Erwansah, Angkat Derajat Pengrajin Tenun Kalimantan Barat
Dulu ia sampai menangis tak terima ayahnya bekerja sebagai tukang tenun yang menurutnya adalah pekerjaan rendahan. Namun paradigma itu berubah. Lewat Azman Songket, kini Erwansah mulai mengikuti jejak ayahnya menjadi pengrajin tenun songket Kalimantan Barat.

Mata Erwansah berkaca-kaca ketika ditanya latar belakang dirinya terjun membangun usaha tenun songket. “Terus terang dulu saya merasa insecure (tidak aman-red) sebagai anak tukang tenun. Kalau keluarga lain di tempat kami menganggap tukang tenun itu pekerjaan rendahan. Duh saya jadi mewek nih…,”ungkap anak sulung pemilik Azman Songket yang ditemui pelakubisnis.com di booth Rumah BUMN Pontianak, pada gelaran Pameran Warisan yang berlangsung 24 – 28 Agustus 2022 di Jakarta Convention Center (JCC).
Menjadi pengrajin tenun bukanlah cita-cita pemuda kelahiran 15 Agustus 1995 ini. Bahkan selama bertahun-tahun ia pernah merasa malu menjadi anak tukang tenun songket. Di lingkungan masa kecilnya di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, pekerjaan tukang tenun bukanlah pekerjaan yang diminati anak-anak muda. Bahkan tak sedikit masyarakat di wilayah ini menganggap menjadi tukang tenun bukanlah impian orang-orang muda. Menjadi sangat bergengsi bila bekerja sebagai karyawan berkemeja dan berdasi.
Erwan, demikian sapaan Erwansyah, salah satunya yang berpikir demikian. Ia pernah berpikir tidak ingin tinggal di desa, ia ingin tinggal di kota, keluar dari kampung halamannya. Ia mengaku dari kecil tak pernah berminat menjadi pengrajin tenun. Dari kecil ia sering di-bully teman-teman karena ayahnya sebagai pengrajin tenun. Tak hanya anggapan pekerjaan yang sangat rendah, tapi sosok ayahnya menjadi bully-an teman-temannya karena biasanya kerajinan tenun itu dilakukan oleh kaum perempuan. “Karena di kampung kami yang namanya pengrajin tenun itu identik dengan perempuan. Kalau laki-laki dianggap kurang lazim,”tambah alumni Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat ini.
Karena himpitan ekonomi sejak usia sekolah dasar ayahnya Erwan, Azman (49), sudah bekerja sebagai penggulung benang dan mulai belajar menenun. “Kalau tidak bekerja, ayah tidak bisa bayar uang sekolah dan tidak ada uang jajan,”cerita Erwan tentang awal mula orangtuanya mengenal kerajinan tenun.
Hingga suatu hari, ayahnya memutuskan untuk bekerja ke Brunei Darussalam. Sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), Azman bekerja di sebuah usaha perkebunan. Dan rupanya pemilik perkebunan juga memiliki usaha kerajinan tenun. “Jadi Bapak kalau siang di sana bekerja di kebun, malamnya Bapak menggulung benang. Namun suatu hari ada benang yang terputus. Dan saat itu tak sengaja ayah mencari sambungan benang yang sama dan cara mengikatnya sangat lihai. Jadi waktu itu bosnya kaget, Kok bisa?,” cerita Erwan.

Mengutip dari disparpora.sambas.go.id, kain Songket Sambas disebut juga dengan Kaing Lunggi adalah kain dari tenun dengan peralatan tradisional dengan cara teknik ikat mengikat atau teknik songket. Songket Sambas lahir pada masa pemerintahan Raden Bima (Sultan Sambas yang ke-2, memerintah tahun 1668-1708) yang bergelar Sultan Muhammad Tajudin. Pada saat itu Kesultanan Brunei memberi hadiah berupa seperangkat alat tenun kepada Raja Sambas dengan harapan untuk memberikan ilmu untuk membuat kain tenun. Jadi, memang ada sejarah tenun Kabupaten Sambas dengan masyarakat Brunei Darussalam yang memang dalam keseharian mereka banyak menggunakan kain songket.
Singkat cerita tahun 2006 Azman pulang ke kampung halaman dengan membawa uang Rp 15 juta. Saat itu Azman sudah menikah dan memiliki anak. Rupanya sang bos meminta Azman untuk mengerjakan motif tenun yang sudah dia pelajari selama bekerja di negara petro dollar ini. Ia mendapat order dari mantan bosnya di BruneiDarussalam. Disinilah milestone perubahan paradigma Erwan tentang usaha ayahnya terjadi.
Ketika ayahnya pulang dari negara yang terletak di pantai utara Pulau Kalimantan tersebut dan membawa uang puluhan juta rupiah hasil menjual kain tenun ke mantan bosnya, saat itu paradigma berpikir Erwan berubah dan ia menjadi kasihan melihat ayahnya.
