UMKM YDBA Simatek,  Genjot Skill SDM Dari Nol Lewat Pelatihan   

Pendapatan bulanannya sebagai  UMKM Manufaktur mampu melampaui  gaji  yang diterima  semasa  bekerja sebagai bawahan.  Dari lahan kecil di depan rumah, kini ia mampu membeli sebidang tanah  seluas 1500 meter persegi untuk usaha hingga merekrut 30 karyawan. Bagaimana lika-liku Akhmad Fadli Rizal membangun  PT Sinergi Mandiri Teknikatama (Simatek)?

Akhmad Fadli Rizal, Owner PT Sinergi Mandiri Teknikatama  (sebelah kanan) dalam salah satu momen menerima penghargaan /Foto: Dok. Pribadi

Akhmad Fadli Rizal, Owner PT Sinergi Mandiri Teknikatama  (Simatek)   masuk  supply chain  Patria Engineering (United Tractor Patria Engeneering/UTPE)  sebagai pemasok small component  alat-alat berat.  Sekitar 70% hasil produksinya disuplay ke  UTPE dan selebihnya ke perusahaan seperti  Hamala Works  Indonesia dan beberapa produsen karesori  dum truck.

Sebelum  membesut  Simatek,  Rizal, demikian sapaan akrab pria asal Tegal Jawa Tengah ini,   bekerja di perusahaan kakaknya yang bergerak di bidang pabrikasi dan stamping.   Dengan pengalaman kerja 13 tahun  di perusahaan milik sang kakak hingga menempati posisi terakhir sebagai Manajer Produksi,  menjadi modal utama membangun usaha.

Tahun 2018 ia membangun usaha bengkel .  Bermodal sebuah mesin bubut,  mesin bor dan mesin tap dengan konsentrasi pekerjaan machining atau pekerjaan bubut untuk 3 -5 item pekerjaan dengan volume produksi  1500 unit per bulan.“Awalnya masih membidik pasar lokal di daerah Tegal. Semua dikerjakan sendiri. Mencari bahan sendiri, memproduksi  sendiri dan mengirim sendiri,” kata Akhmad Fadli Rizal Owner Simatek  kepada pelakubisnis.com.

Menurut Rizal  mulanya ia men-support kebutuhan komponen tempat pabrikasi  kakaknya . Saat itu sang  Kakak menjadi vendor PT Gemilang.  Baru tahun 2019 mulai ekspansi dari lahan  kerja di depan rumah pindah ke Lingkungan  Industri Kecil (LIK)  Takaru, yang dikelola Pemda Kabupaten Tegal dengan menyewa  gedung bekas gudang  seluas 300 m2.

Di waktu  yang bersamaan ia berkenalan dengan Suyanto,  seorang Pembina Industri Kecil Menengah (IKM) yang mewakili Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan  Dinas Perindustrian  Kabupaten Tegal.  “Beliau menyarankan membuka bengkel di lokasi LIK (Lingkungan  Industri Kecil-red)  Takaru. Beliau juga yang memberi contact person pemilik gudang. Alhamdulillah pemilik gudang tersebut bersedia mengontrakan gudangnya.  Harga sewa gudang Rp 15 juta untuk 2 tahun, belum lagi biaya renovasi gudang.  Bahkan istri saya dan bapak mertua ikut bantu-memberesi gudang yang tidak layak pakai itu,”kenangnya.

Lebih lanjut ditambahkan,   bagaimana caranya ketika dilakukan survei, produk yang dihasilkan bisa memenuhi persyaratan, baik dari segi tempat, fasilitas dan sebagainya. Waktu itu Suyanto menyarankan,  supaya usaha cepat berkembang , cari kantor di LPB YDBA yang berada di lokasi Lingkungan  Industri Kecil (LIK)  Takaru.

