Masyarakat Berlindung di “Tembok” Kengerian: Kritik  Industri Film Horror Nasional

Ketika melewati lorong-lorong bioskop nasional, saya melihat poster bergambar penuh horror.  Hantu-hantu berwajah seram terpampang di dinding-dinding sudut sisi bioskop. “Oh, ternyata film horror lagi”. Itulah yang pertama saya rasakan ketika pertama kali melihatnya. Yah, industri perfilman bangsa ini selalu dikuasai oleh horror.

Sejak memasuki kejayaannya di dekade 1980-an hingga hari ini, industri film horror meracuni masyarakat Indonesia untuk terus membeli tiket. Dari Top 20 daftar film terlaris di Indonesia,  film horror menguasai panggung dengan  9 film horror. Sementara seperti film  komedi dan drama berbalap-balapan dengan total 6 film drama dan 5 film komedi. Yang menduduki peringkat 1 adalah film KKN di Desa Penari (2022) dengan total penonton sebanyak 10.061.033. Data tersebut semakin menunjukkan betapa kuatnya industri film horror di Indonesia di tengah gempuran zaman.

Secara historis, film horror di tanah air telah berkembang semasa kolonial. Sebut saja film Doea Siloeman Oeler Poeti en Item (1934) dan Tengkorak Hidoep (1941). Ditambah, kedatangan Suzanna sang ratu horror pada dekade 1980 sampai 1990-an menjadi titik balik gemerlap keemasan film horror.

Genre film horror merupakan pusat mengalirnya cuan di ranah perfilman nasional. Film horror diproduksi secara terus menerus hingga hari ini. Industri film nasional didobrak oleh film horror yang kemudian secara tidak langsung menciptakan milking terhadap setiap film horror. Dengan mengandalkan sisi emosional penonton Indonesia yang “dekat” dengan berbagai setan-setan lokal, maka muncul lah film horror di pasaran yang siap menakuti setiap penikmatnya.

Film KKN di Desa Penari tembus 10.061.033 penonton/foto: Youtube

Titik balik menguatnya film horror dimanfaatkan oleh banyak rumah produksi untuk terus menciptakan film bergenre tersebut, turut menjadi momen menurunnya kualitas film horror. Para produser hanya berorientasi pada uang bukan cinta terhadap cerita dan perkembangan film horror menuju ranah yang lebih baik. Film-film horror 2010-an bisa menjadi bukti nyata, dimana film horror diperas habis-habisan dan dikawinkan dengan unsur “dewasa”, yang semakin menunjukkan kualitas penonton orang Indonesia.

Pada periode ini, tidak ada film horror yang benar-benar berkualitas. Kalau pun ada sangat minim. Film Danur (2016)  dianggap sebagai renaisans film horror dengan menghadirkan visual lebih baik. Film yang diangkat dari Buku karya Risa Saraswati itu tidak memberikan alur cerita yang berbeda dan tetap klise serta diakhiri klimaks yang biasa-biasa saja. 

Pada tahun 2017, Joko Anwar kembali menghebohkan industri film horror dengan karyanya berjudul Pengabdi Setan (2017). Film ini saya anggap sebagai titik balik baru yang sukses mengubah citra film horror nasional. Joko Anwar sukses membawakan cerita yang fresh, visual dan audio yang menegangkan nan ikonik, dan tentunya kengerian setiap penonton pasti bisa rasakan. Pengabdi Setan ibarat menjadi renaisans baru bagi film horror nasional. Terlebih dengan total penonton sebanyak 4.206.103 orang, termasuk angka yang tinggi pada masa itu. Fenomena ini menjadi kiblat bagi sutradara dan rumah produksi untuk menciptakan formula horror yang baru. Judul seperti Perempuan Tanah Jahannam (2019), merupakan salah satu karya film horror yang saya anggap sukses meraih pencerahan.

Namun, waktu demi waktu, fim horror formula baru ini kembali menunjukkan niat para pembuatnya yang berorientasi pada cuan. Sehingga muncul ide untuk mengangkat cerita-cerita viral kedalam film horror. Seperti KKN di Desa Penari yang merupakan film terlaris nomor satu di Indonesia. Film tersebut merupakan adaptasi dari kisah cuitan akun twitter soal kegiatan mahasiswa KKN yang mengandung anomali.

Cerita tersebut viral yang kemudian oleh MD Pictures diangkat ke layar lebar. Banyak para penonton film tersebut memberi pujian. Namun, di mata saya yang mengutamakan kualitas film dibanding kedekatan emosional penonton dengan cerita-cerita mistis seperti itu, menganggap bahwa film ini tidak bagus. Bahkan mengarah ke kualitas seadanya dan terkesan tidak dibuat dengan cinta. Alur cerita tidak tertata, tidak memberikan kengerian ketika saya menontonnya, menjadikan KKN di Desa Penari sebagai film yang mudah dilupakan.

Pro-kontra film Vina sebelum 7 hari/foto: Youtube

Kasus paling baru ditujukkan untuk film Vina: Sebelum 7 Hari (2024), yang memiliki formula sama, yakni mengandalkan cerita viral dan diangkat ke layar lebar. Film ini ramai ditonton dan menempati posisi 7 untuk film terlaris di Indonesia. Film Vina menjadi kontroversial beriringan dengan kasusnya. Banyak pro dan kontra rilisnya film besutan Anggy Umbara ini.

Saya berada di posisi kontra dan mengecam rilisnya film Vina teurtama dari aspek moralitas. Film ini terkesan mengeksploitasi korban dengan menjual kisahnya. Belum lagi dengan adegan pemerkosaan yang ditampakkan dengan vulgar, kembali mengingatkan kita dengan film horror 2010-an.

Tapi, kenapa film ini ramai? Sang rumah produksi mengandalkan kisah korban dan memainkan rasa ingin tahu penonton Indonesia yang FOMO. Segala bentuk review dan postingan Film Vina di medsos  membanjiri laman FYP yang kemudian menarik massa penonton  membeli tiketnya. Penonton Indonesia bersifat seperti itu, yakni FOMO, atau ikut-ikutan. Dengan mengandalkan FOMO, sang rumah produksi sukses membawa  uang yang dihasilkan dari eksploitasi korban melalui film Vina.

Sangat disayangkan kualitas penonton Indonesia masih bersifat seperti itu. Pasalnya, mereka lebih menikmati tontotan seperti itu dibanding film yang secara kualitas jauh lebih baik. Saya berikan contoh karya Joko Anwar, Siksa Kubur (2024). Film ini sukses di pasaran dengan meraih 4.000.826 penonton.

Saya rasa sangat miris melihat film berkualitas seperti Siksa Kubur harus tunduk kepada film abal-abal. Secara cinematography, story, plot twist, penokohan dan kompleksitas jelas Siksa Kubur jauh lebih baik. Namun,  kompleks menjadi hal yang kurang disukai masyarakat Indonesia yang praktis, sehingga Siksa Kubur tidak mendapatkan atensi sebanyak KKN di Desa Penari dan Vina.

Industri film horror nasional masih berputar pada isu milking yang dilakukan oleh pelbagai rumah produksi dan kualitas penonton yang masih sangat rendah. Perubahan tidak bisa dilakukan secara revolusioner. Rumah produksi seharusnya lebih menekankan pada kualitas dalam menghasilkan film horror demi menciptakan film yang baik. Apadaya jika orientasi kembali kepada uang dan pasar yang masih dipenuhi dengan standar yang rendah.[] Abrar Rizq Ramadhan