Kota Cirebon Menjadi Interline Wisata Budaya di Kawasan Rebana

Kota Cirebon terus berbenah dalam rangka menjadi interline kawasan wisata Rebana. Nilai-nilai Cultural Immersion begitu kental menjadikan daya tarik wisatawan berkunjung ke kota ini. Target kunjungan wisata tahun 2025 mencapai 4 juta kunjungan, baik domestik maupun mancanegara.

Hari itu tanggal 5 September 2025 pelakubisnis.com hendak menemui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Cirebon,  Agus Sukmanjaya di kantornya yang terletak di area Balai Kota Cirebon, Jawa Barat. Namun ternyata di tanggal merah perayaan Maulid Nabi itu ‘Pak Kadis’ tengah mengawasi pembenahan Museum Topeng yang baru genap berusia 1 tahun. “Akan ada peluasan area museum,”ujar Pak Kadis tentang museum topeng yang baru dibuka September 2024 bertepatan dengan hampir 100 tahun usia Balai Kota Cirebon yang disebutnya sebagai cagar budaya yang perlu dilestarikan.

Kadisbudpar Kota Cirebon,  Agus Sukmanjaya di beranda Museum Topeng/Foto: pelakubisnis.com

Agus Sukmanjaya mulai bercerita. Bila dilihat dari konsep pengembangan  wilayah,  Kota Cirebon menjadi kota metropolitan dari kawasan Rebana. Dari aspek akomodasi, misalnya, Cirebon menjadi yang terlengkap di wilayah Rebana. Itu sebabnya kota yang terkenal dengan julukan kota udang ini menjadi interline dari wilayah-wilayah di kawasan Rebana. Mungkin dari aspek wisata alam lebih banyak di Kabupaten Kuningan dan Majalengka, tapi wisatawan  menginap dan akomodasi lainnya di Cirebon. Artinya kota budaya yang terletak di pesisir utara Jawa Barat ini  mempunyai difrensiasi dibandingkan wilayah Rebana lainnya.

Menurut Kadisbudpar Agus Sukmanjaya, beberapa kelemahan Cirebon saat ini terus dibenahi. Tahun ini ada 2 kawasan yang sedang direnovasi, yaitu perbaikan Jalan Ciremai Raya dan Jalan Majasem. Arsitektur di kawasan tersebut masih banyak model rumah-rumah peninggalan kolonial Belanda. “Sekarang sedang kita perbaiki jalan-jalan dan penambahan visualnya. Nanti ada gapura yang secara konsep khas Cirebon,” kata Agus kepada pelakubisnis.com, minggu pertama September 2025.

Gapura yang dibangun tersebut, kata Agus, menjadi pembeda dibandingkan kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya.  “Struktur gapuranya yang saya lihat di sana murni Tionghoa. Tapi kalau Gapura di Kota Cirebon struktur penyanggahnya lebih  ke Candi Bongkah, sedangkan ornamen di atasnya khas Tionghoa,” ungkapnya seraya menambahkan, gapura itu berada di kawasan  Pechinaan dan kawasan Keraton.

Lebih lanjut ditambahkan, di kawasan 4 keraton (Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan) yang hanya dibatasi beberapa ruas jalan saja, juga ikut dibenahi. “Teman-teman di keraton menata secara internal, seperti tradisi, infrastruktur dan sebagainya. Sedangkan area penyanggah wilayah itu menjadi tanggungjawab pemerintah kota. Tahun lalu, Pemkot sudah sentuh Kampung Arab. Wilayah ini berbatasan dengan Kampung China, kawasan kota tua, kawasan pelabuhan dan kawasan keraton,”jelas Agus.

Keraton Kasepuhan, salah satu keraton di Cirebon yang dipadati pengunjung pada momen Maulid Nabi/Foto: pelakubisnis.com

Ia menambahkan, pemerintah sangat serius mengembangkan kawasan Rebana. Terbukti sudah ada Perpres No 87 tahun 2021. Perpres ini mengatur percepatan pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan yang dilaksanakan dalam rangka penyediaan infrastruktur dan peningkatan investasi yang berdampak pada perekonomian regional dan nasional. Percepatan pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan dilakukan secara terpadu dan terintegrasi dalam Rencana Induk Pembangunan Kawasan (Rencana lnduk).

Dari aspek pariwisata, menurut Agus di Cirebon lebih banyak mendapat  kesempatan menata kota. Walaupun apa yang dilakukan Pemkot Cirebon tersambung juga dengan rencana pengembangan wilayah Rebana.

Sementara aksesibilitas masuk ke kota Cirebon, menurutnya, semua moda transporasi ada di sini. Transporasi darat, dari mulai jalan tol sampai jalur kereta api pun tersedia. “Di Cirebon ada mini Bandara Cakrabhuwana, walaupun hanya bisa didarati pesawat ukuran kecil,” kata Agus seraya menambahkan ada Bandara Internasional Kertajati, di Majalengka yang jarak tempuh ke Cirebon hanya 45 menit.

Transportasi laut pun ada di Cirebon. Pelabuhan Siliwangi merupakan gerbang laut  utama, Jawa Barat. Di sini selain pelabuhan niaga, juga sebagai pelabuhan penumpang. Menurut Agus, Cirebon layak  menjadi alternatif kunjungan wisata.

Menurut Agus, ada beberapa festival yang secara periodik diadakan. Misalnya Festival Keraton yang sudah memasuki tahun ketiga. Rencananya tahun depan (2026), Festival Keraton akan berskala nasional. Ada juga Festival Jalur Rempah. “Kalau festival ini dikembangkan bisa sampai ke China, tapi ini butuh proses untuk mencapai ke situ. November mendatang akan digelar Festival Seni Madya. Ada seni pertunjukan, animasi, video mapping, lukis dan sebagainya dengan skala nasional,” katanya. Masih di bulan November mendatang, akan digelar pula  Culture Festival  yang berskala  internasional dan   lebih banyak menyuguhkan karya-karya sastra.

Sementara kearifan lokal Cirebon yang bisa dieksplorasi lebih mendalam adalah dokumen-dokumen nusantara, termasuk dokumen dari Arab, Mesir dan beberapa negara lain. Kegiatannya adalah menggelar seminar. Akan ada kumpulan raja-raja dari nusantara dan beberapa negara di kota Cirebon.

Tidak hanya itu, di Cirebon sedikitnya ada 5 kampung wisata yang dapat menjadi salah satu daya tarik wisata. Agus  mengatakan, lima destinasi wisata yang tengah dipersiapkan yakni, Museum Topeng Wong di Balai Kota Cirebon, Kampung Wisata Kacirebonan, Kawasan Gedung Bundar di Taman Kebumen, Kampung Arab Panjunan, dan Wisata Heritage Gedung BAT.

Destinasi wisata tersebut ada yang dalam proses renovasi seperti Gedung Bundar di Taman Kebumen, Museum Topeng Wong di Balai Kota Cirebon dan Wisata Heritage Gedung BAT (British American Tobacco). “Gedung Bundar di Taman Kebumen banyak vandalisme dan rumput liar, nanti akan kita bersihkan. Untuk Museum Topeng Wong di Balai Kota Cirebon, kami sudah minta seniman membuatnya sedangkan Wisata Heritage Gedung BAT itu kelola oleh swasta,” paparnya, sebagaimana dikutip dari cirebonkota.go.id.

Nasi Jamblang sudah ada di Cirebon sekitar tahun 1847 saat pembangunan pabrik-pabrik dan jalan Daendels/Foto: pelakubisnis.com

Dua tahun terakhir ini, tambah Agus, Cirebon sudah menjalankan Gastronomi Cirebon, yaitu kuliner beragam dengan filosofi dan sejarahnya, termasuk makanan khas seperti empal gentong dan nasi jamblang, yang terus dipromosikan melalui acara seperti Festival Kuliner Jalur Rempah. Ternyata gastronomi dapat menjadi daya tarik wisata berkunjung ke Cirebon.

Selain itu, wastra Cirebon merujuk pada kekayaan kain tradisional seperti batik Cirebon yang kini diangkat dalam festival keraton melalui kolaborasi dengan perancang busana dan peragaan busana, menunjukkan nilai seni, budaya, dan kekuatan lokal Cirebon. 

Di samping itu, ada lagi Museum Topeng Cirebon yang berlokasi di area gedung Balai Kota Cirebon yang  usianya baru genap 1 tahun pada 2 september 2025. Kendati demikian, museum ini termasuk cagar budaya karena  bangunan ini diresmikan pada tahun 1927,  menyusul pembentukan Gemeente (wilayah administrative) Cirebon. Gedung dengan ciri khas gaya Art Deco ini menjadi tempat pusat pemerintahan Kota Cirebon pada masa lalu. Kini menjadi salah satu landmark Kota Cirebon yang kini berusia 98 tahun. Sebelum menjadi museum, bangunan ini sebagai Balai Kota Cirebon.

Museum Topeng Cirebon didirikan dalam rangka pemanfaatan Cagar Budaya Gedung Balai Kota Cirebon. Cagar Budaya Gedung Balai Kota Cirebon yang dahulu dikenal sebagai Gemeentehuis Cheribon, merupakan gedung yang berfungsi sebagai kantor Wali Kota (Stadhuis) dan Dewan Kota (Radhuis) Cirebon.

Agus menegaskan, berdirinya Museum Topeng adalah buah dari kebersamaan dan semangat pelestarian budaya. Koleksi di museum ini ada 130 topeng. “Belum lama  dapat hibah sekitar 900 topeng dari seorang pengusaha yang  konsen terhadap kebudayaan. Di hotel beliau di Kuningan memiliki  gallery yang isinya 90 persen topeng, mulai dari topeng Cirebon, nusantara sampai topeng internasional,” katanya.

Meskipun ukuran Museum Topeng Cirebon ini kecil, tapi pengunjungnya lumayan banyak. Rata-rata pengunjung dalam sebulan, menurut Agus, sekitar  500 sampai 1000 pengunjung. Tingginya pengunjung mesium topeng ini, boleh jadi menggugah pengusaha tersebut menghibahkan koleksi topengnya ke museum topeng Cirebon yang seremoninya berlangsung pada 10 September 2025.

Agus menjelaskan bahwa, selama setahun berjalan Museum Topeng Cirebon, tercatat ada 7527 kunjungan. Ia berharap jumlah ini semakin meningkat dengan bertambahnya koleksi topeng. “Museum ini adalah rumah budaya, tempat untuk belajar, memahami, dan menumbuhkan cinta pada warisan leluhur,” tuturnya.

Agus menambahkan, ada beberapa koleksi topeng di museum ini, yaitu topeng panca wanda yang terdiri Topeng Panji, Topeng Samba, Topeng Rumyang, Topeng Tumenggung dan Topeng Kelana.

Pengalihan fungsi beberapa area Balai Kota Cirebon sebagai Museum Topeng Cirebon merupakan salah satu upaya Perlindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Cirebon agar bangunan cagar budaya tidak hanya lestari, tetapi juga dapat berguna bagi masyarakat luas.

Agus menambahkan tahun 2024, Pendapatan Asli Daerah kota Cirebon sekitar Rp 800 milyar. Dari angka tersebut kontribusi di sektor pariwisata lebih di sektor pajak daerah sekitar Rp 384 milyar. Dari angka pajak ini,  sektor pariwsata menyumbang sekitar 47 persen dari sektor hotel, restoran dan hiburan.

Sementara tahun ini, tambah Agus, agak berat tantangannya. Pasalnya, program efisiensi pemerintah berimbas terhadap pendapatan sektor pariwisata. Kita baru bicara pajak hotel, restoran dan hiburan. Pencapaian sampai hari ini (awal September 2025-red), di sektor hiburan baru Rp5,9 milyar dari target Rp 16 milyar.  Pajak hotel targetnya Rp 23 milyar, baru tercapai Rp 12,9 milyar. Sedangkan restoran targetnya Rp 80 milyar, sudah tercapai Rp 51,6 milyar.[] Siti Ruslina