Nicole’s Natural UMKM Binaan Astra, Usung Produk Peralatan Makan dan Dapur Ramah Lingkungan

Masuk dalam 5 UMKM Binaan Astra melalui Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra, Nicole’s Natural  unjuk gigi di event pameran internasional,  World Expo Osaka 2025. Ini bukan kali pertama brand asal Bandung ini lolos seleksi ikut pameran di luar negeri. Namun, siapa sangka produk kerajinan alat makan dari kayu milik Cathy Alexandra ini masih diproduksi secara manual? 

Cognitive Market Research menyebutkan, pasar sendok kayu global terus bertumbuh setidaknya pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 5,6% dari tahun 2023 hingga 2030. Permintaan sendok kayu meningkat karena populernya masakan rumahan. Sementara permintaan terhadap sendok kayu tetap tinggi apalagi di gerai-gerai layanan makanan pada 2023 lalu. Amerika Utara sebagai leader di kategori wooden spoon akan terus memimpin, sedangkan pasar sendok kayu Asia Pasifik diprediksi mengalami pertumbuhan paling kuat hingga 2030.  Adapun ukuran pasar sendok kayu dibagi berdasarkan jenis sendok kayu sekali pakai, sendok kayu yang dapat digunakan kembali. Sementara berdasarkan aplikasi dibagi ke dalam gerai layanan makanan, penggung institusional, catering daring dan penggunaan rumahtangga.

Cathy Alexandra, Owner Nicole’s Natural di event Index Dubai 2024/Foto: Dok. Pribadi

Adalah Nicole’s Natural, sebuah brand produk healthy lifestyle dari Bandung Jawa Barat, yang mulai masuk industri peralatan rumahtangga yang terbuat dari kayu.  “Kami mulai sejak tahun 2012.  Sebelum membuat alat makan, dapur, dan interior dari kayu solid, kami sudah berkecimpung di bisnis aromatherapy, face&body product, dan healthy food. Semua dari bahan-bahan alami dan natural,” jelas Cathy Alexandra, Owner Nicole’s Natural yang mengakui semakin hari bisnis peralatan dari kayu justru semakin berkembang.

Diakuinya, di awal membangun usaha perlengkapan rumahtangga dari kayu jati ini pada tahun 2012 belum banyak pemainnya. Dan tak mudah baginya meraup keuntungan di awal karena dijual dengan harga relatif tinggi karena pembelian bahan baku saja sudah tinggi. “Tapi tetap saja, meski harga saya di atas yang lain di pasar lokal seperti Bali sampai saat ini masih bekerja sama dengan saya. Sudah hampir 10 tahun kami supply ke Bali. Karena saya jaga kualitas produk dan desain-desain yang saya desain sendiri. Ini menjadi challenge buat perjuangan saya dari awal,” tutur alumni Fakultas Ekonomi Universitas Parahiyangan, Bandung, Jawa Barat ini.  

Menurutnya, saat ini produk-produknya tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, seperti: Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya, Bali, dan lain-lain hingga ke pasar ekspor seperti: Australia, Korea Selatan, Malaysia, New Zealand, China, dan lain-lain.

“Kita semua tahu bahwa saat ini sampah plastik sedang mengancam planet kita, membahayakan satwa liar, mencemari lautan, dan mempercepat perubahan iklim. Setiap tahun, jutaan ton plastik berakhir di tempat pembuangan sampah, sungai, dan laut, mengganggu ekosistem serta membahayakan banyak spesies. Pada saat yang sama, deforestasi terus meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, menghilangkan pelindung alami Bumi terhadap perubahan iklim. Namun, masih ada harapan. Indonesia, menjalankan program reforestasi yang ambisius, memberikan kehidupan baru bagi “paru-paru” planet ini dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih hijau,” papar wanita 52 tahun ini.

Ia menambahkan, hutan adalah salah satu alat dalam memerangi perubahan iklim. Pohon berperan sebagai penyerap karbon alami, menyerap CO₂ dari atmosfer dan melepaskan oksigen. Namun, efektivitasnya dalam menangkap karbon berkurang seiring bertambahnya usia. Pohon muda menyerap karbon dalam jumlah terbesar saat mereka tumbuh dengan cepat, tetapi pohon yang lebih tua melambat dalam proses penyerapan karbonnya. Untuk menjaga ekosistem hutan yang sehat dan berkembang, siklus panen dan penanaman kembali yang bertanggung jawab sangatlah penting. Hal ini memastikan bahwa hutan tetap lestari sekaligus memaksimalkan kemampuannya dalam melawan perubahan iklim.

Di sinilah Nicole’s Natural memberikan dampak nyata. Dengan mengubah kayu dari Perhutani-Indonesia yang dipanen secara berkelanjutan menjadi produk dapur, ruang makan, dan interior yang indah, Nicole’s Natural turut menjaga kelestarian hutan Indonesia sambil mempromosikan praktik kehutanan yang bertanggung jawab. Setiap produk yang dibuat oleh Nicole’s Natural membawa kisah keberlanjutan, menghadirkan produk-produk rumah tangga yang dirancang dengan indah, ramah lingkungan, dan tahan lama. Berbeda dengan bahan sintetis yang mencemari lingkungan, kayu yang diperoleh secara legal dan bertanggung jawab mempunyai keindahan alam sambil memastikan bahwa generasi mendatang tetap dapat menikmati manfaatnya. “Produk-produk ini harus disertifikasi dan harus juga food grade. Jadi pemilihan material bahan baku hingga finishingnya jadi orientasi saya juga,”papar Cathy. 

Namun, keberlanjutan bukan hanya tentang konservasi. Ini juga tentang membuat pilihan sadar yang melindungi planet kita. Setiap keputusan yang kita buat—mulai dari bahan yang kita gunakan di rumah hingga produk yang kita beli—akan membentuk dunia yang kita tinggalkan bagi generasi berikutnya. Dengan memilih produk kayu yang bersumber secara bertanggung jawab, konsumen berperan aktif dalam melindungi hutan, mengurangi jejak karbon mereka, dan mendukung masa depan yang lebih berkelanjutan.

Koleksi Nicole’s Natural di event World Expo Osaka, Mei 2025/Foto: Dok. Pribadi

Ia menjabarkan, Nicole’s Natural percaya pada kekuatan tindakan kolektif. “Filosofi kami sederhana namun mendalam: “Satu pohon, satu produk, satu pilihan dalam satu waktu. Setiap pembelian mendukung kehutanan berkelanjutan, memastikan pohon baru ditanam, dan menjaga hutan tetap sehat untuk generasi yang akan datang. Bersama-sama, kita dapat mengubah pilihan kecil sehari-hari menjadi gerakan yang berdampak besar bagi dunia yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Masa depan ada di tangan kita—mari kita memilih dengan bijak,” paparnya.

Berkat dorongan dari beberapa kementerian terkait juga membuat usaha Cathy ini dari hari ke hari semakin berkembang. Bukan perkara mudah masuk ke industri baru. Dimana saat itu pasar belum terbentuk.  Penetrasi pasar dilakukan door to door ke kafe-kafe, resto, hotel hingga spa. “Satu hotel order sekian puluh item sekian boks produk baki dan talenan dengan menggunakan logo mereka (private label-red). Dulu susah masuk Chain Market mereka gak mau. Saya datangi ke toko-toko tapi mereka gak mau, sampai akhirnya mereka aware itu banyak di kafe-kafe tapi waktu itu yang mereka tahu produk ini tidak digunakan untuk makan,” terang Cathy yang kala itu segmen ritel (end user) belum banyak pakai, pun pasar horeka juga baru sebatas menggunakan untuk serving makanan, dekorasi dan hiasan, belum menjadikan alat makan.

Bertumbuhnya usaha Nicole’s Natural juga tak luput dari strategi Cathy yang aktif berkolaborasi dengan banyak pihak. Seperti dengan Universitas Parahiyangan, Bandung, Jawa Barat yang bekerjasama dengan Astra- Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dimana Unpar ada program pembinaan UMKM masyarakat sekitar kampusnya, dari situ ia dikenalkan pihak Unpar dengan Yayasan Astra-YDBA pada tahun 2022-2023 lalu. “Saat ini saya juga sedang ada pendampingan tentang 5R (ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin) dan K3 (Keselamatan, Kesehatan dan Kondisi) untuk pembenahan internal pabrik saya,” ujar Cathy.

Buatnya cukup rumit tapi harus diikuti karena memang bagus hasilnya untuk perbaikan manajemen perusahaannya. YDBA banyak memberikan input-input yang bagus untuk pengelolaan perusahaan seperti pengelolaan di area produksi, kantor dan area gudang.

Cathy cukup rajin mengikuti sejumlah kegiatan pembinaan dari banyak pihak yang mensupport usahanya. Seperti dengan ITPC (Indonesian Trade Promotion Center-red) dari beberapa negara yang selalu memberikan info-info terkait dengan pasar ekspor.

Alhasil omzet penjualan produk dengan harga mulai belasan ribu rupiah ini terus meningkat per tahun nya kurang lebih 10%. Terlebih ketika produknya diterima pasar ekspor.  Satu kali ekspor ia bisa mengirim 5 ribu hingga 20 ribuan pieces produk Nicole’s Natural. “Agustus kami akan penjajakan ke Denmark,” tukasnya.

Sejak tahun 2021-2022, Nicole’s Natural mulai merambah pasar ekspor. Mendapat support dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin),  Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kemenkop (Kementerian Koperasi)  juga dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung dan  Dinas Kota Bandung, Jawa Barat lainnya. ‘Saya banyak terbantu dari fasilitas yang diberikan pemerintah,” aku Cathy.

Tak heran bila   dalam sebulan, ia berani memproduksi hingga 10 ribu pieces dari semua jenis peralatan kayu, mulai semua jenis item sendok, baki, mangkok, piring dan sebagainya. Dengan kapasitas produksi sebesar itu ia mampu melakukan penetrasi ke pasar lokal dan sejak 3 tahun lalu mulai masuk ke pasar ekspor. “Respon market nya sih bagus. Terbukti sudah banyak inquiry masuk walaupun belum deal jadi order,” kata Cathy. 

Produk-produk Nicole’s Natural selain lewat pameran dan marketplace, kini sudah bisa didapat di beberapa kota besar di Indonesia. Tak hanya penetrasi di pasar B2B (business to business) , tapi juga di segmen  B2C (business to customer) seperti, Jakarta (Ranch Market, FoodHall, Alun Alun Grand Indonesia, Pasarina, Growell, Papillon, Chicmart, ONNI House, MuGungHwa, Vivere, Lakon, Azko, Oriorganic, dan lain-lain), Tangerang (AEON, Pendopo, Numi, Ranch Market, FoodHall, Vivere, Opus One, dan lain-lain), Bandung (Setiabudi Supermarket, Opus One, Gormeteria, Toko Organic, Hay Hotel, NuArt, Kame Bakehouse, Toko Yogya, Junction, Nanakam, Sudut Hutanika, dan  lain-lain), Bali (Pepito, Bali Buda, Jenggala, The Keranjang, Wedja Restaurant, Samadi Supermarket, Green Habits, Bali Direct, Pendopo, Sal de Pipa, Ulu Garden), Yogyakarta, Surabaya, Bogor, Cirebon, dan lain-lain.  Bahkan tahun 2024 lalu Nicole’s Natural menjadi salah satu merchandise resmi di event MotoGP melalui Kemenkop.

Ia juga mendapat kesempatan hadir di event-event global  seperti  Index Dubai,  Tokyo Gift Show, Global Sourcing Expo Melbourne, FIVA Vietnam, dan lain-lain yang difasilitasi instansi pemerintah. “Saat ini produk saya juga dibawa Astra (Yayasan Astra) di event World Expo 2025 Osaka,” tutur Cathy tentang keikutsertaan produknya di event pameran bergengsi di Jepang yang difasilitasi Astra. Dalam hal ini ada 5 UMKM binaan Astra melalui Yayasan Astra – YDBA yang tengah tampil di event internasional tersebut.   

Menurut Cathy, tidak ada ukuran lifecycle produk kayunya selain dia patah atau rusak karena kurang baik perawatannya seperti berjamur. Sebut saja tidak dicuci atau setelah dicuci dalam keadaan lembab langsung masuk ruang tertutup. Tapi sendok kayu justru lebih higienis bila dirawat dengan benar.

Dari sisi keberlanjutan, peralatan dari kayu memiliki nilai tambah untuk lingkungan berkelanjutan dan juga untuk kesehatan.  “Seperti contohnya, centong nasi plastik ketika terkena nasi yang panas dia akan terekspos oleh panasnya nasi, itu tidak sehat. Sedangkan dengan centong kayu lebih aman. Secara fungsi dia sama tapi secara kesehatan lebih bagus bahkan lebih sustain ke masalah lingkungan,” terang Cathy.

Diakuinya untuk kuantitas produk peralatan makan dari kayu Indonesia masih kalah dibandingkan China. Tapi untuk kualitas, kayu jati Perhutani yang paling bagus di dunia. Dalam hal ini ia mengembangkan produk alat makan yang berbasis kayu ini bermitra dengan hampir 10 pengrajin dari beberapa daerah di Indonesia. “Produksi kami kebanyakan masih manual dengan tangan dibantu beberapa mesin sederhana, karena untuk beli mesin yang canggih mahal, kami belum bisa, ” pungkas Cathy menutup percakapan. [] Siti Ruslina