Azman saat itu bolak-balik berdagang ke Brunei Darussalam. Mindset berubah setelah melihat ayahnya pulang dari Brunai Darussalam membawa uang banyak. Erwan mulai berpikir, dari kecil sekolah dibiayai dari hasil orangtua bekerja sebagai tukang tenun. Bahkan penghasilan ayahnya per bulan bisa lebih besar dari PNS dan sejenisnya. “Mendadak derajat kami naik rasanya waktu itu,”tutur Erwan.
Barulah pada tahun 2009 Azman membangun usaha tenun songket dengan mengandalkan 3 mesin tenun kecil yang dikerjakan sendiri bersama ibu dan nenek Erwan sebagai generasi pertama yang mengenalkan kerajinan tenun pada keluarga. Azman membangun pondok kecil beratap rumbia yang menjadi ciri khas masyarakat Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. “Dari pondok hasil tenun kami kirim ke Brunei dan Alhamdulillah mereka suka dengan kreasi kami dengan ciri motif bunga putat –ciri khas Brunei Darussalam-red–,”terang Erwan seraya menambahkan, produknya kain tenun songket, baju, selendang, sabuk (kain songket pria-red), songkok (kopiah) dan lain-lain.
Ia menjelaskan, motif bunga putat memang motif khas tenun songket Brunei Darussalam. Dan sang bos dari negara melayu ini akhirnya menjadi pelanggan setia Azman Songket sampai sekarang.
Sampai akhirnya suatu hari Erwan mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Berkat prestasinya di sekolah ia mendapat beasiswa di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat. Seperti mimpinya ingin menjadi PNS, Erwan pun mengambil program studi Sastra Indonesia di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat. Dari kampus ini bakat dagangnya justru terasah. Ada satu momen, sang ayah menantangnya menjual salah satu kain songket motif bunga putat. Bagaimana caranya ia bisa menjual songket dengan margin keuntungan Rp 1,5 juta per helai.
Sekitar tahun 2017 ia baru terjun membantu orangtua berjualan kain songket. Belajar dari nol. Mulai dari menggulung benang, bagaimana cara merawat kain, sampai belajar bertenun. “Saya belajar mulai dari proses gulung benang, bagaimana bertenun, cara menyambung benang seperti apa, cara menggambar motifnya bagaimana, semua saya pelajari selama kurang lebih 1 tahun”paparnya yang akhirnya bisa dengan sabar yang menjalani proses menenun seperti yang dilakukan ayahnya.
“Saya kasihan sama Bapak, sementara usaha ini sudah dijalankan turun temurun. Jadi tidak ada salahnya saya memilih untuk meneruskan usaha Bapak,
“tambah Erwan yang sempat mengajar di sekolah dasar. “Saya sempat mengajar beberapa bulan. Pagi mengajar, malamnya mengajar private bimbel (bimbingan belajar-red). Tapi lama kelamaan ia merasa bosan dan kecapekan, akhirnya mencoba peruntungan membuka usaha tenun songket mengikuti jejak ayahnya.
Tak sekedar niat membantu orangtua, tapi tanpa ia sadari, ternyata ia mampu menjual hasil tenun songket ayahnya. Ia pun mulai bergerilya. Satu keberuntungan untuknya saat itu, di kampus ia menjabat posisi sebagai ketua angkatan atau komandan tingkat yang membuatnya sering berkomunikasi dengan para dosen. Ia pun menawarkan produk Azman Songket ke dosen-dosennya. Sekedar diketahui, di Kalimantan Barat khususnya, biasanya untuk acara-acara resmi seperti wisuda, baik dosen maupun mahasiswa banyak menggunakan kain songket. Yang perempuan menggunakan kain dengan panjang 180 cm, sedangkan yang laki-laki menggunakan sabuk (kain songket berukuran panjang 80 cm). Jadi kampus menjadi pasar yang empuk buat Erwan saat itu yang baru memulai terjun ke usaha tenun songket.
Tapi tak hanya menawarkan produk, Gen Z ini juga menjelaskan secara detil tentang produknya. “Saya selalu ceritakan proses pembuatannya, bagaimana merawat kain songket dan sebagainya. Memang sekarang ini harus ada story telling sebagai nilai tambah dalam menjual produk,”ujar Erwan.
Dari hanya menjadi marketing, ia pun mulai tertarik untuk mempelajari cara bertenun. Langkah awal yang ia lakukan adalah membuat desain. Dan ia amat bersyukur karena ternyata selain bisa berjualan, ia juga mampu menggambar. Pertama kali ia mencoba menggambar desain kain songket dengan motif burung enggang dengan ciri paruhnya yang berbentuk tanduk. Dari desain, kemudian ia belajar bertenun, hingga belajar melakukan pewarnaan kain. “Ciri khas dari Kalimantan Barat adalah burung enggang. Makanya kalau ada pembeli yang bertanya, apa yang menjadi ciri khas kain songket Kalimatan Barat, saya akan tunjukkan motif burung enggang ini,”terang Erwan yang menjual kain songketnya di kisaran harga Rp2,5 -3,5 juta per helai kain.
Satu kelebihan dari kain songket yang sering ditanyakan konsumen, menurut Erwan, kain tenun songket itu tahan lama. Sampai berapa generasi pun akan tetap indah dan layak digunakan kalau pandai merawatnya. “Ini bisa dipakai sampai anak cucu ibu,”kata Erwan kepada konsumen.

Azman Songket sendiri memiliki 120 penenun, 30 orang diantaranya sudah diperbantukan ke usaha songket Erwan sebagai generasi penerus. “Sistem kerja samanya selama ini, kami antar alat tenun ke rumah mereka, mereka bertenun dari rumah masing-masing. Kami kasih benang, motifnya kami turunkan. Jadi mereka masih bisa pergi kerja ke ladang dan melakukan kegiatan yang lain. Kami tidak kenakan target, tergantung dengan kesanggupan mereka. Kecuali ketika datang order dari Brunei Darussalam misalnya, karena ada target dari klien, barulah kami pilih siapa-siapa saja yang bisa bantu dan bisa kerja cepat,”terang mantan Guru Bahasa Indonesia ini sedikit bercanda ia mengatakan,” Biasanya saya pakai yang 30 orang ini. Ibaratnya mereka yang mau bekerja di bawah tekanan saya,”.
Sultan Brunei di hari ulang tahunnya juga pernah memesan kain songket satu tahun sebelumnya untuk dibagi-bagikan sebagai souvenir. Jadi ketika di hari ulang tahunnya pesanan sang Sultan sudah jadi.
Selain Brunei Darussalam, produknya juga sudah banyak diminati masyarakat di wilayah Kuching dan Miri, Serawak Malaysia. “Biasanya Bapak yang langsung ke sana. Tapi kalau mereka tanya desain dan motif warna yang sedang ngetren itu seperti apa, biasanya Bapak harus bawa saya. Sekarang Bapak sudah kolaburasi dengan saya,”akunya seraya menambahkan, saat ini ia masih mendesain motif di atas kertas karena untuk desain bentuk digital masih sulit diterima para pengrajin yang rata-rata berusia di atas 50 tahun dan anak mudanya yang berusia sekitar 30-an tahun hanya sekitar 10 orang dari total 120 pekerja.
Di tahun 2019 Erwan mencoba membangun gallery dengan menyewa satu kios di Pontianak dan membangun merek ‘Lanting Collection’. Namun malang tak dapat ditepis, gallery yang sudah disiapkan akhirnya hanya berumur beberapa bulan. Ia terkendala dengan munculnya pandemic dan ayahnya baru pulang umroh, jadi tak bisa bantu promosikan produknya. Sementara ia harus menggaji 2 orang karyawan.
Makanya saat ini ia mulai start lagi membangun usaha dan sesekali masih berkolaburasi dengan orangtua. Ia terus memutar otak agar bisnisnya tetap jalan. Selain membuat kain tenun, ia juga mulai menyewakan baju-baju adat yang full tenun dan bergabung dengan UMKM Pontianak hadir di Mal Bumi Raya Garden City, Pontianak dan membuat gallery di rumah. “Jujur, banyak orang dinas yang lebih suka ke gallery bertemu langsung dengan aku atau Bapak. Karena menurut mereka lebih puas dapat ceritanya. Sedang di mal memang tidak setiap saat saya ada disitu,”tutur Erwan yang mengaku saat ini harus lebih kerja keras mendongkrak omzet, yang sebelum pandemic, untuk satu buyer dari Brunei Darussalam saja ayahnya mampu mencetak omzet Rp 600 – 700 juta per tahun. Sedangkan saat ini Erwan baru mampu mencetak omzet sekitar Rp 20 juta per bulan.
Diakuinya jam terbang yang dimiliki belum setinggi ayahnya. Contoh! Untuk satu helai kain tenun yang ia selesaikan dalam waktu 3 minggu, untuk jenis motif dan pengerjaan yang sama, ayahnya bisa menyelesaikan hanya 3 hari. “Siang malam dia terus bertenun. Istirahat hanya untuk makan dan sholat saja,”ungkap putera sulung pasangan Azman dan Rosdiana ini.
Sekarang paradigma berubah. Ternyata dari kerajinan tenun itu bisa merubah kehidupan seseorang. Dan, tidak semua orang bisa menenun. Dan tidak semua orang bisa memiliki dan kemauan yang tinggi untuk menjadi sukses. “Karena tak sedikit orang yang hanya mampu sampai menggulung benang saja. Seperti saya dulu saya sempat kewalahan,”terang sulung empat bersaudara ini.[]Siti Ruslina
