Ciptakan Menu Baru dan Multi Channel di Tengah Pandemi
Bisnis model kuliner perlu cepat beradaptasi di tengah pandemi. Selain dituntut harus cepat menciptakan menu-menu baru, perlu juga membangun multi brand sampai multi channel. Apa kata Rex Marindo, Founder @foodizz.id, menghadapi kondisi pandemic saat ini?
Fenomena pandemic Covid-19 merubah landscape industri food and beverage (F&B). Berdasarkan survei yang dilakukan Inventure-Alvara pada pertengahan Juni lalu menyebutkan, sebanyak 86,7% responden setuju memilih resto/kafe bersertifikat halal dan sebanyak 78,8% responden memilih resto dan kafe yang bersertifikat CHSE (cleanliness, health, safety and environment) yang dikeluarkan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf).
Menurut Rex Marindo, Founder @foodizz.id, tantangan di masa pandemi seperti saat ini cukup besar bagi pengusaha kuliner yang bisnis modelnya sangat tergantung dengan dine in dan delivery order, di mana aturan pemerintah, khususnya dine in sangat ketat (sampai tutup sama sekali atau pun pengurangan kapasitas), apalagi yang berada di dalam mall, sehingga cukup banyak yang akhirnya mati.
Yang menarik di sini sebetulnya, kata Rex Marindo, untuk pemain kuliner, khususnya yang terlalu mengandalkan dine in, saat mulai terbuka pemikirannya untuk mulai mengadopsi bisnis model yang juga kuat secara delivery order, mulai dari menciptakan menu baru, meluncurkan brand baru, atau melakukan pivot. “Hal yang menarik juga adalah mulai digunakannya Multi Channel Sales, yang mungkin dulu tidak menjadi prioritas dan perhatian utama seperti mulai menggarap sales dari WA order, marketplace, dan website sendiri,” kata Rex kepada pelakubisnis.com, Minggu kedua, Oktober lalu.
Ia menambahkan, strategi yang paling penting dan perlu kita pelajari dari kondisi saat ini adalah dengan membangun Multi Channel Sales, sehingga kita bisa membangun sales dari berbagai sumber (WA order, Marketplace, Big Order, Delivery, Catering, dan lain-lain) dan ini akan menjadi salah satu fundamental penting yang perlu dibangun dan dikembangkan ke depannya.
Lebih lanjut ditambahkan, salah satu trend yang juga berkembang adalah mulai banyaknya Cloud Kitchen yang muncul dengan berbagai model (Brand Owner Operator, Operator, Space Rent, dan lain-lain) dan juga maraknya muncul House Hold Cloud Kitchen. Di mana bisnis berkembang dari dapur rumah dan garasi rumah. Jadi memang bisnis kuliner makin seru.
Model seperti ini sedang tren dengan nama dapur satelit atau istilah kerennya Cloud Kitchen. Kalangan UMKM yang gagap teknologi cukup terbantukan dengan adanya konsep dapur bersama ini karena mereka tak perlu pusing dengan urusan delivery order karena sudah ada pengelola Cloud Kitchen yang membantu dari sisi teknologi dan fasilitas dapur dari penyedia layanan delivery ini.
“Mungkin model ini akan berkembang ke depannya. Selain Hangry! Ada Yummy! Dan terakhir ada investasi senilai Rp 45 milliar untuk Daily Box. Which is Daily Box mungkin kita tidak menemukan outletnya karena kebanyakan mereka ada di Yummy Kitchen! Yang sebenarnya itu Cloud Kitchen. Itu dia yang saya sebut tadi, ‘Small is a New Big’,”terang pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan ini, sebagaimana dikutip dari Laporan Utama Pelakubisnis.com edisi Agustus, bertajuk: Bisnis F&B, Merubah Strategi, Inovasi atau Mati.
Sementara bisnis model kemitraan atau franchise, jika melihat selama satu tahun belakangan ini justru berkembang cukup pesat. Banyak brand-brand baru muncul dengan konsep bisnis dan meledak seperti kategori produk minuman, sei (sapi), dan burger. Hal ini menunjukan jika industri kuliner malah makin seksi dan menjadi salah satu penopang pembuka lapangan pekerjaan dengan cepat.
Di samping itu, menurut Rex, gerai semakin dekat dengan konsumen dapat dilihat dengan dua konsep. Pertama dekat dalam artian bisa dengan jalan kaki. Kedua dekat bisa dengan delivery order. “Nah, yang kedua tentu akan sangat penting karena market delivery online makin besar, sehingga brand kita perlu untuk bisa masuk ke wilayah delivery mereka. Di sisi perusahaan kita harus mengatur jarak ini agar tidak terjadi kanibalisasi, kecuali memang kita lihat marketnya masih bisa growth, biarpun akan ada perpotongan antar cabang,” lanjutnya serius.
Dalam acara webinar Indonesia Industry Outlet 2021, Rex mencatat, ada sembilan hal yang menjadi konsern di F&B Industries, terkait dengan hasil temuan yang disampaikan Inventure-Alvara. Menurut Rex dari kesembilan hal yang disampaikan semuanya terangkum menjadi sebuah persepsi tentang tren yang berkembang di industri F&B saat ini, yaitu “Small is a New Big’. Model small resto akan berkembang semakin massive ke depannya.
Apa indikator yang membuat cara ini bisa berkembang di masa mendatang? Menurut Rex, ada lima faktor yang menyebabkan model ini diminati investor. Pertama, Model ini diminati oleh investor karena bisa growth dengan sangat cepat (Kopi Kenangan, Haus, Hangry, dan lain-lain). Kedua, Model ini Low Capital expenditure (Capex) atau modal awal lebih kecil. Ketiga, model ini lebih risk affordable. Keempat, harga properti yang makin mahal juga membuat model ini lebih feasible untuk dieksekusi. Dan kelima, model ini juga bisa lebih dekat dengan target market.
Menurut Rex Marindo, ada 5 aspek penting dalam bisnis yaitu data, fakta, informasi, pengetahuan, dan experience. Menurutnya, tanpa adanya experience pelaku usaha masih bisa menjadi pebisnis yang sukses, namun jika pebisnis tidak menjembatani empat aspek sebelumnya, maka kendala yang dihadapi akan semakin banyak. Namun kendala lainnya, yaitu banyak rintangan yang membuat inovasi tidak kunjung muncul, itulah mengapa banyak pelaku usaha yang jarang sekali membuat sesuatu yang baru pada produknya , sebagaimana dikutip dari digination.id, dalam artikel bertajuk: Lawan Rintangan dan Mulai Cepat Inovasi Bisnis di Masa Pandemi.
Pada masa dinamisnya pola hidup masyarakat, kecepatan menjadi satu-satunya kunci utama. Yang biasanya seorang leader menentukan menu baru dari 3 bulan sebelumnya, saat ini bisa hanya dalam hitungan hari. Pada perbincangan #LeadingThroughCrisis, Rex mempertegas “Inovasi harus menjadi DNA di perusahaan”, karena jika inovasi menyebar ke seluruh jajaran, kecepatan dalam menjalankan bisnis pun akan berjalan.
Ia menjelaskan, selalu banyak rintangan dalam memulai inovasi, dari kurangnya memahami pola teori, tidak mempelajari data, hingga berhentinya ide di tengah jalan. Lalu apa yang harus dilakukan agar rintangan tersebut bisa dilewati? Tentu, dengan memperdalam pola teori tersebut, coba implementasikan inovasi, perdalam informasi data, dan perkuat ide.
Sedangkan pemain lama yang secara fundamental memang sudah kuat (Model, Operation, Brand), tambah Rex, hanya butuh waktu untuk kembali rebound jika kondisi sudah membaik Namun pemain baru yang model bisnisnya Investable juga menjadi RISING STAR baru di dalam industri kuliner yang nilai investasinya bisa dibilang sangat besar seperti Hangry!, Dailybox, Haus, Kopi Kenangan, dan lain-lain. “Melihat market akan terus dinamis tentunya, yang relevan dan inovatif akan terus bertahan baik itu pemain lama maupun pemain baru, ” pungkas penggagas lahirnya PT Citarasa Prima/CRP Group dengan brand Warunk Upnormal dan Bakso Boedjangan ini.[] Siti Ruslina


