Binus Cetak Entrepreneur dan Profesional Lewat Talent Mapping
Penelusuran bakat dan minat dalam menjaring calon mahasiswa dan Test Potensi Keberhasilan Mahasiswa (TPKM) menjadi kunci mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpumi. Alhasil 67% mahasiswa sudah bekerja atau menjadi entrepreneur sebelum lulus kuliah. Apa Kiat Binus mendidik mahasiswanya?

Tahun akademi baru 2022 sudah diambang mata. Mereka yang belum berhasil lolos Perguruan Tinggi Negeri (PTN), mulai melirik Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Salah satu PTS yang jauh-jauh hari sudah membuka pendaftaran untuk tahun akademi 2022 adalah Universitas Bina Nusantara (Binus University). Bahkan, sejak Juli 2021 sudah mulai membuka pendaftaran untuk tahun ajaran Akademi 2022 – 2023.
Meskipun sejak Maret 2020 Indonesia dilanda pandemi Covid-19, namun menurut Fransiskus Asisi Suseno, Marketing Associate Director Higher Education Binus University, kondisi itu tidak mengurangi minat calon mahasiswa yang mendaftar kuliah ke Binus. Justru yang mendaftar ke perguruan tinggi yang berdiri sejak 1 Juli 1981 ini semakin meningkat. Hal tersebut karena kampus ini sudah lama dikenal dengan kurikulum digital melalui Binus Online Learning yang memungkinkan kuliah bisa dari mana saja.
Memang cara pendekatan yang dilakukan Binus, berbeda dibandingkan sebelum kondisi pandemi. Kondisi pandemi saat ini lebih banyak melakukan pendekatan ke calon mahasiswa secara online. Tapi mulai tahun akademi 2022 mulai menerapkan pendekatan secara hybrid, yaitu mengkombinasikan kegiatan online dengan kegiatan offline.
Lebih lanjut ditambahkan, Binus melakukan pendekatan kepada calon mahasiswa baru yang mendaftar di Binus disesuaikan dengan bakat dan minat. “Kami memberikan informasi terkini mengenai jurusan-jurusan yang mereka minati. Misalnya calon mahasiswa yang berminat ke jurusan Teknik Informatika. Kami akan menjelaskan Teknik Informatika itu seperti apa, belajarnya bagaimana dan setelah lulus pekerjaannya seperti apa?,” jelas Fransiskus kepada pelakubisnis.com, seraya menambahkan pihak Binus pun berkomunikasi dengan orangtua calon mahasiswa karena orangtua juga memegang peran penting untuk pengembangan putera-puterinya ke masa depan.
Mekanisme komunikasi dengan mahasiswa dengan mengundang calon mahasiswa dalam satu forum bersama dunia industri secara online. Pembicara dari industri, misalnya, profesional bidang Teknik Informatika (TI). Mahasiswa dapat memperoleh informasi langsung dari profesional di bidangnya, sehingga mereka dapat gambaran seperti apa dunia TI. Jadi, calon mahasiswa sudah mendapat gambaran tentang profesi apa yang dapat ditekuni setelah lulus kuliah. “Mereka dapat langsung berdiskusi secara offline di kampus, tapi dengan peserta yang terbatas dan penerapan protokol kesehatan yang ketat,”terang Fransiskus.
Bahkan sebenarnya di Binus sejak tahun 2001 sudah menerapkan kurikulum hybrid antara tatap muka di kampus dengan secara digital. Namun saat itu, masih coba-coba dan sekali-sekali memang terjadi error. Baru pada tahun 2010 secara konsisten menerapkan sistem hybrid antara tatap muka di kampus dan digital yang bisa belajar dari mana saja. “Tergantung mahasiswanya, nyamanya belajar dari di mana! Saat ini di Binus ada 6000 mahasiswa yang belajar secara digital,” katanya serius seraya menambahkan total mahasiswa di Binus mencapai lebih dari 25.000 mahasiswa dengan 53 program studi.
Keunggulan menerapkan kurikulum digital, menurutnyaa, mahasiswa dapat kuliah secara fleksibel dari mana saja. Mahasiswa dapat mengikuti kuliah senyaman yang dia mau. Apakah dia nyaman kuliah tatap muka atau secara digital. Dengan sistem ini anak dari Jayapura dapat kuliah di Binus tanpa harus ke Jakarta, tapi tetap mendapat kualitas pendidikan sekualitas setarap Binus.
