Indonesia Masih ada Gap SDM TIK Dengan Kebutuhan
Diperkirakan hingga 7-19 juta lapangan pekerjaan baru di sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada tahun 2030 di sektor TIK. Kebutuhan industri dalam negeri terhadap talenta digital setiap tahunnya diperkirakan sebanyak 600.000 orang. Bagaimana menyikapinya?
Merebaknya wabah Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang mulai masuk di Indonesia pada awal Maret 2020, memberikan pengaruh yang besar di berbagai sektor kehidupan. Sektor kesehatan, perekonomian, perdagangan, transportasi, pendidikan dan beragam aktivitas sosial terpaksa beradaptasi karena kehdiran virus Covid-19..
Sektor pendidikan dan pelatihan serta pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu yang terdampak. Sistem atau metode yang umumnya dilakukan secara tatap muka, berganti dengan metode sistem daring / online / virtual. Sistem atau metode ini sangat berkaitan erat dengan sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang menjadikan internet sebagai mediumnya.
Digitalisasi menjadi isu penting dalam penciptaan kompetensi SDM di lingkungan kementerian dan lembaga di Indonesia, terutama di tengah pandemi COVID-19 yang terjadi hampir dua tahun terakhir. Pemerintah bertekad untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang siap memasuki era industri 4.0 di sektor TIK.
Fenomena itu mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebagai trut andil dalam menjaga produktivitas dan pengembangan SDM di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kominfo menghadirkan program Digital Talent Scholarship (DTS) yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk mengasah pengetahuan dan keterampilan bidang digital secara online. Program DTS ini terbuka bagi masyarakat yang telah lulus pendidikan formal. Peserta yang menyelesaikan pelatihan ini akan mendapatkan certificate of completion, dan peserta yang memenuhi kriteria tertentu akan difasilitasi untuk mengikuti tes sertifikasi global.
DTS 2020 adalah beasiswa pelatihan dibidang digital yang terbuka untuk umum. Jumlah kuota total beasiswa yang disediakan hingga 40.000 yang diisi dengan berbagai tema dan kelas pelatihan.
Melihat situasi pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, nyatanya ada silver lining yang bisa diambil. Salah satunya adalah peningkatan terhadap kebutuhan teknologi digital. Tercatat bahwa setidaknya 50% dari total transaksi digital yang sudah dilakukan di masa pandemi ini berasal dari pengguna baru. Bisa disimpulkan bahwa pandemi COVID-19 merupakan “promotor” bidang TIK atau ICT yang unggul, sebagaimana dikutip dari binus.ac.id, pada 17/10 tahun lalu.
Kepala Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo Basuki Yusuf Iskandar menjelaskan tujuan dasar Program DTS 2019. Menurutnya, program yang digagas Kementerian Kominfo itu ditargetkan dapat menjembatani gap antara lulusan lembaga pendidikan dengan kebutuhan industri. “Kita menyiapkan generasi muda kita untuk siap menghadapi industri karena faktanya lulusan-lulusan mahasiswa atau mahasiswi indonesia saat ini tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh industri,” ungkapnya.
Dr. Ir. Basuki Yusuf Iskandar, MA, dalam kuliah umum yang dilaksanakan pada acara inaugurasi online Program S3 Doctor of Research in Management dan Doctor of Computer Science BINUS University pada 26/9 tahun lalu mengtakan, perkembangan digital di Indonesia ini masih tertinggal dari negara-negara lain. Terlebih ketika kini sudah muncul prediksi bahwa Indonesia akan menjadi negara ekonomi terbesar ke-4 pada tahun 2050 mendatang. Muncul pertanyaan, apakah SDM di Indonesia bisa sukses di revolusi industri 4.0? Menurut Pak Basuki, selama SDM Indonesia masih terpaku sebagai user dan bukan creator, maka cita-cita untuk menyambut revolusi industri 4.0 akan pupus.
Basuki memaparkan flowchart dari industri TIK di Indonesia, bermula dari munculnya tren teknologi yang akan diaplikasikan oleh bisnis. Dari sana, barulah akan ada perubahan dalam aspek lingkungan industri yang mendorong pemerintah dalam membuat regulasi-regulasi baru. Regulasi ini juga akan dipengaruhi oleh regulasi yang sudah diterapkan oleh negara-negara lain. Tujuan akhirnya adalah terciptanya social life atau hidup bermasyarakat yang lebih modern, maju, dan digital.
Berdasarkan survei Cedelop European, industri Information Communication Technology (ICT) merupakan industri yang paling cepat berkembang. Artinya, para praktisi ICT, kata Basuki, harus berkomitmen penuh untuk terus belajar, atau dikenal dengan istilah life-long learning.
Muncul masalah baru dalam industri ICT, yakni keterbelakangan soft skills. Dalam dunia kerja, praktisi ICT cenderung mengedepankan hard skills tanpa mempedulikan soft skills. Padahal, menurut data dari BCG, seluruh negara di dunia merasa bahwa soft skills sangat dibutuhkan, terkhusus kompetensi komunikasi, analytical, kepemimpinan, dan problem solving.
Kebutuhan ini juga dibuktikan lewat deklarasi perusahaan-perusahaan raksasa seperti Apple dan Google yang mempekerjakan karyawan tanpa gelar sarjana, asalkan mereka memiliki kompetensi dan talent. kompetensi ini berfungsi untuk mempertahankan pertumbuhan yang bersifat incremental. Sementara itu, talent sangat dibutuhkan untuk menciptakan inovasi radikal yang dapat berujung pada pertumbuhan signifikan serta mengubah landscape industri.
Kompetensi dan talent pun menjadi fokus dari KOMINFO dalam mengembangkan kualitas SDM Indonesia. Setelah melewati pandemi, sistem edukasi nasional harus mampu menggabungkan offline dan online learning. Tidak lagi hanya mengajarkan materi kepada mahasiswa, namun juga mengajarkan mereka cara memperluas kapasitas pembelajaran.
Untuk bisa mencapai transformasi digital, maka perlu juga adanya bisnis digital. Bisnis digital yang sukses dan relevan memerlukan 3 komponen, yakni teknologi, manajemen, dan ekonomi. Pak Basuki mengatakan bahwa banyak bisnis digital yang memiliki inovasi bagus namun gagal di pasaran karena tidak memiliki kemampuan manajemen yang mumpuni.
Oleh sebab itu, KOMINFO pun sudah membentuk program Digital Scholarship yang dibagi dalam 3 level, yakni level Basic/Operator (Digital Talent Scholarship VSGA), level Middle/Teknisi (Digital Talent Scholarship FGA dan VSGA), dan level Advance (Digital Leadership Academy S2 dan S3).
Sementara Guna mencapai sasaran tersebut, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian menjalin kerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Balitbang SDM) Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sinergi ini diwujudkan melalui penandatanganan dua Nota Kesepahaman.
Pertama, tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri, Komunikasi dan Informatika. Kedua, tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri di Bidang Digital.
“Kolaborasi kedua institusi ini tentu memicu percepatan implementasi industri 4.0 di berbagai bidang dan menjadi tuntutan tersendiri bagi kementerian serta lembaga untuk mampu mengembangkan SDM yang cakap digital, tak terkecuali dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi industri di lingkungan Kemenperin,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Arus Gunawan di Jakarta, pada 31/8, sebagaimana dikuti dari industripedia.online.
Arus menambahkan, digitalisasi menjadi isu penting dalam penciptaan kompetensi SDM di lingkungan kementerian dan lembaga di Indonesia, terutama di tengah pandemi COVID-19 yang terjadi hampir dua tahun terakhir. “kita ketahui bahwa usaha digital di Indonesia meningkat sampai 50% di masa pandemi ini,” ungkapnya.
Oleh karena itu, kerja sama ini sejalan dengan sasaran pemerintah dalam Making Indonesia 4.0, yang di antaranya adalah membuka peluang hingga 7-19 juta lapangan pekerjaan baru di sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada tahun 2030. Selain itu, kebutuhan industri dalam negeri terhadap talenta digital setiap tahunnya diperkirakan sebanyak 600.000 orang.
Oleh karena itu, dibutuhkan perbaikan khususnya pada aspek penguasaan teknologi yang menjadi penentu daya saing. Kerja sama ini diharapkan dapat mendorong pemenuhan kebutuhan SDM bidang teknologi informasi dan komunikasi bagi industri dalam negeri sesuai dengan kompetensi dan keahlian yang dibutuhkan saat ini. [] Yuniman Taqwa

