Perusahaan Rintisan Kini Tak Berani Bakar Uang
Krisis Ekonomi yang melanda dunia turut mempengaruhi investor dalam menahan investasi ke perusahaan rintasan. Perusahaan rintisan pun terpaksa merubah model bisnis. Bagaimana perusahaan rintisan bisa bertahan di tengah krisis ekonomi global?

Umumnya apa pun jenis bisnis akhirnya harus besar dan profit. Namun demikian, untuk mencapai target itu tak bisa langsung untung! Perlu proses dan waktu, tidak bisa langsung besar, tapi dimulai dari kecil dan mungkin merugi dulu baru bisa besar.
Untuk mencapai target tersebut, menurut Pengamat Bisnis E-Commerce Ignatius Untung, ada jalur untuk mencapai ke situ dengan cara berbeda. Kalau bisnis non-digital, biasanya perusahaan mengejar profit dulu, setelah profit – secara perlahan – perusahaan dibesarkan. “Kalau bisnis digital berbeda. Perusahaan besar dulu, walau belum profit. Nggak apa-apa. Begitu sudah besar, nanti profitnya datang sendiri,” kata Untung kepada pelakubisnis.com, pada 27 Juli lalu.
Perusahaan digital yang sudah besar, kata Untung, masyarakat (konsumen-red) sudah merasa ketergantungan. Kalau sudah demikian, maka beberapa step dihemat sehingga perusahaan digital bisa untung.
Namun demikian, kondisi ekonomi dunia yang sedang krisis menyebabkan pendanaan (investor-red) menjadi masalah. Pasalnya, cara bisnis digital menjadi besar dan profit , baru bisa dicapai bila ada dukungan bisnis (investasi-red). “Kalau ada investor yang taruh uang di bisnis digital bisa jalan terus, walaupun belum profit,” tandasnya seraya menambahkan investor bisnis digital harus kuat menggelontarkan dana investasi. Baru pada suatu titik dikejar profitability-nya.
Untung menambahkan, saat ini investor menahan dananya. Ketika investor tidak menggelontorkan dana lagi, maka bisnis digital berhitung ulang. Akhirnya bisnis rintisan ganti arah, yaitu mengambil jalan industri non digital, yaitu profit dulu, baru pelan-pelan menjadi besar. Untuk bisa profit, dilakukan shifting yang tadinya besar dulu baru untung, kini cari untung dulu baru pelan-pelan besar. Sebab, kini kalau bisnis digital tidak profit, sementara investor menyetop kucuran investasi, akhirnya bisnis digital tidak bisa berlanjut.
Oleh karena itu, lanjut Untung, agar peusahaan rintisan (startup) bisa profit, maka perlu ditinjau ulang. Dari seluruh biaya yang dikeluarkan, lini mana yag mendatangkan profit dan mana yang tidak. Yang tidak mendatangkan profit dan masih jauh dari profit mulai dilepas. “Tidak usah dilanjutkan lagi business unit yang ini dan diteruskan business unit yang ini,” urainya. Intinya cost experiment direm. Business units ditutup untuk mengurangi cost experiment.
Konsekuensi ketika business unit tersebut dipangkasi, maka mau tidak mau tenaga kerjanya juga terpangkas. Tapi ada juga bisnis digital yang business unit tidak ada yang ditutup, karena bisnisnya sudah fokus. Tapi Sumber Daya Manusia (SDM) dihemat supaya punya napas lebih panjang, dengan cost yang lebih rendah. “Syukur-syukur bisa profit, tapi walaupun belum profit harapan uangnya bisa dipakai untuk bertahan sampai resesi ekonomi berakhir dan investor mau menyuntik dana lagi,” kata mantan Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) ini.
“Investor mau menyuntik dananya kapan? Kita nggak tahu. Tapi biasanya resesi itu setidaknya tiga tahun baru mulai recovery,” katanya. Tapi resesi saat ini lebih komplek dari biasanya karena kondisi geopolitik perang Rusia dengan Ukraina.
Jadi sebenarnya, menurut Untung pengurangan karyawan di perusahaan-perusahaan digital belakangan ini karena faktor resesi ekonomi global. Semua perusahaan digital saat ini masih bertahan. Belum ada yang “nyungsep” atau tutup, masih bertahan dengan cara lebih efisien. “Resesi ini, buat industri digital justru harus bisa disyukuri, karena tumbuhnya bisa lebih sehat. Kalau yang kemarin kan dengan bisnis model yang lama, gede dulu baru profit. Sebetulnya kondisi itu kasih jalan tol bagi orang-orang yang punya uang banyak,” tambah mantan Country General Manager rumah123 ini.
Dengan terjadinya resesi saat ini, semua perusahaan digital mempunyai kesempatan yang sama karena saat ini, kata Untung, tidak ada lagi yang berani “bakar uang”. Fenomena ini sudah turun jauh. “Saya sih melihatnya tidak ada yang berani bakar uang saat ini,” jelas Untung.
Ia memberi contoh! Di sektor transportasi, lima transportasi terbesar di Jakarta, misalnya, ada MRT, ada LRT, ada kereta lintas Jabotabek dan ada dua transportasi perusahaan digital. Ketika perusahaan rintisan sudah masuk begitu dalam di sektor tersebut, sampai penggunanya begitu banyak. Kalau perusahaan transportasi digital itu sampai ambruk, maka guncangannya bukan hanya sampai di perusahaan itu saja, tapi masyarakat sebagai konsumen juga pasti guncang.
“Biasanya kita ke kantor naik ojek online, sekarang nggak ada ojek online, misalnya. Sementara transportasi umum belum bagus, belum bisa memenuhi, kalau semuanya naik transportasi umum. Akhirnya jadi kacau. Saya tidak melihat itu akan ambruk,” tambahnya. Yang terjadi di sektor-sektor tertentu, jelas Untung, itu bisa saja ambruk, tapi bukan industri, bukan kategorinya. Tapi player-player tertentu karena kalah bersaing.
Menurut Untung, dalam kondisi resesi seperti ini, maka yang harus dilakukan adalah segala macam investasi yang tidak memberi return of investment (RoI) dalam waktu cepat, tak perlu dilakukan. Sedangkan RoI yang cepat bisa dilkukan, terutama bila invetasinya tidak besar.
Ia menambahkan, sama halnya perusahaan digital yang sudah go public. Sebab, resesi saat ini yang dihantam juga pasar saham. Kalau nanti sahamnya terpuruk terus, kecuali kalau mereka sudah profit tidak jadi masalah, tinggal menikmati saja. Orang-orang yang sudah membeli saham-saham perusahaan rintasan saat ini belum profit.
“Kalau digas terus juga tidak akan profit. Dan kalau digas juga berbahaya. Ini kan dilema. Sementara orang kalau berinvestasi mau ada kenaikan. Sekarang anggap saja mereka performance-nya normal-normal saja. Namanya resesi pasti market crash. Beberapa bulan yang lalu saham teknologi seperti google, facebook dan apple di Amerika Serikat rontok semua. Mudah-mudahan kondisi itu tidak terjadi di Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut dapat uang dari bursa, tapi kalau tidak profit dalam waktu cepat, maka sahamnya akan jatuh. Akhirnya lama-lama akan habis juga,”papar Untung.
Bagaimana dengan kesiapan startup pendatang baru dalam menghadapi yang sudah mapan? “Tidak juga! Contohnya perusahaan travel agent, baik online maupun offline yang masuk tiga besar itu siapa? Itu perusahaan digital (online Travel Agent). Padahal itu perusahaan baru kemarin sore, menghadapi perusahaan puluhan tahun berkecimpung di bisnis ini,” katanya seraya menyebut ada produsen mie instan yang juga sukses sebagai perusahaan rintisan.
Jadi kuncinya bukan seberapa lama brand tersebut beredar, tapi harus bisa relevan dengan konsumen. Paling tidak pendatang baru rintisan harus mempunyai nilai plus dibandingkan kompetitor. Hal itu yang perlu diperhatikan apa nilai plus dari perusahaan-perusahaan rintisan yang sudah lebih dulu ada. [] Yuniman Taqwa
