Semangat Bergerak Bangkit Bersama Lewat Kolaborasi
Indonesia sudah mengalami berbagai disrupsi yang membuat para pelaku bisnis harus bergerak cepat menyusun strategi. Membangun ekosistem dengan pendekatan kolaborasi adalah jawabannya. Dengan kolaborasi, kita bisa bangkit bersama mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Bagaimana caranya?
Dalam acara Indonesia Brand Forum (IBF) September 2022 Founding Chairman IBF, Yuswohady mengatakan, pasar saat ini bukan melihat produk melainkan melihat ekosistem. Banyaknya disrupsi yang muncul membuat kita membutuhkan ekosistem dalam membangun sebuah brand agar bisa menggurita dan berlari kencang. Bagaimana caranya? “Dengan kolaborasi!”.
“Sekarang bukan waktunya kerja sendiri, kita harus melakukan kolaborasi. Sebab, dengan kolaborasi, masing-masing pihak, baik brand maupun korporat dapat saling bahu-membahu mengintegrasikan ekosistem fisik maupun digital. Kolaborasi akan menghasilkan win-win solution bagi semua pihak,” ujar Yuswohady dalam ajang IBF 2022 yang mengusung tema “Brand Collab Champion – Winning Thru Coopetition Not Competition”.
Ia menambahkan, tampak hari ke hari dunia bisnis makin mengarah pada penguatan ekosistem di setiap industri. Dalam kondisi seperti ini, dan terutama paska pandemi, strategi ampuh memenangkan pasar bukan lagi berkompetisi, melainkan koopetisi, alias berkolaborasi. Ini adalah jantungnya keunggulan bisnis.
Hal senada juga disampaikan Kilala Tilaar, CEO Martha Tilaar Group (MTG). Dengan memaksimalkan ekosistem biaya operasional juga lebih efisien. Melalui anak perusahaan MTG, PT Cedefindo, Kilala bekerja sama dengan banyak petani di tanah air untuk memaksimalkan kapasitas yang besar untuk memproduksi produk-produk kosmetik. “Kenapa tidak di-share saja kapasitas tersebut kepada mereka melalui mekanisme resource sharing,” katanya seraya menambahkan banyak UKM – Usaha Kecil Menengah — yang memproduksi kosmetik di Cedefindo.
Tren yang sekarang terjadi adalah sharing economy. Lebih banyaknya pemain justru menjadikan tantangan yang menarik. “Kami punya fasilitas dan ekosistem yang memadai. Sharing Economy menjadi tren yang berkembang dan kita perlu masuk kesitu sehingga secara bisnis menjadi sangat efisien, pasar semakin ramai dan goal-nya adalah Indonesia bebas dari penjajahan bahan baku impor. Karena 95% industri kosmetik masih impor,”terang Kilala seraya menambahkan saat ini MTG sudah mampu menurunkan persentase bahan baku impornya menjadi 75%.

Ketika e-commerce mulai berkembang di Indonesia di kisaran tahun 2015, lanjut Kilala, sejumlah selebriti, artis dan UKM yang melirik bisnis kosmetik. Mereka disebut independen brand atau beautypreneur (brand-brand kecil dan UKM). Apalagi BPOM sangat ketat dalam menerapkan standar bahan baku, seperti Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), izin-izin tertentu dan system jaminan halal sehingga Cedefindo mengambil peran sebagai kakak angkat beautypreneur ini dalam mengembangkan dan memproduksi kosmetik yang berkualitas dan terstandar.
Yang menarik, selain berkolaborasi dengan beberapa perusahaan nasional dan multinasional hingga UKM Beautypreneur, MTG sejak tahun 2000 sudah bekerja sama dengan banyak petani untuk supply bahan baku. Awalnya hanya untuk kebutuhan internal. Tapi sekarang strategi diubah. Goal-nya adalah ingin terbebas dari bahan baku impor dan kesejahteraan petani meningkat.
Untuk pasar Indonesia, MTG melalui Cedefindo mengedukasi pasar terutama generasi milinial dan Gen Z. Siapa sangka bila generasi muda sekarang lebih suka dengan local content. Berbeda dengan generasi sebelum-sebelumnya. Anak muda sekarang menurut Kilala justru bangga dengan keindonesiaannya. Gen Z sangat tertarik dan mempunyai impact untuk negara dan komunitasnya. “Lama-lama dari kalangan mereka banyak yang pakai. Jadi untuk MTG kami harus Go Beyond The Brand. Kita harus menciptakan ekosistem,”ujarnya.
