Dari Posisi 1 Fortune 100 Sampai Roadmap Pertamina Tahun 2025-2029
PT Pertamina (Persero) dinobatkan posisi nomor 1 pada Fortune Indonesia 100. Sebuah penghargaan bagi 100 perusahaan dengan kinerja keuangan terbaik. Fortune Indonesia 100 merupakan apresiasi untuk 100 perusahaan terbesar di Indonesia berdasarkan pendapatan, dengan laporan keuangan yang telah diaudit.
Berdasarkan situs Fortune Indonesia 100, Pertamina mencatatkan pendapatan tahun 2024 sebesar Rp1.200 triliun, tertinggi dibanding perusahaan lain. “Di Fortune Indonesia, kami telah menghadirkan daftar Fortune 100 selama empat tahun terakhir. Daftar ini telah menjadi tolok ukur pencapaian korporasi di negeri ini,” jelas COO IDN, William Utomo. IDN merupakan penyelenggara Fortune Indonesia 100.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengungkapkan, apresiasi ini mencerminkan komitmen Pertamina dalam bekerja dan menghasilkan kinerja yang positif, serta menjaga kedaulatan energi di Indonesia,” ungkapnya di sela acara Fortune Indonesia 100 Gala yang berlangsung di Jakarta, pada 12 September 2025.
Di samping itu, Pertamina menduduki peringkat ke-171 dalam daftar Fortune Global 500 tahun 2025. Dalam daftar yang dirilis media internasional tersebut pada Juli 2025, Pertamina berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu perusahaan energi kelas dunia.
Sebagai perusahaan energi Tanah Air, lanjut Arya, Pertamina senantiasa berupaya mengedepankan nilai-nilai yang optimal untuk mencapai Asta Cita, di mana swasembada energi menjadi salah satu perhatian utamanya. “Kontribusi Pertamina untuk Indonesia merupakan wujud nyata dari komitmen untuk mendukung tercapainya swasembada energi sesuai Asta Cita Pemerintah Indonesia,” ujarnya.

Selama paruh pertama tahun 2025, Pertamina mencatatkan kinerja operasional yang positif. Produksi minyak dan gas (migas) telah menembus angka 1 juta barel setara minyak (MBOEPD). Pertamina juga senantiasa memastikan ketersediaan energi hingga pelosok Nusantara.
Selain itu, Pertamina berupaya mendorong perekonomian nasional, melalui kontribusinya pada penerimaan negara yang mencapai Rp225,6 triliun. Sebagai kontributor terbesar, penerimaan negara ini berasal dari dividen, pajak, dan pendapatan bukan pajak.
“Hingga Juli 2025, kontribusi Pertamina tersebut telah mencapai Rp225,6 triliun, menjadikan Pertamina sebagai penyumbang dividen terbesar untuk Danantara sekaligus BUMN kontributor pajak terbesar,” ujar Simon pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Komplek Senayan, Jakarta, pada 11/9.
Sebagai BUMN, imbuh Simon, Pertamina terus mendukung program pemerintah yang dijalankan melalui BBM Satu Harga yang telah mencapai 573 titik di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di seluruh Indonesia. Selain itu, Pertamina juga terus menjalankan penyaluran produk public service obligation (PSO) berupa Solar, Pertalite, LPG 3 Kg, serta Minyak Tanah.
Program lain yang dijalankan Pertamina adalah pemberian diskon Avtur, bahan bakar pesawat terbang, sebesar 10% pada periode Hari Raya, bahan baku nabati untuk dukungan kebijakan B40 (Biodiesel dengan campuran bahan baku nabati hingga 40%), dan pemberian Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri pupuk serta sektor strategis.“Dengan kontribusi ini, Pertamina tidak hanya menjaga ketahanan energi tetapi juga memperkuat peranannya dalam perekonomian nasional,” tandas Simon.
Hingga Juli 2025, Simon mengungkapkan, Pertamina berhasil menjaga produksi migas di atas 1 juta barrel setara minyak per hari (BOEPD). Pertamina juga berhasil meningkatkan cadangan migas baru untuk mendukung ketahanan energi secara berkelanjutan. “Pertamina mencatat beberapa capaian, di antaranya temuan cadangan migas baru sebesar 724 juta barrel setara minyak (MMBOE) di wilayah kerja Rokan,” ujar Simon.
Di samping itu,, Pertamina terus memperkuat peran strategisnya dalam menyediakan layanan energi bagi masyarakat Indonesia. Hal ini terangkum dalam peta jalan (roadmap) jangka panjang Pertamina 2025-2029, untuk mendukung program Pemerintah dalam menjaga ketahanan energi dan mewujudkan swasembada energi sebagaimana program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Simon menjelaskan, Pertamina sebagai bagian dari Danantara Indonesia dan Kementerian BUMN, memastikan keberlangsungan energi untuk masyarakat. Untuk itu, Pertamina melakukan optimasi bisnis di seluruh lini sehingga setiap kegiatan operasional berjalan lebih efisien dan efektif. “Upaya ini diharapkan mampu memaksimalkan nilai tambah serta memberikan manfaat optimal bagi keberlanjutan perusahaan,” ujar Simon.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza turut menjelaskan rencana jangka panjang Pertamina dalam menjalankan peran strategis di sektor energi. Berdasarkan Roadmap Jangka Panjang Pertamina Tahun 2025-2029, Pertamina mencanangkan kelanjutan strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy), yakni memaksimalkan bisnis eksisting dan membangun bisnis rendah karbon.
Dalam paparannya, Oki menguraikan target-target peningkatan bisnis Pertamina di berbagai sektor dari tahun 2025 hingga 2029. Pertamina menargetkan peningkatan produksi minyak dari 560 ribu barrel minyak per hari (MBOPD) saat ini, menjadi 914 MBOPD tahun 2029. Demikian juga untuk gas alam, Pertamina mengincar peningkatan dari 2.713 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari) menjadi 3.470 MMSCFD tahun 2029.
Untuk mendukung ketahanan energi khususnya BBM, imbuh Oki, Pertamina akan meningkatkan intake dari seluruh kilang Pertamina yang saat ini mencapai 315 juta barel, naik terus menjadi 382 juta barel di tahun 2029. “Peningkatan intake kilang akan berdampak kepada penyediaan BBM dalam negeri,” jelasnya.
Pertamina menargetkan akan meningkatkan penjualan BBM dalam negeri dari saat ini 72 juta kiloliter (KL) menjadi 90 juta KL di tahun 2029. Selaras dengan pertumbuhan tersebut, Pertamina akan meningkatkan pelayanan BBM kepada masyarakat.
Begitu juga kebutuhan gas industri dan rumah tangga, akan turut meningkat. Hal ini termasuk pertumbuhan jaringan gas rumah tangga dari 67 ribu menjadi 414 ribu sambungan rumah tangga (SRT) di tahun 2029 sebagai upaya Pertamina dalam menyediakan alternatif energi bersih dan ramah lingkungan.
“Segala rencana dan target tersebut bukan tanpa tantangan seperti tren harga minyak mentah dunia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk ketidakpastian geopolitik. Dengan dukungan stakeholder, Pertamina berkomitmen menjalankan roadmap untuk mencapai target Pemerintah dalam swasembada energi nasional,” tandas Oki.
Pertamina sebagai perusahaan energi nasional berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui program-program berkelanjutan yang berdampak nyata bagi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasinya.[] Yuniman Taqwa/foto utama: doc. Pertamina
