DSA AEKI Cikoneng: Membangun Kolaborasi, Tingkatkan Penghasilan Petani Kopi

Penghasilan Petani kopi di Desa Cikoneng mampu meningkat 5 kali lipat dibandingkan sebelum menjadi binaan Program Desa Sejahtera Astra. Kini penghasilan petani kopi di sana bisa mencapai Rp 300-an juta per hektar/per tahun. Bagaimana treatment-nya?

Siapa sangka para  petani kopi di Desa Cikoneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mampu meningkatkan pendapatan dari Rp32 juta per hektar tanaman kopi, menjadi Rp 312 juta per hektar tanaman kopi. Meningkatnya pendapatan tersebut sejak dilakukan pendampingan dan bimbingan teknis oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) bekerja sama dengan Astra Internasional Tbk melalui program Desa Sejahtera Astra.

Atam Gutama : pendapatan petani kopo Cikoneng bisa mencapai Rp300-an juta per hektar/pertahun/foto: pelakubisnis.com

Sejak tahun 2023 AEKI menjadi Fasilitator Desa Sejahtera Astra (DSA) Cikoneng yang berada di ketinggian antara 1.300 sampai 1.500 MDPL.

Deputy Chairman I DKI Jakarta Branch AEKI,  Atam Gutama mengatakan, ketika baru masuk ke Desa Cikoneng, pendapatan petani kopi di lokasi tersebut sebesar Rp32 juta per hektar/per tahun. Dalam tempo setahun, pendapatan petani meningkat menjadi Rp312 juta per hektar/per tahun.

Mengapa pendapatan petani tersebut dapat meningkat signifikan? Menurut Atam Gutama, langkah pertama yang dilakukan AEKI bersama Astra adalah fokus meningkatkan produktivitas hasil panen. “Tadinya panen hanya 1 – 2 ton per hektar/tahun, ditingkatkan menjadi 10 ton per hektar/pertahun. Bahkan, kami akan tingkatkan menjadi 30 ton per hektar/pertahun,” katanya, di booth Yayasan Dharma Bhakti Astra dan Desa Sejahtera Astra, pada Pameran Trade Expo Indonesia 2024 (TEI), pada 9/10, di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Menurut Atam, untuk meningkatkan produktivitas petani kopi di Cikoneng bukan perkara gampang. Setidaknya bekerjasama dengan peneliti untuk mengetahui lingkungan tanah di situ, termask di dalamya melakukan penelitian tentang kandungan nutrisi di dalam tanah, ekosistem di dalam tanah dan sifat fisik tanah, unsur kimia, biologi. Dengan cara demikian, dapat diambil langkah-langkah pemupukan, sehingga kandungan di dalam tanah mampu memberi makanan bagi tanaman. Akhirnya tanaman membentuk antibodi tersendiri. “Kalau tanaman tersebut membentuk antibody, maka bila ada hama yang terkena hanya 1-2 persen,” tandas Atam.

Lebih lanjut ditambahkan, bila sebelumnya tanaman kopi di Cikoneng hanya mengalami satu kali pembungaan, tapi sekarang sudah empat kali pembungaan, sehingga dalam setahun akan terjadi 4 kali panen. Hal ini yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman kopi di Cikoneng.

Atam menambahkan, pendekatan yang dilakukan kepada petani kopi, dimulai dari hulunya. Pasalnya, kebutuhan kopi di Indonesia saat ini lebih dari 1 juta ton pertahun. Sementara produksi kopi secara nasional sekitar 740-an ribu ton. Untuk memperkecil gap tersebut, tak ada cara lain, yaitu kembali ke kebun. “Kami mengajak anak-anak muda kembali menanam kopi, bukan mengembangkan sektor hilirnya,” kata Atam serius.

Untuk mendorong anak-anak mudah menanam kopi, tambahnya, seberapa besar keuntungan yang diperoleh dengan bertani kopi? Sebagai ilustrasi, biaya penanaman, perawan sampai kopi panen mencapai Rp 30 juta per hektar/pertahun. Pendapatan mencapai Rp300-an juta per hektar/pertahun. Artinya ada keuntungan sekitar Rp 270 juta perhektar/pertahun.

Sementara untuk mendapat penghasilan sebesar itu, lanjut Atam, petani kopi hanya bekerja sekali dalam seminggu. Misalnya memberi pupuk, perawatan dan sebagainya. “Siapa yang nggak mau menjadi petani dengan penghasilan sebesar itu,” urainya lanjut.