Tak pelak, pada tahun 2020, bisnis kosmetik semakin booming sejalan meningkatnya minat pada produk kosmetik, sehingga makin banyak pemainnya. Mekanisme resource sharing yang dijalankan Cedefindo kian menarik minat perusahaan swasta nasional, multinasional maupun indie brand untuk melakukan produksi di Cedefindo.
“Terjadi disrupsi dalam bisnis kosmetik. Dulu, untuk memiliki brand kosmetik, mereka harus punya fasilitas produksi sendiri, punya tim penjualan sendiri, harus punya jalur distribusi sendiri sampai ke ritel. Tapi dengan booming e-commerce, semua orang dimudahkan untuk menjual melalui e-commerce,”papar Master of Business Administration dalam bidang Marketing dari Suffolk University dan Harvard University ini.
Sementara Yuswohady menambahkan, bila dulu kita jualan dengan kompetisi, kini jualan melalui ekosistem. Namun ketika landscape ekosistim, maka kolaborasi merupakan suatu kewajiban. Banyak sekali contoh kolaborasi bisnis di tanah air.
Yuswohady menambahkan, masyarakat dan dunia bisnis menghadapi situasi mutakhir yang semakin tinggi tingkat ketidakpastiannya (uncertainty). Merujuk fakta bahwa setelah dilanda aneka disrupsi (digital, milenial), datangnya pandemic hingga paska pandemi, lalu meletusnya perang Rusia-Ukraina, kini masyarakat dan dunia bisnis menghadapi beragam tantangan baru yang tidak mudah: mulai dari beban kenaikan harga BBM, ancaman stagflasi (inflasi tinggi yang diikuti stagnannya pertumbuhan ekonomi), gangguan distribusi global (supply-chain bottleneck), dan hingga ketidakmenentuan kebijakan pemerintah.
Disrupsi semacam itu membuat semua anggota masyarakat dan dunia bisnis menghadapi dampak ekonomi dan psikologis yang tidak ringan. Situasi ketidakpastian yang makin tinggi saat ini menuntut kita bersikap cerdas dan cermat. Khusus para pelaku bisnis, inilah saatnya menyatukan kekuatan satu sama lain, bergandengan tangan bersama, alih-alih bersaing habis-habisan.
Contoh yang paling gampang, menurut Yuswohady adalah aliansi antara Alfamart dengan Bank Aladin. Betapa power of collaboration. Aladin adalah bank digital Syariah pertama di Indonesia. Kemudian Alfamart adalah ritel yang channelnya massif yang luar biasa dengan gerai 17.000 toko. Bayangkan, Aladin punya produk syariah, tapi tidak mempunyai channel, tidak punya kantor cabang, karena bank digital diposisikan tidak punya kantor cabang, karena membuka kantor cabang itu investasinya mahal. Kantor cabangnya ada di handphone.
“Tapi menariknya ketika Aladin dan Alfamart berkolabarasi, Alfamart punya 17.000 kantor cabang. Bayangkan kalau Aladin itu tidak berkolaborasi dengan Alfamart, dia harus membangun 17.000 kantor cabang. Perlu berapa tahun? Saya kira 20 atau 30 tahun mungkin tidak akan terjadi. Tapi, dalam hitungan bulan Aladin mempunyai sampai 17.000 kantor cabang di seluruh pelosok Indonesia,” tambah Yuswohady.
Yuswohady menegaskan tujuan utama perusahaan membangun kolaborasi ada tiga, strategi. Pertama, leverage brand audience. Kedua, sinergize brand asset. Ketiga, align brand identity.
Dalam leverage brand audience, kolaborasi dilakukan untuk memperluas pasar dan target audience. “Ketika dua merek berkolaborasi maka masing-masing pasarnya disatukan sehingga kolamnya membesar,” ujarnya.
Contohnya, kolaborasi Louis Vuitton dengan Supreme. Louis Vuitton punya market dan kemudian Supreme punya market, maka Louis Vuitton dapat market Supreme dan market Louis Vuitton. Artinya marketnya digabungkan.
Kedua, sinergize brand asset. Melalui kolaborasi Aladin dengan Alfamart, mereka juga bisa menyinergikan asset yang dimiliki masing-masing pihak yang berkolaborasi sehingga menghasilkan kekuatan gabungan yang jauh lebih besar.
Ketiga, align brand identity. Kolaborasi yang impactful harus menyelaraskan identitas dari masing-masing merek sehingga tercipta chemistry yang serasi. Keselarasan adalah prasyarat terpenting terciptanya Brand Collab Advantage. Keselarasan adalah prasarat kelestarian kolaborasi.
Contoh lain adalah Gojek merger dengan Tokopedia (e-commerce). Ketika transportasi dikolaborasikan ke e-commerce, maka muncul produk-produk dan layanan yang luar biasa. “Sekarang bukan waktunya kerja sendiri, kita harus melakukan kolaborasi,”tukas Yuswohady.
Di sisi lain, disrupsi juga terjadi di bidang digital marketing yang memangkas jalur distribusi menjadi lebih efisien hingga mendongkrak daya beli masyarakat di tanah air. Bahkan, konsumen tak hanya berbelanja melalui platform marketplace, kini pemilik brand lebih memaksimalkan saluran komunikasi langsung lewat website dan media sosial. Mereka berkolaborasi dengan banyak instrumen digital marketing seperti marketplace dan media sosial yang akhirnya ikut mendongkrak sektor-sektor yang lain. Sektor logistik dan jasa pengiriman barang misalnya.
Tak dipungkiri, bertumbuhnya bisnis belanja online di tanah air ikut mendongkrak industri logistik dan jasa pengiriman barang. Data Google, Temasek dan Bain & Company menyebutkan, nilai ekonomi bisnis e-commerce Indonesia tahun 2022 mencapai US$ 59 miliar , naik 22% dari tahun sebelumnya. Asosiasi idEA (Asosiasi e-Commerce Indonesia-red) mencatat, transaksi bisnis e-commerce tahun ini bisa mencapai Rp700 trilyun. Sementara Bank Indonesia menargetkan bisnis e-commerce akan tumbuh hingga 12%.
Sudah tentu semakin tingginya transaksi bisnis e-commerce turut mendongkrak bisnis logistik dan jasa pengiriman barang. Dimana Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memproyeksikan bisnis logistik 2023 akan tumbuh sekitar 5 sampai 8%. Sementara Kadin Indonesia memproyeksikan pasar logistik tanah air akan bertumbuh sekitar 7,9%.
Tingginya pergerakan barang pun membuat bisnis logistik dan jasa pengiriman barang perlu berkolaborasi sebagai upaya lebih agile dari sebelumnya. Pasalnya masyarakat tuntutannya semakin tinggi. Ketika berbelanja maunya cepat, aman dan nyaman. Untuk itu pelaku usaha logistik dan jasa pengiriman barang perlu berkolaborasi untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Perusahaan jasa kurir dan logistic JNE salah satunya yang hingga saat ini terus membangun kerja sama dengan banyak pihak. Diantaranya berkolaborasi dengan PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) untuk pengembangan jalur logistik dan ekspedisi di Kawasan Indonesia Timur. Tak hanya dengan sesama di industri logistic dan jasa pengiriman barang, JNE juga berkolaborasi dengan banyak pihak untuk kemajuan dunia bisnis di tanah air.
Presiden Direktur JNE M Feriadi Soeprapto mengatakan, JNE diberi kepercayaan oleh PT BIBU untuk melengkapi Hub JNE Express di Bandara Internasional Bali Utara untuk mempercepat proses pelayanan distribusi logistik di kawasan Indonesia Timur yang semakin berkembang perekonomiannya. Dengan jaringan dan jangkauan sekitar 8 ribu titik layanan penjualan dengan 90.000 kota kelurahan di berbagai provinsi, kabupaten, desa, bahkan hingga pulau terluar, JNE terus memberikan kontribusi untuk melayani pelanggan dan masyarakat di seluruh Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) ini pernah mengungkapkan,”Sekarang sudah bukannya era kompetisi, namun era kolaborasi. Saya harap nanti perusahaan bisa saling berkolaborasi dan bisa membangun sinergi yang baik satu sama lain,” kata Feriadi dalam Seminar Nasional Kontribusi Industri Logistik untuk Ekonomi Digital di Hotel Borobudur tahun 2018. Apa yang disampaikan Feriadi 5 tahun lalu terbukti! Karena memang sekarang ini tanpa kolaborasi, kita menghabiskan banyak energi dan sumber daya, tapi tak menciptakan situasi yang saling menguntungkan. Mengambil istilah Yuswohady, “ Kalau Nggak Kolab, Bakal Kolaps”![]Siti Ruslina
