Hilirisasi Menjadi Lokomotif Ekonomi Kabupaten Morowali
Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mencapai 60 persen. Pertumbuhan sebesar itu disumbang dari program hilirisasi yang dikembangkan kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP)
Kabupaten Morowali terbentuk dari hasil pemekaran wilayah Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi Tengah berdasarkan Undang-undang RI Nomor 51 Tahun 1999. Kabupaten ini secara resmi terbentuk pada 3 November 1999 dengan bupati terpilih pertama secara definitif adalah Andi Muhammad Abubakar dan Datlin Tamalagi sebagai wakil bupati definitif pertama dan Drs. H. Chaerudin Zen sebagai Sekertaris Kabupaten Morowali.
Ibukota kabupatan ini terletak di Bungku. Dalam peta Sulawesi yang berbentuk huruf K, kabupaten ini tepat berada pada ketiak Sulawesi. Berhadapan dengan Teluk Tolo dan Laut Banda, Maluku.
Tanah di Kecamatan Bahodopi, Bungku Selatan, Bungku Pesisir, dan wilayah lainnya di Morowali kaya akan nikel. Menurut Andika, aktivis lingkungan dan salah satu peneliti muda dari Sulawesi Tengah, sejarah pertambangan nikel di Morowali dimulai sejak lama. Ia menyebut di tahun 1600-an, perdagangan biji besi bercampur nikel sudah dilakukan. Ini mengalahkan reputasi besi dari China maupun pembuatan keris oleh pengrajin di pulau Jawa, sebagaimana dikutip dari artikel bertajuk: Kisah Sedih Tambang Nikel di Morowali: Sasaran Empuk untuk Dikeruk, oleh Christopel Paino, Palu, 16 February 2015, yang dimuat di mongabay.co.id
Permukaan tanah dengan mudah dijumpai nikel. Kiri-kanan jalan. Baik yang berada dekat pantai atau pun kawasan hutan. Pelabuhan-pelabuhan kecil dengan kapal yang masih tersandar terlihat jelas. Tumpukan ore (bahan mentah nikel) membentuk bukit seperti sedang baris-berbaris. Dengan mata telanjang semua pemandangan tersaji di pinggir jalan. Tak heran, ratusan perusahaan dalam dan luar negeri berdatangan mencari nikel di Morowali.
Berdasarkan Undang Undang No. 4 tahun 2009 tentang Minerba, menjadi “pintu masuk” berdirinya kawasan industri Morowali. Pada UU tersebut melarang ekspor mineral mentah pada Januari 2014. Dasar hukum ini menjadi cikal bakal berdirinya kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Area IMIP ini berada di Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah terletak di pinggir laut, tampak seperti kebanyakan kawasan industri lainnya. Kawasan pusat industri pengolahan nikel terintegrasi ini berdiri di lahan seluas 2.000 hektare dan terus dikembangkan menjadi 3.000 Ha.
Hadirnya IMIP diprakarsai atas kerjasama antara Delapan Bintang Group dan Tsingshan Group. Sebelum membangun industri berbasis nikel di Tanah Air, Tsingshan Group memiliki 3 unit produkso nikel pig iron (npi) dengan kapasitas 2 juta ton dan 3,4 juta ton stainless steel.
Kawasan ini dikelola oleh PT IMIP dan setidaknya terdapat 5 perusahaan smelter dan produsen baja nirkarat atau stainless steel, yaitu PT Sulawesi Mining Investment, PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, PT Tsingshan Steel Indonesia, PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel, dan PT Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy, sebagaimana dikutip dari KAWASAN INDUSTRI : Morowali, Riwayatmu Kini, oleh David Eka Issetiabudi, 8 Agustus 2018, surabaya.bisnis.com.
Kawasan industri terintegrasi ini dilengkapi sejumlah sarana pendukung. Diantaranya Pembangkit listrik, PLTU dengan kapasitas 1.130 megawatt dan dalam proses pembangunan PLTU dengan kapasitas sebesar 2 x 350 MW. Saat ini, PLTU yang ada di kawasan industri ini pun menyalurkan 5 MW ke transmisi PLN dan ikut membangun kabel transmisi sepanjang 40 kilometer.
Di samping itu, tersedia pelabuhan khusus dengan dua dermaga berkapasitas 100.000 dwt, dan 25 jetty dengan kapasitas tampung 3.000 dwt sampai 30.000 dwt. Kemampuan bongkar muat pada 2017 mencapai 20 juta ton, sementara tahun ini (2018) diproyeksi mencapai 30 juta ton.
PT IMIP saat ini sedang membangun bandara khusus untuk mobilitas karyawan ke berbagai daerah. Bandara ini dibangun di atas lahan 110 Ha, dengan panjang landas pacu sepanjang 1.800 meter. Nantimya pesawat jenis Cesna Caravan, ATR-72, dan embrarer ERJ-145 dapat mendarat.
Rusunawa karyawan. Fasilitas hunian pekerja disiapkan PT IMIP, terdiri dari 8 tower rusunawa yang dibangun perusahaan sementara 3 tower dibangun pemerintah.
Kawasan ini, memberikan nilai tambah serta efisiensi yang tidak kecil. Perusahaan sendiri mengklaim, jika ada standar efisiensi dengan nilai sempurna 10, maka IMIP berani mematok poin 8,5 apa yang sudah mereka kerjakan.
Nilai tambah dari kawasan industri logam terintegrasi ini terlihat dari kinerja ekspor maupun penerimaan pajak. Tahun 2017, ekspor baja nirkarat dari Morowali tercatat US$ 2,6 miliar, sementara tahun 2018 ditargetkan akan menyentuh US$5 miliar, dengan sasaran Amerika Serikat, India dan Eropa. Sedangkan soal pajak, perusahaan telah membayarkan kewajibannya senilai Rp2,09 triliun pada 2017.
Dalam kawasan IMIP, setidaknya dihuni 16 perusahaan yang bergerak di bidang smelter, pembangkit listrik, tambang hingga pelabuhan. Berdasarkan data IMIP per 31 Juli 2018, estimasi tenaga kerja yang terserap dalam industri pendukung kawasan IMIP (kontraktor, supplier) berjumlah sekitar 53.594 pekerja.

PT Industrial Morowali Industrial Park (IMIP) serius mengurangi tenaga kerja asing (TKA) yang saat ini berjumah 2.985 atau sekitar 10,9 persen dari seluruh tenaga kerjanya yang berjumlah 29.000 orang. “Kami serius, makanya kami tanda tangani kerjasama dengan Kementerian Perindustrian untuk pelatihan. Mereka ini yang nantinya akan menggantikan tenaga asing,”kata Advisor bidang Sumber Daya Manusia (SDM) PT IMIP Zulkifli Amran di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antaranews Sulteng.
Menurut Zulkifli, IMIP mampu menyerap tenaga lokal, atau warga yang berasal dan tinggal di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, sebanyak 3.185 orang. Adapun perjanjian tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar dan Managing Direktur IMIP Hamid mina.
Hamid menyampaikan, investasi pada Sumber Daya Manusia (SDM) membutuhkan waktu karena proses mendidik dan melatih. Namun, IMIP berupaya agar porsi tenaga asing di bawah 10 persen dari seluruh tenaga kerja yang ada. “Setiap minggu kami menerima rekrutmen 100-200 orang. Kami juga mencari potensi SDM di universitas yang ada di Palu, Kendari, dan Pulau Jawa,” ungkapnya.
Sementara Kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah akan menghasilkan stainless steel hingga tiga juta ton per tahun pada 2018. Pada 2017, kawasan tersebut menargetkan produksi hingga dua juta ton. Kapasitas produksi bisa meningkat karena beberapa industri pengolahan dan pemurnian (smelter) berbasis nikel di kawasan tersebut telah menyatakan minat perluasan usaha dalam waktu dekat.
Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Chairman Tsingshan Holding Group Tiongkok, Xiang Gangda serta Duta Besar RRT untuk Indonesia, Xie Feng. Turut hadir pada pertemuan tersebut, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Harjanto serta delegasi dari Bintang Delapan Group, PT Sulawesi Mining Investment dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

“Selain melaporkan mengenai rencana ekspansi stainless steel, mereka juga ingin memproduksi carbon steel. Untuk itu, mereka meminta beberapa fasilitas insentif seperti kemudahan impor tujuan ekspor (KITE) dan masterlist peralatan industri,” papar Airlangga di Jakarta, Maret tahun lalu, dalam siaran pers Kementerian Perindustrian.
Sementara Harjanto menyampaikan, kawasan yang dikelola oleh PT IMIP tersebut juga meminta agar ditetapkan sebagai obyek vital nasional. Diharapkan, status tersebut dapat memberikan jaminan keamanan dan kelancaran bagi investasi dan kegiatan produksi industri, termasuk perlindungan para karyawan. “Karena investasi mereka cukup besar. Misalnya untuk investasi produksi carbon steel sebanyak 4-5 juta ton per tahun, diprediksi mencapai USD 4-5 miliar,” ungkapnya.
Merujuk data PT IMIP, proyek baru di kawasan industri Morowali yang dilaksanakan pada tahun 2017-2018, antara lain pabrik stainless steel PTSulawesi Mining Investment untuk kapasitas produksi stainless steel slabsebesar satu juta ton per tahun dengan nilai investasi mencapai USD 62 juta. Selanjutnya, PT IMIP akan membangun PLTU dengan kapasitas 2×350 MW senilai USD 500 juta.
Perkembangan pembangunan industri smelter nikel dan fasilitas pendukung lainnya di kawasan industri Morowali, antara lain telah beroperasinya industri smelter feronikel PT Sulawesi Mining Investment yang berkapasitas 300 ribu ton per tahun sejak Januari 2015. Pabrik ini didukung oleh satu unit PLTU dengan kapasitas 2×65 MW. Pada tahun 2015, perusahaan telah menghasilkan nickel pig iron(NPI) sebanyak 215.784,11 ton per tahun.
Selanjutnya, sejak Januari 2016, telah beroperasi industri smelter feronikel PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun dan didukung oleh satu unit PLTU berkapasitas 2×150 MW. Pada awal 2016, perusahaan mencatatkan produksi sebanyak 193.806ton. Sebagai tahap lanjutan dari PT. Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, saat ini juga telah dilakukan commissioning test pabrik stainless steel dengan kapasitas 1 juta ton per tahun.
Selain itu, terdapat pula industri smelter feronikel PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel dengan target kapasitas 600.000 ton per tahun dan stainless steel sebanyak 1 juta ton per tahun yang tahap pembangunannya saat ini mencapai 60 persen. PT. Indonesia Ruipu Nickel and Chrome yang merupakan smelter Chrome juga masih dalamtahap pembangunan dengan progress 60 persen, yang diharapkan pada awal tahun 2018 pabrik inidapat mulai berproduksi.
Industri smelter lainnya, yakni PT. Broly Nickel Industry. Pabrik Hidrometalurgi ini memiliki kapasitas nickel matte sebanyak 2 ribu ton per tahun, yang akan dikembangkan menjadi 8 ribu ton per tahun nikel murni sedang dalam uji coba produksi.
Sementara Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, pihaknya akan mendorong penerapan teknologi 5G di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Dengan demikian, kawasan ini akan menjadi kawasan industri di luar Jawa yang pertama kali menerapkan 5G. Industri 4.0. Pembangunan infrastruktur jaringan ini dipandang sangat membantu perjalanan revolusi industri mendatang. “Ini jadi kompleks pertama untuk dikembangkan teknologi komunikasi 5G,” kata Airlangga di Morowali, Sulawesi Selatan, Januari lalu, sebagaimana dikutip dari merdeka.com.
Sementara pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Morowali pada 2017 mencapai 13 persen, ternyata mengalahkan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang ekonominya hanya tumbuh sebesar 4,13 persen. Hal itu disampaikan Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faruk Ishak saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Morowali, pada 9 Februari 2018, sebagaimana dikutip dari sultengraya.com.
Kepala BPS Kabupaten Morowali, Simon Antalis mengatakan “Ekonomi Kabupaten Morowali tahun 2017 tumbuh 14,42 persen meningkat dibanding tahun 2016 sebesar 13,18 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Industri Pengolahan sebesar 21, 85 persen disusul jasa keuangan dan asuransi sebesar 24,26 persen penggalian serta pertambangan 16,48 % persen,” tandasnya, sebagaimana dikutip dari mercusuar.web.id.
Sementara Asisten II bidang Perekonomian, Pembangunan dan Kesra Sekretariat Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Bunga Elim Somba, mengatakan, Provinsi Sulawesi Tengah mempunyai tiga kawasan industri antara lain yang ada di Palu, di Kabupaten Banggai dan di Kabupaten Morowali. Ketiga kawasan industri yang ada di Sulawesi tengah. Kabupaten morowali mempunyai peran penting terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah. Sehingga sering disebut-sebut beberapa tahun terakhir bahwa pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah tertinggi di Indonesia itu diakibatkan kontribusi Kabupaten Morowali,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari iglobalnews.co.id.
Apa yang dihasilkan dari Kapubaten Morowali sungguh luar biasa. Saat ini pula pertumbuhan investasi di Kabupaten Morowali sudah mencapai 17, 8 triliun. Hal ini sangat membanggakan dengan mendapatkan penghargaan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan hilirisasi telah ditetapkan pemerintah. Menurutnya, dengan kewajiban hilirisasi mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu contohnya di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, di mana pertumbuhan ekonomi daerah tersebut mencapai 60 persen. [] dari beberapa sumber/Yuniman Taqwa
