Menggugat  Zaman: Dobrakan Filsafat Stoikisme Bagi Generasi Muda (3 Habis)

Oleh : Abrar Rizq Ramadhan

Pengantar: Beberapa edisi ke depan Redaksi pelakubisnis.com akan menurunkan essai karya penulis bertajuk “MARCUS AURELIUS MENGGUGAT ZAMAN: DOBRAKAN FILSAFAT STOIKISME BAGI GENERASI MUDA”. Essai ini  meraih Juara 3 dalam lomba ESSAI SARASVATI UNAIR 2024, tingkat nasional. Selamat membaca!

Bagaimana kemudian menciptakan situasi dimana Stoikisme bisa mengilhami gaya berpikir anak muda? Kita sudah mengerti betul bagaimana Stoikisme bisa menjadi pemikiran yang penting dalam menjalani kehidupan yang bebas dari emosi baik dan buruk. Mengharapkan itu jatuh kepada satu individu, hanyalah gagasan yang utopis jika visinya adalah membenahi satu generasi. Maka penyebaran Stoikisme memiliki jalan alternatifnya yang dirasa cukup dekat dengan gaya anak muda, namun  dengan cara yang dilakukan Marcus Aurelius.

Seperti Marcus Aurelius lakukan dalam menyebarkan prinsip Stoikisme kepada rakyatnya. Ia adalah figur yang menjadi contoh dan panutan bagi seluruh Masyarakat Romawi. Berkat kebijaksanaannya dalam menghadapi wabah cacar mematikan, ia dapat mempengaruhi rakyatnya dengan prinsip Stoa. Maka, Indonesia juga membutuhkan figur seperti Marcus Aurelius sebagai corong yang dapat dianut dan secara pasif menyebarkan gaya hidup ala Stoa. Dalam konteks ini, bukanlah pemimpin negara melainkan sosok yang lebih dekat kepada Generasi Muda yakni seorang influencer.

Kecintaan anak muda terhadap influencer bukan lagi menjadi rahasia umum. Sedikit banyak, sikap FOMO dan pengakuan atas validasi yang hadir merupakan bias terhadap sosok influencer dengan segala kekayaan yang dipamerkannya juga dengan melimpahnya followers di akunnya. Sebuah hal yang menjadi idaman banyak anak muda. Beberapa tokoh influencer yang memberikan konten pendidikan juga banyak yang dijadikan role model, seperti Guru Gembul contohnya. Sehingga muncul pikiran bahwa mendobrak gaya hidup tidak sehat Generasi Muda bisa dilakukan dengan mengikuti cara-cara yang paling familiar di mata mereka.

Menciptakan figur yang menerapkan gaya Stoikisme dan mempengaruhi Generasi Muda dengan gaya hidup Stoa. Tidak mesti dengan teori dan praktik yang rumit, cukup menunjukkan bahwa moralitas tinggi adalah standar hidup yang penting dan bebas dari validasi adalah gaya hidup yang sehat. Bahkan bila perlu tidak menyebut sepatah katapun soal Stoikisme atau Aurelius. Terpenting adalah mengubah gaya hidup tidak sehat Generasi Muda dan menggiring mereka menuju mimpi Indonesia Emas 2045. Melalui taktik influencer, diharapkan juga dapat menekan angka kematian di usia muda. Depresi dan ketidakstabilan emosi menjadi salah satu alasan bunuh diri di kalangan Generasi Muda. Stoikisme bisa mencegah hal itu terjadi karena fungsi utamanya yang mereduksi emosi dan menyelaraskan fungsi manusia dalam siklus alam. Seperti yang Aurelius sebut dalam Meditations bahwa kematian bukan hal yang harus ditakuti apalagi didekati, karena ia bagian dari alam. Lakukan tugasmu sebagai manusia bermoral dan jangan terjatuh pada perasaan takut terhadap kematian.

Jika diterapkan dalam kasus Boneka Labubu, Stoikisme dapat menghentikan gejala FOMO generasi muda yang haus validasi dan menghamburkan alat tukar demi produk yang bersifat tersier. Seperti apa yang Aurelius terima dari nasihat ibunya, bahwa hidup sederhana adalah salah satu jalan menuju Stoa. Maka, seorang figur influencer Stoa dapat berperan dalam menghentikan penyebaran gejala FOMO komoditas seperti Boneka Labubu. Hal ini dapat berupa nasihat atau sindiran sinis terhadap nilai fungsi Boneka Labubu yang tidak sebesar itu. Perlu ada seseorang yang menyadarkan dan menyebarkan gaya hidup anti Hedonis dan haus validasi demi menciptakan individu yang Stoa. Setelahnya adalah siklus alam yang melanjutkan dan manusia hanya bisa memilih. Namun, hanya manusia dengan moralitas tinggi yang dapat memahami baik dan buruk, perlu dan tidak perlu. 

Cara seperti ini mungkin tidak memiliki jaminan untuk berhasil secara total, namun selain melalui pendidikan dan karya tulis, media sosial dan figur dapat menjadi alternatifnya. Hal ini juga menjadi refleksi diri kita sendiri untuk meraih gaya hidup baru yang lebih baik dan bebas dari validasi.

Kekhawatiran terhadap Generasi Muda yang kian menunjukkan tanda-tanda kemunduran dari segi keilmuan dan gaya hidup media sosial yang tidak sehat, menjadi satu masalah yang harus dibenahi. Mimpi untuk mencapai Indonesia Emas 2045 akan menjadi utopis jika permasalahan Generasi Muda sebagai pendobrak zaman tidak diselesaikan. Budaya FOMO atau “ikut-ikutan” dan pengakuan atas validasi menjadi salah satu faktor yang menciptakan gaya hidup tidak sehat bagi Generasi Muda, yang secara kausalitas bisa kita lihat dari aspek media sosial dan teknologi.

Stoikisme kemudian hadir sebagai solusi untuk membenahi masalah ini. Cabang ilmu filsafat yang menekankan pada pengendalian emosi dan menajalani hidup selaras dengan alam diharapkan mampu mendobrak gaya hidup tidak sehat bagi Generasi Muda. Marcus Aurelius adalah salah satu tokoh Stoa yang memperkenalkan filsafat Stoikisme ke dunia. Perannya sebagai Kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoa sukses membuatnya mendapat titel Kaisar Baik terakhir. Dirinya memimpin Imperium Romawi dengan mengedepankan pikiran yang moralis dengan mengutamakan kesejahteraan masyarakatnya dibanding kejayaan penaklukan dan penyebarluasan wilayah. Hingga akhir hayatnya, Marcus Aurelius dicintai rakyatnya terutama setelah ia menyelamatkan Romawi dari wabah cacar dengan menganjurkan hidup melalui prinsip Stoikisme.

Pemikiran ini kemudian menjadi solusi dalam mendekonstruksi gaya hidup Generasi Muda yang tidak sehat. Namun, Stoikisime tidak sepenuhnya dapat diterapkan terutama sifat filsafat ini yang sangat individualis. Sehingga muncul alternatif yang diajukan penulis adalah melalui taktik influencer. Influencer sendiri menjadi mimpi baru bagi Generasi Muda dan sedikit banyak menerapkan cara-cara yang FOMO demi meraih mimpi mereka untuk bekerja sebagai influencer. Menciptakan figur Stoa yang menerapkan prinsip-prinsipnya di media sosial merupakan gagasan awalnya sehingga Generasi Muda bisa meniru dan terinspirasi untuk hidup melalui prinsip Stoa. Memang tidak ada jaminan berhasil tapi solusi ini menjadi salah satu alternatif baru dalam mereduksi pikiran Generasi Muda yang tidak sehat dan membimbingnya menuju gaya hidup yang lebih baik sehingga mimpi meraih pencerahan dan Indonesia Emas di masa depan tidak berhenti di tataran visi misi.***

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan pemerhati masalah sejarah


DAFTAR PUSTAKA

Ankersmit, F.R. (1987). Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-Pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Aurelius, M. (2024). Meditations. The Norris Classics.

Aurelius, M. (1892). The Thoughts of the Emperor Marcus Aurelius Antoninus. Little, Brown.

Birley, A. R. (2012). Marcus Aurelius: A Biography. Routledge.

Brinton, Crane. (1967). A History of Civilization. Englewood Cliffs.

Burke, P. (2016). Sejarah dan Teori Sosial. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Engberg-Pedersen, T. (1998). Marcus Aurelius on emotions. In The Emotions in Hellenistic Philosophy (pp. 305-337). Dordrecht: Springer Netherlands.

Hegel, G.W.F. (2001). Filsafat Sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jones, P., Bradbury, L., & LeBoutillier, S. (2011). Introducing Social Theory. Polity.

Lucas, H.S. (1943). A Short History of Civilization. New York: McGraw-Hill Book Company

Manampiring, H. (2019). Filosofi Teras. Jakarta: Kompas.

Marx, K. (2013). Kapital: Buku I. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Robertson, D. (2019). How to think like a Roman Emperor: The stoic philosophy of Marcus Aurelius. St. Martin’s Press.

Russel, B. (2002). Sejarah Filsafat Barat, Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

Seneca, S. (2016). Letters from a Stoic. Xist Publishing.

Situmorang, W., & Hayati, R. (2023). Media Sosial Instagram Sebagai Bentuk Validasi Dan Representasi Diri: SOCIAL MEDIA INSTAGRAM AS A FORM SELF VALIDATION AND REPRESENTATION. Jurnal Sosiologi Nusantara, 9(1), 111-118.

Wijayanti, K., & Wijayani, Q. N. (2024). PERANAN APLIKASI TWITTER ATAU X DALAM INTERAKSI KOMUNIKASI GUNA MEMBANTU PENYEIMBANGAN KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA SAAT INI. Journal Sains Student Research, 2(1), 07-15.

Website Berita

https://www.kompas.id/baca/humaniora/2024/06/26/generasi-muda-menjaga-harapan-dalam-gelombang-kecemasan, Diakses pada, Rabu 9 Oktober 2024, Pukul 14.56.

https://www.inijabar.com/2024/10/fomo-boneka-labubu-refleksi-generasi.html?page=1, Diakses pada, Kamis 10 Oktober 2024, Pukul 17.34.