan ke Bandarlampung.

Kepala Negara juga menginstruksikan agar fasilitas transportasi dari Kota Bandarlampung menuju bandara tersebut harus benar-benar dipersiapkan untuk mempermudah masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan bandara itu sendiri. “Sehingga kalau nanti kapasitas bandara ini membesar, karena _growth_-nya sangat tinggi di sini, itu sudah ada persiapan kereta bandaranya,” imbuhnya.

Bandara Radin Inten II saat ini diketahui melayani total 34 penerbangan reguler dengan rata-rata okupansi penumpang kurang lebih 7.500 per hari. Bandara ini juga dapat melayani operasional pesawat sejenis Boeing 737 dan memiliki gedung parkir khusus empat lantai seluas yang dapat menampung ratusan kendaraan.

Dengan adanya pengembangan bandara ini dan pembangunan terminal baru bandara lainnya (Bandara Silampari, Lubuklinggau, Sumatra Selatan), Presiden Joko Widodo berharap agar pergerakan ekonomi di wilayah Lampung dan sekitarnya dapat terangkat naik. “Tempat-tempat wisata di Lampung banyak sekali. Kemudian bisnis dan investasi di Lampung juga banyak sekali. Ini akan mendukung kecepatan pertumbuhan dari Bandara Radin Inten II ini,” tuturnya.

foto: Bandara Internasional Radin Inten II, foto: doc.Radin Inten II

Hal senada pun diakui Gubernur Provinsi Lampung Muhammad Ridho Ficardo, yang dikutip dari katadata.co.id,  mengatakan, JTTS Bakauheni-Terbanggi Besar akan memudahkan akses masyarakat dan perekonomian Lampung akan tumbuh pesat karena JTTS menjadi tulang punggung sistem logistik nasional. JTTS terkoneksi dengan Bandara Radin Inten II Lampung dan Dermaga Eksekutif Bakauheni-Merak. Alhasil, kunjungan wisatawan ke Lampung juga diprediksi bakal meningkat.

“Hari ini merupakan salah satu catatan sejarah dimana pembangunan infrastruktur konektivitas yang menyatukan Indonesia, terutama Jawa-Sumatera dengan JTTS dan dermaga eksekutif, yang Insya Allah menjadi tumpuan pusat pertumbuhan ekonomi baru setelah Jawa,” kata Ridho, saat mendampingi Presiden Joko Widodo meresmikan JTTS ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, di Gerbang Tol Natar, Lampung, pada 8/3 lalu, sebagaimana dikutip dari tempo.co.

Menurut data dari kementerian pariwisata, di era kepemimpinan Gubernur Ridho, peningkatan jumlah wisman dan wisnus rata-rata 30% per tahun. Pada 2015, wisman masuk Lampung mencapai 114.907 dan wisnus 5,53 juta. Kemudian, pada 2016, wisman 155.053 dan wisnus meroket menjadi 7,29 juta. Sedangkan pada 2017 kunjungan wisman mencapai 245 ribu dan wisnus mencapai 8,8 juta.

Dan memang posisi Lampung yang berada di “pintu gerbang”  dari Jawa menuju Sumatera menjadi urat nadi transportasi logistik kedua pulau tersebut. Ada beberapa alternatif transportasi yang dapat dilalui menuju Lampung. Dari pelabuhan Bakauheni menuju Merak atau dari Pelabuhan Panjang menuju Pelabuhan Tanjung Priuk yang dikenal dengan tol laut.

Puluhan tahun silam – penghubung dua kepulauan besar itu – Sumatera dan Jawa telah terkoneksi, bahkan menjadi urat nadi transportasi logistik antar kedua pulau tersebut. Tak ada yang baru, atas kehadiran tol laut di Selat Sunda itu.

Dari tahun ke tahun penambahan pelabuhan penyeberangan Merak dan Bakauheni terus meningkat seiring dengan meningkatnya volume penumpang dan kendaraan yang memanfaatkan jalur penyeberangkan itu. Itu sebabnya proyek pembangunan jembatan antara Jawa – Sumatera, melalui Selat Sunda dibatalkan. Barang kali pertimbangan pembatalan proyek itu karena tidak menunjang program tol laut.

Pelabuhan Petikemas, Panjang, foto: ist

Presiden Jokowi juga memerintahkan Menteri Perhubungan agar menjadikan Pelabuhan Bakauheuni menjadi dermaga eksekutif. Harapannya, pelayaran, baik barang maupun orang di pelabuhan tersebut akan semakin cepat. Dengan demikian, konektivitas Jawa-Sumatera semakin tinggi dan distribusi barang menjadi semakin lancar.

Tapi di sisi lain, infrastruktur penunjangnya pun berbanding lurus dengan meningkatnya volume kendaraan yang melintasi jalur tersebut. Telah lama  jalur tol terhubung dari Jakarta ke Merak. Tidak hanya itu, pemerintah Jokowi akan mengkoneksikan jalur tol darat dari Lampung sampai Banda Aceh. Pembangunan infrastruktur itu merupakan salah satu jawaban atas terintegrasinya antarpulau (Sumatera – Jawa).

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Cabang Panjang atau Indonesia Port Corporation (IPC) Panjang di 2019 ini akan menghubungkan Pelabuhan Panjang dengan jalan tol trans-Sumatera (JTTS). Hal ini sejalan dengan target Pelabuhan Panjang menjadi pelabuhan digital di 2019.  “Kita akan koneksikan jalan tol trans Sumatera dengan Pelabuhan Panjang. Ini sebagai program pioritas kami di 2019. Sehingga sisi industri dan pelabuhan di Lampung akan tumbuh,” ujar General Manager IPC Panjang, Drajat Sulistyo, dalam konferensi pers pada 24 Januari lalu.

Menurut Drajat, sebagaimana dikutip dari lampost.co,  jika Pelabuhan Panjang sudah terkoneksi dengan jalan tol, maka dampak perekonomian Lampung khususnya di wilayah sekitar akan berkembang maju. “Ini nanti berdampak bagi pembangunan di Lampung, dengan banyaknya kawasan industri atau peridustrian di sekitar. Karena dimana ada perkembangan atau pembangunan pelabuhan pasti diiringi dengan pembangunan industri juga,” ujarnya.

Drajat menambahkan, didukung dengan digitalisasi pelabuhan, maka akan semakin memudahkan para pengusaha atau pelaku industri dalam melakukan pengiriman barang dari dan ke Lampung, karena proses registrasi atau pemberkasan dapat dilakukan dari mana saja dengan koneksi internet tanpa harus datang ke pelabuhan. “Digitalisasi ini bukan hanya untuk monitoring pelabuhan saja, juga sebagai analasis pelabuhan dan forecasting industri sekitar. Keoptimalan kinerja pabrik dan nilai kenaikan ekspor juga langsung kelihatan,” kata dia.

Selain itu, kini Lampung memiliki Bandara Internasional Radin Inten II, Bandar Lampung. Dengan ditingkatkan status bandara ini menjadi bandara internasional, maka akselerasi penumpang pun akan meningkat. Keberadaan bandara ini boleh jadi mendorong kunjungan wisatawan, baik dalam negeri maupun internasional.

Bahkan, Lampung akan mengusulkan tiga daerah potensial Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata, yaitu Lampung Selatan, kawasan Pesisir Barat, dan Pesawaran.“Pesawaran yang merupakan pecahan Lampung Selatan memiliki banyak pulau dan saat ini tumbuh secara alami sebagai tempat wisata akhir pekan,” Ridho Ficardo, sebagaimana dikutip dari okezone.com

Terkait luas lahannya, Ridho menyebut ada lahan milik pemerintah dan swasta yang sedang diinventarisasi. Untuk di Lampung Selatan misalnya, terdapat lahan milik BUMN perkebunan seluas 350 hektare yang rencananya akan dialihkan menjadi kawasan pariwisata. “Kami sudah berkomunikasi dan kelihatannya menteri BUMN secara lisan sudah menyetujui pengalihan itu,” ungkapnya.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung, yang dikutip dari radarlamsel.com, diminta untuk ikut mendukung rencana pembangunan Kawasan Industri (KI) di Kecamatan Tegineneng dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di Kecamatan Telukpandan. Dimana dalam permohonan tersebut, Pemkab mengharapkan agar segala proses perizinan, peningkatan infrastuktur dan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten dimasukan kedalam program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung.

Menurut Tenaga Ahli Bupati Pesawaran, Edy Irawan Arief, permohonan dukungan rencana pembangunan Kawasan Industri Tegineneng tersebut diantaranya yakni agar legislatif dan eksekuti ditingkat Provinsi Lampung dapat menjadikan KI Tegineneng program strategis nasional dan merevisi RTRW Provinsi Lampung guna memasukan revisi RTRW kabupaten terkait Kawasan Peruntukan Industri (KPI). Selain itu, Pemkab juga meminta agar Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) Provinsi Lampung direvisi terkait KI Tegineneng dan mendorong ruas jalan tol Tegineneng-Pelabuhan Panjang menjadi program transportasi nasional.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Lampung memiliki empat daerah yang potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi dengan atraksi unggulan berkelas dunia (world class), yaitu Kab. Pesisir Barat (Pantai Tanjung Setia atraksi Lumba-lumba, Krui sebagai surfing kelas dunia, dan Air Terjun Way Karang); Kota Bandar Lampung (Taman Bumi Kedaton, Taman Wisata, Water Park, dan Atraksi gajah); Kab. Lampung Barat (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan atraksi orangutan, air terjun, dan danau); dan Kab. Lampung Selatan (atraksi Gunung Krakatau).

Pantai pesisir Kaliandak, Lampung Selatan, foto: ist

Menpar Arief Yahya menegaskan, sebagaimana dikutip dari travelmaker.id, selain atraksi dan amenitas sebagai unsur penting dari 3A (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) yang terpenting adalah akesibilitas terutama konektivitas penerbangan dari negara-negara sumber wisman.

Arief Yahya menambahkan, tekad Lampung yang ingin menjadikan Bandar Udara Raden Inten II sebagai bandara internasional sangat tepat karena 80% wisman yang datang menggunakan moda transportasi udara sehingga harus memiliki bandara internasional. “Fasilitas Bandara Raden Inten II cukup memadai untuk menjadi bandara internasional. Jika Gubernur dan Pemprov committed, tahun ini bisa! Kemenpar akan membantu dengan subsidi untuk beberapa penerbangan internasional pertama ke Lampung,” katanya.

Sementara Bank Indonesia (BI) Lampung memperkirakan, perekonomian Lampung akan tumbuh pada kisaran 5,1% – 5,5% (yoy) pada 2019. Angka ini menguat bila dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar ±5,2% (yoy). Kepala BI Lampung Budiharto Setyawan mengatakan, penguatan pertumbuhan ekonomi Lampung utamanya akan ditopang solidnya konsumsi swasta serta didorong peningkatan disposable income di tahun 2019. Selain itu, berlanjutnya investasi pembangunan pemerintah dan swasta serta konsumsi pemerintah menjelang pelaksanaan Pemilu menjadi indikator pertumbuhan ekonomi Lampung.

Dan akhirnya langkah strategis pemerintah Jokowi membangun jalan tol Trans-Sumatera dapat memaksimalkan konektivitas antar daerah di Sumatera dan menghubungkan ke Pulau Jawa melalui jalur darat. Fenomena ini akhirnya membawa pertumbuhan ekonomi regional dengan berkembangnya pusat pertumbuhan ekonomi baru.[]Yuniman Taqwa