Beberapa waktu yang lalu, tambah Atam,  AEKI pernah melakukan percobaan bahwa satu pohon kopi bisa menghasilkan 24 kg kopi. Populasi tanaman kopi dalam 1 hektar bisa ditanam mencapai 2000 pohon kopi. Dengan tanaman kopi sebanyak itu, maka dalam 1 hektar tanaman kopi bisa menghasilkan 48 ton kopi. “Fokus kami adalah memperbaiki kebun kopi dulu,” katanya seraya menambahkan secara intens melakukan pelatihan teknis kepada para petani kopi. Misalnya bagaimana menggunakan pupuk yang tadinya tanah kurang sehat, dikembalikan tanahnya menjadi sehat kembali. Jadi pada saat musim kering pun tanah tetap mempunyai kandungan air yang cukup.

Sedangkan dari sisi daun kopi, tambah Atam, daunnya lebih lebar. Ini artinya apa? Klorofil jauh lebih bagus. Pada kondisi ini, kita sudah bicara fotosintesis. Ini merupakan proses pembuatan atau pembentukan makanan yang dilakukan oleh tumbuh-tumbuhan, terutama tumbuhan yang menggandung zat hijau daun dengan bantuan sinar matahari. “Kita juga sudah bicara penyerapan emisi karbon dari ekologi,” tambah Atam.

Dari sisi ekonomi, menurut Atam, petani kopi Cikoneng sudah dapat menghitung biaya yang harus dikeluarkan perpohon kopi, yaitu sekitar Rp 12.500 – Rp 15.000 pepohon. Padahal sebelum ada DSA biaya perawatan perpohon kopi bisa mencapai Rp 30.000. Dengan mampu menekan biaya perawatan pohon kopi, maka pendapatan petani kopi meningkat 5 kali lipat, bahkan akan ditingkatkan menjadi 10 kali lipat.

Para petani kopi di Cikoneng sampai saat ini baru mencapai 22 petani kopi dengan luas lahan yang digarap sekitar 22 hektar. Lahan yang digarap petani tersebut milik Perhutani dengan sistem bagi hasil 30 persen untuk Perhutani. Model pemanfaatan lahan demikian tidak berjalan. Tapi sekarang sejak terbentuk Desa Sejahtera Astra AEKI Cikoneng, para petani kopi di sana sudah mampu membayar sewa lahan. Tahun ini petani kopi Cikoneng mampu membayar sewa lahan sebesar Rp 120 juta.

Sedangkan dari aspek sosial budaya, tambah Atam, para petani kopi di Cikoneng senantiasa dilakukan pendampingan melalui sekolah lapangan per dua minggu. Dari mulai cara memupuk, cara menanam, sehingga pengetahuan petani makin meningkat.

Walaupun diakui Atam, AEKI memang kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga agak lambat memperluas lahan. Tapi tahun depan Insya Allah AEKI akan memperluas areanya sampai ke Bondowoso Wamena, Tegang, Jawa Tengah akan mengembangkan tanaman kopi jenis Robusta.

Menurut menurut Yulika Rinjani, Team Leader of Corporate Social Responsibility PT Astra Internasional Tbk, Astra support dana untuk pembelian alat-alat maupun prasarana kerja produksi. Contoh di Cikoneng yang punya Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), itu kita bantu Solar Dryer  Dome atau tempat pengeringan buah kopi. Kenapa Astra kasih Solar Dryer Dome? Kasus di Cikoneng kalau mau ekspor, kopinya tidak memenuhi syarat atau kadar jamur kopinya tinggi. Itu terjadi saat proses penjemuran yang dilakukan itu di halaman yang luas. Belum lagi memanfaatkan sinar matahari yang kadang-kadang ada, kadang tidak. Belum lagi gangguan hewan, seperti ayam yang menginjak-injak kopi saat dijemur.

Kalau menggunakan Solar Dryer Dome,  mau hujan, mau ada angin kencang, dia tetap stay di situ. Kopi kering dan kualitas kopi terjaga. “Kami Juga membentu mesin roasting di sana, membantu pemupukan dan pembibitan. Men-support produksi, supaya produksi makin optimal,” lanjut Yulika.

Memang saat awal melihat petani kopi di Cikoneng, kata Atam, merasa miris melihat petani kopi di sana. “Makanya kami masuk ke sana supaya dalam beberapa tahun ke depan produksi kopinya bisa meningkat. Kami juga punya kepentingan terhadap kesejahteraan petani. Pada saat petani sejahtera, maka petani mau merawat tanamannya,” ujarnya.

Hal ini secara tidak langsung menurut Atam, keberlangsungan supply kopi yang berkelanjutan.”Buat kami sebagai pedagang bahwa kontinuitas supply terjamin. Itu keuntungan kami. Kami sudah ekspor ke Thaiwan. Insya Allah Desember mendatang ekspor lagi ke Thaiwan,” kata Atam mengunci percakapan.[]Yuniman Taqwa