Budaya Mudik Dorong Ekonomi Daerah

Ratusan triliun  dana berputar dalam momentum arus mudik lebaran. Dana sebesar itu membawa kemaslahatan bagi masyarakat desa. Semua pihak harus menjaga momentum itu agar tetap kondusif selama musim mudik lebaran.

Mudik lebaran memang sudah menjadi budaya di negeri ini. Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, fenomena itu bagai eksodus arus balik masyarakat perantau ke kampung halaman. Ada semacam ikatan batin yang tak terpisahkan terhadap kampung halaman. Berapa pun biaya yang harus digelontorkan untuk memenuhi hasrat itu, diupayakan untuk direalisasikan.

Tradisi itu sudah menjadi ritual budaya sebagai penghormatan “anak negeri” terhadap sanak saudara di kampung halaman. Bila ritual itu terabaikan, bukan tidak mungkin terkena sanksi sosial – di pertanyakan komunitas di kampung halaman – atas eksistensi di perantau. Itulah jawaban mengapa mudik lebaran menjadi “sakral sosial” dalam menunjukkan eksistensi.

Berdasarkan data Badan Litbang Kementerian Perhubungan, terdapat 14.901.468 juta orang penduduk Jabodetabek akan mudik. Jika dilihat dari jumlah total penduduk Jabodetabek pada 2018 yakni 33.759.549 orang, artinya 44.1% penduduk Jabodetabek akan mudik pada saat Lebaran 2019 nanti.

Rata-rata tujuan pemudik dari Jabodetabek adalah wilayah Jawa Tengah. Berdasarkan hasil sigi Balitbang, sebesar 37,68 persen atau 5.615.408 orang bakal mudik ke Jawa Tengah. Sedangkan pemudik ke Jawa Barat berjumlah 24,89 persen atau 3.709.049 orang dan pemudik dengan tujuan Jawa Timur hanya 11,14 persen atau 1.660.625 orang.

Namun dibalik budaya mudik lebaran, terkandung multiplier effect ekonomi yang cukup signifikan bagi daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai budaya merentau. Badan Penelitian Pengembangan, Kementerian Perhubungan merilis hasil survei mudik lebaran 2019 pada  9 April 2019.  Berdasarkan hasil survei itu, maka Balitbang Kemenhub memprediksi total biaya yang dihabiskan pemudik Jabodetabek selama Lebaran mencapai Rp 10,3 triliun.

Kepala Balitbang Kemenhub Sugihardjo  mengatakan, dana terbanyak mengalir di Jawa Tengah mencapai Rp 3,8 triliun. Menyusul ke Jawa Barat sebesar Rp 2,05 triliun. Sementara itu, transaksi total terendah mengalir di Jawa Timur, yakni hanya Rp 1,3 triliun.

Masih menurut survey Litbang Kementerian Perhubungan, rata-rata per-pemudik, tak lebih dari Rp 2,5 juta data yang dikeluarkan para pemudik. Sebanyak 20,9% pemudik Jabodetabek hanya menghabiskan uang Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta saat mudik. Sedangkan 20,1% lainnya mengeluarkan dana sebanyak Rp 1,5 hingga Rp 2,5 juta.

Survei yang dilakukan Litbang Kementerian Perhubungan tersebut melibatkan 7.762 orang responden rumah tangga. Hasilnya juga menyebutkan  perkiraan total biaya transportasi perjalanan selama mudik mencapai Rp 6 triliun. Dimana sekitar Rp 945 miliar dikeluarkan untuk tujuan mudik ke Jawa Barat dan Rp 791 miliar ke Jawa Timur.

Tentu angka pengeluaran pemudik lebih besar lagi bila dihitung dalam skala nasional. Misalnya arus mudik dari Sumatera ke Jawa atau sebaliknya. Dari Indonesia Barat ke Indonesia Timur atau sebaliknya, sehingga bila diakumulasikan nilai ekonomi dari kegiatan mudik dapat memberi kemaslahatan daerah-daerah yang menjadi tujuan mudik di seantero Indonesia.

