One Piece Sebagai Simbol Perlawanan: Ideologi Luffy dan Adopsi Bendera Bajak Laut Topi Jerami

Oleh: Abrar Rizq Ramadhan

Pada pertengahan 2025, demonstrasi pecah di Nepal yang memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli mundur dan pemerintahan jatuh. Demonstrasi ini muncul atas kebijakan problematik pemerintah seperti pembatasan platform media sosial dan gaya hidup mewah di kalangan pejabat di saat rakyat Nepal mengalami kesusahan finansial. Di tengah-tengah aksi protes, sebuah bendera Jolly Roger dengan topi jerami berkibar tinggi mencoba untuk mendobrak asap flare yang memikat. Mudah mengidentifikasikan bahwa bendera yang beriringan dengan spanduk protes itu adalah logo Bajak Laut Topi Jerami pimpinan Monkey D Luffy dalam seri Manga dan Anime One Piece.

Bendera Bajak Laut Topi Jerami di tengah demonstrasi Nepal/Foto: X.com/OrevaLuffy_

Sebelum demonstrasi Nepal pecah, kaum muda Indonesia juga menggelar demonstrasi besar pada akhir Agustus 2025 berupa protes terhadap kenaikan tunjangan anggota DPR. Aksi ini sering disebut menginspirasi gerakan di Nepal. Bendera Bajak Laut Topi Jerami juga berkibar di tengah-tengah protes di hadapan Gedung DPR. Bahkan, sebelumnya terdapat ajakan yang muncul di media sosial untuk mengibarkan bendera tersebut di bawah Merah Putih sebagai bentuk protes atas pemerintahan Indonesia saat ini yang dipegang oleh Prabowo Subianto. Gagasan Anti-Nasionalis kian bersebaran untuk menindak para demonstran yang menggunakan simbol ‘asing’. Namun, fenomena protes dengan mode One Piece juga tersebar di banyak negara dan diadopsi oleh para demonstran. Bahkan demonstrasi awal tahun 2026 di Amerika Serikat yang memprotes kontrol ketat Immigration and Customs Enforcement (ICE), menunjukkan spanduk dengan kutipan dari karakter Franky, tukang kapal Topi Jerami, yang berbunyi; “Existing is not a Crime” atau “Menjadi ada bukanlah kejahatan”. Yang menarik adalah bahwa protes seperti ini diprakarasi oleh kaum muda yang rata-rata berasal dari Gen-Z dan memang tumbuh besar bersama One Piece. Lantas bagaimana seri Manga Shonen besutan Eiichiro Oda ini bisa menginspirasi timbulnya gerakan internasional?

Dunia One Piece dan Kebebasan Absolut

Sebelum memahami korelasi antara gerakan protes dengan simbol, maka penting bagi pembaca untuk memahami isi dari One Piece yang telah dibangun oleh Oda sejak 1997 dan berlangsung hingga hari ini. One Piece mengkisahkan seorang pemuda berusia 17 tahun asal East Blue bernama Monkey D Luffy yang hendak memulai perjalanan bebasnya sebagai bajak laut. Luffy memiliki mimpi untuk menjadi raja bajak laut dengan menemukan One Piece, sebuah harta karun peninggalan Gol D. Roger, sang raja bajak laut itu sendiri yang berhasil mencapai pulau terakhir di Grand Line bernama Laugh Tale. Lantas Luffy hendak menjalani awal petualangannya dengan mencari kru atau nakama dalam terminologi Jepang, setidaknya 10 orang sudah cukup baginya. Ia bertemu dengan Zoro yang menjadi First-mate dan Combatant, Nami sebagai Navigator, Usopp sebagai Marksman, Sanji sebagai Cook, dan masih ada 5 lagi (Chopper, Robin, Franky, Brook, Jinbei) yang ia temui sepanjang perjalanan.

Alur cerita dan pembagian arc di One Piece memiliki format yang mirip, yakni datang ke sebuah pulau, membebaskan pulau tersebut dari penjajahan, dan pergi. Meski tidak bisa digeneralisir, format ini sering dipakai oleh Oda dalam menarasikan tiap arc. Sikap Luffy yang penuh dengan jiwa bebas dan tidak segan menjadi yang terdepan dalam membela krunya, dapat memikat hati siapa saja yang bertemu dengannya. Prinsip Luffy adalah kebebasan absolut, termasuk membantu kru-krunya meraih mimpi mereka masing-masing. Sifat ini yang membuat kru Luffy menjadi loyal dan akan melakukan hal yang sama demi membela kaptennya, meski mereka tahu betapa bodohnya Luffy.

Dalam One Piece, dunia diperintah oleh organisasi bernama World Government (WG) yang diketuai oleh 5 tetua bernama Gorosei dan menerima perintah langsung dari sosok misterius yang memegang kendali bernama Imu-Sama. Pemerintahan WG menjadi sebab terjadinya penjajahan di banyak pulau. Represifitas Angkatan Laut menjadi ujung tombak WG dalam memenuhi hasrat kebutuhan penguasa. Eksploitas terjadi, genosida dan rasisme hidup dengan menempatkan beberapa ras seperti manusia ikan sebagai target rasis dan ras tenryuubito sebagai bangsa terpilih yang berhak tinggal di Marijoa, tanah yang dijanjikan. Struktur pemerintahan tiap kerajaan dan pulau harus mengikuti standar dan arahan WG. Mereka yang menolak akan menerima kesulitan yang sangat berat berupa penolakan standar hukum internasional dan eksploitasi sumber daya.

Kru Bajak Laut Topi Jerami adalah kru yang sangat menentang penjajahan atas manusia yang dipraktikkan oleh WG dan Angkatan Laut. Meskipun Luffy sendiri tidak peduli dengan sejarah, ia hanya peduli atas penderitaan yang dialami oleh rekan-rekannya sekaligus para penduduk tidak bersalah. Luffy dengan nekad bersama krunya siap melawan dunia demi membawa kebebasan absolut bagi setiap makhluk di dunia. Atau mungkin kata nekad memang hilang dalam kamus Luffy karena ia hanya peduli atas kebahagiaan rekan-rekannya. Arc Arlong Park menjadi satu arc kecil di One Piece yang menjadi fondasi dasar dalam format cerita. Dalam kasus Arlong Park, desa Cocoyashi tempat kelahiran Nami dijajah dan mengharuskannya untuk menjadi navigator Bajak Laut Arlong demi menebus kebebasan desa seharga 100 juta beri. Namun, Ketika Nami berhasil mengumpulkan uang sebanyak itu, Arlong mengkhianatinya sehingga membuatnya sedih dan mengharuskan Luffy bertindak demi navigator kesayangannya itu. Alhasil, Cocoyashi berhasil dibebaskan dari penjajahan Arlong dan Nami Kembali ke Bajak Laut Topi Jerami. Format yang mirip juga kelak terjadi di Arc Alabasta, Skypea, Dressrosa, hingga Wano.

Satu kisah lagi yang menunjukkan kebebalan Luffy demi kebebasan rekannya sekaligus bentuk kontrol politik WG adalah ketika Nico Robin, sejarawan dan arkeologis Topi Jerami, hendak dieksekusi. Robin adalah penyintas insiden Ohara, yang merupakan upaya penghancuran pusat penelitian sejarah abad kekosongan yang membongkar kekejian WG. Pulau Ohara dihanguskan dan menyisakan satu anak kecil terakhir yang dapat membaca Poneglyph, sebuah prasasti berbahasa kuno yang menjadi sumber sejarah, bernama Nico Robin. Sejarah di One Piece memang dikendalikan oleh WG. Dahulu kala, pada abad kekosongan, koalisi WG menghancurkan Ancient Kingdom pimpinan Joyboy yang modern dan adil. Hal tersebut membuat segala penelitian sejarah abad kekosongan dilarang dan mereka yang menelitinya wajib dimusnahkan. Luffy tidak peduli dengan kerumitan sejarah dan hanya ingin mendengar eksistensi Robin. Soal Kembali bergabung ke Topi Jerami, itu urusan nanti. Yang terpenting Robin harus hidup. Di tengah Enies Lobby, sebuah pengadilan internasional, Luffy memerintahkan Usopp untuk membakar bendera WG karena telah berani mengusik kru kesayangannya. Sejak saat itu, nama Monkey D Luffy beserta seluruh krunya menjadi bahaya baru bagi WG.

Kasus di Wano semakin mempertajam paranoia WG bahkan sampai kepada Gorosei dan Imu-Sama. Pada momen Ketika Luffy hendak melawan Kaido, salah satu kaisar laut yang menjajah negeri Wano, Luffy sempat mengalami kekalahan bahkan disinyalir mati. Tak lama setelah Nami membangkitkan moral para pejuang samurai yang jatuh dengan menantang Kaido secara langsung, Luffy bangkit dengan wujud baru yang aneh. Rambutnya berwarna putih, pakaiannya juga berubah putih. Di titik ini, Luffy mencapai puncaknya. Buah iblis yang pernah diberikan Shanks dulu ternyata bukan buah iblis karet, tapi adalah zoan dengan model Dewa Matahari Nika. Luffy tidak mengenal siapa itu Nika, tapi dalam kalangan ras tertindas dan kaum budak, Nika adalah simbol harapan yang dipercaya menjadi juru selamat akhir zaman yang akan memberi kebebasan bagi perbudakan dengan tertawa. Tepat pada saat kebangkitannya, sebuah genderang kebebasan berbunyi bagi mereka yang dapat mendengarnya dan menandakan kedatangan kedua sang juru selamat. Para pendukung Joyboy yang masih tersisa seperti Zunesha dan Emeth dapat mendengar bunyi ini karena dulu Joyboy juga pengguna buah iblis Nika. Jelas pengungkapan Luffy sebagai pewaris Nika dan penerus Joyboy membahayakan posisi WG karena ancamannya kini adalah menuju akhir zaman dari penjajahan dan rekonstruksi ulang dunia yang lebih bebas.

Gerakan dan Ideologi dengan Simbol Topi Jerami

Pada hari ini di dunia yang kita tinggali, Gen-Z yang lahir pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, membutuhkan simbol baru bagi gerakan perlawanan terhadap penindasan. Palu arit terlalu usang, swastika tidak relevan, anarkisme sering dikambing-hitamkan. Maka solusinya adalah bendera Bajak Laut Topi Jerami. Hari ini di dunia pergerakan, Luffy adalah simbol kebebasan absolut yang mewakili mimpi para Gen-Z. Naruto bukanlah pilihan tepat karena ia mewakili birokrasi dari ‘Konoha’, tapi Luffy adalah orang terdepan yang akan membela rekan-rekannya dan siap menjadi pedang yang menghancurkan penjajahan pemerintahan dunia yang korup. Segelintir kisah yang penulis paparkan di atas sudah menjadi bukti mengapa Luffy diidolakan sebagai mode perlawanan atas perbudakan, penghapusan sejarah, represifitas, dan ancaman terhadap kebebasan individual. Spektrum kiri dan kanan kini tidak lagi berlaku, namun kini berganti spektrum menjadi bebas atau tidak bebas.

Sebagai sebuah ideologi, pemikiran Luffy banyak dicocoklogi dengan banyak pemikiran dunia seperti anarkisme dan Islamisme. Ajaran anarkisme yang berupa kebebasan mutlak bagi individu adalah cerminan paling mirip dalam ideologi Luffy. Sementara itu, gagasan nakama dengan konsep sahabat rasul di dunia Islam serta eskatalogi Nika dengan kepercayaan mesianistik akhir zaman di Islam memiliki kemiripan. Ustadz Felix Siauw adalah salah satu pendakwah di Indonesia yang sering mencocoklogi dunia One Piece dengan situasi hari ini dan ajaran Islam. Menurutnya, Imam Mahdi memiliki konsep yang mirip dengan Nika di mana kehadiran umat adalah mempersiapkannya dan kelak ketika ia tiba, maka kita siap mengikutinya melawan fitnah. Imu-sama di One Piece dengan Dajjal di Islam juga memiliki kesamaan terutama dalam kemampuan mereka menciptakan misinformasi, membawa sesat bagi ummat. Bahkan Tenryuubito di One Piece yang berlaku rasis sebagai bangsa terpilih sedikit mengingatkan kita dengan komunitas zionis Israel yang masih menjajah Palestina hingga hari ini dengan kekuatan misinformasi yang sama.

Maka wajar saja jika kita memandang bendera Bajak Laut Topi Jerami berkibar di tengah-tengah protes karena kini ia menjadi simbol perlawanan itu sendiri. Justru ketakutan pemerintah terhadap bendera itu yang semakin mempertegas relevansi dunia One Piece dengan dunia yang kita hidupi hari ini. Belakangan ini, influencer dari MALAKA Project, Ferry Irwandi, juga gemar mendukung kampanye One Piece sebagai simbol revolusi. Dirinya memang telah menjadi nakama sejak lama dan memandang momentum yang terjadi pada Agustus 2025 dapat menginspirasi mode gerakan yang akan terjadi di masa mendatang. Karena kini bendera itu tidak hanya menjadi simbol perlawanan satu negara, melainkan bersifat global seperti halnya anarkisme dan Islamisme.[] Foto utama: Tangkapan Layar Youtube