YDBA Jadi Role Model Membangun Rantai Pasok Industri Nasional

Hubungan simbiosis yang dicoba dijembatani Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) secara berkelanjutan dan berjenjang, sehingga masuk dalam rantai pasok industri menjadi suatu keniscayaan. YDBA telah membuktikn itu!

Ketua Pengurus YDBA, Rahmat Samulo saat menerima Penghargaan The Most Commited dalam Pembinaan UMKM dalam ajang Bina Mitra Award 2025/Foto: YDBA

Hubungan tersebut bukan hanya jangka pendek, tapi diharapkan jangka panjang, sehingga IKM/UMKM yang dibina bisa naik kelas dan mandiri dengan membentuk ekosistem dalam supply chain, sehingga membuat struktur industri menjadi  kokoh dan berdaya saing. Proses pembinaan ini  dimulai dari pemula, madya, pramandiri dan mandiri. Rangkaian level ini menunjukkan IKM/UMKM naik kelas.

Membangun rantai pasok dalam industri nasional berbasis penggunaan produksi dalam negeri adalah suatu keniscayan. Pasalnya, industri dalam negeri perlu diberdayakan untuk meningkatkan nilai tambah bagi bangsa ini. Itu sebabnya, program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) bertujuan memperkuat struktur industri nasional. Menggunakan komponen dalam negeri pada produk dalam negeri, mampu menumbuhkan industri-industri di dalam negeri, baik di hulu, antara, maupun hilir.

Bukan hanya industri penghasil komponen, industri pembuat mesin pun akan terdampak positif. Investasi diharapkan akan ditanamkan di industri dalam negeri untuk peningkatan kapasitas dalam rangka memenuhi kebutuhan peningkatan penggunaan komponen dalam negeri. Tidak hanya di sektor industri, manfaat di sektor ekonomi lain pun dirasakan, termasuk peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Di samping itu, kebijakan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) justru melindungi investasi manufaktur dalam negeri. Perlindungan diberikan dalam bentuk menjaga permintaan pasar domestik terutama yang berasal belanja pemerintah dan BUMN/BUMD.

Potensi pasar domestik Indonesia masih sangat tinggi terutama untuk belanja produk manufaktur. Pada tahun 2024,  belanja pemerintah atas produk manufaktur domestik diperkirakan mencapai Rp 1.441 triliun.

“Besarnya daya tarik pasar domestik ini harus kami manfaatkan sepenuhnya untuk menarik investor asing dari berbagai negara melalui kebijakan TKDN. Hal ini guna melakukan pendalaman struktur industri dalam negeri dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. TKDN merupakan karpet merah bagi investor luar negeri yang ingin membangun fasilitas produksi dan sekaligus menjual produknya di Indonesia. Kami tentu berkewajiban menjamin keberlangsungan investasi tersebut,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif di Jakarta, pada 29/11/2024.

Penerapan kebijakan TKDN bukan berarti Indonesia anti  impor bahan baku industri. Impor tetap diperkenankan sepanjang bahan baku tersebut memang belum bisa diproduksi di dalam negeri. Perhitungan TKDN atas produk yang bahan baku berasal dari impor dan ambang batasnya tetap dipertimbangkan secara berkeadilan.

Berdasarkan perhitungan BPS,  dampak multiplier ekonomi kebijakan TKDN sekitar 2,2. Artinya setiap belanja Rp1 produk manufaktur dalam negeri bisa menciptakan nilai ekonomi sebesar Rp2,2. Pada tahun 2024 nilai belanja pemerintah dan BUMN/BUMD atas produk manufaktur sekitar Rp1.441 Triliun pada tahun 2024. Dengan demikian nilai ekonomi pemberlakuan kebijakan ini mencapai kurang lebih Rp3.170 Trilliun.

Ternyata founder PT Astra International Tbk  William  Soeryadjaya sudah jauh hari memikirkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) untuk sama-sama maju bersama Astra. Ia berkomitmen agar perusahaan otomotif nasional yang dibangunnya ini berperan serta aktif  dalam membangun bangsa melalui pemberdayaan UMKM dan IKM naik kelas..

YDBA bersama Astra dan para stakeholders berupaya membangun program sinergi ayah angkat untuk para UMKM, membangun hubungan kerja sama saling menguntungkan antara Astra dan stakeholders dengan UMKM atau IKM untuk tujuan agar IKM/UMKM bisa naik kelas dan berkesinambungan.

Simbiosis antara industri otomotif dan industri komponen yang dimominasi IKM dalam rantai pasokan adalah jaringan kompleks yang melibatkan pergerakan berbagai jenis barang dari produsen ke konsumen. Di antara berbagai jenis barang yang beredar dalam rantai pasok, intermediate goods atau barang setengah jadi memegang peran kunci.

Boleh jadi YDBA membangun pelatihan, bimbingan, akses permodalan  dan akses pasar dalam rantai pasok industri di dalam negeri, dari industri skala besar sampai keterlibatan IKM. Hubungan simbiosis tersebut dicoba dijembati secara berkelanjutan dan berjenjang, sehingga masuk dalam rantai pasok group Astra khususnya, dan industri pada umumnya.

Hubungan tersebut bukan hanya jangka pendek, tapi diharapkan jangka panjang, sehingga IKM/UMKM yang dibina bisa naik kelas dan mandiri dengan membentuk ekosistem dalam supply chain, sehingga membuat struktur industri menjadi  kokoh dan berdaya saing. Proses pembinaan ini  dimulai dari pemula, madya, pramandiri dan mandiri. Rangkaian level ini menunjukkan IKM/UMKM naik kelas.

Lembaga nirlaba yang berada di bawah Yayasan Astra ini bukan hanya semata-mata membangun rantai pasok bagi kepentingan group Astra, tapi dalam perspektif industri yang lebih luas, sehingga industri dalam negeri mampu meningkatkan TKDN atau mengurangi impor (subtitusi impor-red).

Tampak YDBA mencoba merubah mindset IKM/UMKM hanya untuk pragmatis – mengikuti pelatihan – hanya untuk mendapat honor atau bantuan, karena banyak lembaga atau institusi yang melakukan pelatihan hanya untuk menghabis-habiskan anggaran. Bila Anda sebagai IKM/UMKM dengan pola pikir tersebut, maka bukan di YDBA tempatnya.

Memberi Kail Bukan Ikan!. IKM/UMKM  yang mengikuti pembinaan di YDBA jangan berpikir setiap pelatihan mendapat uang saku. Fenomena ini merupakan mindset yang salah. YDBA akan memfasilitasi UMKM binaannya untuk mendapat pembiayaan bila memang perlu pembiayaan. Karena YDBA sudah menciptakan rantai pasok untuk pembelinya.

YDBA bergerak di 4 sektor pemberdayaan, yaitu sektor manufaktur, sektor perbengkelan roda empat, sektor pertanian, dan sektor kerajinan serta kuliner. Sektor manufaktur dan perbengkelan terkait erat dengan bisnis Astra Internasional. Namun demikian, di luar sektor tersebut, YDBA juga berusaha mencari off taker bagi IKM/UMKM di luar kepentingan bisnis Astra yang terkait otomotif dan alat berat.

Keberadaan YDBA bukan semata-mata membangun ekosistem rantai pasok bagi kepentingan Group Astra, melainkan sejak awal berdiri YDBA ingin menjadi fasilisator dalam membangun industri nasional yang terintegrasi sampai kelampisan IKM/UMKM yang paling bawah sekali pun.

Dengan model pelatihan, bimbingan dan membuka akses pasar yang dilakukan YDBA, maka struktur industri nasional mampu menimbulkan multiplier ekonomi lebih luas, sehingga struktur industri nasional mampu memberdayakan potensi dalam negeri menjadi nilai tambah.

Saya rasa model pelatihan, pembinaan, membuka akses modal dan akses pasar dalam membangunan rantai pasok di industri nasional menjadi suatu keniscayaan. YDBA telah membuktikn itu.[] Yuniman Taqwa