Para pemudik ini membawa sebagian hartanya untuk dibagikan kepada sanak saudara dan lingkungan terdekatnya, sehingga dampak ekonomi “uang kota” ini ke daerah cukup besar. Berpengaruh pada meningkatnya konsumsi dalam bentuk pembelian baju baru, makanan khusus Lebaran, selamatan Lebaran, serta transportasi dalam bentuk budaya saling mengunjungi.

Dari sisi keuangan, Direktur Indonesia Development dan Islamic Studies (IDEAS) memperkirakan sedikitnya terjadi perputaran uang sebesar Rp142,2 triliun dari para pemudik untuk keperluan transportasi, akomodasi, konsumsi, dan rekreasi selama Lebaran. IDEAS memproyeksi setidaknya ada pergerakan 33 juta orang pemudik. Jika ditambahkan dengan perhitungan tunjangan hari raya (THR) dan tingkat upah minimum provinsi, proyeksi keuangannya kembali membengkak sebesar Rp63,6 triliun.

Angka tersebut diestimasikan dari perkiraan jumlah pemudik dengan status pekerja yang mencapai 15,3 juta orang dan melakukan remitansi ke daerah asalnya. Sehingga total pergerakan keuangan selama Lebaran kemarin bisa menembus Rp205,8 triliun. Angka yang terhitung sangat bombastis untuk ukuran aktivitas dengan jenjang waktu yang hanya berjalan kurang lebih 14 hari, yang nyaris setara dengan 10% APBN 2017 atau 1,5% PDB Indonesia, lihat artikel bertajuk Ekonomi Mudik, oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Candra Fajri Ananda, yang dimuat di feb.uba.ac.id.

Menurut Candra Fajri Ananda, Tidak hanya kalangan pemudik saja yang rela jor-joran dalam pengeluaran. Bahkan pemerintah dari level daerah hingga nasional juga seakan tak ingin kalah untuk memforsir segala aset politiknya demi menjaga keguyuban suasana Lebaran.

Lebih lanjut ditambahkan, pembangunan infrastruktur, khususnya untuk sarana dan prasarana transportasi, terus digenjot hingga detik-detik akhir Ramadan. Selain itu, juga didukung dengan koordinasi kelembagaan yang berjalan efektif antara Kementerian Perhubungan, Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, serta Polri. Belum lagi dengan ide ditambahkannya cuti bersama untuk memecah puncak arus mudik agar tidak terlalu menumpuk di akhir-akhir Ramadhan.

Oleh karena itu, kata Candra Fajri Ananda, sudah saatnya bagi pemerintah daerah maupun desa untuk semakin membangkitkan jiwa nasionalismenya melalui jalur kebijakan pembangunan ekonomi masyarakatnya. Jiwa-jiwa “parahita” (memperhatikan kesejahteraan orang lain) yang terbukti tumbuh subur selama Lebaran kemarin, dapat dilanjutkan sebagai modal media sosial yang semakin kuat. Mudah-mudahan pemerataan kemenangan yang terjadi pada Lebaran kemarin mampu kita pertahankan.

Pengamat ekonomi dari Indef, Eko Listiyanto, mengatakan tradisi mudik membawa dampak positif terhadap ekonomi daerah, terutama yang penduduknya kerap merantau. Namun, untuk daerah yang minim sektor pariwisata atau penduduknya tak banyak merantau, dampak (mudik Lebaran) akan sangat tergantung hal-hal kreatif yang bisa mereka lakukan agar warga tertarik membelanjakan uang, misalnya dengan festival budaya atau kuliner, sebgaimana dikutip dari mediaindonesia.com.

Ke depan multiplier effect mudik lebaran akan semakin memberi kemaslahatan bagi daerah-daerah. Hal ini disebabkan infrastruktur konektivitas antara daerah yang semakin makin memadai, membuat arus barang dan penumpang semakin cepat, sehingga jumlah pemudik dari waktu ke waktu akan meningkat. Semakin banyak arus mudik lebaran ke daerah-daerah, akan mendorong dampak ekonomi bagi daerah..[] Yuniman Taqwa/Ilustrasi:Nusantara News