Selamatkan Bumi Dari Sampah Plastik
Ayo selamatkan bumi dari ancaman sampah plastik. Itulah gaya hidup di tengah hedonisme dan keakuan yang harus terus digalakkan. Universitas Negeri Semarang (Unnes) telah memberi contoh bagi anak negeri…!
Selamatkan bumi dari ancaman sampah plastik! Itulah himbauan yang seharusnya mendapat perhatian kita. Pasalnya sampah plastik akan mengancam habitat makluk hidup di dunia. Sampah yang bukan berasal dari senyawa biologis. Plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.
Kantong plastik terbuat dari penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Minyak, gas dan batu bara mentah adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Semakin banyak penggunaan palstik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam tersebut.

Plastik dapat mencemari lingkungan. Akibat tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah, mengakibatkan racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing. Meskipun termakan oleh binatang maupun tanaman akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan.
Di samping itu, kantong plastik akan mengganggu jalur air yang terserap ke dalam tanah. Kondisi demikian, menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu menyuburkan tanah.
Kantong plastik sukar diurai, mempunyai umur panjang, dan ringan akan mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun. Tak pelak, hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik. Hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut, dan anjing laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya. Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya.
Tidak hanya itu, pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir. Itulah sebagian dari ancaman sampah plastik terhadap kelangsungan makhluk hidup. Apakah kita tidak tergugah menyelamatkan bumi dari ancaman itu?
Memang ada pihak yang berusaha menanggulangi masalah sampah plastik dengan cara membakarnya. Tetapi proses pembakaran kurang sempurna dan tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna, akan menjadi dioksin di udara. Bila manusia menghirup dioksin ini manusia akan rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis, pembengkakkan hati, dan gejala depresi.
Kita memang tidak mungkin bisa menghapuskan penggunaan kantong plastik 100%, tetapi yang paling memungkinkan adalah dengan memakai ulang plastik (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce), dan mendaur ulang (recycle). Terakhir, mungkin perlu regulasi dari pemerintah untuk meredam semakin meningkatnya penggunaan plastik.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun. Sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Sampah plastik di Jakarta setiap harinya mencapai 34% dari sampah harian di 2019. Adapun rata-rata total sampah harian Jakarta di 2019 mencapai 7.702 ton dan kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 millar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.
Dikutip dari Kementrian Kelautan dan Perikanan, Indonesia masuk urutan kedua penyumbang sampah plastik sejagat pada tahun 2019 dengan 3,21 Juta metrik ton/tahun, sedangkan di urutan pertama China dengan 8,81 juta metrik ton/tahun.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), mikroplastik juga dicerna oleh banyak spesies laut dan dimangsa oleh spesies hewan lain lalu hewan-hewan itu ditangkap oleh manusia untuk dikonsumsi. Mikroplastik ini ikut tertelan ke dalam tubuh manusia dan dalam jangka panjang ini bisa berbahaya bagi kesehatan.
Salah satu institusi pendidikan yang peduli terhadap sampah plastik adalah Universitas Negeri Semarang (Unnes). Permasalahan konservasi tidak hanya cukup menanam tetapi juga menjaga, karena pengertian konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Makna perlindungan salah satunya adalah menjaga, dalam hal ini adalah menjaga keseimbangan alam. Tanpa keseimbangan, alam akan mencari keseimbangannya sendiri. Salah satu contoh alam mencari kesetimbangannya adalah banjir yang terjadi di ibukota Jakarta. Hal ini terjadi karena alam mencari kesetimbangan dimana daerah resapan air di puncak sudah rusak sehingga tidak mampu menampung banyaknya curah hujan dan alam mencari kesetimbangannya melalui banjir, sebagaimana dikutip dari http://baakk.unnes.ac.id.
Oleh karena itu, penanaman nilai kepada mahasiswa ini perlu dikuti program yang mengharuskan mahasiswa mengaplikatifkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu program sederhana tapi sangat mengena dan mampu memberikan penanaman nilai yang akhirnya menjadi budaya adalah melalui Unnes peduli plastik (UPP).

Mahasiswa baru Unnes membersihkan sampah plastik di lingkungan kampus dalam kegiatan Program Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun 2022 di Semarang, Jawa Tengah, pada 18/8/2022, sebagaimana dikutip dari sindonews.com, pada 19/8.
Sebanyak 11.000 lebih mahasiswa baru Unnes 2022 jenjang Diploma, S1, S2, dan S3 dan mahasiswa asing mengikuti acara ini baik secara luring maupun secara daring. Kegiatan PPKMB tersebut tercatat dalam Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) atas rekor pembersihan sampah plastik pada selokan yang dilaksanakan serentak secara hybrid oleh mahasiswa baru Unnes se-Indonesia.
Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi Leprid kepada Unnes karena terus memberikan sumbangsih kepada masyarakat khususnya kegiatan inspiratif dalam mewujudkan bumi tanpa plastik.
Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan sebuah langkah persembahan dari mahasiswa baru Unnes untuk Indonesia dan untuk bumi yang terbebas dari sampah plastik. Ketua Umum Leprid Paulus Pangka mengatakan pembersihan sampah pada selokan secara serentak oleh mahasiswa baru Unnes se-Indonesia merupakan kegiatan yang luar biasa dan inspiratif. Menurutnya, kegiatan seperti itu belum pernah terjadi di seluruh Indonesia.
Budaya yang diterapkan Unnes dalam membangun kepeduliaan terhadap lingkungan atas acaman terhadap limbah plastik patut diapresiasi. Kesadaran kolektif seperti itu, sudah seharusnya dijadikan kurikulum nasional dari mulai pendidikan sejak dini. Pasalnya membangun budaya tidak semudah membalik telapak tangan, begitu dikehendaki langsung terwujud.
Budaya ini harus dibangun sejak dini dan terus berkesinambangun, untuk menanamkan nilai-nilai bahwa bumi adalah rumah kita bersama. Pencemaran bumi adalah kerusakan kita bersama. Jadikan sikap itu sebagai lifestyle dalam perilaku kita. Bersihkan bumi dari sampah plastik.
Dengan mengambil sampah plastik dari 270 juta penduduk anak negeri dan dibuatkan ekosistem proses daur ulang secara massal, maka kita telah menyelamatkan bumi. Menyelamatan bumi berarti menyelamatkan alam semesta berseta isinya.
Ayo selamatkan bumi dari acaman sampah plastik. Itulah gaya hidup di tengah hedonisme dan keakuan yang harus terus digalakkan. Selamat Unnes yang telah memberi contoh bagi anak negeri…! [] Yuniman Taqwa/Foto: Leprid