Seiring berjalannya waktu,  ia mendapat pekerjaan dari teman-teman di Jakarta, Bekasi dan sekitarnya. Pun mendapat pekerjaan dari  PT Putra Bangsa Membangun Indonesia dan Komatsu. “Waktu itu one man show. Dari mulai marketing, produksi dan pengiriman. Komponen yang sudah jadi saya antar menggunakan kendaraan motor,” tambahnya.

Kendati ritme kerja lebih tinggi dibandingkan ketika masih menjadi manajer produksi di pabrikasi  milik sang kakak,  tapi Rizal tidak kewalahan. “Hati lebih tenang bekerja, mesti energi yang dikeluarkan jauh lebih berat. Apa yang bisa dikerjakan di depan mata saya kerjakan , kalau capek istrirahat. Saya yang mengatur manajemen waktu,” katanya serius.

Alhasil kerja keras dengan membangun usaha, lanjut Rizal mampu melampaui pendapatan ketika masih bekerja sebagai bawahan. “Kuncinya, selama bisa memaksimalkan  usaha, Insya Allah mampu melampaui penghasilan ketika masih bekerja.  Istri  saya ikut bantu saat membangun usaha.  Bertugas membuat invoice, mencatat biaya operasional dan sisanya berapa. Hasilnya, melampaui penghasilan saya dulu . Alhamdulillah keringat kita ada hasilnya,” tandasnya seraya menambahkan penghasilannya bisa tiga kali lipat dari gaji ketika masih bekerja jadi karyawan.

Rizal: “Training-training yang diberikan YDBA menjadi dasar membangun basic mentality karyawan dalam tim”/Foto: Dok. Pribadi

Ketika pindah ke gudang yang baru direnovasi, ada penambah satu mesin bubut, sehingga ada 2 mesin  bubut, 1 mesin bor duduk dan 1 mesin tap dan ada tambahan mesin las serta mesin hidrolic. “Planning saya di tahun 2019 ini adalah satu dua tahun ke depan saya harus prihatin, karena baru menancapkan bendera perusahaan di calon konsumen,” ceritanya.

Meskipun usaha baru berjalan satu tahun,  ia memberanikan  diri membuat badan hukum dengan nama PT  Sinergi Mandiri Teknikatama (Simatek). Dengan adanya badan hukum, lanjutnya, ia bisa menjalin hubungan dengan perusahaan-perusahaan besar.  Nama ‘Sinergi’ dipakai dengan harapan bisa bersinergi baik di dalam maupun di luar dan mempunyai manfaat yang saling menguntungkan. Artinya ada kerja sama dengan stakeholder dari luar dan dalam. Maksudnya dari dalam adalah tim karyawan, sedangkan di luar menjalin siraturahmi yang bisa menghasilkan rejeki, baik itu pada supplier maupun customer.

Di awal membangun usaha Rizal baru menerima pekerjaan machining  dan sedikit proses pengelasan dari PT Turbo Engeneering, perusahaan turbin di daerah Bekasi, Jawa Barat. Disitu membuat pin hidrolik  dum truck. Simatek waktu itu belum ketemu bentuk seperti apa. Tujuan utama Rizal menancapkan brand Simatek di perusahaan-perusahaan di tanah air. Selain Turbo Engeering,  Rizal juga menerima order pekerjaan machining dari perusahaan  ekspor impor furniture  dan menyusul perusahaan-perusahaan karoseri dum truck.  

Tujuh bulan pertama membangun usaha,  Rizal bergerilya mencari pasar sekaligus memegang peranan double. Tak hanya menjadi marketing, ia juga harus bisa menjadi manager produksi, manager keuangan dan sebagainya.  

Sampai akhirnya  ia masuk ke lini usaha pabrikasi , ditandai  dengan masuknya klien baru, United Tractor Engineering (UTPE) yang sudah mengenalnya sejak ia masih bekerja di pabrik sang kakak. “Saya konsultasi dengan istri! Istri bilang ambil saja, karena ini rejeki, tapi pamit dulu sama kakak. Boleh nggak saya juga bantu di UTPE  untuk supply ke sana. Kalau diperbolehkan saya lanjut terima tawaran UTPE, kalau tidak diperbolehkan , ya cari rejeki di tempat lain,” tandasnya seraya menambahkan, sang kakak  juga yang mendorongnya untuk menerima tawaran UTPE karena ini  sebuah kesempatan.  

