Cara Pemkot Padang Jadikan Kuliner Minangkabau Jadi City of Gastronomy UNESCO Tahun 2027
Kesiapan Kota Padang mewakili Indonesia sebagai kandidat City of Gastronomy UNESCO tahun 2027 mendapat sambutan positif. Kementerian Ekraf berkomitmen mendampingi daerah mengoptimalkan identitas kreatif guna mendongkrak reputasi ekonomi kreatif nasional di kancah dunia.
Gastronomi Minangkabau tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga mampu memenuhi standar global dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat. Bayangkan rumah makan Padang bukan hanya terkenal di seantero Indonesia, tapi telah mendunia, hadir di berbagai negara sebagai representasi otentik dari warisan kuliner Minangkabau.
Dari Asia sampai Eropa, dari benua Amerika dan Australia. Kehadiran rumah makan Padang menjadi bukti bahwa rasa rendang, gulai, dan sambal hijau tak mengenal batas geografis. Boleh jadi para perantau yang tersebar di berbagai belahan dunia tak hanya membawa budaya dan nilai-nilai adat, tetapi juga mewariskan kekayaan kuliner kampung halaman mereka.
Sementara Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendukung visi Kota Padang menjadi pusat kuliner nasional. Langkah ini sejalan dengan penguatan ekonomi kreatif, khususnya subsektor kuliner.

Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya mengungkapkan, keinginan menjadikan Kota Padang sebagai pusat kuliner nasional semakin memperkuat jati diri daerah sebagai wilayah dengan keberagaman gastronomi.
“Melalui kolaborasi ini, kita ingin memastikan bahwa kekayaan gastronomi Minangkabau tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga mampu memenuhi standar global dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujar Menteri Ekraf dalam audiensi bersama Pemerintah Kota Padang di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, pada 7/5.
Kementerian Ekraf juga menyambut positif kesiapan Kota Padang untuk mewakili Indonesia sebagai kandidat City of Gastronomy UNESCO tahun 2027. Pemerintah pusat berkomitmen mendampingi daerah mengoptimalkan identitas kreatif guna mendongkrak reputasi ekonomi kreatif nasional di kancah dunia.
“Sinergi ini adalah komitmen kita bersama untuk mengawal seleksi nominasi UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027. Kami akan mendampingi Pemerintah Kota Padang agar persiapan teknis serta dokumen yang disusun sesuai dengan standar internasional UNESCO,” tegas Teuku Riefky.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Padang, Fadly Amran mengapresiasi masukan Kementerian Ekraf untuk ikut mengawal seleksi nominasi UCCN 2027. Ia memaparkan kekuatan warisan budaya (cultural heritage) seperti rendang, sate padang, hingga gulai dan sambal lado, juga tradisi sosial makan bajamba, serta akulturasi budaya urang padang jalan barampek sebagai modal utama menjadi City of Gastronomy.
“Kementerian Ekraf memberikan dukungan yang sangat krusial bagi kami untuk meningkatkan standar ekosistem kuliner berkelanjutan, mengingat Padang memiliki kekayaan kuliner yang lengkap dan telah diakui oleh dunia,” ungkapnya.
Audiensi Kementerian Ekraf bersama Pemkot Padang bertujuan untuk melakukan koordinasi pasca-adendum Berita Acara Hasil Uji Petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) Kota Padang yang kini berfokus pada subsektor kuliner per Februari 2026.
Pertemuan ini juga mencakup permohonan pendampingan untuk mengikuti tahapan seleksi UCCN 2027, mulai dari sosialisasi, pengisian dossier, hingga seleksi administrasi dan substansi. Dalam audiensi tersebut, Menekraf juga melontarkan keinginan menjadikan Kota Padang sebagai pusat kuliner nasional semakin memperkuat jati diri daerah sebagai wilayah dengan keberagaman gastronomi
Pertemuan ini juga mencakup permohonan pendampingan untuk mengikuti tahapan seleksi UCCN 2027, mulai dari sosialisasi, pengisian dossier, hingga seleksi administrasi dan substansi. Jika berhasil masuk dalam jaringan UCCN, Padang akan menyusul kota-kota kreatif Indonesia lainnya yang telah diakui UNESCO, seperti Pekalongan, Surakarta dan Ponorogo (kota kerajinan dan kesenian), Bandung (kota desain), Ambon (kota musik), Jakarta (kota literasi), serta Malang (kota kreatif seni media).

Sementara Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Nanda Satria menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah kota (Pemkot) untuk masuk dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN) kategori Cities Gastronomy tahun 2027. Menurutnya upaya tersebut menjadi momentum strategis mengangkat budaya dan kuliner Minagkabau ke panggung internasional, sebagaimana dikutip dari figurnews.com, yang posting 11/5/2026.
Nanda menilai perjuangan Pemkot Padang menjadi kota Padang sebagai kota gastronomi dunia bukanlah sekedar agenda seremoni atau pencpaian administratif semata, melainkan bagian dari ikhtiar besar mengangkat marwah budaya Minangkabau melalui kekuatan kuliner yang telah lama mendunia.
“Ini bukan hanya tentang kota Padang, tetapi tentang bagaimana Sumatera Barat memperlihatkan identitas dan kekuatan budayanya kepada dunia internasional. Kuliner Minangkabau memiliki sejarah panjang, filosofi dan nilai sosial, hingga kekuatan ekonomi yang sangat besar. Karen itu, DPRD Sumbar memberikan dukungan penuh terhadap langkah yang sedang diperjuangkan Pemkot Pada,” ujar Nanda.
Pengakuan UNESCO, kata Nanda, nantinya akan menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Sumater Barat sebagai destinasi unggulan wisata budaya dan gastronomi nasional. Dampaknya, ini diyakini tidak hanya akan dirasakan sektor pariwisata, tapi juga akan menggerkkan ekonomi masyarkat mulai dari pelaku UMKM, industri kreatif, petani hingga sektor pendukung jasa lainnya.
“Kita ingin kekakayaan kuliner Minang tidak hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga karena ekosistem budayanya yang kuat dan berkelanjutan. Tradisi seperti makan bajamba, nilai kebersamaan dalam budaya urang awak, hingga proses pengolahan makanan tradisional merupakan kekatan yang tidak dimiliki banyak daerah lainnya,” katanya.
“Kita tentu berharap seluruh elemen begerak bersama. Ini momentum besar bagi daerah. Ketika Padang berhasil masuk dalam jaringan kota kreatif dunia UNESCO, maka dampaknya akan menjadi kebanggaan sekaligus pelaung ekonomi yang sanat luas bagi Sumatera Barat,” tandasnya.[] Yuniman Taqwa