Boleh jadi ini salah satu dari penerapan Kampus Merdeka Belajar versi Menteri Nadiem Makarim itu bahwa belajar itu bukan hanya di kampus, tapi di lingkungan dan bisa di mana saja. “Sebenarnya Binus sudah menerapkan Merdeka Belajar 4 tahun lalu sebelum dicanangkan oleh Menteri Nadiem Makarim,” tandas Fransiskus.
Ia menambahkan, di Binus itu ada program penelusuran bakat calon mahasiswa. Berdasarkan hasil penelusuran bakat, akan ketahuan calon mahasiswa mempunyai potensi di program study apa? Mungkin Teknik Informatika, mungkin Teknik Industri atau ternyata lebih cocok masuk sekolah kedokteran. Dalam hal ini Binus juga bekerjasama dengan perguruan tinggi lain untuk program studi yang belum tersedia. “Hasil penyelusuran bakat dan minat, ternyata kamu mampu di Teknik Informatika atau Teknik Industri. Kami ajak berbicara tentang kedua program studi tersebut. Begitu kira-kira Binus menyarankan calon mahasiswanya masuk jurusan yang sesuai dengan bakat dan minatnnya,” ujar alumni Binus Business School ini.
Menurutnya, bila mahasiswa memilih prodi sesuai dengan bakatnya, bisa dipastikan dia akan enjoy menjalankan kuliahnya. Tapi ada juga mahasiswa yang suka jalan-jalan, tapi masuknya prodi Kedokteran atau Teknik Industri. Pertanyaannnya, apakah mereka bisa sukses? Bisa saja! Tapi mereka yang masuk ke Binus harus melalui TPKM (Test Potensi Keberhasilan Mahasiswa). Kalau hasil test TPKM, ternyata potensi keberhasilannya di prodi Teknis Industri, sementara calon mahasiswa memilih prodi Kedokteran, maka calon mahasiswa tersebut tidak diterima di Binus, kecuali pindah jurusan. “Binus menyarankan untuk memilih jurusan yang cocok bagi calon mahasiswa, supaya mereka enjoy mengikuti perkuliahan,” lanjutnya serius.
Ketika mahasiswa sudah pilih prodi tertentu, tambah Fransiskus, di Binus ada orientasi mahasiswa yang namanya Manajemen Program. Pasalnya, anak-anak dari SMA dan baru masuk kuliah tidak gampang, karena masih masa transisi. Oleh karena itu, setiap mahasiswa baru, disiapkan mentor yang merupakan mahasiswa-mahasiswa senior. Tiap mentor memegang 6 sampai 10 mahasiswa baru. “Mentor-mentor ini yang akan mengawasi dan berkomunikasi dengan adik-adik tingkatnya. Selama mengikuti pelajaran ada masalah apa? Kendala apa? Sebab biasanya mahasiswa-mahasiswa baru ini sungkan bertanya langsung dengan dosen-dosennya, mungkin malu, sehingga dapat dijembatani dengan mentor-mentor ini,” katanya.
Mentor-mentor ini, jelas Fransiskus, dilatih khusus untuk dapat memberi saran-saran kepada adik tingkatnya. Syarat menjadi mentor mempunyai IPK (Index Prestasi Komulatif) yang tinggi dan sudah mengikuti jenjang pendidikan tingkat dua dan tingkat tiga serta mempunya passion untuk menjadi mentor. Sebab, ada jiwa mahasiswa yang pintar tapi tidak bisa menjadi mentor, karena tidak bisa mengatur adik kelasnya, tidak bisa memberi motivasi. Mentor-mentor ini direkrut dari mahasiswa yang berprestasi dan mendapat beasiswa dari kampus. Tidak semua yang berprestasi dan mendapat beasiswa di Binus menjadi mentor, tapi ada juga yang mejadi asisten dosen, asisten laboratorium atau bagian penelitian. Semuanya mempunyai ciri yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya.
Sementara ada juga mahasiswa-mahasiswa yang berkebutuhan khusus, lanjut, Fransiskus. Dilakukan test apakah mahasiswa tersebut mampu mengikuti jurusan yang dipilihnya. Bila memenuhi persyaratan, maka diperlukan dua mentor, yaitu mentor psikolog dan mentor dari kakak tingkatnya.
“Semua yang dilakukan di Binus dan apa pun jurusan yang diambil, selama mengikuti pelajaran dengan baik, kami yakin, mereka sukses. Ditambah lagi di Binus mempunyai program 3 plus 1. Maksudnya, tiga tahun belajar di kampus dan satu tahun kuliahnya di industri/ dunia usaha ,” tandasnya. Bahkan sekarang Binus mempunyai program 2 plus 2. Maksudnya karena Binus multi kampus untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya (cabang Kebon Jeruk, Bekasi, dan Alam Sutera), Bandung, Semarang dan Malang. Misalnya 2 tahun kuliah di Kampus Alam Sutera, kemudian dua tahun pindah ke kampus Bandung. Dengan cara demikian, mahasiswa Binus bisa belajar banyak budaya. Cara demikian akan membangun karakter mahasiswa lebih dewasa.
Ia menambahkan, Binus bukan hanya mempunyai keunggulan akademis belaka, tapi juga dikembangkan secara praktika dengan mengundang dosen-dosen tamu dari kalangan profesional, sehingga para mahasiswa memahami ada korelasi antara ilmu yang dipelajari dengan dunia usaha seperti apa. Bahkan ada kurikulum tertentu yang pengajarnya dari kalangan industri/professional, sehingga pengetahuan yang dipelajari di kampus bisa diterapkan di dunia industri atau usaha. “Di Binus ada banyak, program, seperti CEO Speaks dan berbagai macam kegiatan lain yang membuat mahasiswa bertambah wawasan di dalam dunia usaha,” jelasnya.
Artinya Binus siap mencetak lulusan siap kerja, baik sebagai profesional atau entrepreneurs. Bahkan di Binus ada inkubator untuk mencetak entrepreneurs. Sekitar 30% dari mahasiswa Binus menjadi entrepreneurs. Di Binus bisa dimasukkan dalam kategori kurikulum dual system, yaitu 3 tahun di kampus dan satu tahun di industri atau dunia usaha. “Kami juga bekerjasama dengan Tokopedia, Shopee, Unilever, BCA dan sebagainya. Ada sekitar 2000-an badan usaha, baik nasional maupun internasional yang bekerjasama dengan Binus,” tambahnya.
Berdasarkan data kelulusan tahun 2021, misalnya, Binus meluluskan 4830 wisudawan. Dari jumlah itu, mereka yang sudah bekerja atau menjadi entrepreuner sebanyak 67% sebelum lulus kuliah. Kemudian setelah 6 bulan mereka di wisuda, berdasarkan survey sebesar 89% langsung diserap di bursa tenaga kerja. Sedangkan yang 11% atau sisanya, melanjutkan studi mengambil program paska sarjana.
Menurut Fransiskus, Binus juga menjalin kerja sama dengan universitas-universitas dari luar negeri diantaranya dengan universitas di Australia seperti Macquarie University, Queensland University of Technology, dan Deakin University. Ada dua bentuk kerjasama, yaitu kerjasama non gelar dan kerjasama bergelar (double degree-red). Contoh bekerjasama dengan Deakin University Australia. Program double degree sudah dimulai sejak tahun 2001. Mahasiswa mendapat gelar dari Binus dan juga mendapat gelar dari luar negeri.
Kedua kerja sama lebih pada action study. “Di Binus ada program internasional dan program regular,” ujarnya seraya menambahkan untuk program double degree diantaranya ada program komputer, bisnis, komunikasi dan desain komunikasi visual.
Sementara Tantangan generasi muda kini harus memiliki kecerdasan intelektual dalam hal teknologi dan inovasi, kemampuan berkomunikasi, kecepatan beradaptasi, dan jiwa kewirausahaan yang tinggi. Generasi muda dihadapkan pada tantangan akibat masih adanya pandemi Covid-19, di mana mobilitas dilakukan secara luring terbatas.
Binus sebagai Perguruan Tinggi Indonesia berkelas dunia, menyadari pentingnya mencetak sumber daya manusia (SDM) tersebut untuk menghadapi perkembangan teknologi digital yaang dinamis. Dengan semangat tersebut Binus menginisiasi pameran edukasi bertajuk Binus Education Virtual Expo Hybrid Edition 2022 atau BEVE Hybrid Edition 2022 yang merupakan pameran edukasi yang diselenggarakan untuk menjawab tantangan kebutuhan masyarakat akan informasi mengenai program studi akan pameran pendidikan secara Hybrid.
Perhelatan ini merupakan kali kedua Binus menyelenggarakan BEVE, setelah sebelumnya digelar di tahun 2021 dan mendapat antusiasme yang luar biasa dari masyarakat. Di tahun 2022 ini, Binus melakukan terobosan dengan menyelenggarakan BEVE secara hybrid, di mana dapat dihadiri secara daring/online pada tanggal 27 Januari sampai 6 Februari 2022 atau luring/onsite tanggal 3 sampai 6 Februari 2022 pada event Indonesia International Education Training Expo and Conference (IIETE 2022) yang bertempat di Jakarta Convention Center.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa
