Optimisme PT Indonesia Solar Global (ISG) Menangkap Pasar PLTS di Indonesia

Empat tahun memasuki pasar PLTS, portfolio PT Indonesia Solar Global (ISG) sudah tersebar hampir di seluruh Indonesia. Manufaktur modul surya ini juga merupakan salah satu pemegang kontrak payung Pertamina sebagai supplier modul surya. Bagaimana ISG membidik pasar modul surya di Indonesia?

Letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, menyimpan potensi teknis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang sangat besar. Berdasarkan data, potensi PLTS mencapai 7.700 GW, termasuk dari atap rumah (655 GW) dan badan air (300 GW), meskipun pemanfaatannya masih rendah dibandingkan potensinya. Sampai saat ini tercatat baru mencapai 1,3 GW yang terpasang.

Banyak variabel yang menyebabkan rendahnya akselerasi PLTS di Indonesia. Di antaranya regulasinya harus clean and clear. Namun demikian, pemerintah telah membuat roadmap PLTS di Indonesia. Berdasarkan Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) 2025 – 2034 PLN menargetkan PLTS mencapai 17 GW.

Rama Dinara, Managing Director PT Indonesia Solar Global (ISG)/Foto: pelakubisnis.com

“Skema pembangunan 17 GW ini dilakukan oleh Independence  Power Produce (IPP) project sebesar 80 persen dan 20 persen lagi mungkin project  yang menggunakan APBN,” kata Rama Dinara, Sekjen Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI) seraya menambahkan, sebagai pelaku usaha melihat ada demand, karena proyek ini masuk dalam roadmap negara.

Tidak hanya itu, kata Rama, ada program Presiden yang rencananya membangun PLTS 100 GW di 80.000 desa di Indonesia. Ini merupakan program kelistrikan desa paling besar di Indonesia.  Baru-baru ini sudah ada pilot project yang dilakukan oleh Pertamina. “Besar harapan kami implementasi proyek dapat dibersamai dengan regulasi penggunaan produk dalam negeri,” tegas Rama.

Menurut Rama, pemerintah sudah mengatur proteksi produksi dalam negeri berdasarkan PP N0. 29 tahun 2018 Tentang pemberdayaan industri dan sudah diberlakukan di proyek-proyek PLN secara spesifik terkait penggunaan modul surya. PP ini mengatur penguatan Industri Kecil dan Menengah (IKM), Industri Hijau, Industri Strategis, dan Kewajiban Penggunaan Produk Dalam Negeri (TKDN), bertujuan meningkatkan kapasitas IKM, mendorong inovasi, serta memperkuat daya saing industri nasional melalui kebijakan seperti pelatihan, bantuan modal, fasilitasi akses pasar, dan standar lingkungan.

Misalnya dalam Pasal 61 ayat 1 menyebutkan, dalam pengadaan Barang/Jasa, pengguna Produk Dalam Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 wajib menggunakan Produk Dalam Negeri apabila terdapat Produk Dalam Negeri yang memiliki penjumlahan nilai TKDN dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan minimal 40 persen persen. Sementara ayat 2 menyebutkan, Produk Dalam Negeri yang wajib digunakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki nilai TKDN paling sedikit 25 persen.

Rama menambahkan, rata-rata TKDN manufaktur modul surya di Indonesia sekitar 40 persen. Dengan fenomena demikian, berarti seluruh manufaktur modul surya di Indonesia bisa ikut tender project pembangunan PLTS. “Tinggal bersaing sehat secara relevansi teknologi, sertifikasi yang memadai, dan harga yang kompetitif,” lanjut Rama.

Tapi jangan dibandingkan dengan harga modul surya asal Tiongkok. Pasti produk dalam negeri kalah bersaing. Kebijakan di Tiongkok, misalnya, mendapat cashback 9 persen dari pemerintahnya bila ekspor finish product. “Dari kebijakan Indonesia kalah 1 kosong, skala produksi jangan ditanya, kita kalah 2 kosong.” tandasnya. Toleransi perbedaan harga dengan battle field yang adil sangat diperlukan, sehingga dapat ditentukan harga produk dalam negeri yang paling tepat dan sesuai.

Hingga saat ini sel surya masih impor. Sementara sel surya adalah bobot TKDN paling besar ketika merakit solar panel. Padahal di Kawasan Industri Batang sedang dibangun rmanufaktur sel surya, tapi sampai saat ini masih memprioritaskan pasar Amerika Serikat dan baru akan menjajaki potensi pasar domestik.. Artinya sel surya tersebut tidak dipasarkan di dalam negeri, melainkan untuk kepentingan pabrik modul surya investor di Amerika.

