Harga Minyak Dunia Meroket, Masyakat Jangan Panic Buying
Dinamika geopolitik global turut memengaruhi stabilitas energi dunia. Perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran, membuat kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena wilayah tersebut merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia. Masyarakat jangan Panic Buying menghadapinya!
Taku kurang sekitar 20 persen lalu lintas migas global melewati Selat Hormuz, sehingga setiap konflik di kawasan tersebut dapat berdampak pada pasokan energi internasional. Boleh jadi Indonesia akan terdampak akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel melaan Iran, karena sebgian impor minyak menah Indonesia melewati jalur tersebut.

.Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, kapasitas tampung tangki timbun di dalam negeri memang terbatas. “Dengan keterbatasan daya tampung tangki timbun (BBM) kita yang ada, kapasitas tampung kita itu tidak lebih dari 25 hari. Sementara yang tersedia stok yang ada kapasitasnya hingga 23 hari. Tetapi bukan berarti 23 hari ini habis. Bukan itu maksudnya. Itu daya tampungnya,” jelasnya di tayangan Podcast Bukan Abuleke, Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu (11/3).
Namun demikian, masyarkat sempat miscommunication akibat pernyataan pemerintah sebelumnya bahwa stok BBM nasional berada pada kisaran cukup untuk sekitar 21 hari. Pernyataan ini yang membuat panic buying di kalangan masyarakat. Masyarakat seolah-olah pasokan hanya tersedia selama periode tersebut. Padahal, sistem pengelolaan energi nasional bersifat dinamis dengan mekanisme pengisian ulang stok secara berkelanjutan.
“Ketika masyarakat mendengar bahwa stok BBM hanya tersedia untuk sekitar tiga minggu, sebagian orang langsung menganggap akan terjadi kelangkaan. Padahal yang dimaksud adalah kapasitas cadangan operasional di tangki penyimpanan nasional, bukan berarti pasokan BBM akan habis dalam waktu tersebut,” ujar Nevi Zuairina, Politisi Fraksi PKS, pada 11/3 di Jakarta, yang dikutip dari laman DPR RI.
Nevi menambahkan, panic buying justru dapat menciptakan kelangkaan buatan atau artificial scarcity. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu sistem distribusi energi nasional dan bahkan mendorong kenaikan harga di tingkat masyarakat.
Lebih lanjut ditambhakan, momentum ini harus menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat cadangan energi nasional. Saat ini cadangan BBM Indonesia masih jauh di bawah banyak negara lain, seperti Jepang yang memiliki cadangan hingga sekitar 254 hari, Amerika Serikat sekitar 90–120 hari, serta Uni Eropa dan China yang rata-rata memiliki cadangan minimal 90 hari.
“Penguatan cadangan energi strategis harus menjadi agenda jangka panjang. Peningkatan kapasitas tangki penyimpanan serta pembangunan cadangan energi nasional merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan,” tutup Nevi Zuairina.
“Yang perlu diantisipasi adalah munculnya kepanikan masyarakat. Jika terjadi panic buying, stok yang sebenarnya cukup bisa menjadi bermasalah karena terjadi penumpukan permintaan secara bersamaan,” ujar Sartono Hutomo saat mengikuti agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR ke Integrated Terminal Pertamina Palembang di Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada 11/3.
Politisi F-Demokrat itu, mendorong pemerintah, Pertamina, dan PLN untuk memperkuat sosialisasi kepada masyarakat mengenai kondisi pasokan energi nasional. Baginya, penyampaian informasi dinilai perlu dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Padahal sebelumnya pada 3/3 Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Bahlil Lahadalia memimpin Sidang Anggota DEN ke-1 Tahun 2026 dalam rangka menyikapi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah (Middle East) yang menyebabkan terhambatnya pasokan energi global dan kenaikan harga yang menyertainya akibat penutupan Selat Hormuz.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran di kawasan Timur Tengah tersebut berpotensi menimbulkan dampak terhadap pasokan energi global. Penutupan Selat Hormuz sebagai akibat konflik di Timur Tengah akan mengganggu jalur logistik sekitar 20 persen (20,1 juta barel) pasokan minyak global dan dapat menimbulkan kenaikan harga minyak dunia.
Mencermati kondisi yang ada, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meminta Menteri ESDM untuk memastikan ketersediaan pasokan energi nasional agar tidak sampai terjadi kelangkaan.
“Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri untuk memberikan kepastian kepada pelayanan kepada masyarakat kita,” ujar Bahlil.
Penutupan Selat Hormuz, menurut Bahlil, bukan sekadar masalah geopolitik, melainkan juga masalah pasokan minyak dunia. Sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melintasi selat itu, termasuk pasokan yang menuju Indonesia.
“Pasokan energi (crude) untuk kebutuhan Indonesia yang melalui Selat Hormuz berasal dari negara-negara middle east sekitar 19% kebutuhan nasional atau sebesar 25,36 juta barel. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil yang tidak melalui Selat Hormuz,” imbuhnya.
Sebagi informasi produksi minyak mentah Indonesia saat ini berada di kisaran 600 ribu barel per hari, Sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Sebagai bagian dari strategi mitigasi, Pemerintah sedang mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari negara-negara Timur Tengah ke negara lain yang lebih aman pasokannya, termasuk pasokan dari Amerika Serikat. Langkah ini ditempuh agar ketersediaan untuk kebutuhan nasional tetap terjamin.
Untuk kebutuhan impor BBM, Bahlil menjelaskan bahwa saat ini Indonesia mendapatkan pasokan dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah, termasuk negara-negara di Asia Tenggara. “Impor BBM relatif tidak masalah,” tegasnya.
Adapun untuk komoditas Liquefied Petroleum Gas (LPG), yang kebutuhan nasionalnya masih dipenuhi melalui impor sekitar 7,3-7,8 juta ton per tahun, Pemerintah mengarahkan sebagian besar pasokannya dari Amerika Serikat sebagai langkah diversifikasi sumber dan penguatan ketahanan energi nasional.
Pengalihan komoditas ini merupakan salah satu rekomendasi utama Sidang Anggota DEN ke-1 Tahun 2026. Selain itu, rapat menyimpulkan perlunya optimalisasi pemanfaatan sumber energi domestik, dengan mengacu pada keberhasilan program biodiesel sebagai salah satu referensi.
Sidang Anggota DEN dihadiri oleh unsur Pemerintahan terkait, antara lain Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, dan Wakil Tetap Kementerian Keuangan (Direktur Jenderal Anggaran) Luky Alfirman. Di samping itu, rapat juga dihadiri 8 Anggota DEN dari Unsur Pemangku Kepentingan.
Bahlil menegaskan, stok BBM nasional saat ini dalam kondisi aman dan tidak terdapat gangguan terhadap pasokan BBM maupun Liquified Petroleum Gas (LPG) di dalam negeri.
“Memang kalau kita melihat posisi harga minyak dunia sekarang sudah melampaui USD100 per barel. Ini adalah kondisi yang terjadi di global akibat dampak dari perang Iran versus Israel dan Amerika. Problemnya, kita sekarang bukan di stok. Stok, gak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di masalah harga,” jelas Bahlil usai membuka Bazar Semarak Ramadhan 2026 di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada 9/3
Menurut Bahlil, pemerintah saat ini tengah menyiapkan langkah-langkah komprehensif untuk mengantisipasi dampak fluktuasi harga energi global. Ia juga meminta masyarakat tetap tenang karena pemerintah menjamin pasokan BBM tetap tersedia hingga Lebaran.
“Kita lagi akan meng-exercise untuk melakukan langkah-langkah yang komprensif. Tapi sekali lagi, saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa bagaimana menyangkut dengan harga karena sampai dengan hari raya (Idulfitri) ini pasokan BBM terjamin dan insyaallah gak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi,” ujarnya.
Lonjakan harga minyak dunia sendiri dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, terutama pada jalur distribusi minyak strategis di kawasan tersebut.
Harga minyak mentah global dilaporkan telah menembus lebih dari USD100 per barel, dengan minyak jenis Brent dan WTI bergerak di kisaran USD100-110 per barel. Kenaikan harga ini dipicu oleh potensi terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah serta meningkatnya permintaan energi dari negara-negara konsumen utama.
Meski tekanan harga minyak global meningkat, pemerintah Indonesia menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi dan menjaga stabilitas pasokan energi nasional agar tidak membebani masyarakat, khususnya pengguna BBM bersubsidi.[] Yuniman Taqwa
.
