UBL Cetak SDM Cerdas Berbudi Luhur
Kecerdasan IQ saja tidak cukup untuk membangun manusia yang berkarakter. Diperlukan sikap berbudi luhur sebagai cermin budaya bangsa. UBL berkomitmen untuk mencetak SDM (sumber daya manusia) berbudi luhur. Seperti apa treatment yang dijalankan?
Universitas Budi Luhur (UBL) Jakarta boleh jadi memiliki karakteristik tersendiri yang mungkin tak dimiliki oleh perguruan tinggi lainnya. Bayangkan, kurikulum PTS ini mencantumkan pelajaran ‘Budi Luhur’ sebagai salah satu karakter yang menjadi ciri khas UBL. “Mata pelajaran ini diberikan dalam 2 semester dengan bobot kredit 20 SKS, “ kata Direktorat Kerjasama dan Humas, Anastasya Putri, pada 27/1 lalu.
Dalam dua semester tersebut, lanjut Anastasya, ada Wawasan Kebudiluhuran (WBL) dan aplikasinya. Nantinya mahasiswa harus mengaplikasikan materi WBL yang diperoleh di kampus ke masyarakat. “ Ini kurikulum lokal yang di kampus lain tidak ada. Mata kuliah ini hanya satu-satunya ada di UBL, “ tambah Anastasya, kepada pelakubisnis.com.
Sedikitnya ada 9 nilai Kebudiluhuran yang dipelajari, yaitu tolong menolong, taat hukum, cinta kasih, toleransi, kerjasama, sopan santun, jujur dan sebagainya. Mahasiswa harus bisa mengaplikasi apa yang disebut dengan toleransi, apa yang disebut dengan jujur, cinta kasih dan sebagainya. “Mahasiswa membuat program, misalnya program Kegiatan 1000 Amal, bersedekah, perbaikan infrastruktur lingkungan dan banyak lagi lainnya,”ujar mantan presenter berita Liputan 6 SCTV ini.
Lebih lanjut ditambahkan, berbudi luhur itu sangat spesifik dan linier, di mana Kemenbud menggaungkannya yang # Cerdas Berkarakter. “Kalau karakter saja belum spesifik, sangkan di UBL sudah spesifik berbudi luhur merupakan nilai utama seorang manusia,” tandasnya.
Sementara menurut Director of Cooperation and Public Relations UBL, Amb. Sunten Zephyrimus Manurung, UBL sesuai dengan motto nya ingin mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas dan berbudi luhur. Saling toleransi, gotong royong, kepekaan sosial, taat aturan hukum, sehingga kelak tercipta SDM dengan spesifikasinya bagaimana mendidik orang-orang biasa, pemuda-pemudi yang baru lulus SMA yang berbudi luhur bercirikan Kebhinekaan, sebagai ciri khas bangsa Indonesia. “Makanya tagline UBL adalah Cerdas dan Berbudi Luhur. Itu sebabnya mahasiswa UBL tidak ada yang pernah terlibat tawuran dan demontrasi yang tidak perlu,” kata Sunten kepada pelakubisnis.com.
Menurut Sunten, sebelum dicanangkan oleh Manteri Kemenbud, konsep ‘Berbudi Luhur’ diterapkan di UBL sejak berdirinya kampus ini. Di sekitar kampus UBL ada tugu kebudiluhuran yang intinya mengingatkan kepada manusia bahwa kita harus menjauhi larangannya, kita harus jujur dan sebagainya. Ekspresi dari nilai itu menjadi simbol dalam tugu kebudiluhuran. Mahasiswa setiap kali lewat tugu itu diharapkan membaca pesan-pesan moral yang hakiki sebagai manusia. Boleh jadi nilai kebudiluhuran, menurut Sunten diterapkan di UBL sebagai fakta integritas civitas akademika di lingkungan kampus.
Sunten menambahkan, cerdas merupakan intelligence quotient (IQ). Ada yang sejak lahir manusia sudah pintar, ada juga soft skill nya sudah bagus dan ada hard skill nya juga. Nah, untuk bisa mendidik mahasiswa berbudi luhur, maka dalam kurikulum UBL menekankan kebudiluhuran, etika dan moral. “Jadi, tidak hanya pendidikan intelektual semata, tapi juga menanamkan kebudiluhuran,” katanya serius.
Itu sebabnya, selama 2 tahun Indonesia menghadapi Pandemi Covid-19, UBL ikut terjun secara rutin memberikan Bantuan sosial (Bansos). Bahkan, UBL selama 3 bulan menjadi setral vaksin. Sekitar 5000 lebih masyarakat Ciledug-Jakarta di sekitar Kampus UBL mendapat vaksinasi. Seperti itulah bentuk kepedulian UBL terhadap masyarakat.
