YDBA Bangun Ekosistem UMKM Masuk Rantai Pasok Perusahaan Besar
Yayasan Astra – YDBA bersama ayah angkat memberikan pendampingan kepada IKM/UMKM agar dapat membuat produk sesuai dengan standar QCD. Dengan terpenuhi standar QCD tersebut, maka IKM/UMKM binaan berpeluang besar menjadi bagian dari rantai pasok ayah angkat.
Sejak berdirinya Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) pada 2 Mei 2080 silam, telah banyak membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) anak negeri. Yayasan Astra ini bukan hanya setahun dua tahun membantu IKM/UMKM, tapi puluhan tahun. IKM/UMKM yang sudah dibina itu diharapkan bisa mandiri dan membina yang yunior atau mentransformasi IKM/UMKM yang di bawahnya.

Secara akumulasi, sejak tahun 1980, Yayasan Astra – YDBA telah mendampingi sebanyak 13.663 UMKM dengan menyerap sebanyak 15.451 tenaga kerja. Pada tahun 2024, misalnya, YDBA telah membina 1.620UMKM aktif. UMKM tersebut terbagi menjadi dua kelompok, yaitu 1.053 IKM/UMKM (65%) merupakan binaan cabang yang mendukung Grup Astra dan 567 IKM/UMKM (35%) binaan inisiatif YDBA.
Ketua Pengurus Yayasan Astra – YDBA Rahmat Samulo, mengatakan, ada empat sektor yang dibina oleh Yayasan Astra – YDBA, yaitu Manufaktur, Bengkel Roda 4, Kerajinan dan Kuliner, serta pertanian. Namun demikian, sektor manufaktur menjadi menarik dari sisi penyerapan tenaga kerja, sebanyak 8.058orang, atau 69% dari total tenaga kerja, meskipun jumlah IKM/UMKM-nya hanya 249 (15%). Ini menunjukkan bahwa IKM/UMKM manufaktur memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja.
Rahmat menambahkan, Yayasan Astra – YDBA menerapkan Kerangka Pengembangan IKM/UMKMyang sistematis untuk menjadikan UMKM “naik kelas” dan mandiri. Kerangka ini dibagi menjadi beberapa level, yaitu Pemula, Madya, Pra Mandiri, dan Mandiri. Pendampingan yang diberikan pun minimal memerlukan waktu 3 tahun.
Namun demikian, menurut Rahmat, keberhasilan sebuah IKM/UMKM untuk “naik kelas” dan menjadi mandiri melalui bimbingan Yayasan Astra – YDBA sangat bergantung pada mentalitas dasaryang ditanamkan kepada para pegiatnya.
Ia melanjutkan, pembinaan yang optimal hanya bisa dicapai bila para pelaku UMKM memiliki fondasi mentalitas kemauan untuk berubah . Sebab, bantuan dan pelatihan dari Yayasan Astra – YDBA akan sia-sia jika pelaku usaha tidak memiliki kemauan keras untuk meninggalkan cara-cara lama yang tidak efisien atau tidak relevan. Kemauan untuk berubah adalah mentalitas pembelajar sejati, yang siap menerima kritik, dan mengadaptasi model bisnis mereka sesuai permintaan pasar yang terus berubah.
“Mentalitas ini bukan hanya tentang keuntungan pribadi, tetapi juga tentang dampak positif bagi lingkungan sekitar. Pelaku UMKM harus memiliki kesadaran untuk menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan komunitas lokal. Sikap bela rasa ini juga mendorong kolaborasi antar-UMKM binaan Yayasan Astra – YDBA dan juga kepedulian terhadap kualitas produk sesuai kebutuhan stakeholders,” jelas Rahmat.
Ia menambahkan, perlunya komitmen janji terhadap diri sendiri dan mitra usaha. Dalam mengikuti program Yayasan Astra – YDBA, komitmen berarti kesiapan untuk menyelesaikan seluruh program bimbingan, menjaga kualitas produk, serta memenuhi kesepakatan bisnis (misalnya Ketika mendapatkan akses pasar). Komitmen pada integritas bisnis adalah hal fundamental untuk membangun kepercayaan dengan pembeli besar dan stakeholder lainnya.
Di samping itu, tambah Rahmat, konsistensi menjaga standar kualitas dan produktivitas setelah mendapatkan pelatihan. Sebuah usaha tidak akan berhasil hanya semangat di awal; dibutuhkan disiplin yang berkelanjutan dalam operasional harian, manajemen keuangan, serta implementasi ilmu yang didapat.
“Persyaratan teknis dan dukungan Yayasan Astra – YDBA adalah kendaraannya, sementara empat mentalitas dasar ini adalah bahan bakarnya. Dengan mentalitas yang kuat, bimbingan strategis dari Yayasan Astra — YDBA dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mewujudkan IKM/UMKM yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Rahmat, Yayasan Astra – YDBA mengukur kemandirian UMKM berdasarkan kriteria penilaian di berbagai aspek. Pertama, Sumber Daya Manusia (SDM). Penilaian kinerja, upah, kebijakan perusahaan, dan perencanaan suksesi. Kedua aspek produksi. Penilaiannya adalah perhitungan biaya, tingkat penolakan, pengiriman tepat waktu, produktivitas, dan sertifikasi. Ketiga, pemasaran.Penilaiannya adalahpromosi, pameran, peningkatan penjualan, dan jenis pelangga. Keempat, Keuangan. Penilaiannya adalah laporan keuangan, perpajakan, dan laba bersih. Kelima penilaiandokumen perizinan, pengelolaan limbah, dan Corporate Social Responsibility (CSR).
“Yayasan Astra – YDBA berperan penting dalam melahirkan UMKM yang bisa memenuhi kriteria QCD (Quality, Cost, Delivery), yang dibutuhkan oleh Grup Astra. UMKM didorong untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri besar, salah satunya Astra, melalui optimalisasi ekosistem pembinaan,” katanya kepada pelakubisnis.com.
Ia menambahkan, bantuan dan bimbingan yang diberikan Yayasan Astra – YDBA mencakup beberapa metode. Sebut saja pelatihan dan pendampingan.Program ini dilakukan secara sistematis dengan tujuan agar UMKM bisa “naik kelas” dan menjadi mandiri. “Assessment Kemandirian Yayasan Astra – YDBA melakukan penilaian untuk mengidentifikasi celah (gap-red) kompetensi UMKM agar mereka bisa mandiri, “lanjutnya serius.
Tidak hanya itu, juga diberi fasilitasi pemasaran, di mana Yayasan Astra – YDBA membantu UMKM mendapatkan peluang pasar dan memenuhi kebutuhan produk perusahaan besar atau pembeli besar (big customer). “Yayasan Astra – YDBA juga mendukung UMKM dalam hal pembiayaan untuk pengembangan modal atau penyediaan aset usaha,” ujar Rahmat.
Meski Yayasan Astra tidak mempunyai data tentang TKDN karena melekat ke perusahaan manufaktur grup Astra, namun semangat Yayasan Astra, kata Rahmat, mendorong UMKM Manufaktur agar dapat memproduksi produk yang memenuhi standar QCD perusahaan besar dalam mendukung pencapaian TKDN-nya.
Lebih lanjut ditambahkan, permasalahan IKM/UMKM yang kerap ditemui adalah tantangan dalam hal mentalitas, manajerial, teknis dan akses pasar, sehingga mereka perlu dibantu. Untuk mengatasi masalah ini, YDBA melakukan pendekatan menyeluruh yang sebut Strategi Triple P Roadmap (3P), yang mencakup People (SDM), Portfolio (Portofolio), dan Public Contribution (Kontribusi Publik).
Yayasan Astra – YDBA, tambah Rahmat, fokus pada empat pilar utama, yaitu Astra Sehat:Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, Astra Hijau:Menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup, Astra Cerdas: Mengadakan program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM dan Astra Kreatif:Meningkatkan dan menggali potensi lokal untuk membuka peluang usaha kreatif, khususnya UMKM.
Menurut Rahmat, melalui Ekosistem Pembinaan UMKM yang telah dirumuskan, Yayasan Astra – YDBA bersinergi dengan ayah angkat yang berkenan berbagi standar QCD dan memberikan potensi order kepada UMKM binaan. Yayasan Astra – YDBA bersama ayah angkat memberikan pendampingan kepada UMKM agar dapat membuat produk sesuai dengan standar QCD. “Dengan terpenuhi standar QCD tersebut, maka UMKM binaan berpeluang besar menjadi bagian dari rantai pasok ayah angkat,” urainya.
Sejauh ini, Yayasan Astra – YDBA memberikan awareness kepada masyarakat umum, bahwa UMKM bisa menjadi bagian rantai pasok perusahaan besar, namun tidak menjanjikan bahwa UMKM bisa jadi supplier langsung (tier 1) grup Astra.
Ada pun alur rantai pasok melibatkan Yayasan Astra – YDBA yang membina dan mempersiapkan UMKM, lalu menghubungkannya dengan perusahaan-perusahaan Grup Astra atau perusahaan swasta lainnya. “UMKM yang terlibat harus memenuhi kriteria tertentu, seperti aktif mengikuti pembinaan Yayasan Astra – YDBA, belum masuk rantai pasok perusahaan besar, dan memiliki mentalitas dasar yang bersedia untuk berubah, berbela rasa untuk menolong, komitmen, dan konsisten,” lanjutnya.
Sejauh ini perkembangan UMKM binaan Yayasan Astra – YDBA, kata Rahmat, dari waktu ke waktu menunjukkan tren positif. Sejak dilakukannya Assessment Kemandirian pada tahun 2015, terdapat 384 UMKMyang telah mandiri dan 1.425 UMKMyang telah “naik kelas”. Berdasarkan data akumulasi, jumlah UMKM yang naik kelas terus meningkat setiap tahunnya, dari 381 pada tahun 2015-2017 hingga mencapai 1.425 pada tahun 2024.
Rahmat menambahkan, implementasi yang dijalankan Yayasan Astra – YDBA agar UMKM binaan bisa “naik kelas” melibatkan beberapa program strategis Misalnya Mentorship (Pendampingan).Yayasan Astra – YDBA memberikan pendampingan yang terstruktur dan menyeluruh, meliputi sisi teknis dan non-teknis.
Selain itu, membangun Ecosystem. Yayasan Astra – YDBA menggabungkan sumber daya dan keahlian dari berbagai mitra, termasuk pemerintah, perusahaan swasta, lembaga pendidikan, dan komunitas UMKM, untuk menciptakan dampak sosial yang lebih besar dan berkelanjutan. “Yayasan Astra – YDBA menyediakan layanan yang menyeluruh untuk mengatasi masalah UMKM dari awal hingga akhir, baik dalam hal bisnis maupun operasional,” ungkap Rahmat
“Dengan strategi ini, Yayasan Astra – YDBA berupaya mempercepat jumlah UMKM aktif dan memperluas dampak sosial mereka, yang juga diukur melalui peningkatan indeks Social Return on Investment (SROI)dan Brand Survey Awareness Yayasan Astra – YDBA,” tutup Rahmat.[] Siti Ruslina