Tahun 2019 boleh jadi awal Rizal berkenalan dengan UTPE dan Yayasan Dharma Bhakti Astra –YDBA-.   Namun demikian, bukan perkara mudah untuk menjadi vendor UTPE. Sedikitnya perlu waktu 7 bulan dilakukan audit. Di mana tim UTPE langsung datang ke Tegal untuk mengaudit fasilitas, proses kerja dan hasil kerja. “Saya merekrut dari 2 menjadi 4 karyawan . Saya baru dapat PO di bulan ke-8  (Agustus 2019). Ada banyak proses yag harus dijalankan pada saat itu untuk menjadi vendor UTPE,”tambahnya.

Nah, ketika menjadi vendor UTPE, perusahaan harus sudah berbentuk pabrikasi. Merekrut karyawan  yang  nol pengalaman di bidang pabrikasi. “Ada dua karyawan yang punya pengalaman machining, jadi tinggal diarahkan saja. Sementara Karyawan baru, harus dilatih proses produksi. Waktu itu saya belum familiar  dengan laser. Yang digunakan  adalah mesin copy cutting yang harganya masih terjangkau, kalau untuk pekerjaan pabrikasi,” jelasnya.

Suyanto juga yang mengarahkan Rizal  agar menggunakan mesin  stamping. Sementara kemampuan keuangan belum memungkinkan  investasi mesin stamping yang  harganya bisa mencapai Rp 150 juta untuk mesin berbobot 100 ton. Akhirnya ia menggunakan mesin copy cutting yang harganya hanya Rp 13 juta. Masih terjangkau dibandingkan mesin stamping yang harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp120-150 juta karena kapasitasnya mencapai 100 ton.

Diakuinya saat ini seluruh karyawannya lulusan SMK yang ia latih dari nol namun memiliki basic skill teknik pengelasan . Memang ia tidak bisa mengajarkan teknik pengelasan secara detil praktek langsung, tapi ia mafhum dengan standar yang diminta pabrikasi pekerjaan alat berat seperti  pengaturan amper, pengaturan voltase, itu semua ada teorinya.

Ada catatan yang menarik ditandai ketika Indonesia mengalami pandemic covid 19 di awal tahun 2020. Ada order yang disampaikan secara lisan dari klien membuat for case dan nilainya mencapai Rp 80 juta. Kliennya meminta awal tahun  2020 harus sudah jadi.  Ada 3 nilai PO (pre oder).  Setelah ready pesanan dan ia menggenjot target kepada para karyawan agar pesanan tersebut selesai di awal tahun 2020. “Tapi ternyata mereka mengabarkan tidak bisa menerima barang karena klien mereka yang di China terpending karena terjadi covid 19 dan negara tersebut melakukan lockdown.  Berbulan-bulan  mereka menyatakan maaf bahkan sampai melakukan  pengurangan karyawan. Saya harus bagaimana waktu itu, barang sudah nongkrong semua, sudah jadi, gak bisa dikirim. Sedangkan dari UTPE waktu itu masih sedikit-sedikit ordernya, apalagi kepentok pandemic, ada pembatasan, terjadi lockdown. Saat itu dengan UTPE masih penjajakan, baru taarufan. Pandemi itu dampaknya kemana-mana,”papar Rizal yang mengaku, setahun berjalan dengan UTPE (2019-2020) order masih sedikit sampai ketemu pandemic .

Awal pandemic  masih ada pekerjaan dari Turbo Engineering, Sasindo dan lain-lain, perlu penambahan karyawan sampai 8 orang. Namun pandemic belum reda, sementara volume pekerjaan tidak bertambah , akhirnya  terjadi seleksi alam, sehingga yang bertahan hanya 5 orang karyawan dengan sistem kerja rolling. “Alhamdulillah sampai sekarang 5 karyawan tersebut masih bekerja di Simatek,” lanjur Rizal. Sekarang karyawan Simatek mencapai 30 orang.`

Memasuki tahun 2021, mulai masuk order dari karoseri dari Tangerang dan Bekasi, namun terkendala dengan modal kerja.  “Untungnya saya dapat  pemasokan material yang bisa dibayar tempo 1 bulan ke depan, sehingga bisa mendapat material sebagai modal kerja,” lanjut Rizal.

Dalam waktu bersamaan juga dapat bantuan modal kerja dari seorang ustadz dengan pola bagi hasil. “Saya tunjukkan PO-PO dari sejumlah perusahaan dan ustadz  meninjau gudang, akhirnya sepakat membantu modal kerja dengan memberi persentasi keuntungan untuk operasional  menghidupkan majelis taklim. Semua usaha yang perlu kita pegang itu komitmen dan kepercayaan.  Baik dari supplier atau dari customer, atau contoh tadi yang bantu kita. Dari komitmen dan kepercayaan ini saya dapat distributor yang kalau saya mau ambil berapapun dia siapin ,” urainya yang sempat menerima penyertaan modal seorang ustadz selama 14 bulan.

Rizal tak pernah  menunda-nunda pembayaran ke supplier, makanya ia mendapat kepercayaan dari para supplier.  Kalau ada dana, langsung ia setor ke supplier. 

Di 2021 akhir ia mulai silaturahmi dengan Kementerian Perindustrian  yang kemudian membuka jalan buat Rizal kembali masuk ke UTPE dan mendapat angin segar setelah perkenalan di tahun 2018-2019, lalu ketemu pandemic.  Bertemu dengan manajemen baru UTPE dan kembali taarufan.  Ia bersyukur kali ini timnya lebih solid dan kuat karena sudah mengalami tempaan dari awal Simatek berdiri hingga ketemu momen pandemic Covid 19, sampai belajar pabrikasi karoseri. Jadi timnya lebih familiar dengan beberapa pekerjaan yang lebih sulit.

Tahun 2022 ia mulai mendapat banyak pekerjaan dari UTPE dan QCD (quality, cost and delivery)  Simatek masuk kriteria UTPE. Tak heran bila tahun 2024 Simatek tercatat menjadi subcon terbaik Tier 3 atau istilah yang berlaku di UTPE adalah  Small Compo (small component).  

Ia bersyukur di tahun 2023 dan 2024 Simatek mendapat penghargaan dari UTPE sebagai Subcon Terbaik di Tier 3.  Hanya dipilih 1 dari masing-masing tier.  Dari situ berkembang dan mendapat fasilitas training dari YDBA, Kemenperin, dan lain-lain. Perusahaannya juga berkolaborasi dengan banyak pihak seperti dengan PT Hamana Works Indonesia, perusahaan car carriers yang beraliansi dengan perusahaan Jepang.

“Menjadi subcon  terbaik di YDBA ataupun Astra, itu harus memenuhi kriteria QCD nya. Hasil ratio enginee nya kecil,  jadwal pengiriman yang tepat waktu (due date),  itu yang menjadi acuan 1 tahun.   Ada Quality Subcon Meeting setiap bulan. Kami dibantu YDBA karena harus tetap komunikasi dengan pihak Astra ,”aku lulusan Teknik Industri, Universitas Pancasakti, Tegal, Jawa Tengah.

Pengimplementasian 5R di awal tahun 2019 masih seadanya. Untuk menyatukan  visi misi dalam tim, training-training yang diberikan YDBA atau pun yang lain menjadi dasar membangun basic mentality karyawan dalam tim. Tahun 2022  timnya lebih siap mengimplementasikan rumus 5R.  Mengubah kebiasaan karyawan yang tadinya bekerja dengan celana pendek dan bersendal, kemudian harus pakai seragam dan bersepatu.

training-training yang diberikan YDBA atau pun yang lain menjadi dasar membangun basic mentality karyawan dalam tim

Selama membangun usaha, 3 kali Rizal pindah kantor. Di awal menyewa ruang bekas gudang (2019-2021), kemudian membeli  lahan seluas 300 meter atas nama PT Sinergi Mandiri Teknikatama, dan tahun 2025 pindah lagi gedung sebelah timur LIK seluas 900 meter persegi di atas tanah  seluas 1500 meter persegi.  

Saat ini ia sedang mendapat pekerjaan  menantang dari UTPE. Dimana ia mendapat order  pekerjaan yang belum  pernah dilakukan. Setidaknya ia mengajarkan tentang basic teknik elektroda dimana karyawan ditantang  menghasilkan produk  sesuai dengan pesanan klien.  Tak jarang ia memanggil teman  (operator welder) yang ahli di bidang pekerjaan alat berat ini untuk mendidik para karyawannya .  

Tak segan-segan ia  minta tolong  orang tersebut untuk mengajarkan salah satu operatornya, selama tiga hari  sampai karyawannya bisa seperti  mengatur voltase, amper, memasang  CO dan sebagainya.  Cukup efektif untuk menambah ilmu. “Yang penting saya tekankan kepada para operatorku, yang penting  sampean di sini mau belajar. Jangan sombong. Karena ilmu berkembang terus , besok ada teknologi yang lebih tinggi lagi,”ujarnya.

Rizal menjelaskan, sejak usahanya pindah ke LIK, koordinasi dengan berbagai pihak semakin mudah karena  berada dalam satu kawasan usaha. Tak jarang ada kegiatan  pelatihan dari YDBA, Disperin, Dispenaker dan pihak terkait lainnya, ia mengirim anak buahnya.  “Saya ikut semua pelatihan pembukuan, produksi. Pelatihan-pelatihan tersebut sangat  up grade skill teman-teman di operator,”terang alumni SMK 1 Adiwerna, Tegal  Jateng ini.

Di tahun 2025 ini selain menambah jumlah karyawan yang  kini mencapai 30 orang, Simatek juga ada investasi baru berupa mesin laser dengan panjang 6 meter kapasitas  6KW dan mesin bending  kapasitas 300 ton panjang 4 meter .  Mesin-mesin ini disiapkan sebagai bekal amunisi perusahaan menerima tantangan UTPE  untuk membuat Medium Component, naik ke Tier 2.

Diakuinya pasti di awal timnya masih kaget menerima tantangan  UTPE ini. Tapi ia selalu yakin ketika melihat gambar.  Menurutnya pabrikasi lebih menarik dijalankan karena tidak monoton selalu mendapat order baru yang sulit jadi  pikirannya jalan terus.

Jika saat ini hanya membuat small component seperti lampu, braket, sedangkan di medium component , tantangannya harus mampu membuat seperti front wall, bottom sub frame dan lain-lain. “Saat ini hampir 70% pesanan dari UTPE,  HCMI (Hitachi  selebihnya ke perusahaan-perusahaan karoseri,”jelasnya.

Harapannya di tahun 2025 ini dengan investasi yang sudah dikeluarkan, omzet bisa ikut terdongrak naik 2 kali lipat bahkan 3 kali lipat dari omzet di tahun sebelumnya.”Yang penting kita bisa menyikapi due date dan memenuhi kriteria QCD. Di awal masih harus mencari dan meraba-raba, kalau sudah familiar sudah enak,”ungkap Rizal yang mengaku omzetnya masih di bawah Rp5 miliar per tahun , tapi sudah mencapai di atas Rp1 miliar dan ke depannya ia  berharap bisa memiliki produk sendiri dengan menggunakan brand Simatek.[] Siti Ruslina