Triatra, Solusi Rantai Pasok Alat Berat Patria, UMKM YDBA Kebagian Berkah
Agar fokus di bidang manufaktur dan untuk menguatkan rantai pasok distribusi produk alat berat Patria, PT United Tractors Pandu Engeneering (UTPE-red) membangun PT Triatra Sinergia Pratama (Triatra-red). Meski baru berusia 3 tahun namun Triatra cukup lincah bergerak. Terbukti, perusahaan distribusi ini mampu mencetak omzet Rp 3 triliun.
Pernah lihat kapal tukboat bermerek Patria melintas di Sungai Barito atau Sungai Mahakam di perairan Kalimantan? Kapal Patria merupakan kapal buatan PT Patria Maritim Perkasa (PMP-red) yang pengoperasiannya di bawah bendera PT Patria Maritim Lines (PML-red). Kedua perusahaan ini adalah anak perusahaan dari PT United Tractors Pandu Engeneering (UTPE-red), member of PT Astra International Tbk.
Industrialisasi yang bergerak cepat, perkotaan yang terus berkembang dan jumlah kelas menengah yang sangat besar telah memicu kebutuhan sumber energi yang handal dan berkelanjutan. Demikian narasi dari akun YouTube PT Triatra Sinergia Pratama, anak perusahaan PT United Tractors Pandu Engeneering (UTPE), pemilik merek produk alat berat Patria, menggambarkan kontribusi perusahaan ini di industri engeneering dan manufaktur yang produknya mayoritas menyasar industri pertambangan.
UTPE merupakan anak perusahaan United Tractors, member dari Astra International Tbk yang bergerak di bidang engeneering dan manufacturing untuk alat berat mining, non mining dan marine . Mereknya bernama Patria, cukup familiar di kalangan pelaku bisnis di sektor pertambangan dan maritim.

Dalam perjalanannya sejak berdiri sejak 1983, UTPE berkembang dan membangun anak-anak perusahaan PT Patria Maritime Perkasa, PT Patria Maritime Industry, PT Perkasa Melati dan Patra Perikanan Lestari Indonesia. Keempat anak perusahaan ini bergerak fokus di bidangnya masing-masing. Pun, untuk memilah antara sektor manufaktur dan distribusi, UTPE pada tahun 2021 membangun PT Triatra Sinergia Pratama (Triatra-red) sebagai business support produk-produk Patria yang terintegrasi.
“Kalau produksi dan distribusi dikerjakan sendiri-sendiri, akhirnya muncul kompetensi yang harus dikembangkan sendiri. Kalau dipisah masing-masing akan fokus di bidang masing-masing. Yang satu berproduksi, yang satu berjualan. Makanya itu kemudian dipisah. Sesuai dengan regulasi pemerintah, manufaktur ya harus fokus dengan bidang manufaktur. Distributor berbeda lagi,” jelas Chrisman Wibowo, Business Support Deputy Director PT Triatra Sinergia Pratama (Triatra) kepada pelakubisnis.com pada kesempatan penandatanganan pembinaan UMKM Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) bersama Triatra, 25 November 2024.
Lahirlah Triatra sebagai distributor produk-produk UTPE. Selama 3 tahun berjalan, penguasaan pasar Triatra mencapai 78% dari produk-produk United Tractors dengan omzet penjualan tahun lalu mencapai Rp3 triliun. Tidak hanya mendistribusikan produk, Triatra juga memiliki otoritas mengembangkan bisnis sparepart semua lini bisnis UTPE.
Chrisman memaparkan, pada saat produk dijual dan siap dioperasikan maka muncul kebutuhan maintenance. Ketika proses maintenance diperlukan sparepart. Namun saat ini muncul kendala dalam hal ketersediaan sparepart yang mayoritas impor. Karena harus menunggu proses pengiriman dan sebagainya. “Di sini kami lihat ada peluang untuk teman-teman UMKM di sektor manufaktur,”tukasnya.
Berangkat dari kekhawatiran selalu bergantung kepada supplier luar negeri dan perusahaan juga ingin membawa kebermanfaatan bagi negeri, Triatra berupaya mencari cara bagaimana UTPE bisa mendapat pasokan sparepart yang selalu tersedia dan itu bisa dibuat di dalam negeri. Salah satunya berkolaborasi membina UMKM YDBA di sektor manufaktur. Ada 11 UMKM binaan YDBA yang digandeng Triatra untuk dilatih didampingi dan pada akhirnya menjadi supplier jaringan bisnis Triatra. “Semoga dalam waktu dekat sudah ada gambaran output-nya. Triatra tidak bisa bergulir tanpa peran UMKM. Perlu solusi untuk berdinamika bersama,”demikian terang Chrisman seraya menambahkan, sudah ada 6 UMKM YDBA yang sudah bekerjasama dengan UTPE sebelumnya.
Diakui Chrisman, Patria selalu dihadapkan pada kendala ketersediaan sparepart impor. Apa harus selalu impor? Kalau sparepart motor bisa dipasok di dalam negeri, kenapa sparepart produk alat berat dan maritime harus impor?. “Tata kelola, legalitas dan kualitasnya belum cukup baik? Ini sebenarnya bisa dikerjakan dengan mesin CNC yang cukup umum dan sudah dikuasai teman-teman di dalam negeri seperti anak-anak SMK (Sekolah Menengah Keterampilan),”papar Chrisman seraya menambahkan, makanya Triatra menggandeng YDBA yang selama ini mampu mengembangkan dan mendampingi untuk masalah tata kelola, legalitas dan kualitas.
Di regulasi LAPAS (Larangan Batas Barang Impor) bahan-bahan dari besi baja ini diatur. “Kami sebagai distributor tidak bisa seenaknya melakukan impor dan pasti kena kuota. Padahal kebutuhan sparepart di dalam negeri cukup besar. Berangkat dari situ bila kita kembangkan di dalam negeri, dengan dibantu teman-teman engeneering pasti bisa. Dan memang di UTPE sendiri kami membangun merek untuk sparepart namanya ‘Ultra’,”ujar Chrisman.
Supaya bisa membedakan produk impor dan lokal, produksi sparepart dalam negeri, maka Triatra menggunakan merek ‘Ultra’. Jadi UTPE memiliki dua merek yakni Patria adalah merek unit alat berat dan Ultra untuk sparepart alat berat. Bila sebelumnya kita beli sparepart luar negeri dan supaya konsumen bisa mengenal produk dalam negeri, maka dibuatlah merek Ultra.
Kendala yang coba diantisipasi Triatra adalah inconsistent product. Misalnya di awal sudah memenuhi standar tapi di kemudian hari ada satu unit yang tidak sesuai.” Kami selalu mengajak product support karena mereka yang akan support di lapangan dan memberikan feedback quality, kita juga ada procurement untuk memberikan feedback pendampingan,”kata Chrisman.
Ia menambahkan, pihaknya melihat kolaborasi sebagai peluang untuk mengembangkan UMKM/IKM dalam negeri untuk dapat berkontribusi dan men-support komponen-komponen alat berat yang dibutuhkan UTPE yang selama ini banyak mengandalkan komponen-komponen impor.

Sebenarnya bukan pertama kalinya Patria menggunakan sparepart buatan Indonesia. Sebelumnya sudah kerja sama dengan UMKM industri logam di Tegal Jawa Tengah untuk memproduksi sub komponen. Bagian dari komponen vessel dan trailer itu sudah di-support dari UMKM Tegal.
“Yang selama ini sudah support untuk galangan kapal. Kami sudah punya PT Patria Maritim Perkasa. Kalau ke Sungai Mahakam atau Barito, lalu ketemu kapal tugboat bermerek Patria, itu sebenarnya yang mengoperasikan PT Patria Maritim Lines, masih anak perusahaan UTPE juga,”terang Chrisman.
Terkait dengan berapa banyak subsitusi impor dalam negeri dari produk yang dihasilkan Patria, secara prosentase menurut Chrisman sekitar 20-30%. Dan raw material untuk sparepart utama masih impor.
Berapa besar supply yang dibutuhkan dari UMKM, sebenarnya kalau bicara transaksi, Chrisman hanya menjawab perumpamaan. Misalnya kebutuhan jangka pendek perusahaan yang dibutuhkan 12 ribu sparepart dalam 1 bulan. “Kalau kemudian kita kejar UMKM kalau cuma dari sisi QCD (quality, cost, delivery-red) teman-teman UMKM pasti belum bisa karena belum punya pengalaman di industri. Makanya berangkatnya harus dari kebermanfaatannya dulu. Untuk kemampuan dasarnya belum bisa memenuhi QCD karena proses kerjanya belum industri. Output nya memang belum mencapai 12 ribu, paling tidak 1000 pieces. Berangkat dari situ saja dulu,”papar Chrisman.
Menurutnya bila melihat kerja sama yang sudah terjalin dengan manufaktur kendaraan bermotor seperti PT Astra Honda Motor dan lainnya, ia yakin UMKM kita bakal mampu membuat komponen alat berat sesuai permintaan klien.
Sebenarnya Patria sudah lama bekerjasama dengan UMKM di Tegal dan di Cakung Jakarta Timur. Itu sudah jalan tahunan memproduksi sub komponen. Mereka sudah mampu membuat komponen pada vessel dan trailer. Di mana butuh beberapa bagian pendukung seperti spacer frame, flexible house, brake house, well carrier dan lain-lain. “Itu yang akan dibuat teman-teman UMKM YDBA. Ketika kerja sama dimulai, Berangkat dari MoU dulu, belum bicara minimum quantity,” aku Chrisman.
UTPE sudah 6 tahunan bekerjasama dengan UMKM Indonesia asal Tegal dan Cakung Jakarta. Menurut Chrisman, langkah strategis dari kerja sama dengan UMKM pada tahap awal ini adalah bisa memenuhi standar yang dibutuhkan Patria. Itu target jangka pendeknya. Target jangka menengahnya mereka menjadi supplier kecil. Misalkan UTPE punya 12 ribu pieces kebutuhan, paling tidak mereka penuhi 1000 pieces dulu.
Dalam kesempatan penandatanganan kerja sama antara Triatra dengan YDBA dan UMKM binaannya, Direktur Utama PT Bimuda Karya Teknik Tri Sukamto yang sudah 6 tahun bekerjasama dengan UTPE berujar,”Awalnya saya suplay stamping untuk otomotif. Kemudian masuk aplikasi ini di-bending (Tri menunjuk komponen besi berbentuk S) yang perlu keahlian khusus. Dilengkungin ini tidak mudah. Beberapa kali gagal tapi coba perbaiki terus, maksimal 3 kali,” urai UMKM asal Tegal Jawa Tengah ini.
“Saya belajar dari teman-teman engeneering. Sepanjang raw material sama dan selama pembentuk nya sama, namun komponen karbonnya berbeda, komponen baja berbeda itu yang membuat output berbeda. Karena materialnya berbeda itu yang menyebabkan kualitasnya berbeda. Nah kami punya lab material untuk menguji besi ini kandungannya apa saja. Jadi pada saat membeli raw material kita sudah tahu, karbon nya harus sekian persen, bajanya sekian persen, dan sering kali teman-teman vendor mereka tidak memiliki tata kelola untuk memastikan outputnya sama,”terang Chrisman.
Soal pertumbuhan omzet depan, kata Chrisman, Triatra menargetkan bisa tumbuh 14%, artinya secara output target naik sebesar itu. “ Kita memang menargetkan produk sparepart lebih tinggi dari unit produk yang dijual. Kebutuhan untuk sparepart cukup besar. Tahun lalu pertumbuhannya 8%,”paparnya.
Bicara market share di industri alat berat yang disasar Triatra baru market United Tractors (UT). UT menjual truk dan dam truk, sejauh ini Triatra sudah mengambil market UT sekitar 78%. “Dari semua truknya kami berusaha support dengan jualan sparepart, trailer dan vessel,”ujarnya.
Ia melanjutkan, mindset teman-teman UMKM ini hebat. Mereka terima dulu, coba dulu! Biasanya orang-orang yang sudah berkecimpung di bidang teknik, ketika menemukan satu benda itu biasanya bisa mengukur kemampuan bisa atau tidak.
Triatra tetap menjual dan lakukan maintenance. Dalam hal ini after sales service UTPE salah satunya adalah Triatra. Karena melihat selama ini ada kebutuhan sparepart yang cukup besar maka pihak Triatra berinisiatif menawarkan UTPE untuk mengembangkan lini sparepart.
Sejauh ini, lanjut Chrisman, sektor tambang masih begitu besar. Itu kenapa pihaknya optimis karena melihat masih ada peluang besar untuk tumbuh. Di industri tambang masih ada ruang untuk tumbuh.
Sementara Rahmat Samulo, Ketua Pengurus YDBA mengatakan, kerja sama UMKM binaan YDBA dengan Triatra bukan ajang mencari vendor. Yang YDBA lakukan dengan Triatra adalah membawa 11 UMKM terpilih untuk dibina dulu supaya QCD (quality, cost, delivery) bisa memenuhi standar Triatra. Ia berharap para UMKM binaan YDBA ini akan bersemangat melihat, mempelajari dan memahami QCD untuk memenuhi standar level Patria. Yang dilakukan Astra merupakan sesuatu yang efektif. Kalau proyek ini berhasil, itu menjadi sesuatu yang luar biasa bagi UMKM. Itu yang diinginkan Om William (William Soerjadjaja) selaku pendiri Astra yang menginginkan Astra seperti pohon rindang terutama untuk UMKM.
Chrisman menyebut indikator pertumbuhan bisa naik 14% diantaranya karena masih banyak titik daerah yang belum diserap. “Misalnya UT mendeliver unit ke Morowali, itu kita belum ada titik support di sana. Di area pertambangan di remote area itu masih besar,”tutupnya.[]Siti Ruslina