 “Dengan narasi yang APAMSI bangun, kita hendak meminta ruang gerak atau dengan kata lain order-red, namun kita sudah siap secara pengakomodiran teknologi terkini, sertifikasi yang mumpuni, kapasitas produksi yang mumpuni, serta harga yang semakin kompetitif,”ujar Rama kepada pelakubisnis.com 22/12/2025.

Rama: “Sejak awal ISG berdiri, pasar yang dibidik diprioritaskan pasar TKDN”/Foto: pelakubisnis.com

Diakuinya, saat ini Tiongkok memang yang masih terdepan di teknologi modul surya. Narasi yang terus dibangun, apakah produk modul surya dalam negeri sudah relevan apa belum? Apakah sertifikasinya sudah komplit?  Bagaimana dengan kapasitas produksi?  Harga kita tidak mungkin lebih murah dibandingkan Tiongkok, tapi sudah sekompetitif apa? “Itu yang sekarang kita coba narasikan terus ke pemerintah,” lanjut Rama Dinara yang juga menjabat Managing Director PT Indonesia Solar Global (ISG). ISG merupakan perusahaan manufaktur modul surya besutan kelompok bisnis property Karyagraha Nusantara.

Rama melanjutkan, sejak tahun 2019 PLTS di Indonesia menjadi pembicaraan di mana-mana. Saat itu pihak manajemen ingin terlibat di lini bisnis modul surya. Pihak manajemen memutuskan untuk terjun ke bisnis ini dengan membangun pabrikasi perakitan modul surya di Indonesia.

ISG saat ini memiliki 1 line berkapasitas produksi 75 MW pertahun/Foto: Doc. ISG

Namun demikian, ISG baru beberapa tahun menjadi pemain di industri modul surya di Indonesia. Perusahan ini mulai beroperasi tahun 2021 dengan satu line, berkapasitas produksi 75 MW pertahun. “Sejak awal berdiri pasar yang dibidik diprioritaskan pasar TKDN. Tentunya setiap penentuan pasar ada resikonya dan itu sudah dikalkulasikan,” tambahnya. Dari kapasitas produksi sebesar itu, tapi utilitasinya baru sekitar 30 persen.

Meskipun ada yang membeli ritel, kata Rama, tetap dilayani. Tetapi pendekatan pasar lebih ke pasar project-project TKDN. Fokus pasar untuk project-project 10 -15 MW. Walaupun saat ini ada pasar maklon juga yang dilayani ISG.

Lebih lanjut ditambahkan, ISG baru akhir tahun 2021 masuk pasar. Pasar utamanya PLN, Kementerian ESDM dan Pertamina. “Sampai hari ini kami satu-satunya pabrik lokal yang sudah dua kali mendapat penghargaan Subroto Award dari Kementerian ESDM sebagai Komponen Aneka, kami berharap ini bisa menjadi salah satu bukti konkret sebagai bentuk komitmen kami dalam mengembangkan bisnis ini,” ujar Rama.

Rama menambahkan, ISG merupakan subsidiary dari kelompok bisnis properti Karyagraha Nusantara, pengelola Gedung Cyber 1 di Kuningan, Jakarta. ISG mempunyai komitmen yang besar untuk melakukan scale up bisnis modul surya menjadi besar. Apalagi Indonesia akan mengarah ke energi terbarukan, bahkan berkomitmen menjadi Net Zero Emission pada tahun 2060.

Potensi PLTS di Indonesia sangat besar, menjadi salah satu alasan mengapa manajemen tertarik terjun ke bisnis pabrikasi modul surya. Meski kini kapasitas produksi masih kecil, tapi kalau regulasinya sudah jelas, maka ISG tak ragu menduplikasi lini produksi yang sudah ada.

Sementara perkembangan teknologi modul surya berubah cepat. “Baru tahun 2021 kita beli satu teknologi modul surya, tapi pada tahun 2023 sudah harus upgrade teknologi terbaru supaya tidak ketinggalan sesuai dengan tuntutan pasar. ISG salah satu yang relevan secara teknologi, komprehensif dan lengkap secara sertifikasi dan harga kompetitif,” lanjut Rama.

Menurut Rama, perbedaan teknologi modul surya berdasarkan daya perlempeng pada tahun 2021 maksimal 450 watt. Dan ternyata di China teknologi modul surya dikembangkan, supaya sel surya dengan dimensi serupa bisa menghasilkan daya yang lebih besar. Tentunya seperti ISG perlu upgrade stasiun kerja (pabrik). Misalnya dengan teknologi tahun 2021, satu lempeng modul surya hanya menghasilkan 450 watt, tapi dengan teknologi terbaru ini bisa menghasilkan 715 watt.

