Co-Living, Budaya Kolaburasi Generasi Milenial
Jutaan orang Indonesia yang bekerja di ibukota Jakarta, berdomisili jauh dari tempat kerja. Jarak tempuh yang panjang dan lama karena kemacetan menjadi tidak efisien dan efektif, juga membuat stress tinggi. Co-Living menjadi salah satu konsep yang dapat mengatasi solusi.
Untuk sebagian pekerja yang sudah berkeluarga dan rumah jauh dari pusat kota, berdesak-desakan naik bus atau kereta api menjadi hal yang biasa dijalani selama bertahun-tahun. Problema kantor jauh dari rumah adalah keadaan yang harus diterima. Banyak alasan yang membuat sebagian pekerja ini bertahan menjalani. Pertama, karena tak sanggup membeli rumah di pusat kota. Kedua, ada keluarga yang selalu menantinya kembali ke rumah. Ketiga, mungkin tak ada lagi pilihan.
Namun, seiring dengan perkembangan jaman, cara-cara di atas dianggap kurang efektif, terutama bagi kalangan milenial yang dinamis, produktif dan kolaburatif. Konsep Co-Working Space sempat menarik perhatian mereka yang baru memulai usaha dengan modal yang minim. Dengan dana terbatas, akhirnya mereka membeli fasilitas penyewaan ruang kerja seperti yang berkembang beberapa tahun terakhir ini yang populer dengan istilah Co-Working Space. Tempat ini seringkali menjadi tempat para freelancer bekerja dan membangun jaringan. Berlokasi mendekati pusat kota, Co-Working Space biasanya dilengkapi dengan fasilitas pendukung pekerjaan seperti ruang meeting dan ruang kerja yang dapat digunakan bersama-sama dengan penyewa lain dan dilengkapi segala atribut kerja seperti komputer, proyektor, mesin printing, mesin fotocopy dan sebagainya, sampai penyewaan nomor telepon untuk kebutuhan networking.
Untuk sebagian orang, terlebih bagi anak muda di jaman ini yang bergerak dinamis, mereka butuh tempat yang menjadi problem solving agar produktifitasnya tetap berjalan efektif namun kualitas hidup tetap terjamin.
Seiring dengan bertambahnya kebutuhan masyarakat urban, kemudian muncul konsep modern yang lain yaitu Konsep Co-Living yang mulai ada di Indonesia sekitar lima atau enam tahun lalu. Hadir di beberapa titik seperti di wilayah TB Simatupang Jakarta Selatan, hingga ke daerah Kemayoran, Jakarta Pusat dan beberapa wilayah Jakarta.

Co-Living adalah hunian tempat tinggal yang berada di satu lingkungan dengan tempat kerja. Hunian jenis ini sudah dilengkapi fasilitas-fasilitas penunjang segala kebutuhan kaum urban seperti tempat meeting, ada tempat menerima tamu, segala kebutuhan untuk solusi pekerjaan tanpa mengurangi kehidupan bersosialiasi.
Para pebisnis property menyebut Co-Living sebagai solusi krisis rumah perkotaan. Co-Living sebenarnya menjual konsep hunian apartemen mulai ukuran terkecil sekitar 20 m2 sebagai private area untuk beristirahat bersama keluarga, namun dilengkapi banyak sarana pendukung untuk bekerja dan bersosialisasi. Ada fasilitas Co-Working Space, dimana tersedia beberapa area tempat menerima tamu, adapula fasilitas ruang olahraga, ada tempat gathering, supermarket, restoran sampai fasilitas interaksi dengan komunitas-komunitas tertentu sebagai cara bersosialisasi.
Dengan segala aktifitas dan fleksibilitas yang ditawarkan, konsep Co Living banyak didambakan generasi milenial di jaman ini yang hidup dinamis, kolaburatif dan modern.
Jika melihat tren gaya hidup kaum urban di Indonesia, kebutuhan, budaya, dan harga sangat menentukan penetrasi pasar konsep ini. Bila ditinjau dari aspek kebutuhan, demand terbesar tentu muncul dari kalangan professional muda yang baru mulai kerja namun keluarga jauh di pinggiran kota atau tinggal di daerah. Dan budaya modern seperti ini memang baru di Indonesia dan boleh jadi kebutuhan ini ada di segmen pasar orang muda yang belum berumahtangga namun punya mimpi besar dalam karirnya dan belum ada dana untuk membeli rumah.
Yang jelas, Co-living atau hunian bersama ini masih besar peluangnya berkembang di Indonesia. Di beberapa negara konsep ini menjadi favorit khususnya bagi generasi milenial karena semua aspek koneksi dan akses bersosialisasi tersedia. Konsep ini merupakan perpaduan sarana bersosialisasi dan bekerja, tanpa mengurangi kenyamanan hidup karena tetap masih ada area privasi disana. []Siti Ruslina/Foto:rumahhokie.doc
