Hidden Valley Hills, Jual Pemandangan Eksotis Purwakarta, Refleksi Sejarah dan Legenda Pasundan
Berada di ketinggian 362 mdpl dataran tinggi Purwakarta, resort dan hotel ini bukan sekedar tempat healing, tapi keberadaannya tak lepas dari cerita sejarah masa lalu tentang Kerajaan kuno Sunda Galuh yang disinyalir berada di titik di mana Hendry Chandrawinata mendirikan Hidden Valley Hills . Peristiwa Kerajaan Kuno di tanah pasundan ini direfleksikan dalam bentuk Monumen 7 Pilar Legenda Purba.

Di atas ketinggian 362 mdpl dataran tinggi Desa Cibodas Purwakarta, pengusaha Hendry Chandrawinata membangun Hidden Valley Hills Resort dengan lanskap lembah dikelilingi pemandangan alam pegunungan yang terdiri dari Gunung Cupu, Gunung Sangga Buana, Gunung Lembu, Gunung Parang dan Gunung Bongkok terlihat. Dengan konsep bangunan bergaya klasik, tempat ini tak hanya dilengkapi dengan fasilitas infinity pool (kolam renang) dan private pool untuk suit room, ada juga sky bridge, amfiteater batu, taman bermain, taman tematik yang dikelilingi replica dan artefak sejarah, sampai fasilitas lahan tempat helipad mendarat pun disiapkan Hendry untuk menampung permintaan pengunjung untuk kemudahan sampai ke resort dan hotelnya ini.

Seperti namanya, Hidden Valley. Tempat ini memang tak terlihat dari keramaian jalan raya. Letaknya tersembunyi dan jauh dari keramaian. Menyusuri jalan utama menuju Plered atau Cianting, kita akan menemukan akses masuk utamanya yaitu pertigaan Desa Cianting, di sana kita menemukan gang kecil yang jalannya menurun. Setelah kurang lebih 2 kilometer baru terlihat penampakan resort di atas bukit dengan pemandangan lembah dan pegunungan yang eksotis.
Kepada pelakubisnis.com Hendry Chandrawinata menjelaskan, untuk kawasan resort dan fasilitas lainnya memang masih belum sepenuhnya digunakan. Area parkir bahkan disebutnya mampu menampung hingga sekitar 500 mobil komunitas jika diperlukan. ‘Beberapa waktu lalu kami kedatangan Komunitas Mobil Honda Freed. Ada sekitar 200 mobil Honda Freed parkir di sini,”ungkap Hendry seraya memberi gambaran bagaimana 200 mobil tersebut konvoi dari pertigaan Cianting sampai ke lokasi parkiran Hidden Valley Hills.
Untuk pembangunan resort sendiri, ia telah menganggarkan sekitar 10 hektar untuk lahan khusus. Sementara total kawasan yang dimiliki diperkirakan mencapai sekitar 100 hektar termasuk area hutan.
Diakuinya, Resort dan Hotel Hidden Valley Hills kini cukup populer di media sosial. Namun apa semua tahu tentang Hidden Valley Hills yang ternyata bukan sekedar resort atau hotel biasa, melainkan juga memiliki unsur sejarah dan peninggalan Belanda yang terlihat autentik.
Pria kelahiran 1947 ini mengungkapkan bahwa beberapa waktu lalu ada tamu asal Swiss yang datang menginap selama tiga hari. Pasangan tersebut ternyata sedang melakukan napak tilas keluarga. Tamu dari Swiss itu mencari sebuah tugu Belanda yang dahulu berada di Gunung Hejo, tempat nenek mereka pernah tinggal sekitar tahun 1945.
Awalnya Hendry tidak memahami maksud kedatangan tamu tersebut. Namun setelah diperlihatkan foto tugu oleh satpam, ia baru menyadari bahwa tugu yang dicari ternyata berada di kawasan Hidden Valley Hills. Tugu itu dikenal sebagai monumen Belanda. Tamu asal Swiss tersebut langsung mengenali angka tahun pada monumen tersebut. Setelah mengetahui keberadaan monumen itu, pasangan asal Swiss kembali datang ke Hidden Valley dan merasa sangat senang karena dapat menemukan jejak sejarah keluarganya.

