Kepak Sayap Nandya Solusi Treatindo Lahir Karena Kebutuhan NKP
Awalnya hanya menjadi salah satu divisi dari PT Nandya Karya Perkasa (NKP). Yang terjadi justru pasar merespon positif. Akhirnya dari divisi kemudian menjadi unit bisnis jasa hardening NKP, lalu berubah menjadi badan usaha dengan spectrum pasar yang lebih luas. Bagaimana kepak sayap bisnis PT Nandya Solusi Treatindo (NST)?
Melihat peluang pasar jasa heat treatment atau hardening ( pengeras baja) untuk kebutuhan komponen enginee yang masih terbuka lebar, mendorong PT Nandya Karya Perkasa (NKP) membuat divisi yang menangani bidang hardening untuk kebutuhan produk-produk NKP. Padahal sebelumnya jasa hardening di-outsource ke pihak lain. Berdasarkan kalkulasi, biaya hardening cukup mahal, sehingga timbul inisiatif membangun divisi yang bisa mengerjakan pekerjaan hardening.

Menurut Direktur Utama PT Nandya Solusi Treatindo (NST), Ubaydillah, sekitar tahun 2014, dibuka unit baru di NKP yang khusus menangani hardening. “Saat itu mesinnya baru satu unit yang hanya menangani hardening bagi kebutuhan NKP. Tapi dalam perjalanannya teman-teman yang memproduksi komponen meminta jasa hardening di sini,” kata Ubaydillah kepada pelakubisnis.com pada minggu kedua September lalu.
Investasi yang ditanamkan untuk membesut usaha ini merupakan pinjaman dari NKP dengan nilai sekitar Rp 5 milyar. Pembayaran pinjaman itu dilakukan dengan menangani seluruh pekerjaan hardening NKP. “Hanya dalam tempo dua tahun hutang tersebut sudah lunas. Pada 1 Maret 2016 jasa pekerjaan hardening di NKP tersebut menjadi unit bisnis yang berdiri sendiri dengan nama PT Nandya Solusi Treatindo (NST),” urai mantan Direktur Astra Mitra Ventura ini seraya menambahkan pemegang sahamnya sama dengan pemegang saham NKP, yakni almarhum Hadi Subroto. Kemudian Hadi mendapuk Ubaydillah menjadi pengelola NST. Sekarang saham almarhum jatuh ke putera-puterinya.
Sama halnya dengan NKP yang pernah menjadi binaan YDBA yang telah mandiri dan sukses menjalankan usahanya, NST merupakan binaan dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang kini posisinya sebagai UMKM Mandiri YDBA. NKP sendiri sudah cukup lama menjadi vendor Astra Group. Bahkan kini NKP memiliki beberapa mitra binaan yang khusus memproduksi komponen berbahan logam.
Sejak berdiri, NST sudah bergabung dengan YDBA. Artinya, semua “roh” dalam menjalankan usaha mengacu pada standar-standar yang ditetapkan YDBA. Misalnya standar dasar seperti 5 R, yaitu Rapi, Resik, Rawat, Rajin dan Ringkas. Di samping itu juga menerapkan standar Quality Cost and Delivery (QCD
Menurut Chief Executive YDBA, Sigit P Kumala, Astra mempunyai visi Catur Dharma, yaitu pertama menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kedua, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan dalam kegiatan Astra terhadap konsumen. Ketiga, menjaga tim yang baik dan menjaga individu serta bekerjasama. Keempat, mencapai yang terbaik melalui proses standar Quality Cost and Delivery (QCD). Keempat konsisten menghasilkan produk sesuai QCD.
Boleh jadi standar Catur Dharma ini ditranformasi ke UMKM-UMKM mitra binaan YDBA, termasuk NST. Namun demikian, ketika NST bergabung ke lembaga nirlaba besutan Astra Group ini sudah langsung ke level perusahaan mandiri karena budaya perusahaan sudah lebih dulu dibangun ketika masih berada dalam satu atap NKP. Tak heran bila NST mendapat apresiasi dari YDBA sebagai perusahaan manufaktur UMKM terbaik tahun 2022. “ Saat ini kami dapat bantuan peralatan dari YDBA sebesar Rp 5 juta,” tandasnya. NST aktif mengikuti program YDBA, kini memasok ke Astra Groupsebagai Tier 2 (layer ke-2 dari vendor Astra Group).

Ubaydillah mengakui, sudah mengenal keluarga Hadi Subroto sejak tahun 1996. Saat itu NKP masih berbadan hukum CV Hadi Karya yang pabriknya masih di Cisalak, Jakarta Timur. “Pak Hadi saat itu mendapat funding dari Astra Mitra Ventura. Saya direksinya di situ. Saya cukup akrab dengan keluarga ini,” ujar mantan Direktur Astra Mitra Ventura ini. Namun demikian, ia baru aktif bergabung mengelola NST setelah pensiun dari Astra Group, beberapa tahun lalu.
Menurutnya NST lebih kompetitif dibandingkan pemain lain di usaha sejenis. Kuncinya sederhana. Planning dieksekusi dengan baik. Kemudian hasilnya dikontrol. “Tipsnya sederhana! Tiap tahun kami melakukan rapat kerja tahunan untuk menentukan target di masing-masing bagian. Target itu menjadi acuan seluruh karyawan dari masing-masing bagian,” tandasnya. Dan hasilnya dilihat, kalau terjadi penyimpangan di luar target, kenapa? Kalau di atas target bisa lebih tinggi lagi nggak? Cara ini sudah menjadi acuan umum para pelaku usaha.
Sedangkan peluang-peluang pasar terus dicari. Kebetulan NST ada dalam wadah YDBA yang mempunyai jaringan luas. “Perusahaan-perusahaan yang membutuhkan hardening didekati, sehingga customers terus bertambah. Sampai saat ini ada sekitar 40 pelanggan korporat NST. Dari jumlah tersebut 90 persen berasal dari industri otomotif dengan porsi terbesar dari Astra Group, sedangkan 10 persen pelanggan umum,” tambahnya.
Ubaydillah menambahkan, perusahaan seperti Parker Metal Treatment asal Jepang masih menguasai pangsa pasar hardening di Indonesia. Diperkirakan market sharenya mencapai 50 persen. Sedangkan sisanya dikuasai perusahaan-perusahaan sejenis, termasuk NST. Memang potensi pasar hardening memang sangat besar. Bukan hanya sektor otomotis saja, seluruh yang berkaitan dengan komponen mesin yang perlu diperkuat biasanya menggunakan jasa hardening.
Lebih lanjut ditambahkan, pada tahun 2018, NST menambah mesin baru, sehingga kini ada dua mesin yang beroperasi. Bahkan, sampai sekarang kedua mesin tersebut sudah full capacity. Pabrik ini beroperasi selama 24 jam tiap hari dengan sistem tiga shift. “Mesin ini kalau berhenti bekerja pemanasannya memerlukan waktu yang lama. Sedikitnya perlu waktu 4 jam untuk memanaskan mesin,” jelas Ubaydillah sambil menambahkan jumlah karyawan NST kini mencapai 30 orang.
Industri hardening ini membutuhkan listrik cukup besar. Kapasitas listrik yang digunakan di pabrik ini mencapai 500 KVa. Sedikitnya biaya listrik tiap bulannya mencapai Rp 200 juta. “Komposisi biaya terdiri raw material mencapai 12 persen, tenaga kerja sekitar 14 persen, listrik 20 persen. Sedangkan komponen-komponen lain kecil-kecil,” kata pria kelahiran 1964 ini sambil menambahkan omzet saat ini bisa mencapai Rp 1,5 milyar per bulan.
