Konsep Revitalisasi Kota Baru Lampung: Green Building Berbasis IoT
Pembangunan Kota Baru Lampung yang mangkrak sekitar 10 tahun lebih itu, sebetulnya dapat direvitalisasi menjadi kawasan green building dengan konsep futuristic dan sustainability berbasis Internet of Things (IoT). Bagaimana implementasi dari revitalisasi tersebut?

Pembangunan Kota Baru Lampung yang berlokasi di Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan ini dicanangkan sejak era Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, pada Juni 2010. Proyek ini mangkrak, seusai berakhirnya masa Jabatan Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP tahun 2013. Padahal mega proyek yang akan berdiri di atas lahan seluas 1.308 hektar ini telah menelan biaya sekitar Rp 1,2 Triliun.
Entah kenapa gubernur setelah Sjachroedin tak melanjutkan pembangunan proyek Kompleks Pemerintahan Provinsi Lampung itu. Tak pelak lagi, proyek itu dipenuhi bangunan dan gedung yang rusak. Bangunan-bangunan itu berimplikasi negatif terhadap lingkungan dan perekonomian. Sebab bila suatu proyek konstruksi tidak dikelola dengan baik, maka dapat memproduksi limbah.
Itu sebabnya, proses peremajaan atau revitalisasi menjadi suatu keniscayaan di tengah makin padatnya Kota Bandar Lampung. Namun demikian, proses peremajaan perlu mempertimbangkan konsep futuristic dan sustainability, sehingga proyek ini dapat mengikuti perkembangan zaman seiring perkembangan teknologi, inovatif, sesuai kaidah pembangunan.
Kaidah pembangunan yang harus dicapai berupa peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, baik dari aspek kehidupan sosial masyarakat, menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang menjamin keadilan dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan indikator SDGs (Sustainable Development Goals).
Indikator SDGs dalam peremajaan kota baru terdiri dari lima poin yaitu poin 6 terkait air bersih dan sanitasi, poin 7 terkait energi bersih dan terjangkau, poin 9 terkait industri, inovasi dan infrastruktur, poin 11 terkait kota dan komunitas berkelanjutan, serta poin 13 terkait aksi iklim.
Kaidah pembangunan revitalisasi Kota Baru Lampung berdasarkan perspektif futuristik dan inovatif dengan menerapkan konsep kawasan berbasis green building yang akan terintegrasi dengan IoT (Internet of Things). Konsep ini dinamakan “Kota Baru Hijau: Revitalisasi Kota Baru di Lampung dengan Menerapkan Konsep Desain Bangunan Hijau (Green Building Concept Design) Berbasis IOT”.
Green Building Concept merupakan salah satu upaya penghematan energi pada suatu gedung. Konstruksi bangunan dirancang hemat energi. Bangunan dioperasikan untuk meminimalkan dampak lingkungan. Penggunaan konsep bangunan hijau yang diusung berdasarkan enam kaidah konsep bangunan hijau yaitu pengembangan situs yang sesuai, efisiensi energi dan konservasi, konservasi air, sumber daya dan siklus material, kualitas kesehatan dalam ruangan, dan pengelolaan lingkungan bangunan. Keenam kaidah tersebut merupakan inovasi dengan menggunakan IoT (Internet of Things) untuk memenuhi aspek futuristik dan inovatif. Apalagi saat ini perkembangan teknologi telah mencapai revolusi industri 4.0.
Konsep revitalisasi Kota Baru Lampung menerapkan green building berbasis IoT (Internet of Things). Penggunaan IoT diterapkan dengan menggunakan sensor yang akan dipasang pada semua bangunan di kawasan Kota Baru Lampung. Sensor tersebut akan terintegrasi dengan internet yang terhubung dengan platform BIM (Building Information Model). Platform BIM berguna sebagai sistem manajemen energi yang mendukung konservasi energi.

Pengembangan situs, misalnya, diperlukan ketika merencanakan pembangunan suatu kawasan green building. Di mana pembangunan di suatu kawasan akan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan. Semakin terpenuhinya fasilitas dan infrastruktur di suatu kawasan, maka semakin mempermudah aksesibilitas dan efisiensi energi. Pemilihan situs kawasan Kota Baru Lampung telah sesuai dan memenuhi tepat guna lahan. Kawasan direncanakan untuk menjadi kawasan pendukung pemerintahan dari Kota Bandar Lampung yang saat ini mulai padat, apalagi pembangunan Kota Baru ini hanya bersifat melanjutkan proyek yang mangkrak.
