Astra Group Optimistis Prospek Pertumbuhan Jangka Panjang
Dengan didukung neraca keuangan yang solid, Astra group berada dalam posisi yang kuat dalam menavigasi ketidakpastian jangka pendek. Astra group melakukan investasi untuk memperkuat bisnis inti serta menjajaki peluang-peluang baru guna mendorong pertumbuhan jangka menengah dan panjang.
Beberapa waktu lalu, PT Astra Internasional Tbk (Astra group) mencatatkan laba bersih pada tahun 2024 dengan resiliensi kinerja dari portofolio yang terdiversifikasi. Meskipun sentimen konsumen di Indonesia melemah. Kontribusi lebih tinggi berasal dari bisnis sepeda motor, jasa keuangan, serta infrastruktur dan logistik. Sementara sebagian lain diimbangi oleh dampak penurunan penjualan mobil dan harga batu bara yang lebih rendah.

Menurut Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk, Djony Bunarto Tjondro, tercatat pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra pada tahun 2024 sebesar Rp330,9 triliun, meningkat 5% dibandingkan tahun lalu. Laba bersih Grup, tidak termasuk penyesuaian nilai wajar atas investasi Grup di GoTo dan Hermina, mencapai Rp34,2 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. “Bila memperhitungkan penyesuaian nilai wajar pada GoTo dan Hermina, maka laba bersih Grup sedikit meningkat menjadi sebesar Rp34,1 triliun,” kata Djony .
Nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2024 sebesar Rp5.265 meningkat 7% dibandingkan pada 31 Desember 2023 sebesar Rp4.907.
Sementara kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan Grup, sebesar Rp8 triliun pada 31 Desember 2024, dibandingkan dengan Rp29 miliar pada 31 Desember 2023. Ini mencerminkan arus kas operasional yang kuat yang melebihi dari penurunan belanja modal, investasi, dan pembayaran dividen tahun tersebut. Utang bersih anak perusahaan Grup di divisi jasa keuangan meningkat menjadi Rp60,2 triliun pada 31 Desember 2024, dari Rp52,2 triliun pada akhir tahun 2023, didorong oleh pertumbuhan bisnis pembiayaan konsumen Grup.
Dividen final sebesar Rp308 per saham (2023: Rp421 per saham) akan diusulkan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan pada Mei 2025. Dividen final yang akan diusulkan tersebut, ditambah dengan dividen interim sebesar Rp98 per saham (2023: Rp98 per saham) yang telah dibagikan pada bulan Oktober 2024, akan menjadikan total dividen yang diusulkan untuk tahun 2024 menjadi Rp406 per saham (2023: Rp519 per saham), dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48%. Rasio pembayaran dividen ini mencerminkan kembalinya persentase rasio pembayaran dividen ke tingkat yang konsisten dengan rasio sebelum distribusi dividen yang lebih tinggi pada 2022 dan 2023.
Djony menambahkan, laba bersih divisi otomotif Grup menurun 2% menjadi Rp11,2 triliun. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh dampak penjualan mobil yang lebih rendah di tengah pelemahan pasar mobil nasional, yang diimbangi dengan peningkatan kontribusi dari bisnis sepeda motor.
Grup mempertahankan pangsa pasar sebesar 56%, meskipun penjualan mobil nasional pada tahun 2024 melemah 14% menjadi 866.000 unit (sumber: Gaikindo). Penjualan mobil Astra melemah 14% menjadi 483.000 unit. Selama periode tersebut, 13 model baru dan 15 model revamped telah diluncurkan.

Sementara penjualan sepeda motor nasional meningkat 2% menjadi 6,3 juta unit di 2024 (sumber: Kementerian Perindustrian). Penjualan sepeda motor PT Astra Honda Motor 4,9 juta unit, meningkat 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan pangsa pasar yang stabil, yaitu 78%. Selama periode tersebut, 8 model baru dan 7 model revamped telah diluncurkan.
Bisnis komponen otomotif Grup dengan kepemilikan 80%, PT Astra Otoparts Tbk, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 10% menjadi Rp2,0 triliun, dengan peningkatan pendapatan dari pasar suku cadang pengganti (replacement market) dan ekspor.
Bisnis mobil bekas Grup, OLXmobbi, mencatat penjualan 27.300 unit, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu.
Sementara laba bersih divisi jasa keuangan Grup meningkat 6% menjadi Rp8,4 triliun pada tahun 2024, terutama disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dengan portofolio pembiayaan yang meningkat.
Pembiayaan baru pada bisnis pembiayaan konsumen Grup, kata Djony, meningkat 9% menjadi Rp128,2 triliun, mencerminkan pertumbuhan yang solid pada pembiayaan multiguna dan peningkatan pangsa pasar pembiayaan kendaraan baru. Kontribusi laba bersih dari perusahaan Grup yang fokus pada pembiayaan mobil meningkat 4% menjadi Rp2,4 triliun, sementara kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan sepeda motor, PT Federal International Finance, meningkat 7% menjadi Rp4,4 triliun.
Pembiayaan baru yang disalurkan oleh perusahaan Grup yang fokus pada pembiayaan alat berat meningkat 17% menjadi Rp12,5 triliun. Kontribusi laba bersih dari bisnis ini meningkat 20% menjadi Rp213 miliar.
PT Asuransi Astra Buana, perusahaan asuransi umum Grup, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 8% menjadi Rp1,5 triliun, disebabkan oleh peningkatan pendapatan underwriting dan hasil investasi. Perusahaan asuransi jiwa Grup, PT Asuransi Jiwa Astra (Astra Life), mencatatkan penurunan premi bruto (gross written premium) 2% menjadi Rp6,0 triliun.
Sedangkan laba bersih divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi Grup menurun 5% menjadi Rp12,0 triliun, dengan penurunan pada bisnis pertambangan batu bara, yang sebagian diimbangi oleh peningkatan kontribusi dari bisnis kontraktor penambangan dan pertambangan emas.

UT, yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 5% menjadi Rp19,5 triliun.
Penjualan alat berat Komatsu menurun 16% menjadi 4.400 unit. Namun, pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan sedikit meningkat.
Penyedia jasa penambangan, PT Pamapersada Nusantara, mencatatkan peningkatan kinerja operasional secara keseluruhan, dengan pengupasan lapisan tanah (sebagai sumber pendapatan utamanya) meningkat 5% menjadi 1,2 miliar bcm.
Anak perusahaan UT di bidang pertambangan batu bara melaporkan penjualan batu bara dari tambang miliknya sebesar 10,2 juta ton (termasuk 3,2 juta ton batu bara metalurgi). Total penjualan batu bara, termasuk dari pihak ketiga, meningkat 11% .
Sedangkan laba bersih divisi agribisnis Grup meningkat 9% menjadi Rp914 miliar.
PT Astra Agro Lestari Tbk, yang 79,7% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 9% menjadi Rp1,1 triliun.
Harga CPO meningkat 16% menjadi Rp12.883/kg. Volume penjualan CPO dan produk turunannya tercatat menurun 9% menjadi 1,6 juta ton.
Divisi infrastruktur dan logistik Grup melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 37% menjadi Rp1,3 triliun pada tahun 2024.
Konsensi jalan tol Grup mencatatkan peningkatan pendapatan harian sebesar 5% dari 396km ruas jalan tol yang telah beroperasi di sepanjang jaringan tol Trans-Jawa dan tol Lingkar Luar Jakarta.
PT Serasi Autoraya mencatatkan peningkatan jumlah unit kontrak sebesar 7% menjadi 27.600 unit.
Divisi teknologi informasi Grup, PT Astra Graphia Tbk, yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatatkan peningkatan laba bersih 43% menjadi Rp156 miliar, terutama disebabkan oleh marjin usaha yang lebih baik.
Divisi properti Grup melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 56% menjadi Rp222 miliar, disebabkan kenaikan tingkat hunian di Menara Astra dan peningkatan pendapatan dari bisnis residensial.
Grup terus melakukan investasi strategis tahun 2024. Grup melanjutkan komitmennya untuk melakukan diversifikasi ke energi terbarukan melalui penyelesaian oleh UT atas pembelian tambahan 20,2% saham di PT Supreme Energy Rantau Dedap (“SERD”), pemilik proyek panas bumi yang beroperasi di Sumatera Selatan dengan kapasitas saat ini sebesar 2 x 49 MW, dengan nilai (atau setara dengan Rp1,3 triliun). Dengan selesainya transaksi ini, Grup memiliki 32,7% saham SERD (langsung dan tidak langsung).
“Grup menyelesaikan akuisisi 95,8% saham Heartology Cardiovascular Hospital (“Heartology”) dengan nilai transaksi sebesar Rp643 miliar. Heartology yang berlokasi di Jakarta merupakan salah satu rumah sakit spesialis kardiovaskular swasta terkemuka di Indonesia,” lanjut Djony.
Pada Februari 2025, Grup meningkatkan kepemilikannya di Halodoc dari 21,0% menjadi 31,3% dengan nilai transaksi Rp0,9 triliun. Halodoc adalah platform layanan kesehatan terkemuka di Indonesia.
“Total investasi Grup di sektor kesehatan hingga kini mencapai Rp5,2 triliun. Grup berkeinginan memainkan peran penting dalam sektor kesehatan Indonesia, dengan fokus pada efisiensi biaya dan penyediaan layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat,” jelas Djony
“Ke depan, kami optimistis dengan prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia. Dengan didukung oleh neraca keuangan yang solid, Grup berada dalam posisi yang kuat dalam menavigasi ketidakpastian jangka pendek dan melakukan investasi dalam memperkuat bisnis inti kami serta menjajaki peluang-peluang baru guna mendorong pertumbuhan jangka menengah dan panjang,” pungkas Djony Bunarto Tjondro. [] Yuniman Taqwa.
