PT Boga Sari Nutrisi, Sinergi Orangtua dan Anak Membangun Usaha Yoghurt

Industri pangan sering kali terlihat sederhana dari luar. Orang hanya memandang produk akhir di rak toko tanpa memahami panjangnya proses, kegagalan, dan ketekunan di baliknya. Padahal, banyak usaha pangan lokal lahir dari ruang kecil, peralatan seadanya, dan keberanian untuk mencoba.   Salah satunya usaha yoghurt rumahan  pasutri Juhana dan Tri Lestari yang dibangun sejak 2016 di bawah bendera PT Boga Sari Nutrisi (BSN). Kini keduanya mendapuk putri bungsu melanjutkan tongkat estafet.   

Lokasi produksi BSN dengan brandnya Yess Yoghurt /Foto: pelakubisnis.com

Dimulai dari dapur kecil di rumah. “Ibu (Tri Lestari-red) dulu kerja jadi karyawan di peternakan, kemudian di peternakan itu ibu belajar bikin yoghurt. Tahun 2016 Ibu berhenti kerja dan mengembangkan usaha yoghurt. Dari ruangan kecil ibu bikin yoghurt masih menggunakan panci sederhana. Yoghurt diaduk-aduk dengan cara manual. Mulai jualan dan lama-lama lumayan juga hasilnya,”ungkap Juhana, Owner PT Boga Sari Nutrisi (BSN) pemilik Brand Yess Yoghurt kepada para pewarta yang menyambangi tempat produksinya di Ciawi Bogor, Jawa Barat.

Juhana sendiri memiliki latar belakang pendidikan ilmu pertanian Ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, meski  kuliahnya mengambil jurusan manajemen. Kini pengalaman kerjanya justru banyak berkaitan dengan perawatan lapangan golf. Ia bahkan pernah menjadi superintendent golf dan aktif dalam asosiasi superintendent golf Indonesia. Setelah pensiun pada 2017, Juhana sebenarnya masih diminta bekerja kembali oleh perusahaan hingga 2021. Namun di sela aktivitas itu, istrinya mulai merintis usaha yoghurt rumahan secara kecil-kecilan.

Produksi yoghurt pertama dilakukan secara sangat manual. Susu dipanaskan menggunakan panci biasa, diaduk dengan tangan, lalu difermentasi di rumah. Tidak ada mesin mahal ataupun fasilitas steril seperti sekarang. Meski sederhana, produk yoghurt mereka ternyata mendapat respons positif. Awalnya hanya dijual ke teman-teman dekat, tetapi kemudian muncul peluang besar ketika keluarga mereka memiliki koneksi dengan jaringan Apotek Roxy.

Produk yoghurt itu dicoba oleh pihak Apotek Roxy dan dianggap memiliki rasa yang berbeda dan lebih kental dibanding produk lain di pasaran. Dari situlah distribusi mulai berkembang ke 40 cabang apotek. “Kebetulan dari awal kita pakai reseller untuk masuk ke Apotek Roxy,”tambah Juhana.

Menurutnya, salah satu keunggulan produk mereka terletak pada kekentalan yoghurt. Produk mereka menggunakan kandungan susu yang tinggi sehingga rasa dan teksturnya lebih pekat dibanding yoghurt komersial pada umumnya.

Namun kualitas semacam itu juga memiliki konsekuensi. Yoghurt mereka tidak tahan lama di suhu ruang. Dalam kondisi terbuka, produk harus segera dikonsumsi karena bakteri di dalam yoghurt akan terus berkembang.

Juhana menjelaskan bahwa yoghurt sebenarnya tetap aman dikonsumsi ketika rasa asam meningkat. Hanya saja, pasar sering kali menganggap perubahan rasa sebagai tanda produk sudah rusak.

Karena itulah pengelolaan suhu menjadi hal yang sangat penting dalam industri susu dan yoghurt. Produk harus disimpan di freezer atau chiller agar bakteri tetap dalam kondisi stabil.

Dalam perjalanan usahanya, mereka juga terus melakukan evaluasi produk. Pada awal produksi, yoghurt mereka memiliki rasa yang terlalu manis. Setelah menerima banyak masukan dari konsumen, kadar gula akhirnya dikurangi.

Proses mendengarkan konsumen itu menjadi bagian penting dari perkembangan usaha. Juhana menyadari bahwa produk pangan tidak cukup hanya enak menurut pembuatnya, tetapi juga harus sesuai dengan selera pasar.

Mereka sempat mengembangkan lima varian rasa, termasuk mangga dan leci. Namun beberapa varian akhirnya dihentikan karena warna produk cepat berubah dan menimbulkan komplain konsumen.

Perubahan warna ternyata menjadi tantangan serius. Meski rasa produk masih baik, tampilan yang memudar membuat konsumen ragu membeli. Dari situ mereka mulai belajar pentingnya quality control.

Pengalaman mengikuti program pelatihan pembinaan usaha  Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) membuat mereka mulai memahami standar produksi yang lebih profesional. Mereka belajar mengenai sanitasi, kontrol mutu, hingga manajemen produksi. Dan kebetulan secara parallel BSN dibenahi memenuhi lay out lini produksinya sehingga perusahaan ini dianggap cukup memenuhi syarat penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin). Tak heran bila Perusahaan ini memperoleh penghargaan Juara Kompetisi 5R Terbaik 2025.  

Masa Pandemi COVID-19 menjadi ujian lain bagi usaha mereka. Penjualan memang sempat menurun, tetapi yoghurt tetap dicari karena dianggap membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Konsumen kelas menengah atas justru tetap membeli produk mereka selama pandemi. Bahkan beberapa titik distribusi tetap bertahan ketika banyak usaha lain mengalami penurunan drastis.

Maulita menerangkan alur produksi sterisasi alat, inokulasi dan inkubasi hingga proses penyimpanan/Foto: pelakubisnis.com

Dari usaha rumahan kecil, produksi mereka perlahan meningkat. Jika dulu diawal produksi dengan fasilitas sederhana hanya menggunakan 5 liter susu per hari, kini kapasitas produksi mencapai sekitar 80 liter per hari.

Perubahan besar mulai terjadi pada 2021 ketika fasilitas produksi mulai dibangun lebih serius. Mesin pasteurisasi, ruang produksi, dan sistem kerja mulai diperbaiki agar sesuai standar industri pangan.

Meski demikian, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Salah satu kegagalan terbesar terjadi ketika mereka mencoba memproduksi susu pasteurisasi untuk program MBG.

Kesalahan kecil dalam prosedur filling ternyata menyebabkan ribuan botol susu rusak. Kerugian mencapai sekitar 2.000 botol produk dalam satu kali produksi.

Dari kegagalan itu mereka belajar bahwa industri susu sangat sensitif terhadap suhu dan kebersihan. Kesalahan kecil saja bisa menyebabkan kontaminasi bakteri dan membuat produk basi.

Mereka kemudian meminta bantuan peneliti dari BRIN untuk menganalisis penyebab kegagalan tersebut. Dari situ diketahui bahwa proses filling seharusnya dilakukan pada suhu tinggi agar bakteri tidak kembali berkembang.

Pengalaman itu membuka pemahaman baru bahwa teori produksi harus benar-benar dipahami secara ilmiah, bukan sekadar berdasarkan kebiasaan atau asumsi.

Juhana menerangkan, untuk sekedar diketahui, produk yoghurt memang tidak tahan lama. Bila di dalam freezer sesungguhnya bisa tahan hingga 8 bulan. Namun pada kemasan pihaknya mencantumkan kadaluarsa 6 bulan. Sementara bila di dalam chiller bisa tahan hingga 1,5 bulan. Sedangkan di suhu ruang hanya bisa tahan paling lama 1 hari. Bahkan pada suhu ruang yang cukup panas mungkin hanya bertahan  setengah hari saja sudah harus dihabiskan.

Selain yoghurt dan susu pasteurisasi, mereka juga mulai mencoba mengembangkan produk baru seperti permen susu. Meski belum dipasarkan secara luas, eksperimen itu menunjukkan bahwa usaha mereka terus berkembang.

Kini Juhana melibatkan putri bungsu untuk meneruskan usaha keluarga/Foto: pelakubisnis.com

Perkembangan bisnis juga diikuti dengan peningkatan standar operasional. Saat ini mereka mulai menerapkan penggunaan APD lengkap bagi karyawan, sanitasi area produksi, hingga sistem evaluasi kebersihan kerja.

Kini putri bungsu Juhana, Maulita Putri Darmawati, ikut terlibat dalam pengembangan usaha keluarga tersebut. Lulusan peternakan dari IPB itu perlahan mengambil peran penting dalam manajemen usaha menjabat sebagai General Manager BSN.

Maulita mengaku awalnya tidak langsung tertarik meneruskan usaha keluarga. Seperti banyak anak muda lain, ia sempat berharap mendapat pekerjaan formal setelah lulus kuliah.

Namun realitas dunia kerja membuat wanita kelahiran tahun 2000 ini berpikir ulang. Sulitnya mencari pekerjaan dan ketidaksesuaian ekspektasi gaji akhirnya membuat ia memilih melanjutkan usaha keluarga.

Baginya, tantangan terbesar bukan sekadar memahami produksi yoghurt, melainkan membangun kepercayaan dari para karyawan yang usianya lebih tua darinya.

Ia harus membuktikan bahwa dirinya bukan hanya “anak pemilik usaha”, tetapi seseorang yang benar-benar ingin membawa perusahaan berkembang lebih baik.

Di sisi lain, pembinaan usaha yang mereka ikuti juga membantu membentuk mental kewirausahaan generasi kedua. Mereka tidak hanya diberi bantuan alat, tetapi juga diajarkan cara berpikir sebagai pengusaha.

Kini usaha yoghurt yang dulu dimulai dari dapur kecil telah berkembang menjadi industri keluarga yang lebih modern. Tempat produksi pun mengikuti tata letak (lay out) produksi yang sudah merujuk pada Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan  (BPOM).  Bahkan saat ini BSN tengah diaudit untuk mendapatkan sertifikat NKV (Nomor Kontrol Veteriner) dari pemerintah untuk membuktikan unit usahanya telah memenuhi standar higienis, sanitasi dan keamanan pangan produknya yang berasal dari hewan.

“Minggu lalu sudah ada audit. Ada 20 temuan. Macam-macam temuannya Bu.  Diantaranya ventilasi udara harus ditutup. Karena bisa masuk serangga dan sebagainya. Ketahuan lantai pecah  enggak boleh,”tutur Juhana.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, mereka percaya bahwa usaha yang dibangun dengan ketekunan dan kemauan belajar akan terus bertahan. Juhana menyadari tingkat rutinitas konsumsi susu masyarakat  Indonesia baru 16,7%, apalagi bicara konsumsi yoghurt. Namun  ia yakin usahanya akan terus bertumbuh seiring dengan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. “Jadi memang sedikit sekali. Lain dengan di Eropa misalnya dimana yoghurt jadi menu utama. Setiap sarapan dia pakai yoghurt tambahannya. Di sini kita belum,” ungkapnya namun tetap semangat membesarkan usaha yoghurt dan memberi kepercayaan penuh bagi putri bungsunya Maulita  untuk membantunya mengelola usaha keluarga ini.[]Siti Ruslina/Foto utama: Salman