Kiprah Bisnis Sonny Idroes Membangun Tsamara Resto
Mengemas restaurant and function hall ke dalam beberapa area dengan konsep dine-in and picnic area (outdoor) dalam satu lahan, membuat Tsamara Resto menjadi pilihan masyarakat di sekitar Jabodetabek. Penasaran, siapa gerangan pemilik resto yang berlokasi di Jalan Hankam, Jatiranggon, Bekasi ini?
Boleh jadi kalau hanya kebetulan lewat Jalan Hankam Jatiranggon Bekasi, Anda tak akan menemukan Resto Tsamara. Letaknya di pinggir jalan raya namun posisi bangunan resto memang kurang terlihat. Tapi sebenarnya terpampang brand Tsamara Resto persis di pinggir jalan diantara pepohonan yang rindang.
“Maaf Pak, hari ini semua area resto sudah ada yang booking untuk acara perkawinan,”kata seorang karyawan disitu ketika tim pelakubisnis.com mencoba menyambangi resto ini tanpa reservasi terlebih dulu.
Yap! Sejak dibuka 2013 lalu, resto ini selalu ramai pengunjung dan sering menjadi pilihan untuk acara-acara perkawinan, gelar pesta reuni dan acara-acara lainnya. Apa daya tarik resto ini? Menu masakannyakah? Atmosfirnya? Konsep apa yang dibuat hingga resto ini memiliki magnet? Siapa pemiliknya? Pengusaha kuliner kondang kah?

Pemilik Resto Tsamara adalah Sonny Jendriza Idroes. Pria asal Padang Panjang, Sumatera Barat ini pada tahun 2008 membeli lahan seluas 8350 meter persegi di Jalan Hankam, perbatasan antara Jakarta Timur dengan Bekasi. Namun sedikit dari lahan tersebut ia jual untuk membangun Tsamara Resto dan tersisa sekitar 7000 meter persegi. Di atas lahan seluas itu ia membangun Resto Tsamara. “Persisnya tempat ini dibangun tahun 2011. Saung-suang yang ada di sini dulunya berfungsi untuk tempat istirahat,”Sonny mulai bercerita ikhwal kehadiran Tsamara Resto.
Ia menjelaskan, sebenarnya saat itu ia dan istri tengah membangun klinik perawatan kecantikan. “Ruang VIP di bagian depan itu dulu sebagai salon kecantikan dengan nama Shaquilla. Salon yang diambil dari nama anak saya. Jadi awalnya tempat ini dibuat sebagai klinik kecantikan,” kata Sonny serius seraya menambahkan, “Tapi anak saya itu keburu dipanggil Allah SWT dalam usia 44 hari,”tutur Sonny.
Saung-saung yang sekarang ini tersebar di beberapa area outdoor resto, menurut Sonny niatnya untuk tempat creambath. Sementara di bagian depan berdiri bangunan kantin tempat makan, setelah pelanggan menjalankan treatment kecantikan. “Jadi awal berdirinya lebih dikenal sebagai salon yang dilengkapi dengan kantin,” cerita Sonny.
Seiring berjalannya waktu, tambah pria 53 tahun ini, animo pengunjung justru lebih membentuk tempat ini menjadi tempat makan. Melihat animo masyarakat tersebut, langsung konsepnya diubah. Salon yang tadinya menempati area cukup besar, diubah menjadi lebih kecil, sedangkan fasilitas resto justru diperbesar. Akhirnya terbentuk pasar. “Ternyata banyak ibu-ibu, orang-orang pengajian dan komunitas-komunitas lainnya senang duduk-duduk di sini sambil makan,” ungkap Sonny yang mengambil nama resto ini dari nama salah satu puterinya, Tsamara.

‘Ia menambahkan, “Berdasarkan masukan konsumen, dilakukan inovasi. Dibuat taman-taman yang asri dan space salon atau klinik kecantikan menjadi lebih kecil. Justru yang mendominasi di Tsamara adalah restorannya yang grand launching nya 18 Oktober 2013. Sedangkan klinik kecantikannya sampai saat ini masih berjalan,”. Klinik kecantikan tersebut berganti nama menjadi Nestetique Salon & Beauty Care.
Menurut Sonny, promosi Tsamara Resto saat itu lebih banyak menggunakan media sosial, seperti Facebook dan menggunakan promosi melalui brosur yang disebar. Tapi belakangan ini media sosial yang digunakan lebih bervariatif, termasuk menggunakan Instagram. “Ada tim marketing yang khusus menjalankan kegiatan medsos,” tambahnya.
Tak pelak, yang banyak datang ke Tsamara Resto justru orang yang dari luar lingkungan Jalan Hankam. Orang-orang di sekitar resto menurutnya boleh jadi sampai sekarang masih ada yang tidak tahu Tsamara Resto. Karena lokasinya agak masuk ke dalam, sehingga selintas dari jalan raya tidak terlihat nama Tsamara. “Ketika saya membuat function hall, saya panggil teman seorang kontraktor. Dia bilang Son, lu kenapa telat gilanya! Sebab, tahun 2013-2014 di daerah ini belum ramai resto outdoor di situ. Ini tempat sepi, bangunan restorannya di belakang, tanda-tandanya nggak ada. Lu memang udah gila, ya,” kata Sonny menirukan perkataan temannya seorang kontraktor yang diundangnya saat itu.
“Pagi itu tamu belum ada yang datang. Restoran buka jam 8 pagi. Tapi setengah jam kemudian, mulai ada tamu yang masuk, terus masuk lagi beberapa tamu. “Sekarang gua tanya, elu yang gila atau gua yang gila?” kata Sonny kepada temannya. Melihat tamu semakin banyak yang datang, tambah Sonny, baru teman kontraktor ini mau membangun area function hall nya.
Milestone munculnya ide membangun resto ini terjadi di awal 2013. Lantas, pada November 2013 pertama kali resto ini digunakan sebagai tempat acara resepsi pernikahan. “Pada November 2013, ada pernikahan orang Arab di sini. Di taman-taman ini sudah berdiri saung-saung. Orang Arab itu minta dipasang tenda di taman ini. Padahal menurut orang Arab tersebut saat itu dia sudah booking tempat di Taman Mini. Tapi melihat lokasi di Tsamara, akhirnya pesta perkawinan diputuskan di sini. Kejadian itu masuk dalam catatan saya, ternyata lokasi ini bisa dijadikan tempat pernikahan. Di tahun yang sama ada orang reunian di sini. Akhirnya Tsamara sering digunakan event-event seperti itu,” kenang Sonny menceritakan awal berdirinya Tsamara Resto.
Suksesnya Tsamara Resto menurut Sonny, karena semua tim, dari juru masak, waiters dan sebagainya bisa diajak kompromi. “Awalnya orang-orang yang bekerja di Tsamara bukan lulusan sekolah tinggi. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa piawai dalam menjalankan profesinya. Pasti bisa menjadi pandai bila dilatih. Dan sekitar 70 persen karyawan Tsamara adalah mereka yang tinggal di sekitar sini. Secara periodik dilakukan evaluasi, apa yang kurang dan apa yang harus diperbaiki ke depan,” tandasnya.
Seiring dengan perjalan waktu, Tsamara Resto semakin dikenal dan berkembang. Pernikahan pelawak kondang Sule dan pasangannya Nathalie Holscher, beberapa waktu lalu yang sempat membuat para fansnya ‘kepo’ juga berlangsung di Tsamara Resto. “Hampir setiap minggu selalu ada event-event yang diselenggarakan di sini. Anak saya juga menggelar resepsi pernikahan di sini. Undangan 400 orang yang datang 1400,”kenang suami dari Irda Susanti ini.
Tak heran bila rata-rata pengunjung setiap harinya bisa mencapai lebih dari 100 orang dengan menu yang variatif dan harga terjangkau. Mulai dari masakan nusantara hingga masakan Jepang dan masakan western ada di resto ini.
Ketika pandemic Covid-19 melanda Indonesia, Sonny cepat menyikapi kondisi itu. Begitu anaknya yang bersekolah di Australia pulang ke Jakarta, di mana kapasitas pesawat yang seharusnya menampung 500-an penumpang, ternyata hanya mengangkut 11 penumpang. “Saat itu saya sudah perkirakan bisnis restoran akan terkena imbas Covid-19,” kata Sonny.
Terbukti benar! Omzet Tsamara mengalami penurunan drastis. Menghadapi kondisi tersebut, seluruh karyawan dipanggil untuk diajak berkompromi. “Mudah-mudahan pandemic ini cepat berlalu, tapi kita harus menyikapinya. Saya katakan ke mereka, saya minta kalian berdamai dengan diri masing-masing dan berupaya tidak ada gejolak. Restoran ini akan ditutup sementara, tapi saya akan tetap kasih bantuan. Karyawan sebanyak 140 orang saya rumahkan dari Maret sampai akhir Mei 2020,” kenangnya.
Saat itu yang justru berimbas ke perusahaan promosi yang dipimpin istri dimana sebagian terkena PHK. Harus membayar pesangon sesuai ketentuan pemerintah. Dari 300 karyawan, yang dipertahankan hanya sekitar 100 karyawan, karena perusahaan turut terdampak pandemic. “PHK dilakukan secara manusiawi sesuai dengan aturan pemerintah,” kata Sonny.
Kemudian Juni 2020 Tsamara Resto dibuka kembali. Seluruh karyawan dikumpulkan. “Kita mulai coba buka restoran kembali selama tiga bulan. Tapi, karyawan yang masuk dibuat per shift, sehari masuk dan sehari libur. Ternyata jumlah pengunjung meningkat, sehingga pola karyawan diubah, yaitu yang masuk 70 persen tiap harinya dan yang libur 30 persen. Setelah dicoba dengan formula ini, ternyata pengunjung terus meningkat. Pada bulan ketiga restoran dibuka, pengunjung terus meningkat, sehingga seluruh karyawan bekerja semua,” jelas Sonny. Bahkan terjadi penambahan karyawan sebanyak 30%. Itu artinya omzet restoran meningkat signifikan.
Pada tahun 2021 restoran sempat tutup kembali sekitar bulan Mei. Saat itu omzet kembali anjlok sampai 70 persen. Waktu itu, muncul Covid-19 varian Delta sedang tinggi-tingginya merajalela, sehingga terpaksa resto harus ditutup lagi. Dan Juni 2021 kembali dibuka. Sejak itu sampai sekarang Tsamara Resto terus buka.

Omzet Tsamara Resto kembali meningkat. Meningkatnya omzet resto ini menurut Sonny boleh jadi karena konsep resto taman dengan alam terbuka lebih diminati di situasi pandemi. Peningkatan omzet tersebut, menurut Sonny terukur. Sudah dapat diperkirakan fluktuasi naik turunnya pengunjung. “Biasanya restoran pada Januari dan Februari omzet akan sedikit turun, kemudian Maret omzet meningkat lagi,” katanya. Salah satu yang mendukung tumbuhnya Tsamara Resto karena Pemerintah Daerah setempat tidak mempersulit regulasinya. Pihak manajemen tetap berkoordinasi dengan Pemda dan penerapan protokol kesehatan tetap dijalankan.
Bahkan, sampai Mei 2022 ini, omzet Tsamara melampaui waktu yang sama pada tahun 2019. Terjadi peningkatan omzet mencapai 10 sampai 15 persen. Sukses Tsamara ini karena menunya mengikuti selera tamu. “Masukan-masukan dari pengunjung ditampung untuk menjadi bahan masukan dalam menyajikan menu kepada pelanggan. Dari mulai menu ikan-ikan sampai ayam ada di sini dengan berbagai varian,” tambahnya.

Selain menu, timnya berupaya berkreasi menampilkan atmosfir yang berbeda di setiap tahunnya. Tahun ini konsep resto diubah ke konsep garden yang penuh dengan warna-warni bunga di setiap area. Ada satu area indoor yang terpisah dari area lainnya, namanya Glass House. Luas ruangan ini kurang lebih hanya 20 meter persegi, namun atmosfirnya yang dipenuhi hiasan bunga dan sejuk, membuat tempat ini nyaman dan agak privacy. Untuk area dine in, Tsamara Resto menyediakan Ivy Room, lalu ada Function Hall dan VIP Room untuk acara khusus dan ada Picnic Area (outdoor) yang cukup banyak diminati pengunjung yang suka berselfie ria.
Tahun-tahun sebelumnya resto ini sempat dikenal dengan kreatifitas gambar muralnya dan sempat populer di dunia maya. Seperti gambar pesawat take off dan seorang waiters yang tengah menyajikan hidangan pada dinding area dine in. Tak hanya di Tsamara Resto, Sonny juga join dengan teman bisnisnya membangun Mr S dengan konsep mural. Selain Mr S, adapula resto yang diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja dengan membangun Miss Unicorn Resto yang terinspirasi dari sebuah resto di Thailand. Saat ini kedua resto ini masih berjalan.
Sonny menambahkan, konsep yang dijalankan dalam mengelola bisnis tidak tergantung dengan siapa chef-nya. Di sini tidak tergantung dengan chef yang harus pintar masak. Siapa saja boleh menjadi chef asalkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan Tsamara, sehingga Tsamara tidak tergantung dengan satu chef saja, melainkankan berdasarkan standard operational prodecure (SOP) yang berlaku, termasuk para koki (juru masak-red) yang ada.
Dari Tsamara Resto yang ia dibangun dengan team work yang solid ini, ia sudah menggelontorkan dana sekitar Rp5 milliar. “Saya puas sebagai owner, karyawan puas bekerja di sini dan konsumen puas karena terlayani dengan baik. Itu saja konsepnya. Sederhanakan? [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa
