Apa Kata Mereka Tentang WFH
Work From Home (WFH) menjadi model kerja yang harus segera ditransformasi di tengah pandemic. Banyak Karyawan menyikapi budaya kerja baru. Bagaimana budaya kerja perusahaan menghadapi WFH?
Budaya kerja di tengah pandemi Covid-19 saat ini mengalami pergeseran. Bila sebelum pandemi budaya kerja dilakukan di tempat kerja (kantor) yang disediakan manajemen, tapi, sejak satu tahun lebih kita diperkenalkan dengan istilah Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Bagaimana budaya kerja ini disikapi karyawan?
Menurut Chief Operating Officer Dunamis Organization Services, Shirley Wangsanegara, banyak orang beranggapan bekerja di rumah itu merupakan cuti tambahan. Muncul istilah open PO atau mencari kesibukan baru yang menghasilkan. Seolah dirumahkan. Padahal sebetulnya mereka itu disuruh bekerja dari rumah.
“Kami menyiapkan bagaimana bekerja di rumah tapi tetap produktif. Yang paling penting adalah tetap kerja! Dari mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Hal ini dimulai dari leader-nya. Tapi leader nya membuat kegiatan baru dengan bersepeda, sehingga akhirnya leader-nya mulai bekerja jam 10 atau jam 11 siang,” katanya serius.
Itu sebabnya sejak awal pandemi banyak perusahaan mulai mempersiapkan diri dengan model kerja yang baru. Bahkan sebelum pemerintah memberlakukan peraturan kerja untuk bidang essential dan non essential, PT Kino Indonesia Tbk, telah memberlakukan pembagian WFH (work from office) dan – WFO (work from Office). Dan saat itu, kantor pun sudah bersiap untuk menjalankan protokol dengan ketat bagi yang WFO, misal dengan pemasangan acrylic di meja kerja dan lain-lain.
“Dengan semua kondisi ini, kami karyawan yang ada di posisi yang harus WFO, tetap merasa aman, dan fokus bekerja tanpa terganggu rasa takut atau khawatir. Demikian juga untuk yang WFH, tetap bekerja produktif dengan dukungan yang diberikan serta Key Performance Indicator (KPI) harian untuk tetap monitoring productivity,” kata Senior Public Relation Manager PT Kino Indonesia Tbk, Yuna Eka Kristina, kepada pelakubisnis.com, Minggu ketiga September lalu.
Menurutnya, situasi pandemi yang tidak menentu ini, bagi Kino adalah tantangan dan momentum untuk melakukan improvement, serta beradaptasi menyesuaikan dengan keadaan consumer disruptions yang disebabkan oleh pandemic. Oleh karenanya, semua akselerasi dilakukan dengan tuntutan yang sangat dinamis. Hal ini masih berlangsung hingga periode pandemi seperti sekarang.
Sedangkan khusus mengenai WFH, kata Yuna, yang diberlakukan Kino Indonesia, hingga saat ini tidak menjadi kendala yang mengganggu produktifitas kerja, karena penetapan karyawan yang WFH sudah melalui pemetaan secara fungsi, bisnis proses, kemungkinan mobilitas, dan lain sebagainya. Juga dilengkapi dengan daily KPI membantu setiap leader untuk memonitor dan mensupervisi timnya sehingga semua pekerjaan dan objective perusahaan untuk melakukan akselerasi bisa berjalan tanpa hambatan.
Sementara sumber pelakubisnis.com dari Witel PT Telkom Indonesia Tbk cabang Jakarta Utara yang tak bersedia disebut namanya mengatakan, sejauh ini cara kerja WFH dan WFO di Telkom berjalan cukup nyaman. Semua bisa dilaksanakan baik online maupun offline. Pasalnya, yang melaksanakan tugas di lapangan di lapangan dikerjakan oleh anak perusahaan, yaitu PT Telkom Akses.“Semua berkas kerja di Telkom berupa softcopy,” ungkap pria 51 tahun tersebut.
Menurutnya, biasanya dalam seminggu ada zoom di unitnya maupun antar unit. Jika antar unit ada WOR(Weekly On Review), khusus performance unit dan witel/perusahaan. Sedangkan tiap personal ada OKR(Objective Key Result). Dan di sini pengawalan pekerjaan secara personal dari atasan Nilai Net Promote Score (NPS) tersendiri.
Sementara seorang karyawati dari perusahaan ternama di Cileungsi, Jawa Barat yang juga tak berkenan disebut namanya ini, kepada pelakubisnis.com mengatakan, WFH tidak terlalu berpengaruh terhadap bidang pekerjaannya. Karyawan di rumah tetap bekerja, cuma memang sulit dapat proyek-proyek baru. Pekerjaan yang ada merupakan proyek yang sudah berjalan dari tahun sebelumnya. “Sedangkan bagian produksi tidak WFH, tetap.masuk.seperti biasa,” katanya, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut ditambahkan, mekanisme kerja berdasarkan online dengan menggunakan laptop dari rumah. Di Bukaka model kerjanya hybrid , yaitu WFH dan WFO. Saat WFO karyawan menyiapkan data yang harus dikerjakan di WFH. “Kalau karyawan ada yang terpapar Covid, tergantung kondisinya. Kalau OTG (Orang Tanpa Gejala) masih bisa kerja WFH, tapi kalau kondisi ngak bisa kerja, biasa atasan menunjuk pegawai lain untuk mem-backup kerjaan yang urgent atau pekerjaan yang tidak bisa ditunda,” tambahnya.
Ia melanjutkan, tiap hari karyawan harus absen secara online, sebagaimana layaknya WFO. Setiap ada data yang dibutuhkan pegawai bisa menyajikan tepat waktu. “Kan pekerja ada yang harian, mingguan, bulanan, triwulan, asal semua itu tertangani aman, laporan semua tersaji tepat waktu,” lanjutnya seraya menambahkan karyawan siap siaga setiap saat dihubungi.
Sementara Imam Budianto, Public Relation/Digital Marketing PT Osha Asia mengatakan, di tengah-tengah pandemi saat ini, adalah hal yang tepat menjadikan mekanisme online sebagai solusi ruangan gerak di antara penjual dan konsumen. Pebisnis perlu memulai meraba website online sebagai salah satunya tempat menjalankan bisnis. Saat melakukan peralihan ke mekanisme online, pelaku bisnis akan merasakan perbedaan sikap yang disebabkan karena tidak adanya hubungan fisik. Oleh karenanya, membuat rasa trust atau kepercayaan antara kedua pihak menjadi hal yang penting dalam memaksimalkan mekanisme online.
Sedangkan Pengembangan karyawan menurut Imam, sangat penting. Untuk saat ini tidak ada penambahan karyawan baru tetapi tidak ada pengurangan juga. “Kami masih di sektor bisnis yang cukup aman saat pandemic. Kami masih menjalankan bisnis via online dan hanya bertemu klien di saat tertentu saja. Semua biasa kami lakukan remote dari rumah dengan mudah dan tetap mendapatkan permintaan kebutuhan sepatu safety yang maksimal,” katanya.
Jauh sebelum pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, WFH di Nutrifood bukan hal tabu. Di Nutrifood masalah rekrutmen, talent management merupakan satu hal yang sangat strategis. “Kami percaya Nutrifood bisa berkembang karena orang-orangnya. Makanya sebagai CEO banyak menyempatkan waktu membangun corporate culture, melihat langsung recruitment. Era pandemi ini menjadi bagus untuk memperkuatkan positioning branding Nutrifood di employee branding,” kata CEO PT Nutrifood Indonesia, Mardi Wu, pada Webinar Indonesia Brand Forum 2020 secara virtual, awal Juli tahun lalu.
Menurutnya, kondisi pandemi justru mendorong perusahaan mempercepat proses transformasi model kerja bagi para karyawannya menjadi lebih fleksibel selama tiga bulan terakhir.
Bila budaya perusahaan telah dibangun dengan baik, kata Mardi Wu, maka fleksibilitas yang diberikan kepada karyawan akan mendorong mereka mencapai target dan berkontribusi pada mencapai target-target perusahaan. Pasalnya, dengan fleksibilitas tersebut, karyawan dapat bekerja lebih sehat tidak hanya secara fisik, namun juga secara mental.
Dulu sebelum pandemic, lanjutnya, sudah punya policy seperti boleh memakai pakaian bebas, jam kerja bebas, jadi fleksibel bisa bekerja dari mana saja karena sudah menggunakan sistem IoT. Ketika pandemi covid-19 muncul, sekarang semua level di Nutrifood benar-benar menerapkan WFH. “Hampir tiga bulan kami jalankan cara seperti ini dan ke depannya hingga pandemi selesai sepertinya kami akan menerapkan gaya kerja seperti ini,” tukas pria asal Bagansiapi-api, Sumatera Utara ini.[] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina



