PT Astra Daihatsu Motor Jalankan 4 Pilar CSR

Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) yang dijalankan PT Astra Daihatsu Motor bukan sekedar lips service, tapi  dijalankan dengan pendekatan P3 dengan konsep  sustainability dalam SDG’s. Bagaimana produsen otomotif menyusun dan menerapkan program CSR?

PT Astra Daihatsu Motor (ADM) sangat konsen terhadap kegiatan CSR. Konsep CSR yang dijalankan didasarkan pada triple P (planet, People dan Profit). Konsep ini kemudian dikorelasikan dengan konsep sustainability dalam SDG’s (Sustainability Development Goals).  Secara umum kagiatan CSR kami bergerak di 4 pilar utama yaitu: Pendidikan, disebut Pintar Bersama Daihatsu; Kesehatan, disebut Sehat Bersama Daihatsu; Lingkungan, disebut Hijau Bersama Daihatsu dan Pemberdayaan Masyarakat, disebut Sejahtera Bersama Daihatsu.

Menurut Yoga D Suryawan, Head, General Affairs Division PT Astra Daihatsu Motor, Keempat pilar tersebut diimplementasikan di area cakupan CSR  ADM  yang dibagi dalam 3 area, yaitu: Ring 1 – yang berbatasan langsung dengan area kerja perusahaan, baik di Sunter maupun Karawang. Ring 2 – yang terletak di 1 provinsi dimana ADM berada, dan Ring 3 – yang terletak sampai ke luar pulau, di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri.

“Untuk program-program yang mendukung community development, tentu kami hingga saat ini tetap men-support kegiatan-kegiatan tersebut, bahkan kami menjalin hubungan yang sangat baik dengan warga masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah perusahaan. Program-program community development disusun melalui social mapping dan diskusi dengan masyarakat dan pemerintah setempat. Tujuan dari program community development kami adalah menciptakan masyarakat yang mandiri dalam menjalankan kegiatan dan memenuhi kebutuhan mereka. Untuk program-program di luar ring 1, kami juga mengimplementasikan secara rutin seperti program SMK Binaan dan perlindungan hewan langka, lewat program Penyu Untuk Indonesia dimana kedua program tersebut sudah menyentuh hampir seluruh provinsi di Indonesia. ,” katanya kepada pelakubisnis.com, akhir Februari lalu.

Yoga menambahkan, sejalan dengan SDG’s, untuk sektor pendidikan  CSR ADM  menaruh fokus di pengembangan dunia Vokasi. ADM mengembangkan program yang dinamakan “Pintar Bersama Daihatsu”, bekerja sama dengan pemerintah dan sekolah untuk mempersiapkan lulusan-lulusan SMK siap bekerja sesuai dengan yang dibutuhkan dunia industri.

“Implementasi programnya secara umum adalah dengan integrasi kurikulum yang sudah ada di SMK dengan kurikulum di Daihatsu yang sejalan dengan dunia industri. Kami menggandeng pemerintah sampai level Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk pengembangan program ini, bersama dengan 400 SMK Binaan sampai dengan Januari 2022 kemarin. Implementasi program antara lain melalui pengembangan softskill guru dan siswa, hardskill, assessment system, pengembangan dojo/pusat pelatihan di SMK dan juga dukungan sarana prasarana di sekolah,” urai Yoga serius.

Fokus SDM dalam sektor pendidikan, menurut Yoga,  adalah meningkatnya jumlah angkatan kerja yang menjadi bonus demografi di Indonesia.  Hal ini harus dibarengi dengan peningkatan mutu pendidikan. CSR ADM berusaha meningkatkan kompetensi angkatan kerja yang dihasilkan oleh sekolah melalu program Pintar Bersama Daihatsu. Mempersiapkan anak didik sehingga ketika lulus, mereka telah memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri dan memliki kualitas yang diakui dan teruji. “Tidak hanya sebatas memberikan buku, program pendidikan kami menyeluruh mulai dari software, hardware maupun brainware yang semuanya memang sangat dibutuhkan sekolah-sekolah,” lanjut Yoga.

Sementara kegiatan CSR yang akan diimplementasi melewati beberapa tahapan mulai dari diskusi bersama 7 stakeholders (masyarakat sekitar, pemerintah, customer, lingkungan, shareholder, supplier dan karyawan). Kemudian berbagai program CSR yang disusun dengan harus  mempertimbangkan berbagai aspek seperti kesesuaian dengan kebutuhan stakeholders, sejalan dengan program pemerintah dan mendukung keberlanjutan bisnis perusahaan.

“Dalam CSR tentu kita semua sepakat bahwa yang terpenting adalah benefit (dampak baik) yang diterima oleh penerima manfaat. Maka dari itu koordinasi dengan berbagai pihak didalamnya termasuk pemerintah setempat dan instansi lain sehingga apa yang semua pihak lakukan saling mendukung satu sama lain,” tambah Yoga.

Lebih lanjut ditambahkan, ADM tidak pernah melihat CSR yang dalam persfektif sebagai cost center.  Pasalnya, kegiatan  CSR di sini masuk ke dalam strategi perusahaan untuk sustain. CSR melakukan apa yang memang menjadi kebutuhan bagi perusahaan dan bagi seluruh stakeholder dalam mendukung sustainability. Bahkan CSR saat ini menjadi bagian tidak terpisahkan bagi perusahaan dalam membangun brand Daihatsu dan mendukung operation.

Brand Daihatsu, kata Yoga,  juga disupport melalui CSR sehingga secara tidak langsung bisa dianggap sebagai profit center bagi korporasi. “Beberapa program CSR menyasar penerima program yang sangat dekat dengan target market Daihatsu sendiri,” katanya seraya menambahkan, misalnya program pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di seluruh Indonesia. Program ini  tak dapat dilepaskan dari harapan ADM dalam meningkatkan penjualan.

“Sementara sumber dana CSR perusahaan sudah dianggarkan setiap tahunnya dan mendapat persetujuan top manajemen kami. Namun untuk besaran detilnya mungkin tidak dapat diungkapkan secara rinci,” lanjut Yoga.

Namun demikian, anggaran CSR sebelum dan saat pandemic covid 19 sebenarnya tidak berbeda. Tapi yang membedakan adalah aktivitas/program yang dijalankan. “Selama pandemic ini, kami mencoba menaruh fokus untuk penanggulangan pandemic dan mendukung program pemerintah dalam hal tersebut. Sedangkan program-program yang saat ini kurang prioritas kami alihkan untuk menunjang program-program dalam menghadapi pandemi covid ini,” tambah Yoga serius.

Sasaran CSR ADM sangat relate dengan target SDG’s. Misalnya peningkatan mutu pendidikan, kehidupan masyarakat yang berkualitas dan kehidupan bawah laut. Sasaran tersebut, jelas Yoga, jabarkan dalam Key  Performance Indicator (KPI) yang didalamnya mencakup kualitas dan kuantitas. Kualitas misalnya bagaimana respon masyarakat setelah menerima program CSR Daihatsu, manfaat yang didapat, perbaikan ekonomi dan perbaikan wilayah. Untuk kuantitas, tolak ukur keberhasilan adalah penambahan jumlah untuk program-program yang dijalankan (misalnya jumlah sekolah, jumlah guru terekspose program, jumlah konservasi penyu, tukik yang dilepaskan, perbaikan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat. penambahan income masyarakat dan sebagainya).

“Evaluasi dilakukan secara berkala mulai dari level penerima program dengan PIC CSR kami, kemudian level departemen CSR sendiri, level divisi sampai dengan level direktorat. Selain itu program-program CSR yang dijalankan juga diaudit secara berkala oleh Astra Internasional selaku holding company kami,” jelas Yoga.

Sementara untuk voluntary program secara umum manajemen  ADM menggandeng para karyawan, konsumen dan para supplier. Namun kerjasama ini tidak terjadi di seluruh program, sifatnya hanya program-program atau project-project tertentu saja. “Tentu saja kedepannya harapan kami ingin menggandeng karyawan dan supplier kami untuk ber-CSR bersama sehingga cakupan CSR kami  semakin luas dan penerima manfaatnya semakin banyak,” tandasnya mengunci percakapan.[] Siti Ruslina/foto ilustrasi utama: doc. Daihatsu