Kesempatan Indonesia Menjadi Raja Industri Pulp dan Kertas Dunia Kian Terbuka
Indonesia menempati peringkat ke-7 dunia dalam industri pulp dan peringkat ke-6 dunia dalam industri kertas. Konsumsi kertas per kapita di Indonesia baru mencapai 32 kg per tahun, membuat pasar pulp dan kertas masih memiliki potensi besar untuk berkembang. Tapi bagaimana tantangannya?
Beberapa dekade lalu, negara-negara NORSCAN (North America and Scandinavia) menjadi pemasok utama produk pulp dan kertas dunia. Tapi kini mulai terjadi pergeseran yang signifikan ke arah Asia, khususnya Indonesia dan negara-negara di Asia Timur. Ini adalah peluang besar bagi kita. Sebuah kesempatan Indonesia untuk menjadi raja industri pulp.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika, pada 18/1.
Menurut Putu, konsumsi kertas per kapita di Indonesia baru mencapai 32 kg per tahun. Berarti pasar pulp dan kertas masih memiliki potensi besar untuk berkembang. Selain itu, adanya tren green lifestyle yang semakin populer mendorong penggunaan kertas sebagai material kemasan ramah lingkungan menggantikan plastik. Hal ini juga membuka peluang untuk Indonesia meraih pasar baru, baik di dalam negeri maupun global.
Putu menambahkan, terjadi peningkatan yang signifikan dalam kapasitas produksi. “Dari 103 unit usaha pada tahun 2021, kini menjadi 113 unit usaha pada tahun 2024. Kapasitas terpasang pulp meningkat dari 10 juta ton per tahun menjadi 12,3 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi kertas meningkat dari 18,2 juta ton menjadi 20,86 juta ton per tahun pada periode yang sama.
Industri pulp dan kertas Indonesia memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Pada tahun 2023, total ekspor sektor ini mencapai USD8,37 miliar dan menyumbang hingga 4,03% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas. Selain itu, industri ini juga menjadi sumber kehidupan bagi lebih dari 275 ribu tenaga kerja langsung dan 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung.
Direktur Fiber di Fastmarkets RISI Hannah Zhao, yang menjadi pembicara dalam seminar bertema “Mendorong Kontribusi Industri Pulp dan Kertas terhadap Pertumbuhan Ekonomi melalui Strategi Kebijakan, Ekonomi Sirkular, dan Perluasan Akses Pasar Global”, pada 13/1, di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta, memberikan wawasan mendalam tentang prospek global industri pulp dan kertas.
Menurut Hannah, Asia terutama Asia Tenggara dan India, akan menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan pulp dan kertas global hingga 2026. “Dengan populasi yang terus berkembang dan tingkat konsumsi per kapita yang relatif rendah, kawasan ini memiliki potensi besar untuk pertumbuhan. Namun, tantangan over supply dan kualitas serat daur ulang tetap menjadi isu utama yang perlu dikelola,” ungkap Hannah.

Namun, meski Indonesia kini menempati peringkat ke-7 dunia dalam industri pulp dan peringkat ke-6 dunia dalam industri kertas, masih terdapat beberapa tantangan besar yang harus dihadapi, seperti ketersediaan bahan baku kertas daur ulang (KDU), jaminan pasokan bahan baku dari impor yaitu kebijakan EUWSR (European Union Waste Shipment Regulation) yang akan membatasi impor KDU dari Uni Eropa.
Selain itu, tantangan lainnya adalah pemberlakuan beberapa konvensi internasional yang rentan mendisrupsi pasar kertas produk dalam negeri, antara lain kerjasama kemitraan RCEP (Regional Comprehesive Economic Partnership) dan kebijakan CBAM (Carbon Border Adjustment Mechanism) untuk produk-produk kertas yang dipasarkan di Uni Eropa.
Terkait dengan permasalahan KDU, Putu mengatakan ketersediaan dalam negeri nyatanya belum mencukupi kebutuhan industri kertas, dan bahan baku KDU yang masih membutuhkan peningkatan kualitas dalam hal penurunan impuritasnya. Oleh karena itu, Kemenperin telah merumuskan langkah berupa penguatan tata kelola bahan baku khususnya KDU baik dari dalam negeri atau impor dan peningkatan daya saing produk lokal melalui hilirisasi dan transfer teknologi.
Langkah-langkah lainnya yaitu penerapan ekonomi sirkular dan keberlanjutan, termasuk peningkatan recovery rate dalam negeri, serta perluasan pasar ekspor dalam bentuk penguatan perjanjian kerjasama kemitraan akses produk industri internasional. Kebijakan tersebut bertujuan untuk menjaga operasional industri dan bermuara pada dukungan penciptaan daya saing industri pulp dan kertas nasional.
“Kami juga mendukung upaya peningkatan akses bahan baku KDU yang di-recover di dalam negeri melalui pembinaan standar spesifikasi sektor KDU sebagai bahan baku industri, benchmarking teknologi pengelolaan impuritas secara mandiri sesuai profil industri pengguna KDU, dan menyiapkan Rencana Kebutuhan Industri untuk KDU pada neraca komoditas,” jelas Putu.
Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas IndonesiaI Liana Bratasida, dalam Rapat Kerja APKI Tahun 2024 mengatakan, saat ini masih terdapat 54 industri kertas yang menggunakan bahan baku kertas daur ulang (KDU), yang sebagian besar kebutuhan KDU-nya masih perlu diimpor. Importasi KDU ini mencerminkan upaya implementasi ekonomi sirkular dalam industri pulp dan kertas Indonesia.
“Kami berharap kebijakan pemerintah dapat menjamin ketersediaan bahan baku KDU agar industri pulp dan kertas dapat menjaga daya saing dan berkelanjutan,” tambahnya.
APKI optimistis dalam menghadapi tantangan dan meningkatkan daya saing industri pulp dan kertas melalui sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi. Dengan langkah-langkah strategis dan inovatif, APKI mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk meningkatkan daya saing industri pulp dan kertas sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi 8 persen dan mendukung asta cita Presiden Republik Indonesia.
Harga bahan baku kertas, terutama kraft pulp, menunjukkan tren kenaikan yang positif dan dapat menjadi katalis bagi emiten kertas di Indonesia. Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (16/1), harga kraft pulp global tercatat di level CNY 5.960, mengalami kenaikan 1,64% sejak awal tahun 2025. Dalam sebulan terakhir, harga bahan baku ini tercatat naik sebesar 2,9%, dan diperkirakan akan mencapai CNY 6.157 per ton dalam 12 bulan mendatang.
Kenaikan harga kraft pulp ini dipandang sebagai sentimen positif bagi emiten kertas Indonesia, seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM). Ekky Topan, Investment Analyst di Infovesta Kapital Advisori, menjelaskan, dengan harga pulp yang lebih tinggi, margin keuntungan emiten kertas berpotensi meningkat. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah daya serap pasar, terutama di Asia, yang merupakan pasar utama ekspor Indonesia, sebagaimana dikutip dari jagatbisnis.com, pada 19/1/2025.
Meski prospek positif dari kenaikan harga pulp terlihat menjanjikan, tantangan utama adalah ketidakpastian ekonomi global, khususnya di negara-negara tujuan ekspor utama seperti China. Ekky menekankan bahwa jika ekonomi di kawasan Asia tidak pulih dengan signifikan dalam waktu dekat, maka potensi untuk meningkatkan volume penjualan dan margin keuntungan akan terbatas.[] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina
