Rantai Pasok Global Industri Manufaktur Kian Diperluas
Diplomasi ekonomi dapat membuka pasar internasional bagi produk Indonesia, membawa investasi dan teknologi, serta semakin terintegrasi dalam rantai pasok dunia. Industri manufaktur nasional didorong memanfaatkan peluang itu!
Meningkatnya konflik geopolitik hingga disrupsi rantai pasok dunia saat ini berdampak terhadap kinerja industri serta stabilitas ekonomi domestik. Menghadapi fenomena tersebut, Pemerintah mengambil langkah strategis yang terintegrasi guna memastikan perekonomian nasional tetap tumbuh secara resilien dan berkelanjutan.
Sementara industri manufaktur, kini diposisikan sebagai pilar utama pendorong struktur ekonomi nasional. Sektor ini memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, investasi, serta ekspor. Industri manufaktur memiliki peran krusial dalam menciptakan nilai tambah ekonomi.
Tahun 2025, misalnya, pertumbuhan industri pengolahan tercatat mencapai 5,30%, angka yang berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11% sekaligus menjadi indikasi positif bagi penguatan ekonomi ke depan.

Sementara perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh resilien sebesar 5,29 persen (yoy), lebih tinggi dengan dibandingkan triwulan II 2025 sebesar 5,12 persen, di tengah kondisi global yang masih penuh dengan ketidakpastian. Pertumbuhan tersebut didorong oleh investasi yang sangat kuat, konsumsi rumah tangga yang meningkat serta berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi. “Di tengah tantangan global yang masih tinggi,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam rilisnya pada 6/8/2026.
Sektor industri pengolahan tetap menjadi kontributor tertinggi dengan kinerja 4,52 persen (yoy). Kinerja industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen (yoy), ditopang oleh industri makanan dan minuman serta industri barang logam dan elektronik.
Menteri Perindustrin Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya diplomasi ekonomi yang dapat membuka pasar bagi produk Indonesia, membawa investasi dan teknologi, serta menciptakan lapangan pekerjaan.
Presiden menyampaikan bahwa saat ini sebanyak 25 perjanjian perdagangan telah diimplementasikan, termasuk lima perjanjian perdagangan baru yang mulai diimplementasikan dalam satu tahun terakhir. Selain itu, terdapat dua perjanjian dalam proses ratifikasi, 13 perjanjian dalam proses perundingan, dan dua lainnya menunggu jadwal penandatanganan.
Menurut Agus, perluasan akses pasar tersebut harus dimanfaatkan secara optimal oleh sektor manufaktur nasional. “Perjanjian perdagangan harus kita manfaatkan untuk meningkatkan ekspor produk manufaktur bernilai tambah, bukan sekadar memperbesar perdagangan komoditas mentah. Industri nasional harus semakin dalam masuk ke rantai pasok global,” ujarnya.
Kemenperin memandang penting pesan Presiden mengenai upaya memperoleh teknologi, manajemen, dan akses pasar internasional sehingga Indonesia dapat semakin terintegrasi dalam rantai pasok dunia.
Menurut Agus, transformasi teknologi menjadi salah satu prasyarat untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional. Karena itu, investasi yang membawa transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, riset dan inovasi, serta keterlibatan industri domestik akan menjadi semakin strategis.
“Target kita bukan sekadar menjadi pasar. Indonesia harus menjadi basis produksi, basis inovasi, dan bagian penting dari rantai pasok dunia. Untuk mencapainya, kita membutuhkan industri yang produktif, efisien, inovatif, hijau, dan didukung SDM industri yang kompeten,” katanya.
Agus menegaskan, Kementerian Perindustrian akan terus mengawal arahan Presiden melalui kebijakan pro-industri yang mampu memperkuat manufaktur nasional. Implementasi SBIN akan terus dipercepat dengan mengedepankan penguatan struktur industri, hilirisasi, substitusi impor, transformasi teknologi, pengembangan industri hijau, peningkatan kualitas SDM, serta perluasan pasar domestik dan ekspor.
“Pesan Bapak Presiden sangat jelas bahwa Indonesia harus semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri. Bagi kami, salah satu fondasi utama untuk mewujudkannya adalah industri nasional yang kuat dan berdaulat. Karena itu, momentum pertumbuhan manufaktur yang saat ini sudah melampaui pertumbuhan ekonomi nasional harus terus kita jaga dan tingkatkan,” tegas Agus.
“Industrialisasi bukan semata-mata tentang membangun pabrik. Industrialisasi adalah tentang menciptakan nilai tambah, membangun kemandirian, menguasai teknologi, membuka lapangan kerja, dan memastikan kekayaan Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” lanjut Agus.
Sementara Juli lalu, partisipasi Indonesia sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026, lebih dari sekedar keikutsertaan dalam sebuah pameran internasional, momentum ini menjadi tonggak penting dalam memperluas diplomasi industri, memperkuat rantai pasok global, serta membuka peluang investasi dan kolaborasi teknologi.
Pada rangkaian kegiatan di INNOPROM 2026, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Industri dan Konstruksi Republik Kazakhstan Ersaiyn Nağaspaev, dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Kazakhstan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerja sama industri untuk memperkuat kemitraan kedua negara.
Indonesia memandang Kazakhstan sebagai mitra strategis di kawasan Asia Tengah dan Eurasia, sekaligus sebagai pintu masuk yang potensial bagi produk industri Indonesia ke pasar Eurasia yang lebih luas. “Kami berharap momentum tersebut dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama industri yang lebih konkret, implementatif, dan saling menguntungkan,” ujar Agus saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Industri dan Konstruksi Republik Kazakhstan Ersaiyn Nağaspaev di Yekaterinburg, Rusia, pada 7/7
Hubungan ekonomi Indonesia dan Kazakhstan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Pada tahun 2025, total perdagangan nonmigas kedua negara mencapai USD 172,2 juta. Sementara itu, pada periode Januari–April 2026, total perdagangan meningkat 62,51 persen menjadi USD 138 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai ekspor Indonesia ke Kazakhstan juga menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, ekspor Indonesia mencapai USD 114,4 juta atau meningkat 26,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produk ekspor utama Indonesia ke Kazakhstan meliputi elektronika, permesinan, tembakau, minyak sawit dan turunannya, serta alas kaki. Adapun Indonesia mengimpor besi dan baja, seng, bahan kimia, serta kapas dari Kazakhstan.
Menurut Menperin, struktur perdagangan kedua negara yang saling melengkapi menjadi modal kuat untuk memperluas kerja sama industri, investasi, dan pengembangan rantai pasok di masa mendatang.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas tindak lanjut hasil Sidang Komisi Bersama (SKB) Kedua Indonesia–Kazakhstan yang diselenggarakan pada 11 Mei 2026 di Astana. Forum tersebut menjadi momentum penting untuk mengaktifkan kembali mekanisme kerja sama bilateral sekaligus memperkuat implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang saat ini tengah memasuki proses ratifikasi.[] Yuniman Taqwa
.
