Berdayakan UMKM Difabel, YDAI Ubah Stigma Masyarakat
Berbekal akses jaringan, Teguh Prasetyanto dan Isnurul Naeni mendirikan Yayasan Difabel Action Indonesia (YDAI). Bukan ingin membuat kaum difabel menjadi ‘spesial’ melainkan mengubah stigma masyarakat bahwa hasil karya teman-teman Difabel setara dengan karya Non-Difabel lainnya.

Eksistensi kaum difabel seringkali dipandang sebelah mata. Dianggap lemah maka tak jarang masyarakat menanggapi dengan sikap berlebihan dan menempatkan posisi yang ‘spesial’. Paradigma ini harus diubah karena di tengah keterbatasannya, kaum difabel bisa melakukan semua hal sama seperti manusia lainnya dengan cara yang berbeda. Demikian disampaikan pendiri sekaligus pengurus Yayasan Difabel Action Indonesia (YDAI), Teguh Prasetyanto dan Isnurul Naeni, minggu ketiga April 2025, saat pelakubisnis.com menyambangi kediaman pasutri ini di wilayah Bogor Jawa Barat. Pelakubisnis.com disambut dengan ramah dan bersahaja. Terkesan tenang dan biasa saja, tapi obrolan kami sarat makna.
Teguh Prasetyanto mengatakan, YDAI dibentuk bukan atas dasar mencari keuntungan di tengah keterbatasan sebagai penyandang disabilitas agar mendapat perhatian dan dikasihani masyarakat. Perlu dipahami, visi misi YDAI adalah memaksimalkan kekuatan di tengah keterbatasan. Jangan jadikan kaum difabel makhluk tidak berdaya. Justru sebaliknya, berdayakan difabel layaknya manusia normal.
Cikal bakal lahirnya YDAI adalah KUBE (Kelompok Usaha Bersama-red) yang diinisiasi Teguh di kisaran tahun 2002. Berangkat dari kegigihan Teguh dalam berkarya yang mampu menciptakan produk yang memiliki nilai. Dalam pandangannya, kaum difabel harus mampu membuat produk yang sesuai standar operasional prosedur (SoP). Setelah produk sesuai standar, kemudian ditentukan HPP (harga pokok produksi-red). “Teman-teman tidak bisa main hantam dengan harga charity. Fenomenanya di tahun 2002 itu, teman-teman difabel hanya jualan pada saat diundang Dinsos (Dinas Sosial-red) di saat Hari Disabilitas Internasional saja,”urai Isna, demikian panggilan akrab Isnurul Naeni.
Isna memberi contoh! Di momen charity, untuk produk bunga akrilik misalnya, dari UMKM IWAPI menjual dengan harga Rp15 ribu/pc, lalu para difabel ini menjual dengan harga Rp50 ribu/pc. Ketika ditanya, kok mahal? Jawabannya, “Karena yang buat kaum difabel’. Teguh dan Isna butuh waktu 6 tahun untuk mengubah paradigma bahwa berjualan itu yang paling utama adalah lumingto, selalu ada ketika ada order dan repeat order, jualan itu yang penting pembeli butuh dan suka karena kualitasnya, bukan karena faktor kasihan.
Tahun 2006 konsentrasi Difabel Action berkembang dari Kota Malang, ke Kota Batu, Kabupaten Malang. Lalu tahun 2007 berkembang ke Surabaya dan 2010 Isna memutuskan berhenti bekerja sebagai wartawati di kota Malang dan mulai ikut mendadani komunitas difabel bentukan suaminya ini. “Waktu itu namanya masih Difabel Action Management, sebelumnya lagi KUBE Difabel,”terang mantan pekerja media ini.
Bersama Isna, Difabel Action Management berkembang tak hanya mengurus UMKM difabel, melainkan berkembang ke sektor pendidikan, ketenagakerjaan dan sebagainya. Sebagai mantan wartawan, ia memiliki jaringan akses cukup luas. “Bagi saya, difabel dan non difabel sama saja! Yang berbeda, karena dari sananya kita dikasih sesuatu yang beda. Tapi menjalani kehidupan dan mengikuti kompetisi yang sama saja dengan manusia normal. Akhirnya kami buat program Pendidikan Difabel, Ketenagakerjaan Difabel, UMKM Difabel. Kalau dulu hanya kegiatan pemasaran saja, akhirnya kita mengakses dinas untuk minta kuota. Misalnya ada pelatihan membuat kemasan, kita minta kirim 2-3 orang,”papar ibu empat anak ini.
Tahun 2013, Teguh dan Isna didapuk menjadi Business Development Jurnal Bogor, oleh Komisaris Utama media tersebut. Babak baru bagi Teguh dan Isna pindah ke Kabupaten Bogor dengan membawa visi misi Difabel Action Management. Saat itu Teguh melihat wilayah sekitar di Kabupaten Bogor, dekat dengan Jakarta namun kaum difabelnya ‘ayem-ayem aja” (anteng-anteng saja).
Ia kemudian melihat, di Kabupaten Bogor ini belum ada SIM D (Sim berkendara mobil dan motor untuk kaum difabel-red). “Tahun 2011 di Malang dan Surabaya sudah ada SIM D. Sudah disosialisasikan dan dipakai oleh teman-teman difabel. Januari 2014 kami sowan resmi masuk ke Bupati dan Walikota Bogor, kami sowan juga ke Kapolres/Kapolresta. Saya tanya, di sini (Bogor-red) sudah ada SIM D? Ternyata mereka juga tidak tahu. Disitu kami sampaikan seperti apa SIM D, kendaraan yang dipakai seperti apa dan harga pembuatan SIM D hanya Rp50 ribu,”ungkap Isna.
Gayung bersambut, meski butuh 2 tahun mensosialisasikan program pembuatan SIM D bahkan sampai 3 penggantian Kapolresta, akhirnya SIM D berhasil dijalankan di Bogor. Agak sulit karena paradigma para difabel waktu itu masih sangat sempit. Masih berpikir, siapa yang mau menilang kaum difabel? Kok pakai bayar? Tahun 2014 Difabel Action sudah memiliki program untuk anak-anak dan UMKM tapi untuk penyandang disabilitas roda tiga belum berjalan. Hingga suatu ketika ada difabel yang kena tilang di Kota Depok, saat itu mulai kesadaran mereka memiliki SIM D. “ Sampai dibuat blocking time dan blocking area untuk teman-teman buat SIM satu hari jadi. Sesuai visi lembaga kami untuk mandiri, kami tidak minta sesuatu yang gratis, tetap bayar. Saya bilang, mereka sudah blocking time, blocking area, hanya untuk kita, jadi wajar kita menghargai orang yang sudah menghargai kita,”papar Isna menceritakan awal berdirinya YDAI.
Persisnya tahun 2016 YDAI yang sebelumnya bernama Difabel Action Management berdiri di Kabupaten Bogor yang merupakan milestone dimana YDAI mulai dikenal di beberapa kedinasan dan kementerian selain Kementerian dan Dinas Sosial. “Tahun 2016 Dirjen Kementerian Perindustrian sampai turun langsung melihat pelatihan perkayuan dan logam sampai menginap di puncak untuk melihat langsung bagaimana para difabel ini bekerja dan tahu sesuatu, menguasai sesuatu. Kalau yang seperti ini tidak mungkin Dinas Sosial yang mengampu. Kami hanya ingin menginisiasi dan mengubah paradigma masyarakat bahwa difabel itu bukan hanya diampu (diurus-red) dinas sosial saja melainkan dinas-dinas lain seperti dinas pendidikan, dinas tenaga kerja dan dinas perindustrian,”terang Isna yang terus berjuang meyakinkan masyarakat dan pemangku kepentingan bahwa difabel itu punya potensi dan potensi itu harus digali sejak dini.
YDAI memiliki tiga pilar kegiatan yaitu, Riset dan Konsultasi, Pelatihan dan Pembinaan dan Pendampingan dan Akses. Dari ketiga pilarnya dibuat banyak program yang menyentuh banyak sektor seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi kreatif, seni dan budaya, lapangan pekerjaan dan mobilitas, Seni Budaya dan Pariwisata, Pertanian, Peternakan, Perikanan, Kepemudaan, Perempuan dan Anak, Perindustrian dan Perdagangan, Dokumen Kependudukan dan Perijinan SIM dan Legalitas Usaha.
Lantas bagaimana YDBA meng-create difabel ke UMKM? Menurut Isna, tidak semua anak-anak difabel lulusan Sekolah Luar Biasa atau pun Sekolah Inklusi yang melanjutkan pendidikan tinggi ataupun mendapatkan pekerjaan. Untuk itu perlunya membekali mereka dengan kewirausahaan. Kedua, bahwa orangtua anak difabel membutuhkan biaya yang tinggi untuk mendidik atau terapi anak difabel.
Akhirnya YDAI berinisiatif merangkul dan mengajak para orangtua mengajarkan anaknya yang difabel ini untuk belajar berwirausaha. “Dalam IncuBie, para difabel dan para orangtua difabel itu mendapatkan pelatihan kelayakan usaha dan legalitas usaha seperti membuat NIB (Nomor Induk Berusaha-red), sertifikat halal, PIRT, desain kemasan, manajemen produksi, manajemen pemasaran, manajemen keuangan dan lain-lain. Dalam hal ini kami bekerjasama dengan akademisi, dan kami juga berkolaborasi dengan perusahaan swasta seperti ACC -Astra Credit Company–, misalnya,”ungkap pengurus Komunitas UMKM Kabupaten Bogor ini.
“Kami juga kerjasama dengan teman-teman UMKM dari berbagai daerah yang sudah ekspert di bidangnya masing-masing. Misalnya bagaimana membuat telor asin. Ketika coba dipraktekkan dan dijual lalu laku, disitu muncul semangat menekuni bidang yang diminati,”timpal Teguh.
Lalu ditentukan bakat dan minatnya ke jenis usaha apa, ke sektor apa, dilakukan mapping. Dibuat mapping dalam suatu wadah bernama Incubie UMKM YDAI yang terdiri dari beberapa cluster. Ada pembekalan lewat pelatihan untuk mengetahui bakat dan minat kaum difabel. Di cluster perbengkelan misalnya, mereka bisa belajar tentang modifikasi kendaraan difabel dan modifikasi alat bantu difabel. Dalam hal ini Teguh sudah memiliki 3 bengkel motor modifikasi. Adapula pelatihan di cluster kriya (craft) seperti membuat kreasi decoupage, ecoprint, shasiko, shibori, kanta, rajut, kristik, anyaman, flannel dan lenan.
Lalu di cluster kuliner ada pelatihan membuat aneka bolu, kue kering, kue basah, keripik, aneka sambal, rujak serut dan minuman nusantara. Adapula jasa penjahitan dan desain percetakan, percetakan itu sendiri seperti membuat pin, kartu nama, sticker dan banner hingga ragam merchandise.
Ada pelatihan serfis elektronik seperti serfis HP, serfis laptop, kompor gas, TV, AC, kulkas dan mesin cuci. Adapula cukur rambut dan salon kecantikan, jasa bekam dan pijat refleksi, akupunktur dan pijat shiatsu hingga pijat badan (tunanetra). IncuBie UMKM YDAI juga ada cluster perdagangan buah, warung jajanan, sembako dan warung makan hingga peternakan dan pertanian.
Berbagai cara pemasaran dilakukan. Selain melalui whats app group (WAG), Instagram juga melalui agenda bazaar seperti Bazaar UMKM KPPN (Kantor Perbendaharaan Negara), bazaar yang diselenggarakan dinas, dengan banyak kementerian, dan lain-lain. Secara bergilir dan disesuaikan dengan cluster masing-masing UMKM.

Diakui Isna, pihak YDAI tidak bisa memonitor secara menyeluruh berapa omzet para UMKM binaannya. Paling tidak yang bisa dimonitor omzet bila ada event. Setahun bisa 6 kali YDAI mengirim UMKM binaan ke event pameran nasional. Salah satunya event Pameran InaCarft Februari 2025 lalu dimana Isna dan tim YDAI mendapat kesempatan dari Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra- memamerkan produk kriya hasil karya para difabel binaannya berupa tas-tas ecoprint, decoupage dan beragam jenis aksesoris kerajinan tangan lainnya.
“Dengan YDBA kami masih harus belajar lagi. Terbilang susah harus menerapkan unsur 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) yang artinya sangat dalam, masih banyak yang harus dibenahi. Itu PR buat kami,”ujar Teguh.
Selain event nasional, YDAI juga sering mengikuti event-event bazaar daerah (lokal). “Satu dinas bisa 12 kali acara bazaar dalam setahun. Dinas UMKM & Koperasi, Dinas Perindustrian, Dinas Peternakan dan Perikanan, KPPN, dan lain-lain,”terang pengurus Komunitas UMKM Bogor ini.
Kecuali mereka yang masuk program YDAI, dalam hal ini pihak Yayasan perlu tahu omzet UMKM-nya sebagai barometer bagaimana kebutuhan mereka. Misalnya kerja sama dengan Program Dana Bergulir Astra Credit Company (ACC). Dipelajari berapa besaran dana bergulir, bagaimana tenornya, dari situ dilakukan screening skala usaha dan omzetnya. Barulah dapat terukur sebagai bahan evaluasi.
Di awal kelahirannya (2016) YDAI di Kabupaten Bogor hanya diikuti sekitar 60 orang yang berminat bergabung dalam Incubie UMKM besutan YDAI. Tapi kini sudah mencapai 150 UMKM. Dalam hal ini Incubie UMKM YDAI menjadi inkubator Bisnis yang mendampingi, membina, mewadahi UMKM Difabel mulai dari membuat NIB, Sertifikat Halal, PIRT dan lain-lain bagi 150 UMKM tadi. Lalu ada warungan yang jumlahnya mencapai 150 UMKM. Secara total, ada sekitar 300-an UMKM binaan YDAI (difabel dan non difabel. Dengan warungan ini elaborasinya lebih kepada memanfaatkan InkuBie pada saat ada dana bergulir misalnya.
“Dengan ACC sudah masuk batch-9 dan alhamdulillah UMKM kami cukup kooperatif, sejauh ini kami masih dipercaya dan gak ada yang ‘bleset’. Saya sudah bilang ke mereka (UMKM), bedanya YDAI dengan Yayasan difabel lain, kami cuma bisa kasih akses informasi, akses masuk ke jaringan dinas, akses dana bergulir, akses program, itu yang bisa kami berikan, kita harus sama-sama menjaga, karena kita satu keluarga,”ungkap Pengurus Komunitas UMKM Perempuan yang kerap disapa Bunda atau Mama oleh para pegiat UMKM ini.
Kini tak sedikit UMKM binaan YDAI yang dapat meningkatkan omzet karena tekun menjalani usaha. Ada penjual jus yang ketika pertama kali dibina omzetnya sekitar Rp500 ribu per bulan dan hampir menyerah karena begitu banyak pesaing. Namun saat ini pegiat usaha mikro tersebut sudah mampu menaikkan omzetnya hingga Rp8 juta per bulan.
Selain membina banyak difabel lewat YDAI, Teguh dan Isna juga mempunyai usaha sendiri. Isna lebih banyak menggeluti bidang kriya seperti membuat tas rajut, tas decoupage dan lain-lain. Sedangkan Teguh yang gemar memodifikasi kendaraan, sudah memiliki usaha bengkel semasa di Kota Malang, Jawa Timur. Diantaranya membuat kendaraan dan alat bantu difabel seperti kursi roda elektrik, memodifikasi motor gede roda tiga (R3 model moge), R3 Motor Matic hingga memodifikasi kemudi kendaraan roda empat. “Ada kekhususan dari yang kita bikin, sehingga orang yang menggunakan merasa privat. Yang kita bikin memang custom,”ujar Teguh seraya menambahkan, motor modifikasinya juga diminati segmen lansia untuk kenyamanan mereka berkendara.
Isna menambahkan, sempat bekerjasama dengan Happy Motor Indonesia (Happy Motorcycle), tapi sejauh ini masih agak sulit bila dibuat massal karena belum pernah ada kendaraan roda tiga untuk passanger, baru ada yang diperuntukkan membawa barang. Kemudian harus uji SNI juga di Kemenperin.” Akhirnya tidak berjalan. Karena motor modifikasi itu custom, mengikuti keterbatasan dan kebutuhan teman-teman difabel, berarti tidak bisa dibuat massal,”ujarnya.
Cukup unik Teguh memberi nama Sonem (Songo Anem atau Sembilan Enam-red) Technokindo untuk motor modifikasinya yang sudah dipatenkan. Saat ini ada 2 lini usaha yang menggunakan merek Sonem Technokindo, selain kendaraan modifikasi, Teguh juga mengembangkan usaha produksi sepatu adaptif bermerek Sonem Technokindo untuk difabel pemakai kaki palsu dan pemakai brace sepertinya.”Sepatu ini menjadi produk inovatif pilihan di acara Pameran Produk Inovatif BRIN (InaRI Expo-red) 2024,”pungkas Isna.[]Siti Ruslina/Yuniman Taqwa