Dalam penerapan green building pada proyek Kota Baru menerapkan efisiensi energi dan konservasi dengan tujuan memantau dan mencatat pemakaian energi, penghematan konsumsi energi, dan pengendalian penggunaan sumber energi yang berdampak terhadap lingkungan selama proses konstruksi. Indikator efisiensi dan konservasi energi memiliki dua kriteria prasyarat, yaitu kebijakan dan strategi manajemen energi (policy and energy management plant) serta kebijakan energi minimum (minimum building energy performance).
Untuk memenuhi kedua kriteria tersebut, Kota Baru Hijau dapat menggunakan beberapa sumber energi terbarukan berupa kombinasi Photovoltaic (energi surya), turbin angin dan penggunaan kotoran hewan sebagai biomassa. Penggunaan energi ramah lingkungan tersebut diselaraskan dengan penggunaan teknologi remote sensing sebagai alat pengendali dan prediksi konsumsi energi yang terintegrasi dengan software MATLAB.
Model ini berguna untuk mewujudkan efisiensi energi sesuai pengukuran. Teknologi ini akan diintegrasikan dengan sistem BIM untuk membantu memodelkan konsumsi energi sehingga dapat diketahui berapa jumlah energi yang dibutuhkan di Kota Baru Hijau. Dengan mengetahui berapa konsumsi energi dan jumlah energi yang dibutuhkan, akan mudah melakukan rencana penghematan seiring berjalannya Kota Baru Hijau.
Sementara konservasi air dilakukan agar sumber daya air di dalam maupun di luar gedung tidak terbuang secara percuma. Aspek ini merupakan Rainwater Management System, di mana rencana memenuhi kebutuhan flushing toilet, penyiraman tanaman. Air hujan yang jatuh ke atap bangunan ditampung melalui talang dan dikumpulkan pada sebuah wadah penampung hujan tertutup yang terbuat dari beton. Wadah ini akan diletakkan di samping/depan setiap gedung sehingga hasil tampungan air dapat dimanfaatkan secara mandiri tanpa bergantung dengan yang lain. Umumnya wadah penampung hujan ini akan memiliki 4 bagian utama yakni talang air, pipa pengambil air, wadah penampung air hujan, dan pipa penyalur air. Penerapan sistem ini dapat menghemat penggunaan air bersih tanpa mengurangi kebutuhan penggunaan air pada aspek yang lain
Sementara Green construction atau konstruksi ramah lingkungan adalah suatu konsep praktik membangun dengan memperhatikan lingkungan dan meminimalkan dampak buruknya sepanjang siklus hidup bangunan dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pemakaian produk konstruksi. Konsep green construction dapat memberikan dampak jangka pendek terkait dengan penghematan penggunaan material dan dampak jangka panjang terkait dengan sustainabilitas gedung. Konsep ini akan sangat baik diterapkan dalam proyek revitalisasi Kota Baru Hijau.
Sedangkan dalam tahap perencanaan, gedung didesain seefisien mungkin agar dapat memaksimalkan layout dan efektifitas setiap ruangan, sehingga masih dapat tersisa area hijau untuk pertumbuhan tanaman. Selanjutnya, pemilihan material yang ada dioptimalkan untuk mengurangi pemakaian material baru dan digunakan material ramah lingkungan untuk mengurangi limbah konstruksi. Salah satunya dengan menggunakan semen hijau berbahan dasar limbah industri dan bahan-bahan lain yang dapat didaur ulang. Menurut standar Deklarasi Produk Lingkungan, diketahui bahwa semen yang diproduksi di pabrik Ceratech ini memiliki jejak karbon hampir nol sehingga sangat ramah lingkungan.
Pada tahap pelaksanaan perlu didukung dengan berbagai aspek, seperti upaya konservasi dan daur ulang yang dikedepankan. Konsep green construction ini harus didukung dengan sumber daya manusia (pengguna) yang akan menggunakan gedung ini nantinya.
Selain itu, ketika umur bangunan sudah mencapai batasnya dan perlu dilakukan maintenance/ perawatan, maka digunakan material yang ramah lingkungan. Sisa material yang terbuang harus dapat diminimalkan. Beberapa material yang masih dapat digunakan seperti baja, besi, dan kaca dapat diolah kembali dan dipergunakan untuk bagian lain konstruksi.
Di samping itu, untuk menjaga kualitas kesehatan di dalam bangunan (indoor), dapat menggunakan sistem monitoring dan filtrasi udara dengan sistem Arduino Uno. Inovasi ini sebelumnya telah dirancang oleh Danny Satria Tanjung dan Athalla Nurul Janna Austrin dengan judul penelitian CODE Meter : Alat Ukur Kadar CO dan Dew Point pada Kompresor Medis [2018], yan penggunaan rancangan mesin diterapkan hanya pada rumah sakit sebagai kompresor medis. Rancangan ini dapat diterapkan green building.
Perlu diketahui, kualitas kesehatan dan kenyamanan dalam ruangan dipengaruhi oleh tingkat kelembaban udara dan kadar gas berbahaya yang terkandung didalamnya. Dalam pengukuran kadar gas CO, diterapkan Node Sensor dengan sistem monitoring kualitas udara menggunakan sensor MQ-7. Dengan alat ini, kadar gas CO dalam ruangan dapat terukur dengan tingkat akurasi 99,60% dan range pengukuran berada pada range 1 ppm hingga 5 ppm.
Sementara itu, dalam pengukuran tingkat kelembaban yang diindikasikan dengan besaran dew point, digunakan sensor yang berbeda, yaitu sensor DHT22 dengan range akurasi pengukuran berada pada range 10°C hingga 40°C. Baik sensor MQ-7 maupun DHT22, keduanya akan dikendalikan oleh mikrokontroler Arduino Uno dengan bantuan beberapa komponen pendukung lainnya.
Cara kerja sistem monitoring dan filtrasi diawali dengan penghisapan udara yang berada di sekitar mesin untuk kemudian dilewatkan ke filter udara, setelah melalui filter yang pertama selanjutnya udara disalurkan ke ruang pengering udara. Pada tahap ini udara akan didinginkan hingga mencapai batas titik embunnya. Ketika udara tersebut didinginkan maka air yang terkandung pada udara akan mengembun dan terpisah dari udara. Kemudian udara yang kering tadi disalurkan ke dalam tangki hingga mencapai tekanan 10 bar. Setelah melalui tahap ini, udara ke luar dari tangki dan disalurkan lagi ke ruang pengering untuk memastikan tidak ada sisa uap air yang terkandung. Lalu udara tersebut disalurkan lagi ke beberapa filter akhir untuk kemudian disalurkan ke dalam ruangan dengan tekanan udara 4 bar.
Sedangkan dalam pengelolaan lingkungan bangunan hijau, dengan menerapkan Building Energy Management System (BEMS). BEMS merupakan sistem manajemen energi terpusat yang dirancang untuk memantau dan mengendalikan penggunaan energi di gedung. BEMS adalah metode canggih untuk memantau dan mengelola energi dan kebutuhan lainnya dalam gedung secara efisien dan cerdas.
Ini adalah sistem kontrol dan pemantauan kelistrikan yang memiliki kemampuan untuk mengontrol titik pemantauan dan terminal operator. Sistem ini memiliki fungsi pengendalian dan manajemen gedung seperti ventilasi dan pendingin udara, hingga pencahayaan, sistem alarm kebakaran, keamanan, pemeliharaan, dan manajemen utama yang membedakan Sistem Manajemen Energi Bangunan (BEMS) dari sistem control lainnya adalah karakteristik komunikasi: informasi tentang proses dan fungsi bangunan dapat diterima dan dikendalikan di satu unit operasi pusat.
Oleh karena itu, keputusan dapat diambil berdasarkan informasi yang diterima. BEMS menyediakan pemantauan penggunaan energi secara real-time, meningkatkan efisiensi energi, kenyamanan, dan mengurangi jejak karbon bangunan. BEMS dapat dikontrol dari jarak jauh, memungkinkan pengelola gedung memantau danmengendalikan penggunaan energi dari mana saja
Inovasi ini memiliki beberapa kelebihan seperti lebih murah karena penggunaan sistem pengendali dan prediksi konsumsi energi yang dapat menekan penggunaan energi sehingga biaya yang dikeluarkan akan lebih murah. Inovasi ini ramah lingkungan dan berkelanjutan terbukti dengan penggunaan energi surya, turbin angin, serta penggunaan biomassa sebagai sumber energinya. Dengan menerapkan konsep ini, maka terciptanya kawasan yang berkelanjutan dengan sistem air bersih dan sanitasi yang memadai, serta energi bersih dan terbarukan yang sejalan dengan cita-cita global yaitu zero net emission.
Saat ini, semua pembangunan sebisa mungkin menyesuaikan agenda 2030 yaitu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs (Sustainable Development Goals) sehingga semua pembangunan harus inklusif, tetap terjaga, dan kualitas tata kelola meningkat seiring berkembangnya generasi. [] Nisrina Khadijah Putri, Mauly Azzahra, Mahersy Alalh Asybas Siagian
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Indonesia
