Bangkitnya Bisnis Properti Dorong Industri Baja Ringan
Salah satu indikator yang membuat industri baja ringan tumbuh pada tahun ini adalah mulai membaiknya sektor properti. Pelaku industri properti berupaya mendorong pemulihan ekonomi secara nasional di tahun 2022.
Langkah ini dilakukan kalangan pengembang perumahan seiring pertumbuhan ekonomi positif di kuartal 1/2022 yang mencapai 5%. Pencapaian itu mengikuti jejak pertumbuhan kuartal IV akhir 2021 yaitu 5,02%. Apalagi, sektor ini merupakan salah satu industri yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai target yang ditetapkan pemerintah sebesar 5,2% hingga di akhir 2022.
Sementara Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer tumbuh meningkat pada triwulan I-2022. Hal ini tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I-2022 yang tercatat 1,87% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 1,47% (yoy).
Sedangkan dari sisi penjualan, hasil survei triwulan I-2022 mengindikasikan adanya perbaikan penjualan properti residensial di pasar primer meskipun masih terkontraksi. Perbaikan tersebut tercermin dari penjualan properti residensial yang terkontraksi sebesar 10,11% (yoy) pada triwulan I-2022, lebih baik dari kontraksi triwulan sebelumnya sebesar 11,60% (yoy).
Menurut Head of Capital Markets & Investment Services, Colliers, Steve Atherton , terlepas dari segala ketidakpastian pada tahun 2021, tetap terlihat ada beberapa tanda-tanda positif. Pemerintah Indonesia tampaknya dapat mengelola kebijakan ekonomi dan kesehatan selama pandemi Covid-19 dengan cukup baik.
Fitch mempertahankan peringkat kredit BBB untuk Indonesia dengan target pertumbuhan GDP pada tahun 2022 sebesar 6,8%. Secara historis, ketika ekonomi mengalami pertumbuhan, maka pasar properti akan ikut bertumbuh, dan permintaan pengguna serta investasi juga akan meningkat, sebagaimana dikutip dari artikel bertajuk Meneropong Bisnis Properti Tahun 2022, yang dimuat pada pelakubisis.com, pada Januari 2022.
Berdasarkan fenomena tersebut industri baja ringan turut terdongkrat karena iklim ekonomi yang kondusif dengan bisnis properti mulai bergerak tumbuh. Pasalnya, hampir sebagai besar pembangun kontruksi atap rumah banyak menggunakan baja ringan. Peggunaan baja ringan dinilai lebih lebih tahan lama dan lebih efisien dibandingkan menggunakan konstruksi atap kayu.
Rangka atap baja ringan saat ini tengah menjadi tren baru di dalam teknik bangunan rumah dan gedung. Hal tersebut tak lain karena penemuan terbaru di bidang pembangunan rumah ini memiliki bahan yang disebut-sebut dapat mengalahkan keunggulan atap kayu dan atap baja konvensional.
Pemerintah terus menggenjot pemanfaatan Produk Dalam Negeri (PDN) melalui Kementerian dan Lembaga (K/L) hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini sesuai dengan beberapa kali arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang melarang belanja impor terhadap produk yang sudah bisa diproduksi di Tanah Air. Upaya ini mendapat apresiasi dari para pelaku industri dan UMKM di Tanah Air, termasuk dari sektor konstruksi, khususnya di industri baja ringan.
Dengan adanya kebijakan pemanfaatan produk dalam negeri ini diharapkan, industri baja ringan di Indonesia diharapkan dapat bangkit kembali. Vice President PT Tatalogam Lestari (Tatalogam Group) Stephanus Koeswandi sebagai salah satu pelaku industri di sektor ini menegaskan, peluang ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pelaku usaha.
Menurutnya, saat ini masa peralihan dari pandemi ke endemi. Terkait hal ini, dia menyebut bahwa semua negara sudah mulai menata kembali kehidupannya. “Produsen-produsen baja dunia juga sudah mulai bangkit. Untuk itu, upaya pemerintah Indonesia dalam melindungi industri dalam negeri ini patut diapresiasi. Karena dengan peningkatan pemanfaatan produk dalam negeri, perekonomian bangsa akan kembali menggeliat,” terang Stephanus, dikutip dari keterangan resmi pada 7/6, sebagaimana dikutip dari kompas.com.
Meski begitu, pihaknya sadar betul peluang ini juga harus diimbangi dengan tanggungjawab yang besar. Salah satunya terkait kualitas produk yang harus terus ditingkatkan. Ia mengatakan, gerakan ‘Bangga Buatan Indonesia’ seharusnya bukan hanya untuk pengguna, namun juga harus dimaknai produsen sebagai sebuah tantangan dalam menciptakan produk yang lebih inovatif, berkualitas, dan berdaya saing tinggi.
“Dan bagi kami, kebanggaan itu harus terus ditingkatkan lagi sehingga produk buatan Indonesia lebih inovatif, berkualitas serta berdaya saing tinggi,” tandasnya. Contohnya untuk pasar lokal, Tatalogam saat ini telah mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI), yang secara spesifik SNI wajib baja ringan yaitu SNI 8399:2017.
“Ini sangat penting mengingat kaitannya dengan keselamatan konstruksi. Seperti kita ketahui bahwa baja ringan sudah banyak digunakan. Sayangnya masih ada juga kejadian gagal konstruksi. Bangunan ambruk contohnya,” ungkap Stephanus. Karena itu, menurutnya SNI wajib baja ringan dapat meminimalisir timbulnya kerugian materi bahkan kerugian nyawa.
Sementara itu, masih dari sumber kompas.com, menanggapi maraknya impor produk baja ringan dari negara-negara penghasil baja dunia, Dirjen Bina Konstruksi Kementarian PUPR Yudha Mediawan memastikan, Kementerian PUPR telah mengambil langkah untuk mengantisipasinya. “Kalau untuk kebutuhan baja ringan ini kan memang kita sudah mengantisipasi. Artinya dengan rantai pasok yang ada itu sebarannya kita petakan. Dan itulah yang nantinya kita manfaatkan untuk konstruksi di kita terutama untuk di perumahan, ataupun di keciptakaryaan,” jelasnnya.
“Kita mendorong produk-produk dalam negeri untuk dimanfaatkan. Jadi dalam kontrak ini kalau di PUPR tidak langsung dengan penyedia jasa/ vendor. Dia kontraknya dengan Badan Usaha Jasa Konstruksi (BUJK). Nah nanti BUJK inilah yang membuat kontrak dengan vendor untuk pembelanjaan itu. Jadi termasuk baja ringan, ini menjadi perhatian kita,” sambung Yudha.
General Manager Sales & Marketing PT Sunrise Steel Filipus Tedjo Baskoro
mengatakan, Produsen baja ringan ini memperkenalkan salah satu inovasinya yaitu produk baja lapis aluminium seng. Produk bernama Zinium Diverso itu memiliki perbedaan massa lapisan dan kualitas. produk itu dipamerkan di Indobuildtech Expo 2022 di ICE BSD City, Tangerang. Filipus yakin produknya bisa menjawab tuntas kebutuhan akan jaminan kualitas terbaik, sebagaimaa dikutip dari medcom.id, pada 25/3 lalu.
Ia optimistis adanya peningkatan permintaan bahan baja ringan terutama yang menunjang sektor konstruksi sejalan dengan pembangunan di Indonesia. Apalagi angka kasus covid-19 yang sudah melandai.
Namun demikian, adanya fluktuasi harga baja yang menunjukkan tren yang cenderung tinggi dan belum diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat merupakan tantangan tersendiri. Di sisi lain masih maraknya peredaran baja ringan di pasaran yang ditawarkan dengan harga yang “asal murah” yang mengabaikan spesifikasi serta kualitas bahan baku yang digunakan. “Zinium secara terus menerus melakukan inovasi dalam rangka menghadirkan produk berkualitas bagi para pelanggan serta konsumen akhir,” ujar Filipus.[] Yuniman Taqwa