Rama menambahkan,  case sekarang yang terjadi, misalnya satu lempeng dengan kapasitas 715 watt, tapi yang ditawarkan ISG ke konsumen kadang-kadang hanya 710 watt perlempeng. Kenapa demikian? Selama kita tergantung sel surya dari Tiongkok, tentunya kita tidak bisa kontrol daya yang tertinggi didapatkan. Sejak awal ISG bermain di segmen menengah, walaupun ini dampaknya nanti ada kelebihan daya 5 sampai 10 watt. Jangan sampai memberikan tawaran  tinggi, tapi ketika proyek berjalan, ternyata kita tidak bisa suplay. Penawaran 10 MW misalnya, ternyata hanya mampu supply paling tinggi 8 MW, sedangkan 2 MW dicampur. Saya selalu menjelaskan kenapa ada selisih 5 sampai 10 watt dari produk China. Itu saya jelaskan kepada konsumen.

Contoh dengan Pertamina, requirement mereka perlempeng modul surya berkapasitas 625 watt. “Saya jelaskan ke Pertamina, misalnya dikasih 620 perlempeng modul surya. Lebih baik bapak minta 625 watt perlempeng, saya sanggupi 620 perlempeng, tapi real di lapangan bapak dapat 622 watt perlempeng. Daripada saya iyakan requirement bapak, tapi di lapangan bapak dapat 622 watt perlempeng. Bapak pilih yang mana?” Rama memberi gambaran.

Sejauh ini pihak ISG, menurut Rama, mempunyai kontrak payung dengan Pertamina selama 3 tahun dengan kapasitas 45 MW. Selama kontrak payung yang mulai berlangsung Februari 2023 sampai Februari 2026. Sementara masalah harga disesuaikan dan dapat ditinjau ulang berdasarkan harga modul surya dalam kurun waktu tertentu. “Setiap working order yang rilis, dilakukan renegosiasi ke para pemegang kontrak paying,”tambahnya.

Sejauh ini varian product ISG, tambah Rama, kemampuan produksi dari 100 watt – 715 watt perlempeng. Tapi yang menjadi fokus ISG adalah keempat aplikasi, aplikasi untuk rooftop, aplikasi untuk daerah 3T (Tertinggal, Terdapat, Terluar) di Indonesia (daerah rural), floating dan ground mounted (dipasang di tanah).

ISG tawarkan untuk rooftop 630 watt, kemudian daerah 3T kita tawarkan 580 watt, sedangkan untuk ground mounted dan floating ditawarkan 710 watt. “Bahwa ada yang mau maklon kita terbuka, selama kita bisa buat, term and condition clear, secara legalitas tidak ada hal yang  mengikat, kita terima,” jelas Rama.

Segmen terbesar ISG sampai saat ini, lanjut Rama, masih di segmen ground mounted, baik dalam skala kecil maupun besar. Untuk skala kecil hingga menengah contohnya adalah program-program pompa air tenaga surya (PATS) dari PUPR yang menggunakan ukuran 440 – 550 watt. Sedangkan untuk skala besar tentunya proyek-proyek IPP dari PLN.

Ia menambahkan, pihak ISG memproduksi modul surya bukan hanya make to order, tapi make to stock, karena selalu ada marketnya, yaitu para kontraktor yang butuhnya cepat, baik untuk prospek order berdasarkan TKDN maupun non TKDN. Biasanya untuk stock sekitar 2 MW. Tapi titik berat pasar tetap di IPP. “Untuk skala pasar ISG 10 -15 MW ‘hilal-nya’ sudah kelihatan. Tahun ini dibuka tender skala 10 – 15 MW sebanyak 6 titik, akhir tahun ini sudah 3 tender  dieksekusi, sudah kelihatan siapa pemenangnya. ISG masih menunggu step berikutnya. Kami.lagi berjuang,” jelasnya.

Memang ke depan potensi pasar PLTS di Indonesia akan berkembang pesat. Selain potensi pasar sebesar 17 GW berdasarkan RUPTL, juga ada  program pembangunan 100 GW PLTS untuk 80.000 desa di Indonesia. Bahkan rencananya akan mengganti seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke PLTS, tapi proyek ini masih menunggu proses lebih lanjut dari pihak terkait.

Sejak empat tahun terakhir, portfolio hampir di seluruh Indonesia. Untuk sektor ESDM sudah lebih dari 90 lokasi. Sementara di Pertamina ISG sebagai salah satu pabrikan modul surya pemegang kontrak payung dan di PLN, pihak ISG siap support. “Kami berharap kesiapan ISG dapat ikut ambil bagian dalam program percepatan transisi energi di Indonesia,” tandas Rama mengunci percakapan.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa