Kartu Prakerja: Bantalan Sosial, Tingkatkan Kompetensi

Pandemi Covid-19 merontokkan ekonomi anak negeri. Jutaan tenaga kerja terpaksa kehilangan pekerjaan. Fenomena itu direspon pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan Kartu Prakerja. Bagaimana hasilnya?

Banyak perusahaan yang terpaksa me-layout karyawannya karena pandemic Covid-19. Jutaan karyawan terpaksa kehilangan pekerjaan.  Tak urung pemerintah pun mengeluarkan kebijakan Kartu Prakerja. Tercatat 6,1 juta peserta yang tergabung dalam program Kartu Prakerja.

Kementerian Bidang Perekonomian diminta untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kartu Prakerja yang tengah dijalankan. Sebagaimana diketahui, sepanjang tahun 2020 lalu, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp10 triliun dan meningkat menjadi Rp20 triliun pada tahun 2021.

“Efektivitas kartu Prakerja sangat perlu dievaluasi menyeluruh. Agar anggaran sebesar itu jelas peruntukkannya,” ujar Direktur Eksekutif Institute of Public Communication (IPC) Dr. Radja Napitupulu dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, pada 24/5. Keterangan tersebut  merupakan hasil laporan Cyrus Network yang melakukan Survei Persepsi Penerima Kartu Prakerja terhadap Penyelenggaraan Program Kartu Prakerja,” pada 20/5. Hasil survey menunjukkan sebesar 98,7 persen responden yang merupakan peserta Program Kartu Prakerja merasakan manfaat dari program pelatihan tersebut. Dari total responden, sebanyak 75,8 persen menjawab setuju dan 22,9 persen menjawab sangat setuju karena mereka mendapatkan manfaat dari program Kartu Prakerja.

Menurut Radja, Kartu Prakerja merupakan program pemerintah yang digunakan untuk mengembangkan kompetensi kerja dan kewirausahaan bagi para pencari kerja. Namun, akibat pandemi Covid-19, pemerintah mempercepat pengadaan Kartu Prakerja dan memprioritaskan bagi para pekerja atau buruh yang terkena dampaknya, sebagaimana yang dikutip dari suaramerdeka.com, pada 24/5 lalu.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan, penyelenggaraan program Kartu Prakerja tahun 2020 telah sukses. Ia menyebut, testimoni keberhasilan program ini telah disurvei Badan Pusat Statistik (BPS). Adapun hasil survei tersebut menyatakan banyak penerima manfaat telah memiliki keterampilan hingga mendapat pekerjaan baru.

“Untuk yang menyelesaikan program itu disurvei 4 juta lebih, sehingga data ini adalah data yang sahih,” ungkapnya di acara tatap muka peserta Kartu Prakerja di gedung Ali Wardhana, Kemenko Perekonomian, Jakarta pada 15/12 tahun lalu. Ia juga mengucapkan rasa bangga kepada sebelas peserta Kartu PraKerja yang hadir mewakili seluruh peserta dari Sabang sampai Merauke.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2020. Survei tersebut menyebutkan 88,9% penerima Kartu Prakerja menyatakan bahwa keterampilan mereka meningkat. Sekitar  81,2% penerima Kartu Prakerja menyatakan bahwa dana insentif pasca-pelatihan digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang sesuai dengan penugasan sebagai program perlindungan sosial selama masa pandemi.

Survei Evaluasi yang dilakukan oleh Manajemen Pelaksana mencatat bahwa 94% penerima Kartu Prakerja mengalami pengembangan kompetensi melalui skilling, upskilling, dan reskilling. Lebih dari sepertiga penerima Kartu Prakerja yang semula tidak bekerja berubah menjadi bekerja, baik sebagai karyawan maupun pelaku wirausaha.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari mengatakan, pelaksanaan Kartu Prakerja sudah tepat sasaran. “ Dari 88,9 persen penerima Kartu Prakerja yang telah menuntaskan pelatihan mengatakan, keterampilan kerja mereka meningkat,” terangnya kepada Airlangga, sebagaimana dikutip dari kompas.com, pada 22/12 tahun lalu.

Dia juga memaparkan, statistik kedua yang tak kalah penting, yakni 81,2 persen insentif berupa bantuan Rp 600.000 selama empat bulan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, disusul menabung, dan modal usaha. “Kalau melihat dua statistik besar ini, misi semi-bantuan sosial dari program Kartu Prakerja tahun ini berhasil,” tukasnya.

Melanjutkan kesuksesan Program Kartu Prakerja di tahun 2020, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pada  23/2/2021 secara resmi membuka Gelombang 12 yang menandai dimulainya Program Kartu Prakerja tahun 2021.

Menko Airlangga selaku Ketua Komite Cipta Kerja mengatakan, Program Kartu Prakerja berhasil menjalankan mandatnya sebagai program pengembangan kompetensi kerja sekaligus sebagai program perlindungan sosial di masa pandemi Covid-19. Karena itu, pemerintah memutuskan untuk melanjutkan Program Kartu Prakerja di tahun 2021, dengan total anggaran sebesar Rp10 triliun untuk semester I tahun 2021.

Skema Program Kartu Prakerja pada Semester I tahun 2021 sebagai berikut:

  • Bantuan pelatihan sebesar Rp1.000.000
  • Dana insentif pasca-pelatihan sebesar Rp2.400.000 yang akan diberikan sebesar Rp600.000 selama 4 bulan. Dana insentif pengisian 3 survei evaluasi sebesar Rp150.000 yang dibayarkan sebesar Rp50.000 setiap survei.

Airlangga mengapresiasi Program Kartu Prakerja sebagai pelopor reformasi layanan publik yang menggunakan teknologi digital end-to-end. “Penggunaan teknologi digital memungkinkan program ini diakses oleh masyarakat di 514 kabupaten dan kota dalam waktu cepat. Selain itu, seluruh proses transfer dana dan transaksi pembelian pelatihan menjadi lebih transparan dan akuntabel,” jelasnya.

Sementara Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko bertemu sebelas penerima Kartu Prakerja di Gedung Bina Graha, Jakarta. Disampaikan bahwa program yang telah berjalan selama sembilan bulan, mulai membuahkan hasil, di mana para peserta sudah mendapatkan pekerjaan, dan yang lainnya berhasil menjalankan bisnis secara mandiri. Adapun penerima Kartu Prakerja sebanyak 5,6 juta peserta, sebagaimana dikutip dari okezone.com, pada  17/12 tahun lalu.

Seperti penuturan I Putu Agus Sanjaya Diputra. Pria 31 tahun asal Bali ini mengisahkan kebangkitan kehidupan ekonomi keluarganya setelah sempat terpukul akibat pandemi. Awalnya, Putu Agus yang bekerja sebagai pegawai di sebuah kantor agen pariwisata, harus dirumahkan sejak Maret dan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Juli 2020.

“Menjadi penerima Program Kartu Prakerja Gelombang II, saya mendapat banyak manfaat dan ilmu, seperti untung rugi membangun bisnis, dasar-dasar berbisnis, dan masih banyak lagi,” kata Bli Agus, sapaan akrab ayah satu anak ini, pada 17/12 tahun lalu.

Begitu juga Putri Dewi yang sehari-harinya bekerja sebagai petugas Master Control Room (MRC), masih dari sumber okezone,  di suatu stasiun televisi di Ternate. Ia menjadi penerima Kartu Prakerja di gelombang III dan mengambil kelas ‘Menjadi jurnalis professional’ serta ‘Mahir editing video’.

“Pelatihan-pelatihan yang saya ambil sangat membantu saya meningkatkan keterampilan karena saya seringkali juga diminta menjadi cameraperson atau program director dalam liputan di lapangan,” papar Putri. [] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama: Instagram/prakerja.go.id