Membangun Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Jabar Capai 6 Persen Tahun 2026

Optimistis laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat pada 2026 mencapai 5,5 persen hingga 6 persen.  Target tersebut Optimisme tercapai karena ditunjang oleh banyaknya kegiatan pembangunan, khususunya infrastruktur, yang bakal dilakukan tahun depan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat merilis target pembangunan ekonomi tahun 2026 yang mencakup proyeksi pertumbuhan ekonomi, asumsi makro, arah kebijakan, serta dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. 

Gubernur Jabar KDM: pertumbuhan ekonomi Jabar sesuaiagenda pembangunan RPJPD 2025–2045/foto: ist

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memastikan  target yang disusun  Jawa Barat memasuki fase stabilisasi pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan agenda pembangunan RPJPD 2025–2045.

Sebagai informasi asumsi ekonomi makro nasional, menyebutkan bahwa  inflasi tahun 2026 diperkirakan berada pada level 2,5 ± 1%. Sementara laju pertumbuhan ekonomi nasional (LPE) dipatok pada rentang 5,8%–6,3%. Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp16.500–Rp16.900 per US$.

Sekda Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman optimistis laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat pada 2026 mencapai 5,5 persen hingga 6 persen. Ia yakin target tersebut dapat tercapai karena ditunjang oleh banyaknya kegiatan pembangunan, khususunya infrastruktur, yang bakal dilakukan tahun depan.

“Saat ini LPE kita di atas rata-rata nasional sebesar 5,2 persen. Tahun depan kita optimis bisa mencapai 5,5 hingga 6 persen,” tegasnya disela kegiatan Bisnis Indonesia Group (BIG) Conference bertema Optimalidasi Sektor Prioritas Untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Jabar, pada 8/12, sebagaimana dikutip dari laman pemprov Jabar.

Tren positif LPE tersebut didorong oleh pembangunan infrastruktur yang masif, meningkatnya investasi, serta penguatan aktivitas produksi. Manfaat pembangunan infrastruktur yang tengah digenjot akan mulai berdampak signifikan pada 2026, seiring meningkatnya penyerapan tenaga kerja dan kapasitas produksi industri. 

“Dengan catatan soliditas disemua komponen serta strong leadership. Itu sudah tercermin dari Pak Gubernur KDM dengan kepemimpinannya yang kuat dalam mengakselerasi pembangunan di Jabar,” tambahnya.

Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Jabar, Eka Jatnika, mengatakan target ekonomi Jawa Barat 2026 disusun dengan menjaga optimisme dan memitigasi tekanan fiskal dan gejolak ekonomi global.

 “Kondisi ekonomi nasional dan global menuntut daerah untuk semakin adaptif. Jawa Barat menetapkan target ekonomi yang realistis namun tetap progresif, dengan fokus pada produktivitas sektor unggulan dan penguatan daya saing,” katanya di acara Bisnis Indonesia Economic Outlook (BIEO) 2026, di Savoy Homann Hotel, Bandung, pada 8/12, sebagaimana dikutip dari bisnis.com.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Jawa Barat pada 2026 menargetkan pertumbuhan di kisaran 5,7%–6,2%, selaras dengan RKP 2026. Sementara dalam RKPD Jawa Barat, rentang pertumbuhan direncanakan sedikit lebih konservatif pada 5,15%–6,2%.

Sebelumnya, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Muslimin Anwar menyampaikan bahwa ekonomi Jabar berada dalam kondisi solid dan resilien. Prospek Jawa Barat menuju tahun 2026 adalah sarat optimisme.

“Prospek pertumbuhan 2026 diperkuat meskipun menghadapi tantangan global dan domestik. Untuk itu kami mengajak seluruh stakeholders untuk memperkuat sinergi dalam program yang mendukung lima pilar ini,” katanya dalam keterangan resmi, pada 30/11, sebagaimana dikutip dari pikiran-rakyat.com.

Pertama, penguatan stabilitas harga dan ketahanan pangan. Melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sebagai motor utama Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Keberadaan mereka untuk menjamin terjaganya 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif). Serta, akselerasi Swasembada Pangan melalui adopsi teknologi.

Kedua, akselerasi transformasi industri dan akurasi data. “Kami memprioritaskan penyelesaian isu struktural data. Hal ini meliputi peningkatan kepatuhan pelaporan industri ke SIINas untuk menutup kesenjangan 10.000 industri yang belum terdata,” ujar Muslimin.

Ketiga, realokasi investasi dan stimulus fiskal pro-pertumbuhan. Salah satunya memastikan realisasi 104 proyek investasi senilai Rp186,29 triliun yang ditawarkan pada West Java Investment Summit (WJIS).

 “Upaya ini perlu didukung dengan pemberian Insentif Fiskal Daerah terarah (termasuk relaksasi BPHTB, PKB/BBN, dan Pajak Wisata) untuk mendongkrak permintaan domestik khususnya sektor properti, otomotif, dan pariwisata,” ujarnya.

Keempat, pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan. Dan terakhir, optimalisasi digitalisasi lintas sektor untuk efisiensi.

Berdasarkan strategi lima pilar tersebut, dan sinergi pentahelix yang kuat di Jawa barat maka BI Jabar memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat akan berada dalam rentang 4,7%-5,5% (yoy) pada 2025. Dan semakin kuat pada 2026 dalam rentang 4,9-5,7% (yoy).

Sekda Provinsi Jabar Herman Suryatman optimistis laju pertumbuhan ekonomi Jabar pada 2026 mencapai 5,5 hingga 6 persen/foto Pemprov Jabar

Herman menambahkan hingga saat ini realisasi pendapatan provinsi Jabar sudah mencapai kisaran 85 hingga 90 persen dari yang ditargetkan dan ia yakin pada penghujung 2025 dapat mencapai di atas 95 persen. Demikian juga dengan belanja Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat.

“Surplus perdagangan luar negeri Jabar juga masih bagus, dilihat dari masih tingginya nilai ekspor kita,” tambahnya.

Data dari BPS Provinsi Jawa Barat mencatat ekspor Jawa Barat pada Oktober 2025 senilai USD 3,36 miliar atau naik 2,69 persen dibandingkan September 2025 yang senilai USD 3,27 miliar. Secara kumulatif, ekspor Jabar dari Januari 2025 – Oktober 2025 naik 2,31 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2024.

Secara kumulatif, kontribusi ekspor masih didominasi sektor industri sebesar 98,69 persen, diikuti sektor migas sebesar 0,72 persen dan sektor pertanian sebesar 0,58 persen. 

Sementara menurut golongan barang, ekspor tertinggi yaitu golongan kendaraan dan bagiannya senilai USD 7,04 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik senilai USD 5,19 miliar, serta mesin dan peralatan mekanis senilai USD 2,67 miliar.

Adapun, negara tujuan ekspor dari Jawa Barat yang terbesar adalah Amerika Serika senilai USD 5,29 miliar, Filipina USD 2,94 miliar dan Jepang USD 2,38 miliar.

Sejalan dengan ekspor yang mengalami kenaikan, impor Jawa Barat pun naik pada Oktober 2025 secara _month to month_ sebesar 4.13 persen. Nilai impor Oktober 2025 mencapai USD 0,96 miliar, naik dibandingkan September yang mencapai USD 0,92 miliar.

Sepanjang 2025, impor Jawa Barat didominasi oleh bahan baku/penolong sebesar 80,97 persen, diikuti barang modal sebesar 10.75 persen, dan konsumsi 8,28 persen. Menurut golongan barang, nilai impor terbesar adalah mesin dan perlengkapan elektrik senilai USD 1,36 miliar, mesin dan peralatan mekanis senilai USD 0.84 miliar, plastik dan barang dari plastik senilai USD 0,76 miliar.

Negara asal impor dengan nilai terbesar adalah Tiongkok senilai USD 3,35 miliar, diikuti Jepang senilai USD 1,20 miliar, dan Korea Selatan senilai USD 1,15 miliar.

Dengan kondisi ekspor dan impor tersebut, maka sepanjang Januari 2025 – Oktober 2025 neraca perdagangan Jawa Barat mengalami surplus sebesar USD 22,27 miliar. Jawa Barat surplus dengan negara Amerika Serikat, Filipina, Thailand dan Vietnam.[] Yuniman Taqwa/foto utama: ist