Industri di Batam Nyaris Terkoreksi

 

Para pengusaha mulai khawatir dengan resesi ekonomi Singapura yang akan berdampak langsung dengan ekonomi Batam. Kondisi itu dipicu pandemi virus corona  yang menimbulkan disrupsi supply chain China atas raw material di industri Batam.

Pulau Batam secara geografis memiliki letak yang sangat strategis, berada di jalur lalu lintas perdagangan internasional Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan internasional tersibuk kedua setelah Selat Dover di Inggris.  Posisinya juga sangat strategis hanya 20 km atau 12,5 mil laut dari Singapura, dengan jarak tempuh hanya 45 menit melalui jalur laut, dengan aksesibilitas yang mudah ke negara lainnya di belahan dunia.

Batam sendiri merupakan salah satu pulau terbesar dari 329 rangkaian pulau di Kepulauan Riau yang memiliki luas 415% atau 67% dari luas Singapura.  Batam yang kecil menjadi lokomotif pembangunan nasional dan pusat pembangunan kawasan industri yang berteknologi tinggi. Almarhum BJ Habibie yang kala itu menjabat Ketua Otorita Batam membuat konsep Barelang (Batam Rempang Galang) yang menghubungkan  6 jembatan Barelang agar luasnya menjadi 715 km2 atau 13% lebih besar dari Singapura sehingga diharapkan Batam berdikari dan dapat bersaing dengan Singapura.

Kawasan Perdagangan Bebas Indonesia (Indonesia Free Trade Zone) merupakan kebijakan yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia dan dilaksanakan oleh BP Batam (Badan Pengusahaan Batam) menjadi Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di mana pelabuhan di Kota Batam, Kabupaten Bintan, dan Kabupaten Karimun memiliki izin bebas pajak barang ekspor-impor yang berlaku mulai 1 April 2009 oleh Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan.

Hal ini membuat barang elektronik di Kota Batam atau kendaraan dibebaskan dari PPN, dan menyebabkan barang elektronik yang akan keluar dari Batam dikenakan Pajak Tambahan, serta mobil yang saat dibeli tidak dibayar PPN-nya, tidak bisa dibawa keluar Batam, sebelum membayar PPN 10%

Beberapa tahun terakhir ini Batam mencatat pertumbuhan cukup membanggakan, di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2014, misalnya, pertumbuhan ekonomi mencapai 7,16 persen. Namun, turun menjadi 6,87 persen di 2015, lalu turun lagi menjadi 5,43 persen pada 2016. Kemudian merosot di 2017 dengan angka 2,19 persen. Kemudian naik di 2018 hingga dua kali lipat yakni 4,56 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat pertumbuhan ekonomi Batam pada 2019 mencapai 5,92 persen. Angka tersebut naik jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,56 persen.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi mengatakan, capaian ini menunjukkan, pembangunan yang dilakukan pemerintah Kota Batam sudah pada jalur yang tepat. “Pertumbuhan ekonomi kita membaik. Ini menjadi bukti bahwa pengembangan kota yang kita lakukan pada jalur yang tepat,” kata Rudi di Belakangpadang, pada 28 Februari lalu, sebagaimana dilansir dari media center, Batam.

Rudi berharap pertumbuhan pada 2020 ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Meski di awal tahun perekonomian global sudah dihantam akibat merebaknya virus corona di berbagai negara, “Alhamdulillah capaian ini cukup baik. Karena kita di atas Provinsi Kepulauan Riau bahkan nasional,” kata Kepala BPS Batam, Rahyudin, di Batam Center, sebagaimana dikutip batam.tribunnews.com.

Rahyudin mengatakan, pada 2020 ada kemungkinan terjadi perlambatan dalam laju pertumbuhan ekonomi ini. Karena di awal tahun dunia sedang diserang wabah virus corona. Menurutnya hal ini akan sangat berpengaruh pada perekonomian Batam.

Salah satu kawasan industri di Batam/foto: ist

Sementara para pengusaha mulai khawatir dengan resesi Singapura yang akan berdampak langsung dengan ekonomi Batam. Diketahui virus Covid-19 yang mengguncang negeri singa itu menyebabkan pemerintah Singapura memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya dari 0,5 persen hingga 2,5 persen, menjadi -0,5 persen hingga 1,5 persen.

 

Wakil Koordinator Himpunan Kawasan Industri Kepulauan Riau, Tjaw Hoeing menegaskan kondisi ini perlu menjadi perhatian karena ekspor terbesar Provinsi Kepri ini ialah menuju Singapura. Tjaw Hoeing menggambarkan, jika diibaratkan Singapura batuk saja, maka ekonomi Kepri juga ikut sedikit terguncang.

“Mereka memangkas GDP nya menjadi minus 0,5 persen kan? Nah ini juga perlu menjadi perhatian karena export terbesarnya Kepri kan justru Singapura?  Begitu Singapura batuk saja pasti ekonomi Kepri terguncang sedikit. Kita harapkan kasus corona ini cepat terselesaikan” ucap Wakil Koordinator HKI Kepri Tjaw Hoeing, pada 20/2 sebagaimana dikutip dari rri.co.id/batam.

Lebih lanjut ditambahkan, saat ini posisi ekspor Kepulauan Riau Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kepri yang terbesar ke Singapura, disusul China dan Amerika serikat. Kepri menurut Tjaw Hoeing cukup sulit untuk melakukan ekspor tanpa Singapura karena statusnya sebagai pusat distribusi terbesar di dunia.

“Kalau laporan BPS kan mengatakan ekspor terbesar itu Singapura, setelah Singapura baru China, setelah China, Amerika, kita susah mau ekspor langsung ke luar dari sana karena Singapura bagaimana pun distribution center yang terbesar kan” Tambah Tjaw Hoeing.

Dampak dari mewabahnya virus corona tidak hanya mengganggu  sektor industri di Singapura. Batam sebagai tumpuan investor Singapura juga mengalami kekhawatiran akan berkurangnya bahan baku industri yang diimpor . Hal itu menjadi keresahan bagi para pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri.

Hampir 50 persen bahan baku yang digunakan untuk beroperasi di Batam didatangkan dari China. Sementara, saat ini negara tersebut tengah menjadi sorotan oleh adanya virus corona, yang berimbas tutup dan tidak beroperasinya beberapa perusahaan yang menyuplai bahan baku.

“Terhentinya operasional dari perusahaan di Tiongkok oleh merebaknya virus corona menimbulkan kekhawatiran dan sedikit banyak berpengaruh ke Industri di Batam. Khususnya yang mendatangkan bahan baku dari Tiongkok,” jelas Wakil Koordinator HKI Kepri Tjaw Hoeing pada 19/2/, sebagaimana dikutip dari liputan6.com.

Terkait bahan baku, tambahnya, ada beberapa Penanaman Modal Asing (PMA) yang sudah mengeluh terkait terlambatnya pengiriman. Mengingat, perusahaan di China libur saat Imlek dan memperpanjang lagi hingga akhir Februari akibat merebaknya virus corona.

“Dan hal ini akan berpotensi bahan baku kita tak bisa impor dari Tiongkok. Pengaruhnya sangat besar. Kalau bahan baku dari China tak bisa masuk karena shutdown-nya operasional di sana, maka akan potensi masalah besar di produksinya,” katanya.

Sementara, impor dari China rata-rata 50 persen sehingga sangat signifikan. “Antisipasinya yang dilakukan para pengusaha adalah mencari open market atau bahan baku melalui Eropa. Itu alternatifnya untuk sementara,” ujarnya, masih dari sumber liputan6.com

Satu per satu perusahaan manufaktur di China, masih dari sumber liputan6.com,  mengurangi produksi atau malah menyetop operasi, khususnya di Provinsi Hubei tempat mewabahnya virus corona. “Pengaruhnya bisa dilihat dari keterlambatan pesanan tiba di Batam. Kalau perusahaan di sana stop produksi, maka akan berdampak buruk bagi Batam,” ungkapnya.

Yang kita takutkan shutdown di China itu terus berlanjut. Tapi kita tak tahu ini terjadi atau tidak. Untuk itu, kita harus mencari solusinya. Karena tak hanya Indonesia, globalnya ada China. Jadi bukan masalah Indonesia saja sebenarnya. Dan dampak yang paling terburuknya adalah bakal ada karyawan yang dirumahkan hingga adanya kejelasan terkait bahan baku ini,” Tjaw Hoeing.

Menanggapi hal itu,  Ex Officio Kepala BP Batam HM Rudi menyampaikan , mengenai pasokan bahan mentah tidak hanya dirasakan Batam saja. Namun imbasnya juga daerah lain dan negara lain yang bergantung dengan produksi dari China. Ketergantungan bahan mentah yang berasal dari China menjadi persoalan saat ini.

Ex Officio Kepala BP Batam HM Rudi: pasokan bahan mentah tidak hanya dirasakan Batam /foto: ist

Sementara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepulauan Riau (Kepri), Cahya meminta dengan tegas kepada pelaku usaha atau pengusaha jangan sampai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada masyarakat di tengah makin merebaknya wabah corona (covid-19) di Indonesia.

Kondisi saat ini memang dilema! Bila pasokan raw material dari China terganggu dalam waktu relatif lama, maka bukan tidak mungkin ke depan industri di Batam akan terancam melakukan PHK.

Kabarnya industri di China kini mulai berproduksi, walau pun belum maksimal. Semoga pandemi virus corona segera berakhir, sehingga supply chain raw material dapat pulih kembali. Dan industri pun berproduksi secara maksimal. Semoga…![] Yuniman Taqwa