Menurut Sunten, sejarah berdirinya UBL pada 1 April 1979, awalnya dalam bentuk Akademi Ilmu Komputer (AIK Budi Luhur). Akademi ini dibangun untuk mencetak tenaga terampil yang cerdas dan berbudi luhur. Di tahun 1981 AIK Budi Luhur berubah menjadi Akademi Pengetahuan Komputer (APK Budi Luhur) setelah mendapat ijin operasional dari pemerintah. Beberapa kali mengalami kenaikan status sampai akhirnya kelembagaan perguruan tinggi ini disederhanakan dalam satu wadah menjadi Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) hingga di tahun 2002 bertransformasi menjadi UBL yang terdiri dari Fakultas Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta Program Diploma Tiga (D3-FTI).
Di samping itu, di UBL ada Program Kriminologi yang menjadi bagian dari FISIP. Perlu diketahui Program Pendidikan Kriminologi di Indonesia saat ini hanya ada di tiga universitas, yaitu: di Universitas Indonesia, Universitas Lampung dan di UBL.
Sunten menambahkan, sebelum pandemic jumlah mahasiswa UBL mencapai 15.000 mahasiswa aktif. Tapi sekarang agak berkurang karena banyak tantangan akibat Covid-19 ini. Ada mahasiswa yang cuti kuliah. “Mereka yang cuti kuliah dianggap tidak aktif. Jadi, ada pengaruhnya akibat Covid-19, mungkin karena dampak ekonomi. Saya kira mungkin sama juga dengan universitas-universitas lainnya, terkena dampak tersebut,” lanjut mantan Duta Besar RI untuk Argentina, Paraguay dan Uruguay tahun 2006-2010 ini serius.
Bahkan dalam waktu dekat ini UBL akan membentuk Program Pendidikan Manajemen Kebencanaan. Menurut Sunten, mengingat Indonesia sebagai negara yang rawan bencana. Oleh karena itu, diperlukan SDM-SDM yang tangguh untuk menghadapi bila terjadi bencana.
Namun demikian, menurut Anastasya, dari daftar penerimaan mahasiswa tahun ajaran 2021 tidak ada pengurangan mahasiswa di UBL. “Target penerimaan mahasiswa tahun akademik 2022 diharapkan terjaring 1500 mahasiswa baru untuk masuk ke UBL. Sampai saat ini yang sudah mendaftar sekitar 300-an calon mahasiswa. Kami tinggal menunggu pengumuman PTN sampai bulan Juni 2022,” kata mantan jurnalis ini. “Kalau dari 300-an mahasiswa tersebut diterima di PTN, uang yang sudah dikeluarkan oleh calon mahasiswa yang telah mendafatr di UBL dikembali sepenuhnya, kecuali uang pendaftaran,”timpal Sunten.
Lebih lanjut ditambahkan, status UBL sudah mendapat Akreditasi B yang saat ini sedang dalam proses untuk mendapatkan akreditasi A. “Kami tetap berusaha, tapi jadwal akreditasi ditentukan oleh Dikti (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi-red). Di mana ada asesor dari berbagai Universitas. Ibarat sebagaimana mahasiswa mau ujian skripsi, tentu sudah siap jauh hari. Kami juga sudah siap bila jadwalnya sudah ditentukan untuk meningkatkan akreditasi UBL menjadi A,” lanjut Sunten.
Sejauh ini, tambah Sunten, UBL juga banyak menerima berbagai penghargaan, misalnya penghargaan atas kurikulum yang diterapkan, penemuan-penemuan dari mahasiswa UBL, dedikasi, prestasi para dosen UBL dan lain sebagainya. “Prestasi-prestasi itu punya poin tersendiri dan kita publish ke masyarakat supaya mereka tahu apa yang diperoleh Dosen-Dosen UBL, Mahasiswa UBL yang berpartisipasi di lingkungan masyarakat,” tambahnya.

Di sekitar Kampus ini, sejumlah mahasiswa berkolaborasi dengan pemuda setempat membantu masyarakat membuatkan jaringan internet seperti Kampung Wi Fi yang proyeknya dibuat di daerah Tangerang dan sekitarnya. Kebutuhan WiFi ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekarang di tengah pandemic. Apalagi dengan adanya sekolah online, sehingga sehingga masyarakat terbantu belajar secara online dengan akses internet secara gratis. Dalam hal ini radius yang dicover oleh Kampung WiFi bisa mencapai 10 kilometer.
Anastasya menjelaskan, UBL mempunyai program Merdeka Belajar Kampus Belajar (MBKM), di mana mahasiswa membangun desa dengan aplikasi Silaron (Sistem Layanan Surat Online-red). Di desa itu, masyarakat bisa mengakses surat-menyurat melalui online. Kemudian membuat program QRIS atau alat pembayaran digital dari hasil pertanian dan perkebunan. “Dengan sistem MBKM mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tapi mereka juga ada di tengah masyarakat selama 6 bulan dan itu dikonversi sebesar 20 SKS,” tutur Anastasya seraya menambahkan mahasiswa-mahasiswa lintas fakuktas di UBL ini berkolaborasi untuk membangun Kampung Wi Fi, Aplikasi Silaron, QRIS dan sebagainya. Jadi, mahasiswa selain wajib menjalankan MBKM, juga wajib menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan bobot 3 SKS.
Tidak hanya itu, selama menjalankan MBKM, para mahasiswa juga diwajibkan magang di dunia industri/usaha, baik dalam dan luar negeri. Di UBL ada program pertukaran pelajar dari luar negeri, seperti dari Belanda, Jepang, India, Thailand an sebagainya.
Di samping itu, mahasiswa UBL berhasil menciptakan 4 motor listrik. Motor listrik karya anak-anak UBL ini telah diuji coba atau touring dari Kampus UBL sampai Sirkuit Mandalika yang juga disaksikan langsung oleh perwakilan dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Program ini dilakukan dalam rangka upaya UBL turut berpartisipasi untuk menekan emisi gas buang, dimana Indonesia pada tahun 2060 menargetkan Net Zero Emission. Sejauh ini, motor listrik karya mahasiswa Fakultas Teknik UBL ini masih berupa prototype, belum ada kerjasama dengan industri.
Keunggulan lain yang menonjol dari UBL menurut Sunten adalah kampus IT pertama di Indonesia. “Bila anda masuk kampus UBL – di bagian depan ada patung manusia setengah komputer”. Patung itu menjadi icon UBL. “Manusia komputer itu sudah dipikirkan oleh UBL sejak 43 tahun yang lalu. Dan kini kondisi ini masih sangat relevan perkembangan zaman,” timpal Anastasya.
Sementara itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBL juga menerapkan double degree yang disebut dengan Internasional Business Management Studies. Kurikulumnya dirancang untuk menghasilkan lulusan yang kompeten menguasai teori yang konseptual dan memiliki pengalaman nyata dalam dunia usaha internasional, sehingga lulusannya dapat memenangkan persaingan di dalam bisnis nyata, menjadi wirausaha ataupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Program ini dirancang berdasarkan kompetensi lulusan yang ingin dihasilkan dan mengacu pada kurikulum IBMS Hoogeschool Zeeland University, Belanda sebagai mitra kolaborasi.
Mahasiswa yang mengambil program Internasional Business Management Studies, akan mendapat dua sertifikat, yaitu sertifikat dari Zeeland University, Belanda dan sertifikan dari UBL sendiri. “Mahasiswa bisa 2 tahun kuliah di Belanda dan dua tahun di UBL,” terang Sunten.
Anastasya menambahkan UBL mampu mencetak lulusan siap pakai karena, didukung banyak dosen-dosen praktisi. Dengan model pengajaran demikian, mahasiswa dapat memahami apa yang diterapkan di dunia usaha atau industri. Dengan banyaknya dosen-dosen praktisi, sehingga banyak mahasiswa yang langsung diajak praktik di industri. “UBL juga sering mendatangkan dosen tamu dari industri ke kampus,” jelasnya.
Sedangkan daya serap lulusan UBL sebelum Covid-19, menurut Sunten, sekitar 90% diserap di bursa tenaga kerja dengan waktu tunggu sekitar 6 bulan. Setelah Covid-19, belum melakukan survey lagi, sehingga saat ini belum diketahui berapa lama masa tunggu untuk dapat diserap di bursa tenaga kerja.
Kini UBL memiliki 3 lokasi kampus di Jakarta. Menjalankan visi menjadi universitas berwawasan global berbasis kewirausahaan, teknologi dan cerdas berbudiluhur dan misinya menyelenggarakan pendidikan yang mengedepankan teknologi, ilmu pengetahuan, kewirausahaan dan kebudiluhuran, dan menyelenggarakan penelitian yang menciptakan dampak sosial positif, terukur dan berkesinambungan, serta berperan aktif dalam menyejahterakan kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik dengan mengimplementasikan hasil penelitian dan berperan aktif dalam kegiatan sosial global yang bermanfaat bagi umat.
berperan aktif dalam kegiatan sosial global yang bermanfaat bagi umat. Salah satu pencapaian dari misi yang dijalankan kampus ini adalah sukses mengelola bank sampah bersama masyarakat sekitar. Ada satu area di UBL yang dihibahkan untuk pengelolaan bank sampah. Dari kegiatan tersebut perguruan tinggi ini mendapat penghargaan sebagai Juara Umum Lomba “Memilah Sampah Menabung Emas 2021’ yang diselenggarakan Pegadaian dan mendapatkan hadiah mobil box.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa

