Smelter PT Freeport Indonesia Beroperasi, Ciptakan Multiplier Effects Ekonomi

Smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) telah menghabiskan investasi kumulatif sekitar Rp58 triliun atau sekitar USD3,7 miliar. Investasi sebesar itu tidaka hanya memberikan manfaat bagi perusahaan konstruksi dalam negeri, tetapi juga akan menciptakan multiplier effects kepada masyarakat di Kabupaten Gresik 

Smelter PTFI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur, diresmikan operasional oleh pemerintah.  Smelter ini merupakan fasilitas pemurnian tembaga dengan desain jalur tunggal terbesar di dunia dengan kapasitas mencapai 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Smelter ini diharapkan dapat menjadi tonggak utama dalam mendukung kebijakan hilirisasi industri, sekaligus menjaga resiliensi ekonomi nasional.

Dengan beroperasinya smelter ini bersama dengan PT Smelting ini , akan memurnikan 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun dengan produksi sekitar 600.000 ton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak per tahun. Seluruh kosentrat tembaga yang diproduksi oleh PTFI dapat semuanya diproses dan dimurnikan di dalam negeri, demikian juga lumpur anoda dari PT Smelting.

Airlangga Hartarto mengunjungi ruang control smelter PTFI/foto: doc. Kemenko Perekonomian

”Kita beri applause kepada manajemen yang extraordinary. Dan yang dibangun pun pabrik yang extraordinary, luar biasa. Jadi ini sangat tepat waktu, karena saat sekarang renewable energy menjadi tren. Dan tren renewable energy butuh critical mineral. Dan salah satunya adalah copper,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Peresmian Operasi Smelter PTFI,  di KEK Gresik, pada 27/6 lalu.

Untuk mendukung kebijakan hilirisasi tersebut, peran off-takers domestik menjadi sangat penting termasuk penggunaan bahan baku tembaga. Saat ini, pasokan produk hilirisasi tembaga yang dibutuhkan Indonesia masih mengandalkan produk impor seperti copper tube, copper tape, evaporator tembaga, serta komponen-komponen yang dibutuhkan dalam produksi Electric Vehicle (EV). Maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pemerintah terus mendorong industri pengolahan di Kawasan Ekonomi Khusus untuk melakukan hilirisasi.

Adapun Smelter PTFI menempati lahan seluas 100 hektar di KEK Java Integrated Industrial Ports Estate (JIIPE), Gresik. Proyek ini telah menghabiskan investasi kumulatif sekitar Rp58 triliun atau sekitar USD3,7 miliar. Investasi tersebut tidak hanya akan memberikan manfaat bagi perusahaan konstruksi dalam negeri, tetapi juga akan menciptakan multiplier effects kepada masyarakat di Kabupaten Gresik.

Kehadiran PTFI di KEK Gresik juga diharapkan dapat menjadi magnet investasi, khususnya dalam mendukung industri hilirisasi seperti Electric Vehicle (EV). Hingga Maret 2024, KEK Gresik telah mencatatkan investasi sebesar Rp75,2 triliun dan menyerap lebih dari 35.000 tenaga kerja. Dengan begitu, peresmian ini tidak hanya menjadi tonggak sejarah dalam industri pemurnian tembaga di Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan bahan baku industri strategis.

Smelter PTFI menghabiskan investasi kumulatif sekitar Rp58 triliun/foto: ist

“Tentu ke depan Indonesia akan mampu untuk meningkatkan ekspornya. Kalau ekspor kita kuat, maka rupiah kita bisa stabil. Sebagai contoh, dari nikel itu dan dari kelapa sawit ekspor kita USD55 miliar. Nah impor minyaknya USD40 miliar. Jadi sebetulnya natural hedging itu terjadi,” pungkas Menko Airlangga.

Dengan beroperasinya smelter ini, Indonesia diproyeksikan mampu meningkatkan ekspor tembaga, memperkuat nilai tukar rupiah, dan mencapai kemandirian industri. Hal ini sejalan dengan strategi “natural hedging” pemerintah untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional. Di samping itu, integrasi dari hulu ke hilir dalam proses produksi tembaga ini menghasilkan royalti yang signifikan bagi negara, baik dari emas maupun perak.

Sementara dalam hal pasokan air untuk pabrik smelter, direncanakan akan dipenuhi oleh Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Gresik dengan kapasitas 150 liter per detik.

Sedangkan dari segi dampak terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pembangunan smelter ini telah memberikan dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi sejak dimulainya pembangunan.

Penjabat Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono optimis bahwa perputaran ekonomi dari sektor UMKM akan semakin meningkat ketika pabrik smelter mulai beroperasi. Dia juga menekankan pentingnya persiapan dari UMKM untuk menyambut peluang ini dengan baik, serta berharap bahwa peluang-peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lokal.

“Karena UMKM itu persaingan bisnis sehingga kita harapkan UMKM harus menyambutnya dengan penuh persiapan. Saya berharap peluang-peluang UMKM dapat diisi oleh masyarakat lokal,” tuturnya, sebagaimana dikutip jawapos.com, 24/2 lalu.

Dampak ekonomi yang dihasilkan dari pembangunan Smelter Freeport di Kabupaten Gresik mencapai Rp2 Triliun, yang berputar kepada pelaku usaha kecil (UMKM) setempat. Hal tersebut disampaikan Vice President Government Relation & Smelter Technical Support PT Freeport Indonesia,  Harry Pancasakti, dalam dialog tentang ekonomi hijau bersama PWI Kabupaten Gresik pada 19 Februari lalu di Jakarta, sebagaimana dikutip dari klikjatim.com, pada 25/2 lalu.

Perputaran ekonomi atau Multiplier Effect senilai Rp2 triliun itu khusus bidang services. Seperti katering, angkutan pekerja, penginapan pekerja, jasa kebersihan, perusahaan penyalur tenaga kerja, hingga ATK (Alat Tulis Kantor).

Menurut Herry, nilai sebesar itu meliputi 1.600 kontrak dengan perusahaan kecil lokal di Gresik maupun Jawa Timur, berdasarkan data hingga akhir Januari 2024. “Perusahaan-perusahaan tersebut bukan perusahaan besar, tapi seperti CV, yang tergolong usaha kecil menengah,” terang Harry.

Dikatakan, hal ini wujud komitmen PTFI  untuk sebanyak – banyaknya melibatkan masyarakat setempat. Tak terkecuali pekerja kontruksi smelter “Kami dorong kepada Kontraktor kami untuk menggandeng pelaku usaha di Gresik dan Jawa Timur,” ungkap Harry.

Sementara Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia, Gresik berharap kehadiran smelter PTFI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial Port and Estate (JIIPE) Manyar, Gresik, Jawa Timur tidak hanya berdampak terhadap serapan tenaga kerja dan ekonomi regional maupun nasional, tetapi juga usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal, sebagaimana dikutip dari beritasatu.com, pada 21 Juni 2024.

Tak hanya smelter Freeport, dia mengatakan, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di KEK diharapkan memberi dampak positif terhadap ekonomi daerah terutama UMKM,

“Kami (Kadin) berharap efek domino KEK terutama kehadiran smelter Freeport dapat membawa dampak positif bagi UMKM lokal. Sebab terus terang saja, dampak langsung KEK terhadap pemerintah daerah sangat kecil, karena semuanya pusat,” kata Rizal seusai mengikuti diskusi “Investor Daily Round Table (IDRT)” di Hotel Morazen Surabaya, pada 21/6/2024. 

Dia mengatakan dampak positif smelter PT Freeport Indonesia diharapkan bisa dirasakan pelaku UMKM dan warga di Gresik, tidak hanya warga ring 1. “Kan ada sembilan desa masuk ring 1, selain itu masuk ring 2. Nah teman-teman BUMDes sembilan desa itu kita ajak bicara terkait UMKM yang bisa diakomodir,” tandasnya.

Mengenai serapan tenaga kerja, Kadin Gresik mengapresiasi PTFI karena telah memenuhi target 60% merekrut pekerja lokal baik di Jawa Timur maupun di Gresik.[] Yuniman Taqwa