Kiprah UMKM Nina Dahnia Membesarkan Bisnis Tas Kulit Narisa Nusantara

Tak berkorelasi dengan  kegiatan pameran yang mayoritas diikuti oleh  perusahaan-perusahaan  otomotif  dan atribut kendaraan roda empat, tapi kehadiran booth  Narisa Nusantara  di ajang GIIAS 2023 lalu  ternyata menarik perhatian. Tidak main-main,  dari pameran otomotif   ini  omzet  Narisa Nusantara mencapai  tiga kali lipat dari rata-rata omzetnya per bulan. Bagaimana sang owner membesarkan bisnis tas kulitnya?

Booth Narisa Nusantara di event GIIAS 2023/Foto: Ist

Siapa bilang jualan pernak-pernik aksesoris  seperti  tas dan dompet  kulit  di ajang pameran mobil sekelas GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show-red)   tidak ada yang beli?  Buktinya salah satu UMKM  binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), PT Narisa Nusantara Kreatif   (Narisa Nusantara) mampu menembus omzet tiga kali lipat dari omzet rata-rata biasanya  setiap bulan sekitar Rp30-40 juta menjadi Rp100 juta hanya dalam waktu  10 hari pameran.  “Dari pameran GIIAS  kemarin kami mendapat order  sampai  senilai Rp 100 juta, melebihi omzet bulanan yang rata-rata Rp30-40 juta,”ungkap Nina Dahnia, Owner Narisa Nusantara. 

Bagaimana bisa? Ternyata  menjual  produk berkualitas  yang membuat konsumen suka  dari  booth Narisa Nusantara di pameran tersebut.  Faktor lainnya boleh jadi menurut Nina karena tak sedikit pengunjung GIIAS  di hari-hari kerja adalah para professional  dan pengusaha. “Ada yang kebetulan mereka mau ada event dan perlu souvenir . Mereka lihat-lihat produk kami dan tertarik,”ujar mantan karyawan perusahaan telekomunikasi ini seraya menjelaskan , booth nya bisa mendapatkan 3 customer diantaranya Toyota dan Suzuki .

Booth Narisa mendapat kunjungan Presdir PT Astra International Tbk, Djony Bunarto yang ditemani Ketua Pengurus YDBA, Sigit P Kumala di Pameran GIIAS 2023/ Foto: Ist

“Volume produksi kurang lebih Rp 1 milyar di tahun 2021 dengan target pasar ritel (wanita) dan korporat. Tahun ini  omzet per bulan bisa sampai Rp 300 juta  Banyak dibantu dari pameran,”ujar Nina  yang  juga memanfaatkan limbah kulit sapinya membuat  aksesoris seperti  gantungan kunci, hiasan rambut, dompet kartu nama dan lain-lain. Selain itu,  ia juga mengembangkan usaha jaket dari kulit domba.

Beberapa waktu lalu YDBA  mengajak beberapa wartawan menyambangi workshop Narisa Nusantara   sebagai salah satu mitra binaan YDBA  di wilayah Jabodetabek yang bergerak di sektor kerajinan.  Ikut dalam rombongan,  Rahmat Handoyo, Department Head and Communication & Information System YDBA juga perwakilan dari Divisi Inovasi PT Traktor Nusantara  (Traknus) yang merupakan distributor alat berat milik Astra Group dan Sumitomo Corporation.

Pada kesempatan itu Nina menjelaskan  bagaimana ia mendapatkan bahan baku untuk usaha kerajinan tasnya. Bahan utama yang digunakan Nina dalam membuat  produk craft nya  adalah menggunakan  kulit sapi yang diperolehnya dari daerah Garut, Jawa Barat. “Kebetulan  sepupu saya di Garut punya usaha penyamakan kulit sapi. Dari mulai proses potong sapi sampai penyamakan kulitnya juga.   Karena  usaha keluarga jadi saya tinggal pesan sudah dalam bentuk lembaran. Bisa saja saya beli online, tapi saya memilih beli ke keluarga saja,”ujar Nina  seraya mengajak rombongan  dari YDBA untuk main ke Garut untuk melihat proses penyamakan sapi keluarganya . Makanya  Nina mengaku tidak ada kendala dalam hal pasokan kulit sapi meski  proses penyamakan kulit sapi  terbilang tidak mudah.

Untuk tas misalnya, sampai saat ini kulit sapi masih mendominasi produk-produk yang dihasilkan Narisa Nusantara.  Sempat mengikuti tren menggunakan kulit domba. Misalnya tas model  kerut, Nina pernah  modifikasi menggunakan kulit domba  dengan teksturnya yang lebih lembut.  Namun menurutnya  itu sebagai pelengkap item saja. Secara konsep ia  menggunakan kulit domba  justru khusus untuk jaket. “Kalau untuk tas sebenarnya kulit sapi yang lebih pas karena  lebih kokoh dan lebih tebal. Tapi kalau jaket sudah dipastikan menggunakan kulit domba,”terang  Nina yang juga pernah berkarir di dunia perbankan ini.

Diakuinya saat ini ia menjadi produsen pertama yang menyuplai produk tas berbahan dasar kulit sapi.  Karena  dari keluarga  yang menyuplai  kulit sapi yang sudah ia terima dalam bentuk lembaran, membuat harga jual produk Nina juga terbilang lebih murah dibanding yang lain. Kedua, kualitas sudah dijamin keasliannya. 

“Ada beberapa store yang campuran. Kalau saya jual 100 persen kulit. Jadi dijamin asli kulit. Ketiga after sales nya. Kami ada garansi (tidak seumur hidup-red) misalnya sudah tiga tahun  warnanya pudar. Kalau rusak robek tidak mungkin kecuali dirobek sendiri. Treatment nya customer boleh balikin ke kita untuk ganti warna dari terang ke gelap itu bisa. Dan yang keempat, sedang ada pengembangan  mau buat preloved . Misalnya bosan, boleh titip jual di kami,”kata Nina memaparkan kelebihan usahanya yang pertama  karena produsen pertama jadi berefek kepada harga yang harga jualnya lebih murah . Kedua, kualitas 100 persen kulit dan ketiga  ada after sales service.

Sejauh ini penetrasi pasar Nina masih beredar di pasar lokal namun ia sudah berkolaborasi  dengan UMKM  lain yang membutuhkan bahan leather. Karyawan tetap saat ini  ada dua pengrajin, selebihnya ia bermitra dengan pengrajin di daerah Cakung dan sekitarnya.  Pelanggannya tak hanya di sekitar Jabodetabek saja, tapi sudah merambah ke daerah lain seperti Tasikmalaya,  Sulawesi,  hingga Papua dan sudah tentu di Garut  karena bahan baku berasal dari daerah itu.

Diakuinya saat ini komposisi pasar Business  to customer (B2C) dan Business to business (B2B)  bila dilihat dari nilai omzetnya masing-masing memberikan kontribusi  50:50.  Dibandingkan tahun 2022 kondisinya karena pandemic, pasar terbesar 80% justru ada di segmen B2B. “Pandemic kemarin tidak ada produksi, kami menjual stok saja,”tutur wanita asal Garut ini.

Tapi diakui  Nina, sejak bergabung dengan YDBA, jaringan pemasarannya semakin meluas dan order   berdatangan. Baik dari segmen ritel maupun segmen korporat.   

Awalnya di tahun 2018 Nina merupakan UMKM binaan Dinas Pemprov DKI Jakarta.    Di tahun itu hampir setiap bulan ada event pameran .  Baru tahun 2022 aktif di YDBA setelah didaftarkan  pada  tahun 2020. “Sekarang ini  ikut  LPB di Cakung,”ujarnya.   

Ia menjelaskan, saat ini produk-produk banyak terjual lewat pameran.  Tak sedikit  perusahaan yang memesan  aksesoris  yang terbuat dari kulit sapi. Diakuinya ia belum maksimal memanfaatkan  e-commerce karena belum bisa fokus menjalankan pemasaran digital.  

 Ia punya visi, “Ketika kita bisa berdiri kenapa tidak rangkul yang lain”. Visi tersebut memberi gambaran  saat ini ia terbuka untuk berkolaborasi dengan UMKM lain di tanah air, termasuk dengan mereka yang memiliki jenis usaha yang sama. Bila saat ini  Nina  banyak mendapat permintaan korporat , karena banyak hal ia bisa  saja melempar orderannya  ke UMKM lain.

Nina menjelaskan, saat ini penjualan yang kulit dominan 80% produk yang berbasis kulit sapi. Dalam hal ini  ia juga sudah memiliki hak paten  untuk brand Narisa Nusantara.  Namun demikian tidak semua produk yang dihasilkan menggunakan brandnya karena tak sedikit dari customer  yang menjualnya lagi. “Saya main di reseller  juga, makanya ada produk hasil karya saya yang tidak menggunakan brand Narisa,”akunya.

Perihal omzet  di masa  pandemic,  ia mengungkapkan,   omzet Narisa Nusantara hanya  tersisa 30%. Di 2023 kembali bangkit dan omzet nya terus meningkat karena pasar korporat bertambah. “Target di tahun 2023 minimal bisa dapat Rp1,2 milyar. Hitungannya  bila omzet bisa 1 bulan Rp100 juta. Di kuartal ketiga ini saja sudah mencapai 70 persen dari target ,”tutur mantan karyawan bank ini.

Banyak manfaat menjadi binaan YDBA, karena ada bermacam pelatihan dan dikenalkan dengan anak-anak perusahaan, dan di akhir cerita anak-anak perusahaan Astra Group ikut order. “Setiap anak perusahaan Astra itu punya dana CSR, mereka akan belanja ke UMKM,” ujarnya bersemangat.

Menurutnya yang membedakan pelatihan YDBA dengan pelatihan sejenis karena penerapan rumus 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin)  yang  ternyata  berdampak pada produktivitas kerja dan dapat mengurangi resiko di tempat kerja.  “Saya baru tahu rumus 5R dari YDBA,”kata Nina yang mengaku tak  terkendala dengan mengikuti kegiatan pelatihan. “Arahan dari  pendamping mudah diserap mungkin karena latar belakang pekerjaan saya sebelumnya dan latarbelakang pendidikan juga,” tukasnta menutup percakapan.[]Siti Ruslina