Menggugat Zaman: Dobrakan Filsafat Stoikisme Bagi Generasi Muda (1)
Oleh : Abrar Rizq Ramadhan
Pengantar: Beberapa edisi ke depan Redaksi pelakubisnis.com akan menurunkan essai karya penulis bertajuk “MARCUS AURELIUS MENGGUGAT ZAMAN: DOBRAKAN FILSAFAT STOIKISME BAGI GENERASI MUDA”. Essai ini meraih Juara 3 dalam lomba ESSAI SARASVATI UNAIR 2024, tingkat nasional. Selamat membaca!

Kekhawatiran terhadap Generasi Muda kian meningkat di pengujung akhir tahun 2024. Maraknya sikap apatis dan “ikut-ikutan” melahirkan apa yang disebut budaya FOMO (Fear of Missing Out) menjadi salah satu identitas yang mewakili Generasi Muda, terhitung dari Generasi Z hingga Generasi Alpha. Kekhawatiran ini tercermin dari beberapa sikap yang ditunjukkan Generasi Muda dalam merespon perkembangan zaman dengan cara-cara yang praktis dan terkesan mencari validasi demi pengakuan. Hadirnya teknologi berupa internet maupun media sosial justru menjadi alat pencapai validasi. Validasi menjadi suatu bentuk simbolik dalam perwujudan pengakuan masyarakat terhadap satu individu yang menghasilkan suatu gejala FOMO. Gejala ini yang kemudian akan merambat dan menghasilkan validasi yang lain.
FOMO menghasilkan satu keyakinan dalam pikiran bahwa setiap hal yang hadir dalam media sosial, merupakan hal yang tidak bisa dilewatkan, bahkan menimbulkan kecemasan, terlepas dari urgensi maupun nilai dari satu hal tersebut. Tidak peduli itu bermanfaat bagi dirinya tapi yang terpenting adalah validasi karena telah mengetahui, melaksanakan, atau memiliki hal-hal yang muncul di internet. Suatu gejala yang sangat kontra produktif dan justru memberikan stagnasi bagi para pengidapnya.
Fenomena Boneka Labubu yang beberapa waktu lalu viral merupakan studi kasus nyata yang menampilkan wujud FOMO dan haus validasi yang tampak dalam diri Generasi Muda. Ketenaran Boneka Labubu awalnya dipantik dari unggahan Lisa Blackpink yang memamerkan Boneka Labubu melambung tinggi. Kasus ini menandakan gejala FOMO yang tercermin dari respon Generasi Muda ketika melihat satu fenomenema sosial yang sedang naik daun. Semuanya berbondong-bondong untuk membeli Boneka Labubu, selain karena dimiliki oleh Artis K-Pop ternama, sifat barang tersebut yang eksklusif menjadi salah satu alasan Generasi Muda tertarik membelinya. Padahal nilai boneka ini tidak sebanding dengan fungsinya yang merupakan kebutuhan tersier. Sekali lagi ini mengarah pada pencarian validasi demi memenuhi pengakuan di media sosial. Dari sudut pandang ekonomi, gejala FOMO komoditas seperti ini juga berbuah pada gaya hidup Hedonis yang mengutamakan nilai gengsi dibanding nilai fungsi. Suatu hal yang dipandang tidak bijak dalam mengadministrasi kebutuhan pribadi.
Dalam beberapa kasus lain, media sosial juga menjadi salah satu sarana dalam mengekspresikan emosi. Maraknya Akun Sambat di media sosial Facebook dan Twitter/X, menjadi wujud nyata dalam proses pengekspresian emosi di media sosial. Generasi Muda terkhusus Generasi Z menjadi salah satu yang memulai tradisi Akun Sambat yang tujuannya adalah menjadikan akun sebagai ladang cerita dan mengekspresikan emosi. Beberapa kalimat yang keluar dari unggahan Akun Sambat ini berisi argumentasi yang bersifat pesimistik dan nihilistik pada umumnya. Beberapa diantaranya bahkan tak segan menyumpah dengan kata “mati” atau “bunuh diri”. Fenomena Akun Sambat merupakan bagian dari pencarian validasi. Sehingga muncul pertanyaan, apa yang generasi muda butuhkan? Pengakuan sosial?
Segala jenis kegiatan validasi dan FOMO ini justru mereduksi pemikiran kebanyakan Generasi Muda. Mencari pengakuan menjadi urgensi yang determinan dibanding menjalankan tugas dan prioritasnya. Penulis sebagai Generasi Z kerap melihat realitas sosial bentuk-bentuk kasus seperti ini, misalnya banyak anak-anak seusia yang berkuliah namun pikiran dan jiwanya tidak berada di ruang kelas. Tidak lama setelahnya, mereka justru mengunggah status sedang bermain billiard atau nongkrong di kafe-kafe mahal. Keilmuan mereka tenggelam, validasi mereka tercapai. Di sisi lain, Negeri ini sedang berencana untuk meraih Indonesia Emas 2045. Pertanyaannya kini, Emas atau Cemas? Jika memang Negeri ini hendak mencapai pencerahan dan masa keemasannya di masa depan, perlu ada dobrakan yang mampu mempengaruhi satu generasi yang tengah diharapkan perannya dalam masyarkat. Dobrakan itu dapat berupa ide dan gagasan yang datang dari perjalanan historis yang panjang dan berliku.
Dalam sejarah Eropa Klasik, terdapat seorang Kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius Antoninus Augustus. Pengamat sejarah maupun pemerhati filsafat, pasti sepakat bahwa Aurelius ibarat kapas emas yang tertimbun di ratusan duri yang tajam. Ia adalah Kaisar Romawi terakhir yang mendapat label “Kaisar Baik” dari kelima Kaisar sebelumnya, termasuk juga pamannya sekaligus ayah angkatnya, Antoninus Pius. Selain menjadi seorang Kaisar yang bertanggung jawab atas seluruh Wilayah Imperium Romawi, Aurelius juga sering dikaitkan kepada cabang ilmu filsafat Stoikisme.
Stoikisme pertama kali muncul dari seorang pedagang bernama Zeno, di masa Yunani Kuno pada Abad ke-3 SM, yang mengalami karam kapal dan membuat dirinya harus tenggelam di tengah lautan bersama dengan harta dan barang yang hendak ia jual ke Athena. Sebuah cobaan besar bagi seorang pedagang karena harus kehilangan segala aset yang ia punya. Alih-alih duduk menderita di pinggir jalan sambil merenungi nasib dan menyalahkan segala hal, Zeno justru mengunjungi sebuah toko buku di Athena dan bertemu dengan seorang filsuf beraliran Sinis bernama Crates. Pada momen ini, Zeno memutuskan untuk mempelajari filsafat pada umumnya dan Sinisme pada khususnya dan sedikit banyak justru mengilhaminya dalam mendirikan aliran baru dalam filsafat, yakni Stoikisme. Diambil dari kata “Stoa” dalam bahasa Yunani yang berarti teras berpilar, Zeno mengajarkan aliran Stoikisme kepada pengikut-pengikutnya melalui cara-cara diskusi terbuka di sebuah teras berpilar. Dari sana Stoikisme lahir dan para pengikutnya yang disebut Stoa kian bermunculan. Salah tiga pengikut aliran Stoikisme yang terkenal sekaligus menjadi guru besar dari ajaran itu adalah Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius.
Stoikisme adalah cabang filsafat yang berfokus pada pengendalian emosi, pikiran, mental, dan perbuatan. Orang-orang Stoa yang telah menyerap aliran ini hingga ke akar-akarnya telah mencapai apa yang disebut Friedrich Nietszche sebagai Ubermensch atau Manusia Super. Mereka yang dapat mengontrol kendali atas hasrat duniawi merupakan manusia-manusia Stoa. Dikotomi kendali berarti dapat melihat segala hal sebagai sesuatu yang netral. Stoikisme juga mengajarkan penguatan mental. Seperti yang telah disinggung, permasalahan Generasi Muda saat ini adalah FOMO dan pengekspresian emosi yang sembarang. Stoikisme bisa menangani itu jika diilhami dengan perasaan dan pikiran yang bersih karena ia meyakini bahwa rasa marah adalah hal yang wajar dalam siklus alam, namun membiarkannya mengalahkan pikiran sama saja dengan membunuh keseimbangan emosi. Sehingga intisari dari Stoikisme adalah kestabilan emosi dan menjalani hidup layaknya hidup yang harus dijalani. Bukan mencegah satu siklus hidup maupun menimpanya dengan hal-hal yang berlebih. Netralitas adalah kunci, namun Moralitas menjadi pedoman utamanya.
Banyak Generasi Muda yang salah menafsirkan Stoikisme dan cenderung meyakini bahwa Stoikisme sama saja dengan Apatisme, karena sifatnya yang berfokus pada pengendalian emosi tanpa memperdulikan masalah orang lain. Marcus Aurelius dalam karyanya Meditations, menentang argumen itu. Sang Kaisar Baik menegaskan bahwa hidup harus bermanfaat bagi masyarakat dan zamannya. Bermoral dan beradab terhadap orang sekitar, tidak peduli dia orang baik atau orang jahat. Karena pada dasarnya, baik dan jahat merupakan dua komponen determinan dari alam. Dan melanggar siklus alam bukanlah gaya berpikir seorang Stoa. Sehingga, Stoikisme menjadi pembeda dari Apatisme maupun Nihilisme. Mengingat kembali, Stoikisme adalah metode pengendalian emosi dan perubahan diri manusia menjadi entitas yang lebih baik dari sebelumnya, bukan bersikap pasif terhadap hal-hal di sekitar dengan alasan menjaga netralitas emosi.
Pokok ajaran Stoikisme yang secara praktis bersifat netral dan berfokus pada pengendalian emosi, dinilai memiliki relevansinya pada kasus kekhawatiran Generasi Muda di hari ini. Tidak hanya bagi Generasi Muda pada tahun 2024, namun Stoikisme dan kebijaksanaan Marcus Aurelius akan terus relevan di zaman yang akan datang. Pembenahan mental Generasi Muda diharapkan dapat diperbaiki jika mereka menerapkan, tidak perlu secara penuh, aliran filsafat Stoikisme dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah menghentikan budaya validasi dan FOMO yang menjangkit Generasi Z dan Generasi Alpha yang sudah sangat berlebihan dan kontra produktif, menuju Generasi Muda yang berguna bagi masyarkat dan turut menjadi andil dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. ***
*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan pemerhati masalah sejarah
