Misi Ketok Tular Euis Kurniawati Ajarkan Kaum Muslimah Renang Lewat MSS

Membangun mindset mengajar renang dibayar dengan doa memang tidak mudah.  Sebagai manusia biasa, boleh jadi muncul resistensi dari para relawan  pelatih renang. Tapi Euis Kurniawati membangun mindset dengan keyakinan bahwa  semua pihak dalam komunitas Muslimah Swimming Squad (MSS) berangkat dari satu value yang sama, yakni renang itu adalah olahraga yang disunnahkan. Dan yang menarik, untuk bisa berlatih  renang di MSS tak perlu  bayar. Kok bisa?

Euis Kurniawati bersama Member MSS/Foto: dok pribadi

Sebanyak 850 perenang tangguh bersaing dalam Naval Events Fin Swimming Selat Madura Piala Kasal 2025. Ada yang menarik dari perlombaan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-63 Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL ini, yaitu  kehadiran seorang ibu dengan pakaian muslimah berwarna merah jambu terlihat lincah berlari ke dermaga diantara para perenang yang mayoritas pria dan anak-anak muda.

Beberapa media menyoroti kehadiran wanita bernama  Euis Kurniawati (39) ini karena terlihat mencolok,  selain berpakaian renang muslimah berwarna cerah diantara para perenang pria, dia juga terlihat begitu percaya diri dan siap berenang di Selat Madura sejauh 9 kilometer.”Saya berpikir bisa gak yah saya ibu beranak tiga menyeberangi Selat Madura? Apalagi berat saya masuk kategori big size, Bismillah apapun hasilnya bangga dengan diri sendiri,”tuturnya dari Kanal Youtube KompasTV Jawa Timur.     

Siapa gerangan Euis Kurniawati? Euis adalah Founder Muslimah Swimming Squid  (MSS), komunitas renang muslimah.  Sosoknya jadi perhatian redaksi pelakubisnis.com. “ Oktober 2019 sedang  staycation dengan anak dan suami.  Waktu itu terasa sepi berenang sendirian. Kemudian saya  berpikir kenapa kaum muslimah banyak yang tidak bisa berenang,”dari ujung telepon Euis mulai bercerita.

Ia berpikir boleh jadi para wanita tidak bisa berenang karena takut tenggelam. Kedua boleh jadi karena untuk belajar renang seperti di Surabaya tempatnya bermukim, bayar sampai Rp500 ribu. “Kita para ibu mungkin berpikir dua kali untuk kursus karena masih banyak yang lebih prioritas seperti beli token listrik, buat beli kebutuhan dapur misalnya. Alasan ketiga mungkin boleh jadi secara finansial aman, tetapi tidak berangkat-berangkat juga karena kebanyakan pelatih renang itu laki-laki. Meski pakai baju renang shar’i tetap saja tidak nyaman juga bila  gurunya laki-laki,”ujarnya.

Waktu itu ia mulai berpikir untuk mengajarkan kaum muslimah berenang, tidak usah bayar, cukup bayar pakai doa.  Kemudian niatnya itu didiskusikan dengan suami. Ia  katakan ingin menghidupkan sunnah Rasulullah.  “Mereka bayar tiket masuk sendiri-sendiri, kursusnya gratis sama saya. Niat ini dibolehkan sama suami dengan 2 syarat, pertama tidak boleh jauh-jauh dan tak boleh lama-lama karena saat itu saya masih punya anak usia 3 tahun,”ungkap Euis mengenang awal  menjalankan niat mengajarkan kaum perempuan  untuk bisa berenang.

Langkah awal ia melakukan woro-woro melalui akun instagramnya, menawarkan kursus renang gratis sampai bisa, tanpa bayaran. Kemudian setelah dapat beberapa orang yang berminat, komunikasi berlanjut lewat  whatsapp group untuk kemudahan berkoordinasi soal jadwal dan lokasi renang.

Tepatnya di bulan November 2019  pertemuan perdana latihan bareng (latbar) ia dapat  7 orang peminat dan ketujuh orang ini dalam sekali pertemuan selama 1,5 jam saja sudah bisa renang semua. “Mereka kaget dan saya lebih kaget lagi, kok bisa ya?”, ujar Euis yang berdomisili di Surabaya ini.

Euis menduplikasi diri mencari  Euis-Euis lain sebagai relawan pelatih/Foto: MSSChapterBogor

Lalu ketujuh orang ini melakukan testimony di WA Group dan pada pertemuan berikutnya jumlah anggota terus bertambah jadi  14 orang dan kolam jadi ramai, isinya ibu-ibu  dengan pakaian renang muslimahnya.  “Kolam renang sudah seperti cendol dawet,”canda Euis.

Singkat cerita akhirnya kursus renang gratis bersama Euis jumlahnya terus bertambah hingga muncul permintaan dari daerah-daerah  lain seperti Surabaya Barat sampai  Malang, Jawa Timur.  

Selalu muncul kendala bagi para perempuan yang sudah menikah dan punya anak ketika harus beraktifitas di luar rumah.  Demikian juga dengan Euis. Di tengah semangat membara dimana saat itu jumlah muslimah yang ingin bisa berenang terus bertambah hingga diminta merambah ke area yang lebih luas. Lagi-lagi urusan domestik sebagai ibu rumahtangga jadi kendala. Suami tak mengijinkan ia melatih renang jauh-jauh dari rumah, sementara woro-woro lewat instragram itu mendapat respon sangat baik dari lebih banyak ibu-ibu yang tak hanya di Surabaya, tapi melebar ke daerah-daerah lain.

Atas saran suaminya ia mendapat jalan keluar dengan menduplikasi dirinya mencari  Euis-Euis lain yang mau secara sukarela mengajar renang tanpa dibayar.

Dari facebook kemudian ia mendapatkan relawan-relawan pelatih yang hingga kini sudah mencapai 460 relawan  di 80 kota di Indonesia. Minimal mengajar sebulan sekali.  “Dari jumlah itu mungkin hanya sekitar 10% yang off dan biasanya  mereka cuti karena hamil dan melahirkan”tutur ibu 3 anak ini.

Lantas bagaimana Euis membangun komunitas olahraga air ini dengan tertib? Menanamkan satu visi bagi para relawan pelatih yang tidak digaji? Benarkah semuanya berjalan mulus? Adakah muncul resistensi dari para pelatih karena mereka hanya dibayar dengan doa? Lantas, seperti apa Euis menghidupkan komunitasnya?  Apa saja batasan-batasan yang dibuat dalam komunitasnya agar berjalan langgeng tanpa masalah?

Dari awal membangun komunitas renang muslimah,  Euis membidik segmen  para muslimah usia mulai 15 tahun sampai usia lansia. Kenapa mulai 15 tahun? Alasannya , karena  kursus renang anak-anak sudah cukup banyak dan MSS tidak ingin mengambil ladang pencarian nafkah mereka.  “Anggota kami ada yang sampai usia 73-74 tahun,”tukas Euis tentang usia member-membernya.

Membangun mindset mengajar renang dibayar dengan doa memang tidak mudah.  Sebagai manusia biasa, boleh jadi muncul resistensi dari para relawan  pelatih renang ini. “Kami berangkat dari satu value yang sama. Berenang itu adalah olahraga yang disunnahkan, jadi misi kami mengajak bergabung menjadi pejuang  syiar olahraga sunnah. Point itu yang di-highlight. Orang berdakwah di masjid, di kampus, itu sudah biasa.  Tapi kami berdakwah di kolam renang. Itu yang kami sounding ke teman-teman,”jelas istri dari Adri Suyanto ini.

Menurut Euis, sebelum menjadi relawan Komunitas  Muslimah Swimming Squad (MSS), untuk masuk TFT (training for trainer-red) ada proses interview . Disitu digali apa motivasi dan alasan dia mau jadi pelatih renang tanpa dibayar. Rata-rata mereka menjawab ingin menjadi pribadi yang bermanfaat. Uang tidak punya, keahlian  lain belum memungkinkan , tapi bisa berenang. Dan chemistry bisa didapat pada saat proses interview.

“Ada juga pelatih renang professional yang daftar jadi relawan. Mereka punya sertifikat, berbayar dan punya kelas. Tapi kami sampaikan, di AD/RT kami, itu pelatih renang di MSS  tidak boleh dibayar. Jadi tidak boleh menerima bayaran baik di MSS maupun di luar MSS. Kalau mau melatih di MSS, dia harus melepaskan kelas-kelas berbayarnya.  Kan kasihan dan tak mungkin. Ada juga yang mau komitmen hanya mengajar di MSS setiap hari Jumat hitung-hitung sedekah Jumat tapi hari lain mengajar di tempat lain seperti biasa. Itu tidak bisa! Nanti dia akan berdiri di dua kaki. Jadi pelatih renang di MSS memang diikat oleh AD/RT tadi,”papar Euis tentang misi pemberdayaan relawan pelatih MSS.

Ia menambahkan, ada Surat Akad yang ditandatangani relawan pelatih bermaterai dan ditandatangani suami yang bersangkutan untuk memastikan ketika  bergabung menjadi pelatih di MSS, pihak keluarga paham dan tahu.

Pun kerja sama dengan para pelatih renang ini,  ada klausul-klausul yang  harus mereka pahami.  Di MSS menyediakan dompet infaq  tapi memang bukan untuk menggaji relawan pelatih. Tetapi bisa digunakan untuk membayar tiket relawan untuk masuk kolam renang.  Namun hal-hal lain seperti penyediaan perlengkapan diri seperti biaya skincare dan perawatan tubuh lainnya tidak ada dalam Akad.

“Cuma saya pribadi perlu memuliakan teman-teman relawan ini. Tapi kalau mau beli  sunscreen dari dompet infaq, itu artinya kami melanggar amanah dari komitmen awal. Kami sangat berhati-hati dalam menyalurkan dana infaq. Sehingga saya berpikir bagaimana bisa membantu teman-teman relawan ini, akhirnya kami buka Divisi Kewirausahaan. Dari penjualan produk MSS Mart, labanya kami belikan sunscreen untuk para relawan, tak menutup kemungkinan juga membelikan baju renang,” papar wanita 39 tahun ini seraya melanjutkan, jadi subsitusinya adalah  menggunakan uang dari laba penjualan produk-produk private label MSS Mart atau Divisi Kewirausahaan MSS.

Sisa uang infaq akan masuk ke Charity. Dalam hal ini dari dompet infaq MSS, 80% masuk ke kas MSS Pusat dan 20% masuk ke kas masing-masing Chapter.  Kegiatan charity ini misalnya, membelikan baju lebaran untuk anak yatim, mengajak mereka makan-makan di restoran, mengajak mereka berbelanja.  Charity Programme ini biasanya serentak di puluhan chapter MSS.  Bukti nyata MSS dalam kegiatan charity memang terlihat terutama lewat  media sosial. Selain berbagi untuk anak-anak yatim, seperti MSS Chapter Bogor misalnya, Ramadan Berbagi yang diselenggarakan setiap tahun, mereka juga mengajak para driver ojol wanita berbelanja gratis di minimarket, ada tema Belanja Sembako Untuk Single Mom Dhuafa atau  sumbangan musibah nasional seperti  Gerakan 25K Bantu Sumatera dan lain-lain. Belakangan ini MSS termasuk salah satu komunitas yang paling aktif berbagi.

Kegiatan MSS tidak hanya seputar latihan bareng  (latbar) di kolam renang. Tapi  Euis melalui MSS  memiliki misi  meningkatkan peran para anggota muslimahnya dalam lingkup yang lebih luas. Ada program yang dilakukan secara nasional seperti Program Ruang Bertumbuh bagi relawan dan member, Program Sahabat Sayang yang kegiatannya berbasis kota, dan ketiga adalah Program Upgrading yang diselenggarakan online dan offline sebagai sarana untuk meningkatkan skill dan motivasi bagi para relawan pelatih dan member-membernya.[]Siti Ruslina