Menangkap Rekam Jejak Prasetiya Mulya

Salah satu temuan Kantar (konsultan riset global) ketika melakukan tracer study menunjukkan lulusan Universitas Prasetiya Mulya menjadi seorang pebisnis sebesar 27%. Angka ini jauh di atas rata-rata lulusan perguruan tinggi Indonesia dan perguruan tinggi dunia. Bahkan waktu tunggu lulusan Prasmul hanya tiga bulan langsung kerja!

Agus W. Soehadi, Pengamat Pendidikan dan Pemasaran Universitas Prasetiya Mulya/Foto: Ist

Nama Prasetiya Mulya (Prasmul) dulu dikenal sebagai lembaga pendidikan paska sarjana (MBA) yang melahirkan banyak  professional di Tanah Air. Pertama kali didirikan oleh pengusaha yang tergabung dalam Kelompok Prasetiya Mulya pada tahun 1982. Kemudian mendirikan program MBA (master of business administration-red) pada tahun 1984 dan bertransformasi menjadi MM Program tahun 1993 sesuai dengan nomenklatur yang ada di dikti saat itu.

Pada tahun 2000’an Prasmul mendapat teguran dari dikti karena belum memiliki program S1. Umumnya perguruan tinggi memiliki program S1 dulu baru program S2. Sehingga ketika itu, pimpinan meminta Agus W. Soehadi, Pengamat Pendidikan dan Pemasaran Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) dan tim untuk meluncurkan program S1. “Tahun 2005 kita meluncurkan program S1 Bisnis dengan kekuatan di entrepreneurship program,”jelas Agus W Soehadi.

Respon pasar terhadap program S1 bisnis baik sekali dengan jumlah applicants ketika itu lebih dari 330 mahasiswa dengan jumlah yang diterima 89 orang mahasiswa, kemudian berkembang sampai kapasitas maksimum di Kampus Cilandak yaitu 160’an mahasiswa yang diterima. “Kami melakukan ekspansi ke Bumi Serpong Damai (BSD) dengan membangun kampus baru di sana. Tahun pertama di BSD kami berhasil untuk meningkatkan jumlah yang registrasi 2 kali lebih besar. Kemudian tahun 2015, Prasmul mengajukan STEM terapan dan disetujui oleh Dikti sehingga prasmul bertransformasi menjadi universitas karena sudah memiliki 6 program studi science dan engineering dan ini memenuhi syarat sebagai universitas,” kata Agus kepada pelakubisnis.com, minggu kedua Januari 2022.

Menurutnya  keunggulan dari Prasmul adalah branding, learning process, para pengajar dan ekosistem bisnis/entrepreneurship nya. Untuk branding, Prasmul pertama kali memperkenalkan S1 Bisnis, S1 Branding, S1 Finance & Banking, S1 Financial Technology, S1 Event dan sebagainya. Untuk learning process Prasmul adalah collaborative learning by enterprisingmelalui penekanan partisipasi student yang dikenal sebagai student centered learning. Beberapa pendekatan yang digunakan salah satunya melalui pendekatan kasus. Diharapkan mahasiswa mampu menggunakan konsep atau teori yang diajarkan di kelas  digunakan untuk memecahkan masalah.

Lebih lanjut ditambahkan, pendekatan berikutnya adalah problem atau project based learning. Sebagai contoh, mahasiswa mulai mencari ide bisnis, pembuatan bisnis model, pembuatan rencana bisnis dan menjalankan bisnis tersebut. Contoh berikutnya adalah Prasmul bekerja sama dengan organisasi eksternal (perusahaan, NGOs, pemda dan sebagainya). Mereka diminta untuk mempresentasikan permasalahan di perusahaan atau organisasinya kepada mahasiswa, kemudian mahasiswa melakukan riset terkait dengan operasi perusahaan atau konsumen untuk mendapatkan masalah utama, kemudian dikaji lebih lanjut untuk mendapatkan solusi kreatif terhadap masalah tersebut. Setelah itu mereka harus presentasi dengan manajemen perusahaan untuk dipilih kelompok mana yang terbaik. “Target kami adalah paling sedikit ada 50% dari total mata kuliah melaksanakan problem atau project based learning,” tambahnya serius.

“Keunggulan berikutnya adalah ekosistem Prasmul yang kental dengan bisnis, paling tidak lebih dari 90% alumni dan orang tua mahasiswa yang berlatar-belakang bisnis (founder dan professional), pendiri dari Prasmul juga berlatarbelakang bisnis,” jelasnya seraya menambahkan, kedekatan hubungan antara Prasmul dengan komunitas bisnis. Ini yang memungkinkan pendekatan kasus dan project-based learning dapat dijalankan dengan baik. Disamping itu, dimungkinkan banyak pembicara tamu dan pengajar paruh waktu dengan latar belakang bisnis untuk sharing ke mahasiswa di S1.

Menurut Agus, Prasmul memiliki dua sekolah yaitu SBE (Sekolah Bisnis dan Ekonomi) dan Applied STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics). Di bawah sekolah SBE ada program sarjana, magister manajemen dan doctoral. Untuk program sarjana ada 9 program yaitu S1 Business, S1 Branding, S1 Finance & Banking, S1 Fintech, S1 Event, S1 Hospitality Business, S1 Business Economics, S1 Accounting, dan S1 International Business Law.

Proporsi terbesar dosen Prasmul adalah generasi millennials yang literasi digitalnya sangat baik/Foto: kuliah-sabtu-minggu.com.

Untuk program magister ada 6 program yaitu MM Marketing & Finance, MM Business Management, MM Strategic Innovation, MM ABA (Applied Business Analytics) dan MM NVI (New Venture Innovation). Dan satu program doctoral yaitu S3 Management & Entrepreneurship. Adapun STEM memiliki 6 program yaitu S1 Business Mathematics, S1 Food Business Technology, S1 Software Engineering, S1 Computer Engineering, S1 Renewable Energy dan S1 Product Design.

“Jurusan yang paling diminati adalah S1 Business dengan kontribusi mendekati 40 % dari total student body S1 prasmul, kemudian dilanjutkan dengan S1 Branding dan berikutnya adalah S1 Finance and Banking,” lanjut Agus.

Untuk menunjang kualitas pembelajaran, menurut Agus, peran dosen menjadi sangat signifikan. Dosen Prasmul di samping memiliki pengalaman di perusahaan atau industry mereka juga sebagian besar bergelar doctor. Proporsi terbesar dari dosen Prasmul adalah generasi millennials yang literasi digitalnya sangat baik. Mereka ini yang diharapkan dapat membawa Prasmul lebih berperan di dunia internasional.

Sementara ada dua program S1 yang dijalankan penuh dengan Bahasa Inggris yaitu S1 Business Economics dan S1 Fintech. “Rencananya tahun ini Prasmul akan merekrut mahasiswa asing. Di samping itu, kita banyak memiliki program study abroad dan student exchange, dengan berbagai univeritas di luar seperti dengan Monash University di Australia, Boston University di US, Peking University, NTU (National Taiwan University) dan lain-lain.

Sementara hasil survei Inventure bekerja sama dengan Alvara menyebutkan bahwa mayoritas calon mahasiswa kini melihat lembaga pendidikan tinggi dari kurikulum yang diterapkannya. Perguruan Tinggi yang menerapkan kurikulum berbasis digital lebih diminati dibandingkan dengan sistem manual. Bagaimana Bapak melihat hasil riset tersebut?

“Saya sepakat bahwa calon mahasiswa semakin kritis di dalam memilih sekolah, tidak hanya dari  nama besar dan lamanya universitas tersebut berdiri, tetapi seberapa jauh kurikulum nya relevan dengan perkembangan industri. Temuan dari inventure harus di elaborasi lebih lanjut terkait kurikulum berbassi digital. Pengertian yang dimaksud adalah lebih ke arah kurikulumnya atau proses pembelajarannya,” katanya.

Agus menambahkan, setiap program studi memiliki ciri tertentu yang biasanya kurikulum inti nya disepakati oleh komunitas atau asosiasi pengelola program studi. Perkembangan sekarang lebih kepada digitalisasi proses pembelajaran. Banyak perguruan tinggi termasuk Prasetiya Mulya mengembangkan proses pembelajaran secara blended (blended learning), yaitu pengabungan antara pendekatan synchronous (interaksi langsung)/asynchronous (materi direkam terlebih dahulu dan mahasiswa dapat mengakses rekaman tersebut selama periode tertentu), kemudian kombinasi daring (online) dan luring (off line) serta pembelajaran dilaksanakan di ruang formal (kelas dan ruang diskusi) dan ruang informal (café’, ruang makan, plaza dan sebagainya).

Menurut Agus, ada beberapa indikator, menurut Agus yang digunakan untuk kompetensi best practice setelah lulus yaitu periode waktu tunggu untuk mendapatkan pekerjaan, kemudian  rata-rata gaji yang diterima jauh di atas UMR, memiliki dan menjalankan usaha, melanjutkan sekolah dengan mengikuti program S2.

“Jika mengacu ke empat indikator tersebut, Prasmul memiliki skor jauh lebih baik disbanding perguruan tinggi lainnya. Bahkan salah satu temuan Kantar (konsultan riset global) ketika melakukan tracer study menunjukkan bahwa lulusan Prasmul  menjadi seorang pebisnis adalah 27%. Ini angka jauh di atas rata-rata lulusan perguruan tinggi Indonesia bahkan di atas rata-rata perguruan tinggi dunia,” ujar Agus.

Sedangkan terkait fasilitas pendidikan, tambah Agus, Prasmul berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa. Keunggulan Prasmul adalah kualitas proses pembelajaran terutama penguatan kemampuan berbisnis atau etrepreneurhsip mahasiswa dan ditunjang dengan ekosistem Prasmul kental dengan bisnis.

Sementara dampak pandemik terhadap minat calon mahasiswa, tambah Agus, terutama mereka yang berasal dari luar Jabodetabek agak menurun walaupun tidak signifikan. Secara keseluruhan jumlah mahasiswa yang mendaftar untuk program sarjana untuk tahun 2021 dibanding tahun 2020 relatif sama baik untuk pendaftar dan yang teregistrasi sebagai mahasiswa baru. Adapun target kami di tahun 2022 juga tidak jauh beda dengan tahun 2021.

Yang lebih penting Agus menambahkan, waktu tunggu lulusan Prasmul rata-rata di bawah tiga bulan, bahkan sebagian sudah diterima dipekerjaan sebelum lulus. Di samping itu sebagian dari mereka juga memiliki usaha sendiri. Konsep yang kita gunakan adalah bukan siap pakai tetapi menghasilkan lulusan yang siap beradaptasi dan cepat belajar atas berbagai ragam konteks industry dan fungsi di perusahaan.

“Untuk itu, baik kasus perusahaan, projek atau jenis usaha yang dilakukan oleh mahasiswa dibuat selalu berbeda, sehingga mereka terbiasa menghadapi perubahan. Kami juga menawarkan magang kepada mahasiswa, tetapi konteks nya bukan bekerja tetapi mereka diminta untuk mencari kritikal issue yang dihadapi divisi di perusahaan kemudian dicari solusi yang kreatif kemudian dimonitor implementasinya,” tandasnya mengunci percakapan.[] Siti Ruslina/Mamikost