Pemprov Jakarta Tawarkan Investasi, Akses ke Salah Satu Pasar Terbesar di Asia Tenggara

Arus investasi yang mengalir ke Jakarta akan berkontribusi pada pertumbuhan Indonesia, memperkuat perekonomian ASEAN, serta menciptakan nilai tambah bagi mitra regional.

 Jakarta secara aktif bertransformasi menjadi kota investasi global terkemuka melalui penguatan infrastruktur dan kerja sama strategis internasional. Sebagai salah satu pusat perekonomian terbesar di Asia Tenggara dan kota dengan populasi padat, Jakarta menawarkan pasar konsumen yang masif serta peluang kolaborasi bernilai tinggi.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, minggu kedua Juni 2026 bertemu Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, tawarkan investasi proyek TOD dan MRT fase 3 dan 4/foto: doc. Pemprov DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, minggu kedua Juni 2026 bertemu Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, di Istana Perdana Menteri Singapura. Dalam pertemuan tersebut, Pramono membuka peluang investasi Singapura pada proyek Transit-Oriented Development (TOD) serta MRT Jakarta Fase 3 dan Fase 4 sebagai bagian dari penguatan kerja sama ekonomi dan pembangunan kota yang berkelanjutan antara Jakarta dan Singapura.

Pertemuan tersebut memperkuat komunikasi yang telah terbangun antara Gubernur Pramono dan Perdana Menteri Lawrence Wong sejak keduanya sama-sama bertugas di pemerintahan nasional. Saat itu, ia menjabat sebagai Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, sementara Lawrence Wong memegang sejumlah posisi strategis di Pemerintah Singapura.

Pramono menyampaikan, pengalaman panjangnya di pemerintahan menjadi modal penting dalam membangun komunikasi yang efektif dengan berbagai mitra strategis, termasuk Singapura. Pengalaman tersebut mendukung upaya Pemprov DKI Jakarta dalam menyelaraskan kebijakan nasional dengan implementasinya di tingkat daerah guna memberikan kepastian bagi investor.

“Pengalaman saya sebagai Sekretaris Kabinet selama dua periode dan kini sebagai Gubernur Jakarta memungkinkan saya menjembatani kebijakan nasional dengan implementasinya di tingkat daerah. Hal ini penting untuk memberikan kepastian dan kepercayaan bagi para investor,” ungkapnya.

Dalam pertemuan itu, Pramono membuka ruang bagi penguatan investasi Singapura di Jakarta, termasuk pada proyek Transit-Oriented Development (TOD), pengembangan MRT Jakarta Fase 3 dan Fase 4, serta berbagai inisiatif transformasi perkotaan yang mendukung Jakarta menuju kota global.

“Berinvestasi di Jakarta saat ini berarti memperoleh akses ke salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara. Arus investasi yang mengalir ke Jakarta akan berkontribusi pada pertumbuhan Indonesia, memperkuat perekonomian ASEAN, serta menciptakan nilai tambah bagi mitra regional, termasuk Singapura,” jelasnya.

Selain menawarkan peluang investasi pada sektor transportasi dan pengembangan kawasan perkotaan, Gubernur Pramono menegaskan komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menghadirkan iklim investasi yang mudah, transparan, efisien, dan konsisten. Menurutnya, kepastian kebijakan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor.

“Kami ingin para pelaku bisnis Singapura mengetahui bahwa Jakarta berkomitmen untuk mempermudah investasi, dengan aturan yang jelas, proses yang efisien, dan kebijakan yang konsisten. Saya meyakini kepercayaan dan kolaborasi yang kita perkuat hari ini akan membawa kita pada kesuksesan bersama,” pungkas  Pramono.

Agenda Pemprov DKI Jakarta tidak berhenti sampai di situ. Pramono juga bertemu Menteri Pembangunan Nasional Singapura Chee Hong Tat dan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan dalam rangkaian RISING Fellowship di Singapura pada 14–15 Juni 2026, sebagaimana dikutip dari kompas.id, posting 18/6/2026.

Diikuti sekitar 100 pemimpin kota dunia, termasuk dari London, Berlin, dan Guangzhou, forum tersebut menjadi wadah pertukaran pengalaman, gagasan, serta peluang kerja sama internasional dalam pengelolaan dan peningkatan layanan dasar perkotaan. Dalam kesempatan itu, Pramono memaparkan berbagai kemajuan pelayanan publik Jakarta di sektor transportasi, pendidikan, dan kesehatan.

Singapura merupakan salah satu pusat ekonomi dan investasi terpenting di Asia sekaligus mitra strategis Jakarta. Oleh karena itu, penguatan hubungan dengan Singapura menjadi langkah penting untuk membuka peluang investasi baru bagi Jakarta.

Jakarta ramah investasi, investasi kumulatif Jakarta mencapai US$16,9 miliar/foto: ist

“Jakarta sedang menyiapkan lompatan baru menjelang usia 500 tahun. Untuk itu, kami membutuhkan lebih banyak kemitraan strategis dan investasi yang mampu mempercepat transformasi kota. Pertemuan dengan Pemerintah Singapura ini membuka peluang kerja sama yang lebih konkret di bidang transportasi, pengembangan kawasan, penguatan kapasitas aparatur, hingga investasi yang memberikan manfaat langsung bagi warga Jakarta,” ujar Pramono.

Sebelumnya Pramono dalam acara  peluncuran Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) dalam rangkaian kegiatan Indonesia Economic Summit (IES) di Hotel Shangri-La Jakarta, Jakarta Pusat, pada 3 Februari 2026 mengatakan ekosistem bisnis  merupakan fondasi dalam membangun kepercayaan,  internasional dan investor. Kepercayaan tersebut menjadi modal utama dalam mendorong pertumbuhani  ekonomi jangka panjang Jakarta.

“Kita ingin masyarakat internasional dan para investor memiliki confidence dan trust terhadap Jakarta. Tanpa kepercayaan, pembangunan dan investasi tidak akan berjalan optimal,” imbuhnya.

Di tengah tantangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian, kinerja ekonomi Jakarta tetap stabil. Pada triwulan III tahun 2025, ekonomi Jakarta tumbuh sebesar 4,96 persen secara tahunan, mencerminkan daya saing di tengah berbagai tekanan perkotaan.

Selain itu, realisasi investasi Jakarta mencatatkan kinerja positif. Pada 2025, investasi kumulatif di Jakarta mencapai 16,9 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan pelaku usaha terhadap Jakarta.

“Di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, realisasi investasi Jakarta justru meningkat. Ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap Jakarta masih sangat tinggi,” terang  Pramono.

Di sektor investasi, Pemprov DKI Jakarta meluncurkan Jakarta Investment Master Plan 2025–2045, menyederhanakan 44 jenis perizinan usaha, serta memberikan insentif bagi investor yang berorientasi pada keberlanjutan. Berbagai inisiatif, seperti Jakarta Investment Festival dan Investment Project Ready-to-Offer, juga dijalankan untuk memperkuat kepercayaan investor global.
Pemprov DKI Jakarta turut memperkenalkan Jakarta Collaboration Fund sebagai mekanisme pembiayaan inovatif guna memperkuat ekosistem pembangunan daerah tanpa membebani anggaran daerah.

“Jakarta Collaboration Fund bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi fondasi bagi ketahanan fiskal Jakarta. Melalui skema ini, kami dapat menjalankan inisiatif strategis secara lebih mandiri,” jelas  Pramono.

Pramono berharap forum IES dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra pembangunan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat terwujudnya ekosistem investasi perkotaan yang berkelanjutan sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045.

“Kami berharap forum ini menghasilkan kerja sama konkret bagi Jakarta dan Indonesia. Tujuannya adalah membangun kota global yang berkelanjutan dan berdaya saing,” pungkasnya.[] Yuniman Taqwa