Di luar dugaan Hendry, di lokasi di mana ia membangun resort dan hotel yang awalnya hanya ingin dibangun untuk villa dengan kolam renang pribadi itu dalam masa pembangunannya justru ditemukan sebuah tugu Belanda Kuno di kisaran anno 1898 Masehi yang kelihatan mulai rusak, akhirnya direnovasi dan sekarang berdiri gagah menjadi salah satu area yang diminati pengunjung untuk berswafoto. Tugu tersebut setelah diselidiki merupakan Tugu Pancer yang berada di ketinggian 362 Mdpl, berderet sejajar dengan ketinggian Gunung Cupu.

Kontraktor peneliti jalan tol Cipularang ini menemukan banyak bukti sejarah dari tempat di mana resort dan hotelnya berdiri. Mulai dari Tugu Belanda, Telapak tangan yang disinyalir adalah telapak tangan Prabu Siliwangi, telapak tangan ayahnya, Dewa Niskala ketika Prabu Siliwangi didapuk menjadi Raja Galuh dan telapak tangan mertuanya, Susuk Tunggal ketika Prabu Siliwangi menjadi Raja Sunda. Selain itu ditemukan juga Prasasti Kaki Kuda Terbang Sembrani yang dalam legenda Pasundan diceritakan prasasti kuda tersebut milik Eyang Cupu Manik yang dalam legenda merupakan tunggangan para dewa yang ketika lepas landas anting-anting nya jatuh ke lembah tersembunyi sehingga desa dimana Hidden Valley Hills berada itu dinamakan Desa Cianting.
Diakui Hendry semua temuan-temuan itu dikerjakan sendiri tanpa ada keterlibatan arkeolog. Menurutnya semua pengetahuan itu berasal dari tanda-tanda alam dan pengalaman spiritual yang ia rasakan sendiri. Ia mengaku sering mengalami berbagai kejadian aneh selama mengembangkan tempat tersebut. Namun ia tetap membuka kemungkinan untuk membagikan cerita-cerita itu kepada publik.
Sarjana Teknik Sipil lulusan Universitas Parahyangan Bandung (1967) ini menegaskan, ketika pertama kali datang ke lokasi tersebut ia sebenarnya tidak mengetahui apa pun mengenai sejarah tempat itu. Semua berkembang secara perlahan seiring waktu. Karena awal kedatangannya ke Purwakarta bukan untuk membangun resort, melainkan karena pekerjaan sebagai peneliti proyek jalan tol Cipularang di daerah sekitar lokasi resort itu hingga ke Kilometer 96 Gunung Hejo.
Pada masa itu kawasan tersebut masih berupa hutan karet. Ia kemudian mengetahui ada lahan yang dijual dan tertarik membelinya untuk kebutuhan material urukan proyek. Awalnya ia hendak membeli lahan itu bersama seorang teman yang memiliki modal lebih besar. Namun ketika proses pembelian hampir selesai, temannya mengundurkan diri. Salah satu penyebab keraguan itu adalah status lahan yang pernah disita negara karena pemilik sebelumnya tidak mampu membayar kewajiban keuangan.
Lahan sekitar 45 hektar itu akhirnya dijual kembali kepada pihak lain. Namun pemilik lama tidak rela sehingga berusaha mencari pembeli baru hingga akhirnya bertemu dengan Hendry. Akhirnya ia yang melanjutkan pembelian lahan tersebut seorang diri meskipun awalnya tidak memiliki rencana besar mengenai pembangunan resort.
Ia lalu mengaitkan peristiwa itu dengan pengalaman spiritual yang pernah dialaminya pada tahun 2002 ketika didatangi seorang resi berpakaian putih. Resi tersebut meminta izin masuk ke rumahnya dan mengetahui berbagai hal pribadi mengenai dirinya serta keluarganya tanpa pernah diberi tahu sebelumnya. Resi itu mengatakan bahwa di atas kepala Hendry terdapat cahaya dan bahwa ia akan menerima hidayah serta amanah besar yang harus dikerjakan sendiri.

Awalnya Hendry tidak terlalu memikirkan perkataan tersebut. Namun dua tahun kemudian, ketika proyek jalan tol berjalan dan lahan dijual, ia merasa semua kejadian itu mulai saling berhubungan. Kemudian menulis kisah pengalaman spiritual tersebut ke dalam buku yang ia susun sendiri bahkan sudah memasuki edisi kedua.
Selain itu, ia juga menceritakan tentang sebuah batu yang pernah diberikan kepadanya dan kemudian diketahui oleh seorang kolektor benda purbakala sebagai batu mani gajah. Kolektor tersebut memperlihatkan berbagai benda antik lain seperti patung Dewi Sri dari emas..
Kemudian Hendry menghubungkan simbol gajah dengan prasasti Kebon Kopi yang menurutnya menunjukkan bahwa kawasan itu dahulu berkaitan dengan kerajaan yang menggunakan simbol gajah. Ia menjelaskan bahwa prasasti tersebut berkaitan dengan Kerajaan Tarumanegara pada masa Raja Purnawarman sekitar abad keempat hingga kelima. Ia mengatakan bahwa prasasti asli kini berada di Museum Nasional dan Museum Bogor, sementara reproduksinya dapat ditemukan di Purwakarta.
Dari beberapa temuan bersejarah di proyek pembangunan resortnya, ia pun mulai tertarik mempelajari sejarah Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh, hingga penyatuan keduanya pada masa Prabu Siliwangi tahun 1482 M. Sungguh mengherankan, seorang Hendry Chandrawinata yang luusan teknik sipil yang berpikir dengan analisa logisnya tetapi akhirnya mendalami sejarah dan legenda Sunda. “Saya hanya merasa ingin melestarikan cerita dan peninggalan yang sudah ada,”ujar Owner PT Titik Utama Agung yang bergerak di bidang Geoteknik ini.
Dalam proses membeli lahan dan membangun tempat tersebut, ia mengaku banyak mengalami kesulitan finansial sehingga harus meminjam uang ke bank. Pada awalnya ia sama sekali belum memiliki bayangan untuk membuat resort. Yang ia lihat hanyalah bentuk kontur bukit yang memiliki pemandangan indah. Ia kemudian meratakan sebagian punggung bukit dan mulai membangun area yang dapat digunakan untuk tempat pernikahan dan kegiatan wisata.
Hendry menggambarkan proses pembangunan Hidden Valley Hills yang menurutnya seperti membangun rumah dengan memasang atap terlebih dahulu sebelum pondasi selesai dibuat. Konsep pembangunan resort dan hotel ini menurutnya berkembang mengikuti perasaan dan hati nurani. Ia merasa banyak hal terjadi secara alami tanpa perencanaan matang sejak awal.
Dalam mengelola resort, ia mengaku mengalami banyak kesulitan karena tidak memiliki pengalaman di bidang perhotelan. Ia pun memanggil anak keduanya, David Chandrawinata yang pernah bekerja di Google Amerika Serikat yang akhirnya didapuk untuk mengelola Hidden Valley Hills Purwakarta.
Hidden Valley Hills sempat mengalami penolakan dan tuduhan negatif ketika pertama kali dibuka pada tahun 2018. Tempat itu dituduh sebagai lokasi maksiat, penjualan minuman keras, dan karaoke meskipun pihak Hendry membantah semuanya. “Tempat ini sempat ditutup selama 6 bulan,”kata Hendry seraya menambahkan, karena tuduhan tidak terbukti akhirnya tempat ini kembali dibuka.
Di akhir wawancara, ia kembali menegaskan bahwa seluruh perjalanan pembangunan Hidden Valley Hills menurutnya penuh dengan pengalaman spiritual, sejarah lokal, dan keyakinan pribadi yang membuat tempat itu berkembang hingga sekarang. Tak hanya mereka yang ingin healing ataupun mereka para pecinta sejarah yang ‘kepo’ menginap di Hidden Valley Hills, tapi tak sedikit juga rombongan komunitas-komunitas yang menyelenggarakan event di tempat ini bahkan tak jarang dipakai sebagai tempat pemotretan pre wedding karena memiliki background yang bernilai estetik. Tak sedikit pula yang melangsungkan acara pernikahan dan salah satu spot yang sering digunakan untuk akad nikah adalah Ciung Wanara Palazzo sebuah gazebo modern yang diambil dari nama Raja Ciung Wanara dari Kerajaan Galuh (739 M – 783 M). []Siti Ruslina