Biasanya pertumbuhan pasar mengikuti pertumbuhan bisnis otomotif. Yang terjadi saat ini porsi pekerjaan hardening dari NKP sendiri hanya sekitar 15 persen, sedangkan 85 persen mengerjakan order hardening dari luar.
Rencananya ke depan, kata Ubaydillah, NST yang mengembangkan jasa hardening dengan menggunakan media yang berbeda. Bila sekarang pekerjaan hardening di NST menggunakan media garam dan methanol. Tapi ada juga pekerjaan hardening dengan menggunakan media oil. “Mungkin tahun depan NST akan menambah line bisnis hardening dengan media garam, media oli dan media carburizing,” jelasnya.
Proses carburizing, pada dasarnya adalah proses pemasukan Carbon ke dalam permukaan Baja. Tujuan dari proses ini adalah meningkatkan kekerasan dari Material, namun material tersebut masih memiliki ketangguhan yang baik. Karena kekerasan yang didapat sangat tinggi di permukaan namun berkurang di dalam. Bisa dikatakan garing di luar namun lembut di dalam.
Menurut Ubaydillah semua media yang digunakan untuk hardening hasilnya tetap bagus, tapi tergantung komponen tersebut digunakan untuk keperluan apa. Masing masing komponen yang akan di hardening tersebut digunakan untuk keperluan apa, sehingga hardening dilakukan dengan media berbeda. Walaupun sebetulnya semua media yang digunakan untuk hardening bisa digunakan untuk hardening semua jenis komponen. “Ketika klien ingin melakukan hardening dengan tingkat kekerasan tertentu, maka terlebih dahulu dicoba dilakukan hardening. Bila hasilnya sesuai standar yang diperlukan, maka bisa dikerjakan. Kemarin NST melakukan hardening komponen untuk alat berat dari United Tractor dan hasilnya sesuai dengan permintaan,” ungkapnya serius.
Proses hardening, tambah Ubaydillah, dilakukan pemanasan komponen sampai 820 derajat celcius selama satu jam. Tapi tidak semua pemanasan sampai 820 derajat celcius, tergantung dengan jenis komponen yang digunakan. Sedangkan proses hardening untuk komponen enginee dilakukan pemanasan sampai 820 derajat celcius. “Kami hanya punya mesin dengan standar suhu sampai 820 derajat celcius. Kalau untuk pemanasan di bawah suhu tersebut kami tidak bisa. Padahal cukup banyak komponen yang memerlukan hardening di bawah tersebut,” jelasnya.
Ubaydillah menambahkan, diperlukan investasi besar dalam mengembangkan line bisnis jasa hardening dengan media yang berbeda. Berdasarkan business plan yang dibuat, dibutuhkan investasi baru sekitar Rp 20 milyar. Untuk investasi mesin mencapai Rp 8 milyar, belum termasuk lokasi penunjang lainnya. “Tempat di sini sudah tidak muat, sehingga perlu cari lokasi baru minimal 5000 meter di sekitar lokasi ini,” tambahnya. Rencananya tahun 2024 sudah dieksekusi dengan sumber pembiayaan 30 persen dari dana internal perusahaan, sedangkan 75 persen dari luar (kredit).
Tahun 2022 NST, lanjut Ubaydillah, Perusahaan terus mengalami pertumbuhan. Target pertumbuhan tahun 2023 sebesar 36 persen. Sampai Agustus 2023 sudah melampaui 2 persen dari target yang ditetapkan tahun ini. “Memang saat pandemic Covid 19 omzet sempat turun sampai 20 persen. Pada tahun 2020 hanya tembus Rp 7 milyar. Tahun 2021 meningkat menjadi Rp 9 milyar per tahun 2022 mencapai 11 milyar dan sampai Agustus 2023 sudah mencapai Rp 15 milyar. Bila line bisnis baru sudah produksi, maka omzet diprediksi bisa meningkat dua kali dari omzet sekarang,” jelasnya mengunci percakapan. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa
