Indonesia Eksportir Sepatu 3 Besar Dunia
Industri sepatu sektor tertua di Indonesia. Industri ini mempunyai struktur yang kuat dari hulu sampai hilir. Produknya memberikan kontribusi 3 besar dari seluruh komoditas ekspor kita.
Anda jangan terkecoh dengan sepatu sepatu merek-merek internasional seperti koleksi Wolverine, Rockport, Lacoste, Hush Puppies, Kickers, Sperry Top Sider, MBT, Sledgers, Johnston and Murphy dan lain-lain. Merek-merek terkenal itu ternyata di produksi di Indonesia. Adalah PT Sepatu Mas Idaman (Semasi) sebagai produsen sepatu yang mempunyai jam terbang membuat sepatu merek-merek internasional. Lantas apa bedanya brand lokal dengan standar Internasional?

Sebut saja Gino Mariani. Merek sepatu berbau Italia ini ternyata asli produk dalam negeri yang kualitasnya dapat disejajarkan dengan merek-merek sepatu terkenal dunia seperti Rockports, Clarks, Sperry Top Sider dan lain-lain.
Sejak 1987 hampir seluruh produksi PT Sepatu Mas Idaman (Semasi) diperuntukkan bagi sepatu pesanan merek-merek dunia. Namun berkat pengalaman yang dimiliki, Semasi pun memberanikan diri membangun merek lokal berkualitas internasional.
Di tahun 1995, Semasi membangun merek dalam negeri dengan nama Gino Mariani. Dalam hal ini kegiatan pemasaran dan distribusi Gino Mariani berada di bawah bendera PT Sepatu Mas Indonesia (Semasindo). Selain pasar nasional yang menjadi prioritas tapi penetrasi Gino Mariani juga sudah memasuki pasar luar negeri seperti Vietnam dan Timur Tengah. “Jadi, Semasi hanya fokus pada kegiatan produksi, dalam hal ini memproduksi sepatu merek terkenal dunia, termasuk Gino Mariani, “ ujar General Manager Sepatu Mas Indonesia (Semasindo), Denny Budianto kepada pelakubisnis.com, pada Juli tahun lalu.
Ide membangun brand Gino Mariani bermula ketika board of director Semasi melihat market Indonesia yang begitu besar. Sementara Semasi memiliki kemampuan membuat sepatu berkualitas dengan memproduksi merek-merek sepatu terkenal dunia. Hal ini yang menjadi alasan Semasi untuk mendevelop merek sendiri. Atas ide tersebut, maka lahirlah brand Gino Mariani yang diproduksi untuk kebutuhan segmen middle up di tanah air.
Tak heran bila harga sepatu Gino Mariani bisa sampai di atas Rp 2 juta karena terbuat dari kulit (leather-red), diantaranya dari kulit rusa. Berangkat dari pengalaman membuat sepatu-sepatu brand internasional, membuat pihak Semasi percaya diri membangun merek berkualitas dengan benchmark sepatu-sepatu terkenal dunia. “Kurang lebih empat tahun terakhir brand lokal sudah cukup berhasil menanamkan persepsi yang baik dibenak konsumen tentang produk yang berkualitas. Karena beruntung saat ini di Indonesia sudah mulai banyak start up yang memegang teguh kualitas. Dan, sejalan dengan waktu, konsumen sudah lebih percaya itu!,”terang Denny.
Tak hanya itu, brand lokal Brodo pun melenggang di pasar sepatu tanah air hingga mencetak omset milyaran rupiah per bulan. Pamor brand sepatu Brodo semakin dikenal masyarakat ketika Presiden Joko Widodo mengendorse nya. Memang tak dapat dipungkiri, sejak saat itu semakin banyak media menulisnya. Termasuk redaksi pelakubisnis.com yang ikut penasaran, apa gerangan kelebihan yang menjadi difrensiasi sepatu hasil besutan dua anak muda lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini? Dan jangan salah kaprah, bukan karena RI 1 mengendorse tiba-tiba merek sepatu ini laris terjual, namun jauh sejak kelahirannya di tahun pertama 2010, desain sepatu Brodo sudah menarik perhatian, terutama bagi generasi milenial.

Adalah Muhammad Yukka Harlanda yang kesulitan mencari sepatu ukuran besar. Kalaupun ada ukuran 47 seukuran kakinya, ia harus rela merogoh kantong lebih dalam karena hampir semua sepatu ukuran besar ada di deretan brand-brand internasional yang harganya lumayan Wow!.Hingga suatu saat ia perlu sepatu formal untuk acara wisuda. Bersama teman kuliahnya, Putera Dwi Kurnia yang kebetulan satu kost dengannya tapi berbeda fakultas, mereka mencari sepatu sesuai dengan kebutuhannya.
Singkat cerita, setelah berkeliling ke sentra industri sepatu Cibaduyut, Yukka mendapati satu pengrajin sepatu yang hasil jahitannya sangat rapih dan sesuai dengan detil yang ia pesan. Harga pun tak terlalu mahal tapi tak sedikit teman-teman Yukka yang menyukai sepatu buatan pengrajin Cibaduyut itu. “Kalau tak salah, waktu itu Yukka pesan sepatu semi formal untuk wisudanya,”ungkap Roland, Human Resources and Customer Service Division PT Brodo Ganesha Indonesia (Brodo).
Pengalaman memesan sepatu secara customized itu membuahkan gagasan bagi Yukka dan Putera yang sebelumnya memang sedang berencana memulai bisnis namun belum ketemu ide mau bisnis apa. Kedua sosok inilah yang membesut kelahiran sepatu merek Brodo.
Image yang hendak dibangun Yukka dan Putra untuk brandnya tak muluk-muluk. Empat persepsi yang hendak ditanamkan dibenak konsumen, yaitu, Brodo adalah sepatu kulit, sepatu laki-laki, brand local dan berasal dari Bandung.
Yang menjadi difrensiasi bagi Brodo adalah, ada dua jenis sepatu Brodo yang berbeda dari produk sepatu lain. Jenis sepatu semi bootnya menggunakan alas batik parang, sementara untuk sepatu boot alasnya menggunakan gambar peta Indonesia. “Dalam hal ini marketingnya dikemas lebih kreatif sih…Kami memikirkan bagaimana caranya customer repeat, customer happy dan seterusnya. Intinya kami bergerak ke digital marketing dan melakukan aktifasi di online dan offline juga yang saat ini porsinya 50:50,” terang Roland yang membuat Brodo berbeda dan cepat dikenal pasar.
Menyasar segmen usia muda di kelas menengah dengan kisaran harga Rp 300 ribu – Rp 3 juta, merek sepatu peraih Grid Story Factory dari ICMA (Indonesia Content Marketing Award) & ICMF (Indonesia Content Marketing Forum ) ini diposisikan sebagai sepatu yang nyaman dipakai, modelnya up to date dan harga terjangkau.
Sementara, masalah kreatif dan inovatif dalam melahirkan model sepatu Indonesia patut diperhitungkan dari sosok Nurman Farieka Ramdhany yang akhirnya kepincut dengan usaha sepatu. Dari usaha produksi sepatu ini ia mengembangkan riset sepatu dari kulit ceker ayam.

Ide brillian muncul ketika Nurman melihat persaingan yang tidak relevan di pasar. Kita sama-sama menjual produk serupa di Indonesia dengan harga yang murah, namun dari luar negeri kita mendapat produk-produk serupa dengan harga yang lebih murah. Menurutnya terjadi persaingan yang tidak sehat hingga sulit bagi pengusaha lokal menentukan harga tetapnya. Dari situ pria 25 tahun ini mulai berpikir membuat sesuatu di area yang bisa dinikmati banyak orang namun mempunyai ‘value’ lebih.
Nurman memilih kulit ceker ayam sebagai bahan baku sepatu formil pria. Ia lebih memilih kulit ceker ayam karena ada beberapa isyu yang bisa diangkat dengan menggunakan limbah kulit ceker ayam. Kulit ceker ayam merupakan limbah dari banyak resto siap saji di Indonesia. “Ini alasan pertama kami gunakan kulit ceker ayam,”cerita Nurman kepada pelakubisnis.com.

Kulit ceker ayam adalah karena teksturnya yang menyerupai kuli t ular dan buaya. “Harapan kami di masa yang akan datang, penggunaan kulit-kulit yang eksotis diminimalisir dan sebagai alternatifnya adalah kulit ceker ayam karena berawal dari limbah yang tidak mempunyai value hingga dijadikan produk yang memiliki value,”terang jebolan Fakultas Ekonomi bidang Akutansi, Universitas Widyatama, Bandung ini.
Sekarang untuk membangun ‘trust’, Nurman berupaya mengedukasi pasar melalui channel-channel media agar masyarakat mau membeli produknya. Channel sosial media menjadi sasaran Nurman berpromosi saat ini dengan memanfaatkan influencer-influencer untuk membantu promosi, membantu edukasi dan membangun ‘trust’ dari masyarakat. “Di Januari 2020 kemarin sebenarnya kami sedang berlari. Namun corona muncul. Akhirnya kami cooling down sampai sekarang. Alhamdulillah kami masuk kategori yang masih bertahan,”ujar Nurman seraya menambahkan, pada Januari 2020 follower Hirka di sosial media mencapai 1500, hingga akhir Juni lalu mencapai 10.700 follower.
Ada dua varian produk yang ditawarkan Hirka yakni jenis casual bagi kaum muda dan formal yang diperuntukkan acara-acara resmi seperti pernikahan, acara kantor, wisuda dan lain-lain. “Kami keluarkan artikel produk pertama namanya Ekajati. Itu full chicken feet leather, harga jualnya bisa sampai jutaan. Sekarang kami mulai ikuti pasar. Kalau awalnya kami jual formal shoes, sekarang kami jual casual juga. Ini jadi pertimbangan kami untuk menyusun pricing strategy yang semata-mata untuk memenuhi affordable dari pasar kita juga sehingga bisa bersaing,”aku Nurman yang menjual produk casual di kisaran Rp 490 – 540 ribu per pasang, bahkan untuk sepatu formal bentuk booth dijual seharga Rp 6 juta. “Itu Norwegian well, konstruksinya juga bagus sekali, ada garansi 2 sampai 3 tahun. Ini customize sangat segmented untuk orang-orang yang paham sekali dengan sepatu bagus. Bukan orang-orang pada umumnya dan treatment nya juga mesti bagus sekali,”jelas Nurman.
Saat ini Channel distribusi Hirka lebih dominan menggunakan channel e-commerce karena begitu banyak fitur seperti potongan harga, free ongkir dan lain-lain yang menarik perhatian konsumen.Hirka juga tersedia di Offline store yang berpusat di Bandung. Namun untuk saat ini diakui Nurman belum berani membuka toko karena pandemi Covid-19.
Memang industri alas kaki menjadi sektor yang tertua di Indonesia, yang telah mempunyai struktur yang kuat dari hulu sampai hilir, dan produknya memberikan kontribusi nomor tiga dari seluruh komoditas ekspor kita.
Sumbangsih nyata dari industri alas kaki, seperti capaian ekspor alas kaki nasional yang mengalami peningkatan hingga 4,13 persen, dari tahun 2017 sebesar USD4,91 miliar menjadi USD5,11 miliar di 2018. Selain itu, penyerapan tenaga kerja juga ikut naik, dari tahun 2017 sebanyak 795 ribu orang menjadi 819 ribu orang di 2018.
Catatan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), nilai ekspor industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki pada tahun 2019 mencapai USD5,12 miliar. Pada periode Januari-Juni 2020, ekspornya mencapai USD2,81 miliar atau meningkat 9,7 persen bila dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2019 yang berada di angka USD2,56 miliar.
Menurut catatan Kemenperin jumlah industri alas kaki sebanyak 665 perusahaan, produksi kita sudah menembus hingga 1,41 miliar pasang sepatu atau berkontribusi 4,6 persen dari total produksi sepatu dunia.
Merujuk laporan World Footwear Yearbook tahun 2019, Indonesia merupakan pusat produksi alas kaki terbesar keempat di dunia dengan total produksi mencapai 1.271 juta pasang alas kaki. Indonesia juga merupakan negara eksportir produk alas kaki terbesar ketiga di dunia, dengan total 406 juta pasang alas kaki.
Namun demikian, menurut Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, , pada masa pandemi ini terjadi perubahan yang cukup besar terhadap kinerja industri alas kaki. Hal ini berdasarkan data World Footwear Business Condition Survey – First Semester 2020, dalam hasil surveinya periode Januari hingga April 2020, konsumsi alas kaki dunia mengalami penurunan hingga 22,5% dan kinerja penjualan global turun hingga 74%.
Selain itu, daya beli masyarakat turun hingga 53% dan harga barang turun 43%. “Meskipun demikian, dampak pada lini produksi alas kaki, terutama sneakers justru mengalami kenaikan sebesar 42%. Hal ini disebabkan oleh bahan baku pembuatan sneakers yang umumnya berbahan dasar tekstil dan karet serta para produsen sneakers telah memiliki platform pemasaran online,” tuturnya.
Kementerian Perindustrian menginisiasi pembentukan Indonesia Footwear Network (IFN) sebagai sebuah platform jejaring bagi pelaku industri alas kaki dan pendukungnya. Upaya ini bertujuan untuk membangkitkan gairah usaha para pelaku industri persepatuan di Indonesia di tengah dampak pandemi Covid-19.
“Platform IFN ini merupakan sebuah etalase yang menampilkan informasi pelaku bisnis usaha yang terdiri dari brand, supplier, dan produsen sehingga dapat diakses oleh seluruh pelaku usaha bidang alas kaki dan produk kulit,”kata Gati Wibawaningsih di Jakarta, pada 10/8.
Gati menjelaskan, masa pandemi dan adaptasi kebiasaan baru saat ini menjadi sebuah tantangan bagi para pelaku industri dalam negeri, termasuk sektor industri kecil menengah (IKM). Mereka dituntut mampu lebih kreatif dan inovatif untuk mempertahankan usahanya. “Jadi, agar pelaku usaha dapat memanfaatkan kondisi pasar saat ini, salah satu cara yang dilakukan dengan membangun jaringan antar pebisnis. Sehingga, mereka akan mendapatkan peluang kerja sama dan meningkatkan citra diri personal hingga company branding,” paparnya.
Gati menyampaikan, dengan konsep collect – connect – collaboration, IFN mengumpulkan data para pelaku industri alas kaki melalui etalase online berbasis situs web untuk mempermudah pengumpulan serta pencarian informasi dan profil berbagai usaha industri alas kaki dari sektor hulu sampai hilir.
Platform IFN ini juga dapat memberikan akses seluas-luasnya kepada sesama pelaku industri alas kaki maupun masyarakat umum yang tertarik dan berminat dalam pengembangan industri alas kaki. Bahkan, membuka peluang kolaborasi antara pelaku usaha dengan masyarakat umum, sehingga memberikan dampak positif yang saling menguntungkan.
“Jika bergabung di platform IFN, keuntungan yang diperoleh adalah berbagai manfaat dan kemudahan dari Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), antara lain berupa informasi tentang profil produsen, supplier, local brand alas kaki bisa diakses oleh potensial buyer, investor, dan trader secara online,” sebutnya.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa/Ilustrasi: pelakubisnis.com
